Embun bukannya sengaja menghilang untuk menghindari Gavin. Ia pergi keruangan mamanya untuk menanyakan, adakah baju terbaru yang sengaja Mamanya rancangkan untuk dirinya. Ia pasti menemukan setelan baju-baju fancynya disini. Mengingat lemari rumahnya sudah tidak memuat semua baju-baju yang ia punya karena ulah sang Mama yang selalu gemas dengan rupa cantik anaknya, sehingga membuatnya sangat hobi membelikan anaknya baju baru atau mendesainkan sendiri baju untuk anaknya. Apalagi jika menemukan kain yang bagus saat berbelanja untuk kebutuhan customernya.
Setelah kejadian itu, Embun menarik tangan Gavin. Tadinya Embun hendak bergegas keluar Butik. Namun ia teringat belum memoles wajahnya dan juga merapikan rambutnya. Dipikirannya, setidaknya acara makan malam akan berkonsep seperti terakhir kali ia menemukan Gavin di restoran western. Gavin berpakaian rapi dan mereka menyewa ruangan VVIP. Embun memutar balik badannya, masuk ke ruangan ganti khusus didalam ruang kerja Tyas.
Gavin yang melihat Embun memutar balik badannya segera menarik tangan gadis itu.
"Mau kemana?"
"Aku mau dandan dulu, masih cukup kan waktunya?"
Gavin hanya tersenyum sambil mengangguk.
Gavin menemani Embun berdandan. Sambil menunggu bersolek, Embun meminta salah satu pegawai mamanya membawakan setelan kemeja dan jas yang tersedia.
"Kamu coba pakaian yang mereka bawa ya, Vin. aku gak yakin ukurannya sama. tapi mereka bisa bantu ngepasin kok. Gak akan lama kalau mau di sesuaiin sama tubuh kamu."
"Aku gak masalah pakai baju ini, Mbun."
"Itu bukannya baju kantor kamu seharian ini."
"Iya, kenapa?"
"Kamu gak ngerasa risih gitu?"
"Enggak. Biasa aja," ucap Gavin sambil menggeleng.
"Pakai aja, Nak. Kamu nolak baju dari tante karena gak bagus ya desainnya?" celetuk Tyas.
"Eh, enggak kok, Tante. Nggak gitu.."
"Ck! Udah ayo ikut Tante. Liat koleksi buat pria," ucap Tyas sambil menyeret Gavin menuju ruangan lain.
Embun melihat keduanya beralih ke ruangan Lain. Ia yakin pasti ada baju yang cocok dengan lelaki itu, mengingat ukuran tubuh Gavin yang serupa dengan Papanya. Secara tinggi badan, menurut Embun tinggi antara Gavin dan Papanya sama. Begitupun badan atletis papanya yang sepertinya juga sama dengan Gavin, tapi ia tidak tahu apakah bentuk badan mereka akan sama. Oh, sepertinya Embun sudah terlalu jauh memikirkannya. Dia harus berhenti membayangkannya.
Setelah berganti pakaian, salah satu pegawai Mamanya membantu Gavin untuk memasangkan Dasi. Sedangkan Embun memoleskan sentuhan akhir lipstiknya berwarna peach. Embun berdiri menggunakan dress selutut dengan ruffle di lengannya. Warna truffle pink rancangan Mamanya dan sepatu attitude pump Louis Vuitton berhasil membuatnya nampak cantik. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan satu sisinya diberi jepit rambut bunga kecil yang berkilau tapi terlihat tidak berlebihan.
Gavin menatap Embun tidak percaya. Matanya benar-benar enggan untuk berkedip.
Tanpa mereka sadari seluruh orang dalam ruangan sudah meninggalkan ruangan itu dan hanya tersisa mereka berdua.
“Kamu cantik. Ini beda banget dari kesan kamu biasanya.” Ia terus menatap Embun yang mendekat dengan senyum mengembang.
"Jadi biasanya gak cantik."
"Gimana ya, aku jawabnya?" Goda Gavin dengan tataapan jenaka.
“Yaa.. Kamu juga tampan Tuan Gavin Adnan,” ucap Embun dengan senyuman yang mengembang.
Mereka yang saat ini tengah berhadapan, saling bertukar senyum dan mengunci pandangan mereka. Entah setan darimana, Gavin mendekatkan wajahnya dan..
Cup!
Satu kecupan singkat Gavin mendarat di bibir Embun.
Embun membolakan matanya. Seketika itu juga wajahnya merah padam. Ia menggigit bibir bawahnya dan menahan gejolak di dadanya. Gavin menyentuk bibir Embun dan mengusapnya.
"Jangan goda aku, Mbun. Aku gak yakin bisa berhenti kalau kamu ngelakuin itu," ucap Gavin parau.
Embun secara reflek memukul d**a Gavin dan menunduk. Ia yakin seluruh wajahnya kini sudah berwarna merah padam. dibanding marah karena Gavin tiba-tiba menciumnya. Ia malah merasa malu diperlakukan seperti itu. Entah kenapa tidak ada perasaan marah atas kelakuan Gavin itu, ia malah merasa malu dan canggung.
"Aku gak akan minta maaf untuk ini. Kamu cantik, dan aku rasa hubungan kita perlu kemajuan dari sekedar berbalas pesan kan?" ucap Gavin dengan pandangan lekat ke arah Embun.
Laki-laki itu menarik tengkuk Embun agar dapat melumat dengan lembut bibir Embun. Setelah Gavin merasa cukup mencium wanita dihadapannya ia menatap dalam ke arah mata gadis itu.
“Manisnya! Udah dulu, ya. Mama takut nanti kalian ketahuan sama Papa. Mama sih seneng ya, liat kalian. Tapi jangan harap Papa bakal seneng liat kalian kayak gitu. bisa di sidang nanti kalian berdua! Ck! Kalian ini bikin Mama kangen Papa aja!” ucap Tyas dengan nada sedih yang terdengar jenaka.
Gavin terkejut dengan kehadiran Tyas dan perkataan Tyas. Wajahnya sudah tersipu dan menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Perasaannya terasa campur aduk. Terkejut dan malu karena Tyas berada disana yang entah sudah sejak kapan berdiri di depan pintu itu, was-was karena bisa saja ia langsung di usir karena mencium putrinya jika Embun tidak berkenan, dan ia juga merasa senang karena ia berhasil mencuri cium Embun.
Embun sendiri hanya menunduk dalam karena malu karena ketahuan berciuman oleh Mamanya.Bahkan ini kali pertama, ia mengenalkan dan membawa seorang pria ke hadapan Mamanya. Ia sangat malu karena baru pertama kali mengenalkan seorang pria dan dia membuat momen tak terduga di depan Mamanya.
“Pasti kaget deh! Duh princessnya Mama, cantik banget! Kamu sudah dewasa ternyata. Sini nak, Mama bantu rapihin lipstiknya!” Tyas berkata sambil menepuk-nepuk bagian sofa yang kosong disampingnya.
Embun bergeming, ia menunduk dalam dan bingung harus mengatakan apa pada Tyas.
Gavin tiba-tiba menggenggam tangan Embun dan mengantarkannya untuk duduk disamping Tyas.
Tyas mengambil tisu dari coffe table di depannya dan mulai merapikan warna lipstik yang menyebar ke sekitar bibir anaknya. Ia menahan wajah anaknya dengan jarinya yang digunakan untuk menopang wajah Embun. Tyas tersenyum dan mencubit gemas pipi anaknya. Ia pun berganti mengambil tissue untuk gavin, dan menyerahkannya.
Gavin menerimanya dengan gerakan mengangguk dan mengucapkan terima kasih hampir tidak bersuara.
“Jadi kalian pacaran?”
Embun menunduk, bingung harus menyampaikan apa pada mamanya.
“Saya tertarik dengan Embun, Tante. Dan kami belum berpacaran.” Gavin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Saya harap Embun mau jadi pacar saya setelah ini, dan emh.. karena tante disini, saya mau minta izin untuk bawa Embun ikut acara makan malam keluarga saya. Bolehkan tante?” Gavin memberanikan diri untuk meminta izin setelah kejadian yang sangat tidak sopan, yang dia lakukan didepan Tyas. Gavin bahkan menebak-nebak sejauh mana Tyas menyaksikan kegiatan mereka tadi. Jantung Gavin benar-benar berdegup kencang.
“Acara kalian jam berapa?” Tanya Tyas tenang.
“Jam 8, Tante.”
“Tinggal sejam lagi lho, kalian makan dimana?”
“Di restoran yang ada rooftop barnya itu Tante.”
“Aduh, udah jam segini! Semoga gak macet deh! Tadinya banyak yang Mama mau tanyain ke kalian. Tapi karena gak akan cukup interogasi kalian, apalagi sampai si Papa datang. Kalian pergi sekarang aja. Dan oh, ya, Nak. Siapa tadi namamu?”
“Gavin, Tante.”
“Gavin, Tante titip Embun, ya. She's the one and only, for us. Make sure kamu tidak menyakitinya. Take care ya kalian.” Tyas berkata sambil mengusap pundak Gavin dengan tersenyum dan berlalu menuju keluar ruangan.
“Tentu, Tante. Pasti!” Gavin mengenggam tangan Embun dan menatapnya lekat. “Aku gak bisa kalo gak bertanggungjawab atas kamu setelah keluar dari ruangan ini. Malu sama Mama kamu! Jadi ijinin aku jadi lebih deket sama kamu ya!” ucap Gavin dengan sorotan memohon.
Embun menatap Gavin lekat dan membelai pipi Gavin dengan tersenyum.
Gavin menangkap tangan Embun.
“Stop! Nanti kita gak jadi berangkat!” Gavin beranjak dan menarik tangan Embun lembut menuju keluar ruangan.
Embun tertawa dengan renyah mendengar suara Gavin yang sepertinya takut tergoda.
-***-
Sepanjang perjalanan menuju restoran tempat makan malam keluarga Gavin, mereka berdua mengobrol untuk melepaskan kecanggungan.
“Pantes ya, kamu auranya beda. Ternyata udah gennya,” ujar Gavin sambil tersenyum.
“Haha, sebenernya aku gak mau kenalin Mamaku secepat ini ke kamu, tapi nyatanya kamu malah bawa aku ketempat Mama.”
“Kenapa kamu gak pernah muncul ke publik, Mbun? Kupikir Mama kamu orang yang aktif dateng di acara-acara yang sama kayak Mami aku. Kan aku jadi kenal kamu dari dulu Kalo kamu sering ikut acara ibu-ibu itu,” Gavin berucap sambil mencebik.
“Kamu ngapain ikut acara ibu-ibu?”
“Kamu pasti gak tahu kalo ibu-ibu itu suka sekali pamer anak-anaknya dan saling jodohin,” gerutu Gavin.
“Haha, syukur deh aku gak ikut. Bisa aja aku gak ketemu kamu.”
“Gak mungkin! Kita kan jodoh. gimanapun jalannya, pasti kita ketemu! Aku yakin itu."
"Ya ampun, sampe ngomong jodoh segala! emang iya?" tanya Embun dengan nada mengejek.
"Kamu gak mau jodoh sama aku?"
"gimana yaa??"
"Ck! Eh, tapi serius deh, kenapa kamu gak pernah ikut sih acara para ibu-ibu itu? Beneran deh. Kami bahkan gak pernah tahu seperti apa anak Tante Tyas dan Om Awan.”
“Ya.. Dulu aku pikir buat apa aku muncul ke acara-acara itu. Bahkan aku gak tertarik. Bukan dunia aku aja. gak ada kepentingan buat tampil ke acara formal gitu. Tapi kayaknya aku bakalan lebih sering muncul di publik deh sekarang. Aku udah berpikir buat nerusin Butik Mama deh dan bakalan mulai muncul di acara-acara bisnis gitu. Biar nanti pas aku nerusin butik Mama, pada gak kaget.” Embun berkata dengan pandangan lurus.
“Sounds great, Princess. Jadi kamu resign dong kalau nerusin butik tante? Kenapa?”
“Mmmh..” Embun ragu untuk bercerita karena ia masih belum tahu apa hubungan antara Gavin dan Luisa. Ia takut itu akan menyebabkan hubungan yang kurang baik.
-***-