SEBELAS: KEINGINAN RESIGN

1425 Kata
Seperti yang dikatakan Gavin, dia adalah tipe laki-laki pemaksa. ternyata yang dilakukan oleh pria tampan dengan tubuh atletis itu adalah mengirimkan pesan secara berulang kali hingga membuat Embun merasa terganggu. Entah bagaimana, Embun juga tidak berniat untuk memblokir nomor Gavin. Kini ia malah sering bertukar pesan dengan Gavin. Seperti kebanyakan orang, Embun tidak selalu menjawab pesan Gavin dengan cepat. Semuanya tergantung dengan suasana hati wanita bertubuh mungil itu. Jika suasana hati Embun sedang bagus, maka dia akan dengan cepat membalas dan mencurahkan isi hatinya, tapi jika suasana hatinya sedang buruk atau pekerjaannya sedang menumpuk, maka dia akan membalas semua pesan Gavin dengan singkat dan seperlunya. Seperti hari ini, tiba-tiba saja Luisa sebagai GM HRD diminta oleh para pejabat kantor untuk membentuk tim perayaan hari ulang tahun Kantor yang akan jatuh pada beberapa minggu kedepan. Hal itu membuat Embun sibuk dan tidak sempat memegang ponselnya. Sehingga banyak pesan Gavin terabaikan, bahkan saat jam makan siang. Keputusan mengenai ulang tahun perusahaan membuat seluruh karyawan dibagian HRD harus melakukan rapat dadakan pada hari itu juga. Hal itu juga memicu protes dari karyawan HRD karena menurut mereka itu menyita waktu pekerjaan mereka yang sangat padat, tapi mereka tahu benar bahwa membantah keinginan atasan akan berakibat buruk untuk diri mereka sebagai karyawan yang merasa hidupnya sejahtera di perusahaan itu selama bertahun-tahun. “Harus banget ya kita jadi EO? Kenapa gak sewa EO aja sih?” Embun berkata sambil memasang muka sendu. “Mana karyawan pabrik, anak HRD lagi yang nge-handle! Hadeeeh, kerjaan gue belum kelar masih ngurus beginian lagi. Berasa balik jadi anak BEM gue!” ucap Hardi sambil memijat kepalanya. “Kita tentuin deh siapa nih yang jadi Ketuanya, Wakil, Sekretaris, Bendahara, Koordinator acara, Koordinator konsumsi, Koordinator umum, sama Koordinator dokumentasi,” Galih yang menjadi Manager GA di bawah HRD pun mulai membahas rencana acara ulang tahun tersebut. “Manager kita ada 4, pas tuh kalo jadi anggota inti!” celetuk Hans dari bagian People Development. “Si Vivi tadi ijin dia gak bisa kalo harus ikut panitia karena anaknya lagi sakit!” timpal Hardi. “Yaaaaahhh..” semua berseru kompak atas ucapan Hardi. Mereka tahu tidak akan bisa memprotes Vivi karena ada kuasa Luisa sebagai GM sekaligus sahabat dari Vivi. Jadi mereka hanya bisa menyerukan ke kompakan dalam ketidak sanggupan mereka untuk protes dengan menghela nafas kasar. Semua ingin terbebas dari tugas yang bukan menjadi tanggung jawab utama mereka. Apalagi perusahaan bisa menyuruh juga karyawan bagian lain untuk turut andil, tapi selalu berakhir dengan menjadikan Departemen HRD sebagai Event Organizer. "Gue mau masuk di bagian umum deh," ucap Embun dengan mantap. "Yakin?" ucap salah seorang karyawan. "Iya, gue bisa bantu karena nyokap gue biasanya ikut event kayak gini." "Bagus deh. Kita lanjutin ya.." Alasan sebenarnya Embun untuk berada di seksi Umum yang sebenarnya tidak diketahui oleh teman-teman kantornya dan tentunya hanya diketahui oleh Dea. Selama ini baik Embun maupun Dea selalu menjadi orang yang pasif dalam acara kantor. Bahkan menjadi orang yang abai, tapi entah mengapa Embun dan Dea tiba-tiba secara aktif terlibat dalam diskusi dan membuat rekan-rekan mereka merasa heran karena ide-ide cemerlang yang disampaikan keduanya. Setelah perdebatan yang cukup alot, akhirnya semua sudah dibagi dalam bagian-bagian masing-masing. Kedua sahabat yang selalu memiliki passionnya masing-masing harus terpisah. Dea yang masuk dalam anggota seksi acara dan Embun yang memilih untuk masuk seksi umum karena merasa dapat membantu karena mamanya seorang perancang busana dan sering bekerjasama dengan event organizer yang membeli atau menyewa gaun di butik mamanya. Setelah rapat yang dadakan tadi diselesaikan, semua karyawan kembali ke kubikelnya untuk menyelesaikan pekerjaan dan beberapa karyawan lainnya bersiap untuk pulang. Embun melihat kearah jam tangannya dan mendapati sudah pukul 8 malam, karena keasyikan mengerjakan laporan, dia tidak sadar bahwa belum makan malam dan waktu pulang sudah terlewat beberapa jam dari jam pulang kantornya. Drrt.. Drrt.. Ponselnya bergetar membuatnya segera membuka aplikasi pesan itu. Sudah banyak pesan yang ditinggalkan oleh Gavin dan Embun memilih untuk membalas hanya pesan terakhir dari Gavin saja. > Gavin Sudah pulang princess? Embun membacanya dengan senyuman tipis di bibirnya. > Embunku Baru selesai rapat. Mau balik. > Gavin Malem banget? Aku jemput ya? kamu tunggu disana bentar. > Embunku Gak repot? Sejak pesan terakhirnya, Gavin tidak lagi membalas. Embun memilih untuk segera menyimpan seluruh dokumen di komputernya dan melirik kearah Dea yang masih asik dengan layar komputernya. Ia tampak begitu serius di mejanya. “Mbak Dea gak pulang?” ucap Embun sambil beranjak ke kubikel milik Dea. “Gue lagi nanya asisten Papa nih, nyari orang kreatif production house,” ucap Dea sambil menatap email di komputernya. “Hmmm…. Niat banget sih mbak!” “Ck! Gimana ya.. Duduk deh mbun! Lo gak buru-buru balik kan?” Dea berkata sambil menarik kursi dari kubikel sampingnya yang kosong karena rekannya itu sudah pulang. Embunpun beranjak untuk duduk dikursi yang disiapkan Dea. Matanya menatap lekat Dea yang sepertinya ingin membicarakan hal yang serius dengannya. "Kenapa Mbak?" “Semenjak lo ceritain ke gue soal kelakuan bos-bos besar kita, sejujurnya tiap malem gua kepikiran, sih. Gue kerja buat orang karena pengen orang lain bisa dapet kesempatan buat ngembangin perusahaan ini dan bisa nolong lebih banyak orang dengan kerja gitu. Lo inget cita-cita kita yang itukan?” Dea menatap Embun lekat. Embun mengangguk dengan tatapan sendu mengingat kantornya kini lebih banyak menerima rekomendasi orang-orang yang kurang kompeten untuk masuk dan bekerja. “Gue ngerasa udah gak sejalan sama perusahaan ini Mbun. Gue gak bisa kerja dengan cara kayak gini dan gue inget, dengan duit yang gue punya sekarang kayaknya mimpi gue buat punya event organizer sendiri tuh bisa jalan deh. Ditambah lagi relasi-relasi yang gue punya juga kayaknya bisa mendukung gue. Jadi, sebelum semua itu gue jalanin, gue mau mulai dulu dari ini.” Dea berkata sambil tersenyum. “Mbak Dea mau resign?” Embun mencebik dan matanya sudah berkaca-kaca. “Embun sendiri dong Mbak disini kalau mbak resign?” “Mbuuun.. waktu 4 tahun ini menurut gue cukup buat ngabdi ke perusahaan dengan segala kemajuan yang ada sampai saat ini. Gue rasa ini waktunya buat gue bisa ngembangin passion gue Mbun. Sekarang lo tanya hati lo deh, pikir lagi, lo pengen apa? Lo mau selamanya kerja disini?” Mereka saling menatap ke dalam manik mata masing-masing. Embun menunduk dalam. Setelah lulus perkuliahan, Embun bekerja di perusahaan ini dan berteman dekat dengan Dea. Tidak terasa, kini telah 3 tahun berlalu dan ia selalu merasa cukup dan gembira atas segala bentuk pertemanannya dengan Dea. Kesamaan latar belakang diantara keduanya membuat dua orang itu sangat akrab. Embun yang tidak pernah tahu akan menjadi apa dirinya, merasa pekerjaannya saat ini cukup untuknya. Sampai saat ini, tidak ada yang tahu bahwa keduanya memiliki rahasia besar. Saat dikantor baik Dea maupun Embun memilih menggunakan baju yang terlihat sederhana dan polos, tapi mereka akan memakai barang bermerek saat berada diluar kantor apalagi saat bersama keluarga mereka. Karena perbedaan mencolok keduanya saat berada diluar kantor dan didalam kantor, Embun dan Dea yakin, tidak banyak yang mengenali mereka saat berada diluar kantor. Privasi keluarga membuat Embun dan Dea tidak banyak dikenali karena tidak pernah muncul kehadapan publik. Orang tua Embun, Tyas Mayasari adalah desainer gaun untuk pesta dan pernikahan. Tyas melakukannya karena hobinya dan tidak memaksakan apa yang ia kerjakan sekarang untuk diteruskan oleh anak semata wayangnya. Begitupun Awan Rahmat yang merupakan Associate marketing B2B disalah satu perusahaan konsultan terkenal di Jakarta. Tentu namanya sangat dikenal oleh pengusaha-pengusaha di Jakarta. Publik tentu tahu Tyas dan Awan sudah menikah dan memiliki seorang putri, tapi mereka tidak pernah tahu bahwa putri mereka adalah Embun Bening Zerlinda, gadis yang sama sekali tidak pernah terlihat di sosial media kedua orangtuanya. Sama dengan kehidupan Embun, Ayah Dea tidak pernah mempublikasikan wajah istrinya dan anaknya di sosial medianya. Baik istri dan anaknya hanya ditemui saat acara-acara penting kenegaraan atau acara formal yang harus dihadiri oleh keluarga untuk kepentingan kantornya. Acara seperti itu pun sangat jarang dihadiri oleh Dea jika tidak terpaksa, seperti acara pelantikan ayahnya yang saat ini menjadi petinggi di lembaga Negara bidang penyiaran. Tidak ada yang menyadari bahwa kedua orang ini merupakan orang istimewa yang tentunya tidak perlu bekerja sangat keras sampai dengan larut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun karena passion yang dimiliki untuk terjun dalam hal pemenuhan sumber daya manusia sehingga perusahaan bisa berkembang dan membantu lebih banyak orang untuk mendapatkan pekerjaan, merekapun bekerja dengan senang hati walaupun harus lembur hingga larut. Dengan segala kemewahan yang ia punya, hatinya dilanda kegalauan. Jika Dea meninggalkannya di perusahaan itu, apa yang ia akan lakukan mengingat ia juga tidak banyak memiliki teman. Apa aku juga resign aja, ya? ucapnya dalam hati sambil menghembuskan nafasnya kasar. -***-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN