Hari ini adalah tepat satu minggu setelah penetapan panitia ulang tahun kantor. Para karyawan HRD kembali berkumpul untuk membahas acara karena mereka berniat untuk merampungkan beberapa konsep sebelum disibukkan dengan kegiatan pelaporan akhir bulan yang akan jatuh dalam 3 minggu lagi. Karena waktu yang sempit, mereka harus merampungkan banyak ide dalam 2 minggu kedepan jika tidak ingin mengganggu pekerjaan utama mereka.
“Gimana De? Lo bisa dapet talent buat isi acara yang cuma kurang sebulan? Emang ada Artis yang free kalo dadakan gini? Biasanya mereka udah di booking dari beberapa bulan lalu lho,” Hans sebagai ketua acara memberondong banyak pertanyaan kearah Dea.
“Tenang kak Hans, oke kok! Kemarin kan pengennya supaya semua terhibur? Gue bisa nih dapet beberapa artis dangdut buat hiburan temen-temen yang kerja di pabrik dan beberapa band lawas supaya panggungnya bisa dinikmati semua orang.” Dea yang biasanya memang jarang bicara dengan orang lain menjadi orang yang sangat aktif akhir-akhir ini.
Pasti bisalah, Kak Hans. Mau cari artis muahal juga dibayarin Mbak Dea, Mbak Dea juga pasti sanggup, ucap Embun dalam hati sambil terkekeh lirih.
“Waaah, Deee… lu aja gantiin Hans. Nyuruh doang dia, gak ada keren-kerennya,” Galih menimpali dan terkekeh dengan reaksi Hans yang akan memukulnya.
“Oke nanti nanti lo lapor ya ama gue, siapa-siapa aja artis yang bisa kita booked. Gue mau laporannya masuk maksimal besok” ucap Calvin, Manajer hubungan industrial yang menjadi ketua panitia acara ulang tahun ini.
“Gal, seksi umum gimana?” lanjut Calvin.
“Gedung komplit, udah ada lighting, sound, sama dekorasi udah di list rapi ama Embun, tinggal tunjuk. Terus buat baju dan logo juga udah Embun kirim nih desainnya. Gue forward ke elu pada ya. Pada buka lho grupnya! Komen dimari aja, sengaja gak gue kirim kemarin-kemarin. Percuma soalnya nanti pada gak ada yang bales. Pada sok sibuk!” celotehan Galih membuat semua orang tertawa.
“Elah Gal, lu ngatain gue malah elu lebih parah! Masa semua Embun! Mana cewek cantik kinyis-kinyis gitu lo suruh ngecekin gedung!” Hans berkata dengan wajah yang terlihat semangat untuk meledek Galih.
“Eits, tenang ma bro! ini anak udah terlatih! Emaknya katanya kenal sama orang-orang EO sama WO jadi dia cuma ongkang-ongkang kaki doang. Lo gak liat tampangnya kayak tampang anak bos gini!!” ujar Galih sambil menjelaskan tak kalah jenaka.
Semuanya pun tersenyum dan bahkan ada yang tertawa sambil geleng-geleng. mendengarkan Galih dan Hans berceloteh.
“Udah! Ini bagus sih logonya buat angka 31nya, dan warnanya seragam panitia juga asik kayak kru-kru tv di gedung sebelah. Gue setuju! Ada yang mau punya usul dan sekalian perubahannya?” Calvin mencoba bertanya dan mengedarkan pandangannya.
Sepertinya orang-orang sudah terlalu malas untuk mengeluarkan ide. Lagipula semua yang Embun serahkan sudah sangat memuaskan.
Setelah beberapa pembahasan soal tempat, pengisi acara, dan keperluan kecil lainnya sudah didata mereka pun memutuskan untuk kembali ke meja kerja mereka karena memang pertemuan kali ini diadakan saat jam kerja berlangsung karena Luisa memberikan ijin untuk melakukan hal tersebut.
Saat kembali kemeja kubikelnya, Embun tertegun menemukan sebuah es cappucino dengan notes disisi gelasnya. Semangat kerja Princess Bening (Adnan Soon)☺, Sachdev.
"Apa sih?!" ucap Embun lirih dengan senyuman mengembang. Embun tersenyum dan segera menyeruput minuman dingin itu. Sejak kapan minuman itu ada disana? Siapa juga yang menaruhnya di mejanya?
Tidak berapa lama Vivi dan Luisa masuk keruangan HRD dan terlihat bercanda hingga terbahak sambil membawa beberapa kotak donat. Mata Embun memicing melihat kotak donat yang di bawa oleh Luisa. Ia langsung menghentikan acara minumnya dan mengangkat wadah minumnya dan mengcek logonya.
Anjir, sama.. Apa jangan-jangan mereka sebenarnya habis keluar ke resto yang sama? ucap Embun dalam hati. Mata Embun membulat melihat kotak donat yang dibawa Luisa.
Tidak berapa lama Luisa menepukkan tangannya tanda minta diberi perhatian dan membuat Embun tersadar dari segala pikiran negatifnya.
“Makasih buat kerja keras kalian supaya acara kantor bisa sukses. Sebagai tanda terima kasih dan permintaan maaf Vivi, rekan kita yang gak bisa bantu kalian, dia beliin kalian donat nih! Kalian makan yaa!!” ujar Luisa dengan muka sumringah.
“Terima kasiih!!” semua orang kompak mengucapkan terimakasih. Walaupun banyak juga diantaranya hanya ikut-ikutan karena mereka merasa dongkol hanya Vivi yang diijinkan tidak menjadi panitia. Sedangkan Embun sendiri masih terjebak dengan pikiran-pikiran negatifnya.
-***-
Embun yang tidak terlalu memperhatikan jalan cukup kaget saat tiba-tiba Gavin muncul tepat di hadapannya masih dengan pakaian kantornya.
"Kamu.."
“Hai!” Gavin berdiri di hadapan Embun sambil tersenyum lebar.Gavin yang mulai berani kontak fisik, mencubit pipi gadis di depannya dengan gemas. Embun menepis tangan Gavin dengan kesal sambil menampakkan raut malas di hadapan laki-laki itu.
"Ngapain kamu disini?"
“Nyamperin kamu! Sesuai dugaanku, kamu pasti lagi ngambek."
"Siapa yang ngambek?" ucap Embun sambil melangkahkan kakinya menuju depan lobby perusahannya.
"Kamu lah.. Liat tuh, udah manyun. Kamu cuekin aku daritadi! Kebiasaanmu kalau ngambek mau aku kirim ribuan pesan juga gak bakalan di baca. Padahal aku udah kirim kopi!” Gavin mencebik kearah Embun.
“Masa sih aku gak bales? Mungkin aku lupa. Oh iya.. By the way, thanks ya kopinya."
"Udah gitu doang? Kamu suka gak kopinya."
"Suka, kok. Itu kesukaanku."
“Syukur deh kalo kamu suka. Aku asal nebak aja tadi. Untungnya sesuai. Gak salah instingku nih,” Gavin mengacungkan tangannya dengan membentuk tanda hati pada jarinya. Gavin berbohong sebenarnya tentang minuman kesukaan Embun. Tentu saja ia diam-diam menanyakan tentang Embun kepada Darto. Gebetan Dea yang merekomendasikannya.
Embun hanya tersenyum tipis dan menghela nafas panjang, ia sebenarnya kesal karena dibayangannya Gavin sedang berkencan dengan Luisa dan saat itu juga ia ingat dengan Embun, sehingga laki-laki itu juga membelikan kopi dari toko itu. Sesaat kemudian Embun tersadar bahwa tak ada alasan baginya marah, bisa saja Gavin pergi ke toko dengan nama yang sama tapi di tempat yang berbeda. Beberapa saat kemudian, Embun kembali kesal sendiri dengan pemikirannya. Apa sebenarnya yang dia pikirkan? Apa yang dia harapkan?
"Embun!" Gavin mencoba mengagetkan Embun dengan gerakan reflek menepuk pundak Embun pelan agar gadis itu tidak melamun disana.
"Iiiiihhh Gaviiin!!" Embun yang kaget dengan reflek tangannya, ia mencubit perut Gavin.
Bukannya kesakitan, Gavin malah kegelian karena Embun kesulitan menemukan lemak diperut Gavin.
“Ini badan kamu pake perisai baja atau apa! Kok keras, gak bisa dicubit!” protes Embun
Gavin hanya terkekeh melihat ekspresi Embun.
"Kamu ngelamun sih! Ayo pulang!" ucap Gavin yang menggenggam tangan Embun untuk menarik wanita itu masuk ke dalam mobilnya.
Gavin sebenarnya ingin setiap hari bertemu dengan Embun. Seluruh penat dan lelah yang dirasa olehnya seketika hilang saat bertemu dengan Embun. Hanya melihatnya saja sudah membuat semua energinya kembali terkumpul. Namun, karena kesibukan masing-masing, sepertinya mencuri-curi waktu seperti ini sudah cukup untuk saat ini.
Baru saja Keduanya akan menaiki mobil, sebuah suara membuat mereka mengurungkan niat itu.
“Lho, Gavin?” ucap pemilik nada yang Embun kenal.
Luisa! Hmm.. Embun mendengus dalam hati.
"Hai.." Gavin mendekat ke arah Luisa lalu mencium pipi kanan dan kiri yang membuat baik Embun dan Vivi kaget dengan situasi yang terjadi.
“Ngapain lo disini?” tanya Luisa heran.
“Nih, jemput Embun.. Lo udah mau balik?” ucap Gavin sambil merengkuh pundak Embun sambil menaik turunkan alis sambil tersenyum jenaka ke arah Luisa.
Luisa reflek memandangi Embun dengan tatapan tidak terbaca.
“Yap.. okey deh kalo gitu. Gue duluan, Hati-hati dijalan kalian. Jangan lupa makan malam keluarga ya Vin, Malam ini!” Luisa berkata sambil mengedipkan matanya ke arah Gavin lalu mengecup pipi Gavin singkat seolah Embun tidak ada disana.
"Apa sih?!" protes Gavin sambil melihat ke arah Luisa dengan tatapan aneh dan jijik.
Embun yang melihat kejadian itu hanya menghembuskan nafas dengan kasar dan menepis tangan Gavin dengan cepat. Wanita itu kesal dan memilih membalikkan badan untuk tidak ikut dalam mobil Gavin. Gavin Sendiri menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia tidak paham dengan situasi yang dihadapinya.
"Ini pada kenapa sih cewek-cewek," ucapnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
-***-