TIGA: SIAPA DIA?

1127 Kata
Tak.. Tak.. Tak.. Hari memang masih pagi, tapi suara heels milik Vivi sudah bergema diseluruh ruangan. “Embun, kamu hubungi ya atas nama Sachdev Gavin, Tiara Asti, sama Hari Damian. Wawancara CFO sama GM Finance besok jam 9 pagi. Oh iya, khusus pak Gavin kamu tanya dulu ya, dia bisanya jam berapa? Udah gitu aja pesennya, ini berkasnya, saya tinggal dulu,” ucap Vivi dengan tergesa karena dia harus menghadiri rapat pagi ini terkait evaluasi akhir bulan. Embun hanya mengangguk dan tersenyum karena atasannya tersebut berlalu dengan setengah berlari tanpa menunggu jawabannya. Apa perasaan gue aja ya kalau si Gavin-Gavin ini di istimewain? Kemarin juga minta wawancara personal. Jangan-jangan Bu Luisa suka sama nih orang! Emang ganteng banget sih, tapi kalo saingan gue Bu Luisa yang jelas punya segala-galanya, ya apalah gue yang mukanya cuma remah-remah biskuit. Ratap Embun dalam hatinya mengingat bagaimana anehnya sikap bosnya akhir-akhir ini. Seperti biasa Embun segera menghubungi pegawai front office untuk minta disambungkan kepada nomer Gavin. Sembari menunggu telepon interkomnya berbunyi ia mengambil roti yang sengaja ia bawa untuk menjadi energi tambahan apabila hasil evaluasi antar unit berjalan tidak baik dan mengakibatkan dia harus terkena amarah duo sahabat yang menjadi atasannya. Tidak lama teleponnya berbunyi dan Embun langsung mengangkatnya. “Halo.” “…” “Bentar, jadi ini sekretarisnya minta di hubungi ke nomer pribadinya aja? Emang yang biasanya lo hubungin itu nomer apa?” “…” “Nomer kantor? Beneran? Yang angkat siapa emangnya?” “…” “Okay deh nanti gue hubungin dia personal. Makasih ya, udah bantuin gue telepon kandidat.” “…” Embun menutup sambungan telepon dengan dahi yang sudah berkerut. Jabatan dia sekarang apa ya sampe punya sekretaris ditempat kerja. Kalo udah enak posisinya, kenapa dia minta pindah ya? Tuhkan. Dia tuh pasti bukan kandidat sembarangan. Gue yakin. Kalo di bawa sama Bang Darto, kira-kira yang nitip siapa nih? Embun tersenyum miring menampilkan ekspresi seolah jengah. Pertanyaan demi pertanyaan bercokol di dalam pikirannya, tapi karena banyak yang harus diselesaikan akhirnya Embun mengalihkan perhatiannya kepada dokumen-dokumen yang belum diselesaikannya. -***- “Sore pak Sachdev Gavin, saya Embun Bening dari PT Samudra Fiber Indo. Mohon maaf, tadi saya menghubungi bapak lewat nomor telepon rumah yang tertera, tapi tadi yang mengangkat teleponnya adalah sekretaris bapak dan saya diminta untuk menghubungi bapak melalui sambungan pribadi. Betul ini dengan bapak Gavin?” Suara Embun terdengar profesional saat menyampaikan maksudnya untuk mengundang Gavin interview, sudah mirip mbak-mbak telemarketing, tapi ini lebih terdengar merdu menurut Gavin. “Ya, dengan saya sendiri,” suara bariton Gavin membuat jantung Embun berdebar. “Mohon maaf sebelumnya pak, untuk besok bisa tidak ya untuk kami jadwalkan interview dengan CFO dan GM Finance kami? Maaf ya pak pemberitahuannya mendadak sekali. Jika bapak belum berkenan besok, akan kami reschedule sesuai dengan waktu yang Bapak miliki. Bagaimana pak?” Sampai beberapa saat tidak ada jawaban dari sambungan telepon itu. Nah pingsan ni orang? Kok gak jawab ya? Batin Embun. “Halo.. Bapak Sachdev Gavin, apa anda masih berada di sambungan telepon pak? Bisa mendengar saya?” ucap Embun bingung karena tak kunjung mendengar suara balasan dari Gavin. “Emh.. oh, Iya, saya bisa dengar suara anda. Untuk besok, jadwalnya jam berapa?” diujung sana, seorang pria berusaha membuat suaranya setenang mungkin karena sejujurnya pria itu gugup mendengar suara lembut dan merdu dari ujung teleponnya. “Jam 9 pagi pak, tapi sesuai dengan arahan Ibu Luisa, kami diminta untuk menyesuaikan jadwal bapak. Apakah bapak bisa hadir di jam tersebut?” Embun ingat bagaimana Vivi dan Luisa memintanya untuk membuat jadwal fleksibel untuk Gavin, sekarang ia bisa memaklumi kenapa jadwalnya harus disesuaikan. Tentu karena kantor tempat Gavin saat ini bekerja, jelas menempatkan pria itu pada posisi khusus. “Maaf, tapi sampai dengan besok saya masih diluar kota,” ucap Gavin terdengar datar. Lah, anjir.. dia di luar kota ngapa nanya jam deh! Ingin rasanya Embun menghela nafas secara kasar dan mengumpat, namun ia sadar sedang ada dalam sambungan telepon. “Baik Bapak, bisa kami reschedule Pak? Akan saya sampaikan ke user bersangkutan.” “Lo ngapain disini! Siapa yang undang lo? Hah?” suara perempuan dari ujung telepon terdengar nyaring. “Dengerin gue dulu Fre..” Deg! Suara laki-laki yang sepertinya Embun kenal juga ada di ujung sana. Cepat-cepat ia menyadarkan diri untuk fokus menelpon kandidat saat ini. “Emh, Maaf, saya masih ada urusan. Akan saya hubungi anda kembali nanti untuk konfirmasi jadwal.” Tut! Sambungan telepon itu dimatikan secara sepihak setelah kegaduhan yang menjadi latar telepon itu terjadi. Embun termangu sesaat. Ponselnya masih berada didekat telinganya. Matanya menatap kosong ke arah jendela kantor. Ia berharap suara yang sempat ia dengar saat menelpon Gavin tadi adalah orang lain, bukan suara dari orang yang sama dan sudah beberapa tahun yang lalu tidak lagi ditemuinya. -***- Ditempat Gavin berada, ia segera membuka kembali layar ponselnya, setelah insiden menutup sambungan telepon secara sepihak yang ia lakukan karena melihat drama pertengkaran adiknya dan seorang laki-laki. Akhirnya Gavin mau tidak mau harus ikut melerai keduanya yang bertengkar di restaurant tempat Om dan Tante mereka menggelar pesta makan malam perayaan hari pernikahan yang di hadiri oleh kerabat dan kolega terdekat. Setelah suasana kembali kondusif. Gavin kini sudah kembali duduk di kursinya. Ia menatap nomor pribadi yang menghubunginya beberapa saat lalu. Walaupun tidak tahu apakah suara tadi adalah suara yang sama seperti perempuan yang ia temui di depan lift, tapi entah mengapa ia yakin bahwa dia wanita yang sama. Tiba-tiba ia tersenyum setelah melihat nomor yang tadi menghubunginya di layar ponselnya “Embun Bening.. Memang cantik, gak salah namanya Bening..” ucapnya lirih sambil tersenyum. “Kenapa Kak?” ucap ketus seorang gadis yang berada disampingnya membuat gavin jadi memutar bola matanya malas. Wajah gadis itu terlihat bersungut-sungut akibat ulah laki-laki di masa lalunya yang tiba-tiba datang dan menyapanya. Ia kesal karena laki-laki itu datang ke acara keluarga yang terkesan privat ini. Lagipula untuk apa laki-laki itu datang? bahkan dia bukanlah kolega apalagi kerabat keluarganya. “Ck! Kenapa sih lo Fre. Teriak-teriak kayak gitu tadi, malu-maluin aja depan keluarga!” Gavin menoleh kearah adiknya dengan kesal. “Oh, Kakak ya, yang undang Cakra?!” ujar adiknya, Freya dengan suara nyaring. Gavin membekap mulut adiknya dan melotot ke arahnya. “Lo tuh, lemah lembut dikit kenapa jadi cewek. Sukanya kok teriak-teriak. Malu tau diliatin banyak orang! Ini acara Om sama tante ya! gak usah ngacau,” ucap Gavin penuh penekanan tapi tidak dengan suara nyaring. “Lagi siapa sih yang undang dia kak! Gak mau tau, pokoknya aku mau pulang!” Freya sudah menenteng tasnya dan melangkah pergi meninggalkan meja. Sedangkan Gavin melihat dari jauh Mami dan Papinya hanya geleng-geleng dan mengisyaratkan untuk mengikuti adiknya. Yaelah ngerepotin banget nih bocah! Bikin ribet ae! ucap Gavin sambil menenggak minuman dihadapannya dan segera berlalu menyusul adiknya. -***-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN