TIGA BELAS: PERTEMUAN TAK TERDUGA

1562 Kata
Setelah perdebatan yang cukup alot dengan Embun, akhirnya wanita itu menyetujui untuk diantar oleh Gavin. Embun hanya menatap lurus ke arah jalanan didepannya. Semenjak interaksi antara Gavin dan Luisa berada tepat didepan matanya. Semakin banyak pertanyaan berkecamuk di dalam pikirannya. Siapa sebenarnya Luisa? Mengapa Gavin masih tetap bersamanya jika memang keduanya memiliki hubungan? Melihat bagaimana interaksi keduanya, sepertinya mereka memang memiliki kedekatan khusus. Embun menggigit bibir bawahnya ia berusaha untuk mengenyahkan pemikirannya. “Hei, kamu kenapa? Kamu diem terus daritadi. Ada masalah?” tanya Gavin sesekali menoleh pada Embun. “Kamu ngapain sebenernya di kantorku?” bukannya menjawab, Embun malah balik bertanya dengan tatapan kosong ke arah jalanan. “Aku sengaja nungguin kamu. Kan aku tadi udah bilang, kamu gak bales pesanku. Padahal aku udah beliin kamu kopi. Takutnya gak nyampe ke kamu kopinya. Habis kamu cuekin aku seharian ini! Lagipula aku juga udah bilang mau jemput kok,” Gavin berkata sambil melirik Embun sekilas. “Kamu bukannya mau pergi sama Bu Luisa? Mau jemput dia?" "Dih, enggak! Orang yang ada di mobil aku aja kamu." "Nah itu. Kenapa malah ajak aku balik? Bukannya kamu akhir-akhir ini sering banget ke tempat Bu Luisa,” suara Embun terdengar datar dengan wajah tidak terbaca. "Cemburu ya?" "Nggak!" "Masaa.." goda Gavin yang mulai usil. "Ck! Apa sih?" cibir Embun sambil melihat ke arah jalanan. “Aku gak tertarik sama cewek cerewet dan tukang ngadu kayak dia. Gak banget! Hiih.." ucap Gavin dengan jenaka. "Halah, ngomongnya gak tertarik, tapi sering banget kencan sama dia akhir-akhir ini." "Siapa yang kencan sama dia? Aku ada kerjaan tau sama dia, kan kamu tahu aku kerja di kantor konsultan. Jadi, dia minta tolong sesuatu sama aku. Makanya jadi sering deh ke kantormu. Kamu gak perlu cemburu,” Gavin terkekeh karena sepertinya ia tahu bahwa Embun salah paham dengan Luisa. “Siapa yang cemburu?" "Kamu lah." "Enggak!" Embun memutar bola matanya. “Lagian kamu kan mau ada acara makan malam keluarga, kok malah nganter aku sih?” “Ini masih terlalu sore buat kesana tau, Mbun! Masih lama juga acaranya. Eh, Daripada kamu ngambek, aku ada ide buat mood kamu balik," ucapnya dengan seringai jahil. "Apa?" dahi Embun berkerut dan menatap Gavin was-was. "Udah kamu ikut aja!" tiba-tiba Gavin memiliki sebuah ide cemerlang diotaknya. “Kemana?” Tanpa menjawab Gavin hanya tersenyum sumringah dan segera melajukan mobilnya menuju arah lain yang bukan menuju rumah Embun. Embun mengerutkan dahinya dan menoleh ke arah Gavin. “Serius, kita mau kemana deh, Vin?” Gavin masih tersenyum dan tidak menjawab. Gavin memutar lagu untuk menemani perjalanan mereka. Sebuah lagu dari Ariana Grande berjudul Boyfriend pertama kali terdengar dan langsung menusuk hati Embun dan Gavin pas sekali. You ain't my boyfriend (boyfriend) And I ain't your girlfriend (girlfriend) But you don't want me to see nobody else And I don't want you to see nobody Kemudian keduanya terbungkam. Suasana menjadi canggung seketika. Embun yang sempat terbawa suasana menyadari bahwa Gavin tidak membawa kerumahnya. Harusnya saat bertemu tikungan pertama tadi, Gavin belok ke kiri. Tetapi Gavin memilih lurus. Ia tahu persis ini jalan menuju ke tempat usaha milik Mamanya. Setelah beberapa menit berlalu, benar saja, Gavin berhenti di salah satu butik dengan nama, Bening by Tyas. “Ayo turun!” Gavin membuka seatbelt milik Embun. “Ngapain kita kesini?” Embun menatap butik mamanya dengan dahi mengkerut. “Ini butik langganan mama aku. Pemiliknya itu temennya Mama, namanya Tante Tyas. Kamu pasti tahu desainer terkenal itu kan? Tyas Mayasari? biasanya cewek-cewek pada tau sih. Aku udah beberapa kali anter mama kesini. Kayaknya ada banyak baju yang cocok yang bisa kamu pakai buat ikut acara makan malam nanti,” Gavin berkata sambil menatap Embun yang masih menatap lurus kedepan. Dia tau Tyas Mayasari, itu kan Mamanya, yang tidak dipahami adalah kenapa harus ikut acara keluarga? "Ngapain aku ikut acara makan malam kamu? Itu acara keluarga lho." “Biar kamu tau, siapa Luisa dan gak salah paham. Kayaknya mereka juga harus kenal kamu. Ini acara makan malam santai aja kok. Nggak formal juga,” ucap Gavin dengan jarak tubuh yang tidak ia sadari sudah sangat dekat dan tubuh Embun sehingga bisa membau aroma tubuh Embun. Embun terkejut saat akan menatap wajah Gavin karena ternyata wajah lelaki itu sudah sangat dekat dengannya. Mereka saling menatap dan wajah mereka sudah seperti ingin mendekat. TIIINN!! Tiba-tiba klakson mobil dari arah samping mobil mengagetkan mereka. Mereka lalu saling menjauhkan wajah mereka. Embun mengatur nafasnya dan mengatur degup jantungnya yang rasanya sudah mau melompat dan terjun bebas. Gavin menyandarkan dirinya pada kursi kemudi dan menyugar rambutnya. Sambil mengatur nafasnya, ia kembali menatap Embun. “Ah, sorry Mbun!” hanya itu yang mampu Gavin ucapkan. Embun menggigit bibir bawahnya dan hanya mengangguk. “Yuk!” Embun segera membuka pintu mobil dan berjalan tergesa masuk ke dalam butik sambil menetralkan degup jantungnya. Gadis itu memegang mengangkupkan tangan pada pipinya. Ia tidak ingin bertemu dengan seluruh pegawai mamanya dengan muka merah padam. “Eh, Mbak Embun! Kok tumben mbak?” ujar salah seorang pegawai wanita yang berada di balik meja resepsionis sambil tersenyum. “Iya, aku kedalem dulu ya!” Embun bingung harus merespon apa, sedangkan jantungnya masih sulit dikontrol karena kejadian tadi. Gavin tidak langsung mengikuti Embun yang berjalan sangat cepat masuk ke dalam Butik Tyas. Ia hanya menatap punggung wanita yang mampu menarik perhatiannya itu. Gavin perlu mengontrol degup jantungnya sebelum menemani wanita itu. Hampir saja ia mengacaukan suasananya. Setelah agak tenang Gavin masuk ke dalam Butik dan sepertinya ia kehilangan jejaknya. “Mas Gavin! Ada yang bisa dibantu mas?” ucap resepsionis yang mengenal Gavin karena sudah sering ke tempat itu untuk mengambil gaun-gaun pesanan Mami dan adiknya atau hanya sekedar mengantar dan meninggalkan Mami dan adiknya mereka memilih gaun. “Tadi ada yang masuk kesini kan mbak? Saya sama dia soalnya.” Resepsionis salah mengira bahwa Gavin bersama sepasang ibu dan anak yang datang sebelum Gavin. “Masuk aja mas ke dalem, nanti ada bagian gaun yang warna putih tulisannya wedding gown. Mbaknya ada disana.” Gavin mengernyit, lah kok malah liat gaun pengantin. Gavin membatin dan tanpa sadar tersenyum sendiri. Ia pikir seluruh wanita pasti akan senang dengan gaun-gaun putih untuk menikah. Mungkin Embun mengecek gaun-gaun yang dia sukai. Gavin semakin bersemangat dan akan menggoda Embun untuk memilih gaun yang akan digunakan untuk pernikaha mereka. Sepertinya Gavin sudah terlalu jauh membayangkan. Ia segera membalikkan tubuhnya dan bergegas keruangan yang dimaksudkan pegawai resepsionis tersebut. Sesampainya di ruangan itu, Gavin tertegun. Ada seorang wanita berwajah mirip dengan Embun, hanya saja dengan tampilan yang lebih dewasa. Bentuk wajah, warna kulit, dan bentuk badannya sangat mirip dengan Embun. Rambut wanita ini juga memiliki potongan sebahu dengan warna coklat. Wanita itu menggunakan wrap around dress dengan warna putih dan di lehernya menggantung meteran jahit. Tersadar sedang diawasi, Tyas segera menatap pemuda itu dengan tatapan heran. “Ada yang bisa saya bantu Tuan?” Tyas menatap kearah Gavin sambil tersenyum. “Ah iya, tadi saya kesini bersama seorang wanita. Kata resepsionis tadi, dia ke arah sini. Oh, iya, maaf, Apa anda Tyas.. Mayasari?” Gavin mencoba menebak. “Iya, saya Tyas! Apa anda calon pengantin laki-lakinya?” Tyas mendekat dengan senyuman lebar dan mata berbinar. Anak laki-laki di depannya ini sungguh tampan. “Mmmh..” Gavin bingung mau menjawab apa, ia takut wanita yang dimaksud oleh Tyas tidak sama dengan apa yang dia maksud. Bagaimana bisa dia jadi calon pengantin laki-laki? Dia saja baru berkenalan dengan Embun. baru akan mengenalkan wanita itu ke keluarganya. “Tante, aku suka banget Gaun iniiiii!! Lho, kamu?” seorang wanita yang datang dari arah lain menggunakan gaun pengantin, seketika terkejut dengan lelaki yang ia temui beberapa waktu lalu. “Kita pernah ketemu kan? di lift Perusahaanku! Samudra Fiber Indo,” Tiara berkata dengan mata berbinar. Oh, shit.Cewek ketat itu! Perusahaan lo dari jonggol! Ngadi-ngadi nih cewek. Gavin tidak bergeming dan tidak memberikan respon apapun pada gadis itu. Wajah terlihat datar dan dingin. “Kalian kerja di Samudra Fiber Indo?” mata Tyas membulat karena menemukan rekan kerja Embun yang lain selain Dea. Walaupun ia tidak bisa mengatakan anaknya bekerja disana, tapi Tyas sangat senang bisa mencari tahu apa yang dilakukan anaknya disana dan apa yang dikerjakan. Karena Embun sangat jarang bercerita masalah pekerjaan kepada mamanya. “Aku sih, Iya! Tapi kayaknya Mas tampan di sebelah tante, enggak. Tapi aku sering banget ketemu dia di Kantor,” ucap Tiara sambil mengangguk dengan nada manja. “Vin!” Tiba-tiba sebuah suara muncul dan Gavin merasa ada yang menarik lengan kemejanya. Ia menoleh ke arah orang yang menarik kemejanya. Embun melihat Gavin, lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Embun menoleh kearah Tiara dan Tyas secara bergantian. Lah, simpanan Pak Bos! Males gue. Cabut ah! Ia melepaskan cekalan tangannya di lengan baju Gavin. Embun berlalu tanapa sepatah katapun dengan terburu dan menunduk serta menutupi mukanya dengan satu tangannya. Gavin segera mengikuti Embun tanpa mengatakan apapun. Ia juga benci di ruangan itu dengan wanita yang sok kenal dan sok dekat tadi. Tyas mengernyit dan teringat bahwa lelaki tadi tentu saja dia pernah melihatnya. Tyas tidak pernah tahu bahwa Gavin beberapa kali ke Butiknya. Ia hanya tahu bahwa, Gavin beberapa kali laki-laki itu menjemput putrinya dan menurut info dari asisten rumah tangganya, laki-laki itu juga sering mengantarkan Embun pulang apalagi jika sudah larut. Pantas saja, Embun sekarang sudah jarang sekali merengek untuk dijemput. Tyas tersenyum dan kembali melanjutkan kegiatannya dengan Tiara, yang saat ini menjadi customernya. -***-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN