PROLOG
Aku seorang penulis naskah, mungkin jika pembaca pernah sesekali berkunjung ke sankt petersburg, tentu akan mendapati karyaku terpersembahkan di sana, tepatnya Di Volkov Academic Theater. Bagiku teater adalah satu-satunya hal yang memberiku hidup—(terlepas dari pembiayaan hidup, tapi ini benar-benar makna hidup)—, semua jenis naskah sudah pernah aku tulis, entah itu komedi, musikal, atau bahkan sarkastik yang membuatku terkadang harus berurusan dengan pihak berwajib, katanya karena dianggap menyinggung pihak elit, menyebalkan.
Usiaku tiga puluh lima tahun, usia yang terbilang sudah kelewatan kalau masih tak mempunyai pasangan. Seperti kataku, teater adalah satu-satunya hal yang memberiku hidup—(terlepas dari pembiayaan hidup, tapi ini benar-benar makna hidup)—, sehingga belum ada gadis manapun yang menggantikan makna teater itu bagiku. Mungkin karena alasan lain karena aku tidak pernah berniat untuk mencari gadis itu, karena seringnya aku tenggelam dalam naskahku demi membuat dialog demi dialog yang menarik, rasaku terlalu sia-sia untuk membuang waktu mencari sesuatu yang belum pasti adanya.
Namun meskipun begitu, aku tetap tak terbiasa untuk menulis sebuah novel, sekalipun menceritakan hidupku sendiri, novel lebih rumit ketimbang susunan dialog yang aku buat untuk persembahan tahunan khusus para elit yang aku sebutkan sebelumnya—(orang-orang yang mudah tersinggung). Karena naskah drama menurutku dibuat untuk orang-orang kurang kerjaan yang menginginkan perpaduan drama, tarian dan nyanyian di atas panggung dalam durasi tak lebih dari tiga jam. Dan menurutku tidak banyak orang ingin berlama-lama menghabiskan waktu untuk membaca buku setebal sekitar 5 inchi, padahal buku tersebut bisa saja suatu saat nanti akan difilmkan atau didramakan di atas panggung, dan tentunya isinya akan sama saja.
Terlepas dari pendapatku tentang penonton teater atau pembaca novel-novel tebal , sejatinya tidak bermaksud untuk memandang rendah pihak manapun—(ini murni pendapatku)—, aku bermaksud mencari alasan lain yang membuatku lebih yakin untuk mewujudkan rencanaku ini, meskipun ku tahu, sangat sedikit orang yang mau berjam-jam membaca atau mendengarkan cerita hidup anda, sementara anda bukan lah seorang yang terkenal atau diketahui banyak orang.
Karena meskipun karyaku telah berkali-kali dipersembahkan di panggung-panggung teater megah, sekalipun karyaku telah melalangbuana dan di persembahkan ulang oleh seniman-seniman dari seluruh dunia, tetaplah tidak ada satupun penonton yang peduli siapa yang menulis naskah cerita itu, biasanya yang namanya akan bersinar hanyalah para aktor, sang produser, dan sang sutradara saja, sama halnya dengan film-film yang anda tonton sesekali bersama keluarga, rekan, atau sendiri di sinema. Sama sekali tak akan ada yang peduli dengan penulis naskahnya, sama sekali.
Satu-satunya makhluk yang kini benar-benar mengenalku adalah seekor kucing, namanya Bokav, yang selalu menemaniku, biasanya ketikaku sedang membuat naskah di ruang imajinasiku—(kata lain untuk menyebut kantor bagi seorang seniman)—, atau sekedar menemaniku bermain video game dan menonton televisi di saat otakku sudah tak mau lagi berkompromi untuk melanjutkan penulisan naskah.
Mungkin kebanyakan orang akan lebih memihak untuk menjadikan anjing sebagai hewan peliharaan ketimbang kucing karena kucing tampak seperti hewan yang tidak punya rasa peduli dengan pemiliknya, ketimbang anjing yang terkenal akan sifat setianya. Namun, aku tidak akan beralasan dengan menyebut kepercayaanku—(terlalu privasi bagiku untuk membahas hal itu)—, lebih dari sekedar itu karena doktrin yang telah ditanamkan oleh emak dan bapakku saat aku kecil dulu bahwa anjing adalah hewan yang menyeramkan.
Pembaca yang hebat, aku rasa sekarang anda akan bertanya-tanya, mengapa seorang seniman hebat—(mungkin hanya anggapanku saja)—yang misterius ini, yang telah mempersembahkan karyanya di Volkov Academic Theater, menyerukan kedua orang tuanya dengan sebutan emak dan bapak. Ya, karena sejatinya sekalipun masa dewasaku di isi oleh kelembutan kota sankt petersburg, aku tetaplah pernah menjadi seorang bocah ingusan yang sering termenung di pinggir Danau Maninjau. Ya, disanalah aku berasal, asal-muasal yang akan melahirkan cerita menakjubkan dalam buku ini.
Selain alasan klasik dari cerita menakjubkan ini, yang membuatku bertekad untuk melanjutkan tulisan ini adalah karena keinginanku untuk mencoba tantangan baru. Rasanya terlalu membosankan jika terus-terusan yang kulakukan hanyalah menulis karya untuk di tonton, sementara keahlianku adalah menulis, yang semestinya tidak hanya ditonton namun juga dibaca, hingga aku ingin melakukan eksperimen sejauh mana kemampuan menulisku berkembang.
Untung saja aku masih menyimpan berdus-dus kertas yang mulai tak terlalu berguna setelah teknologi mulai booming. Dimana sekarang aku tak perlu lagi berjalan mengirimi naskah kepada tuan sutradara dan aktor-aktornya, cukup dengan mengirim e-mail dan pekerjaanku kelar hanya dari belakang meja imajinasi—(kata lain untuk menyebut meja kerja bagi seorang seniman)—ku. Ketimbang membiarkannya berdebu dan dirusak tikus-tikus, lebih baik ku manfaatkan untuk mulai membuat sebuah buku yang mungkin akan memberikan petualangan berharga dan menakjubkan untuk anda, pembaca yang hebat.
Kurasa terlalu naif jika terlalu panjang menuliskan alasanku, namun kuharap pembaca akan menemukan makna dari seluruh ucapanku yang deskriptif ini. Aku mencintai tulisan, karena aku seorang penulis naskah, seperti yang tertulis pada kartu namaku.
Tn. Basim
Penulis Naskah
+7787039282554
Tertulis kata penulis naskah di bawah namaku, seakan menggambarkan bahwa aku dan menulis naskah adalah dua hal yang tak dapat terpisahkan, saling berkaitan satu sama lain. Rasanya akan hambar bila tidak ada kata penulis naskah disana, karena aku adalah penulis naskah terbaik di sankt petersburg—(setidaknya begitulah pendapatku).
Dan bulatlah tekadku untuk mulai membukukan kisah ku pada buku ini. Pembaca yang hebat, buku yang anda genggam ini akan membawa anda kepada petualangan baru bagaimana memaknai kehidupan dalam seni teatrikal—(setidaknya inilah ilmu yang kumahiri). Lewat mimik setiap orang yang kau temui, karakter dari setiap orang-orang yang kau rangkul, bahasa tubuh yang perlu lebih lanjut kau dalami, dan memaknai setiap inchi backdrop yang melatari kehidupanmu. Aku tidak akan membuatnya tampak seperti teks dialog drama ironi yang menyedihkan—(sekalipun ini adalah kemahiranku)—, tapi akan lebih menarik jika kita gambarkan setiap detik adegan dari kisah ini menurut improvisasi anda, para pembaca yang hebat. Sebagaimana para aktor sering mengimprovisasi tulisan naskah milikku—(walaupun terkadang tampak berlebihan dan keluar alur).
Karena sebagaimana pandanganku, bahwa setiap tulisan yang dibaca oleh siapapun itu, mempunyai makna tersendiri bagi masing-masing pem bacanya. Tak peduli makna itu berkesinambungan dengan makna asli dari sang penulis atau tidak. Sehingga itulah mengapa membaca dapat membuat setiap orang menciptakan dunia baru dan petualangan baru pada pikirannya. Itulah alasan aku mencintai tulisan.
Aku sengaja menggarisbawahi seluruh kata mencintai pada bab ini, karena pada dasarnya kata itulah yang akan menjadi catatan besar bagi kisah kali ini. Bukan karena buku ini bertema romance—(aku punya pengalaman buruk tentang ini)—, namun karena pada dasarnya bukan mencintai yang melulu harus berurusan dengan sepasang manusia, namun lebih kepada makna mencintai yang sederhana namun tak semua orang dapat mewujudkannya.
Aku adalah penulis naskah terbaik di sankt petersburg—(setidaknya begitulah pendapatku), bisa jadi seluruh dunia. Dimana menulis naskah telah menjadi sesuatu yang menarik dan selalu memberikan ketertarikan di setiap nanodetik hidupku. Bahkan hubungan normal dengan sesama manusiapun tak lebih aku pedulikan ketimbang menikmati berjam-jam bahkan berminggu-minggu waktu di kamar imajinasiku—(kata lain untuk menyebut kantor bagi seorang seniman)—, karena aku tak perlu memutar otak untuk berdialog dengan orang lain yang belum tentu tertarik tentang topikku dan diriku sendiri.
Ketertarikanku pada tulisan dan mengarang naskah mungkin bisa dianalogikan layaknya ketertarikan seorang pecandu n*****a pada barang haram yang dicintainya, kecanduan. Namun untungnya menulis belum sampai pada titik membuatku sekarat dan mati konyol.
Ketahuilah, pembaca yang hebat. Sebelum kecanduanku pada dunia tulis-menulis, aku pernah menjadi seorang bocah ingusan melayu yang terlahir dengan nol besar ketertarikan. Ya, aku terlahir—(katanya)—dengan ketertarikan nol besar terhadap apapun, tidak ada satupun.
Hingga satu-persatu keajaiban muncul dalam setiap nanodetik hidupku dan menyadarkanku bahwa, perbedaanku, kelahiranku dengan nol besar ketertarikan, ternyata menyimpan rahasia dan misteri yang menurutku sangat menarik dan inspiratif untuk anda, pembaca yang hebat.
Namaku Basim—(aku tidak tertarik menggunakan nama asliku)—, aku adalah penulis naskah terbaik di sankt petersburg—(setidaknya begitulah pendapatku). Dan aku terlahir—(katanya)—dengan ketertarikan nol besar terhadap apapun.
Basim
Scriptwriter