Malam ini sepulang kerja, Dea meminta untuk ditemani makan di restoran western karena tiba-tiba dia ingin untuk makan steak. Setelah memesan, Dea mencoba membuka pembicaraan karena semenjak tadi, Embun terlihat uring-uringan dan menjadi pendiam setelah melihat Gavin keluar dari ruangan Luisa.
“Lo kenapa deh Mbun? Gara-gara Gavin keluar dari ruangan Bu Luisa?” Dea bertanya dengan lembut.
“Ya itu salah satunya Mbak, cuma gak gara-gara itu aja. Ada hal heboh lainnya."
"Apa?"
"Manajer keuangan yang baru mbak! Dia itu simpenan pak Haris masa!”
“Jangan ngawur kalo ngomong, Mbun. Tau darimana coba?!” Dea bertanya dengan tatapan tak percaya.
Embun menghembuskan nafas panjang sebelum cerita tentang peristiwa tadi siang mengalir dan dibawakan dengan penuh semangat oleh Embun. Ia mengakhiri ceritanya dengan pengakuan sekretaris khusus CFO tentang Tiara yang memang suka datang jika para jajaran C level sedang tidak ada tempat dan hanya ada Haris dilantai itu.
“Gila! Sumpah lo!” suara Dea memekik tertahan. Ia merasa tidak enak jika harus berteriak dengan kondisi tempat makan yang agak ramai pada hari itu.
“Gue juga gak nyangka mbak, Gue tau sih ini kayak semacam urusan para atasan, apalagi levelnya udah C level. Tapi lo tau kan ini masalah perbuatan nggak etis di kantor. Dimana kita juga ada peraturan perusahaan yang harusnya berlaku ke semuanya. Emang mereka pada gak malu kalo misalnya skandal-skandal kayak gini ke bongkar? Tapi gue akuin sih, Tasya hebat banget bisa nyembunyiin aib ini,” Embun menatap Dea dengan lekat.
“Ya jelas. Tasya kerja buat dia. Gue juga bingung sih mau nanggepinnya gimana, Mbun. Kalau misal kita ngadu ke bu Luisa, dia bakal percaya apa nggak ke kita? Secara lo tau CFO kita masih sepupu Bu Luisa dan Bu Karenina! Jangan-jangan malah kita yang diserang balik.”
“Kayak gini emang Bang Darto gak pernah cerita?”
Dea hanya menggelengkan kepalanya.
"Bukan ranah gue juga, sih. Hubungan gue gak pernah ngomongin soal kantor. Pacaran kan buat happy, masa buat ngurusin kantor."
"Ya iya juga sih.."
Tidak lama pelayan menjeda obrolan mereka. Seorang pelayan datang dengan menyajikan dua premium tenderloin wagyu dan dua lemon tea. Mereka berdua segera menatap daging dengan kesabaran yang sudah habis karena sangat lapar, apalagi bagi Embun hari ini sangat menguras tenaga. Mereka menyantap hidangan tersebut tanpa suara dan langsung merasa puas saat mulai mengunyah daging tersebut.
“Aduh, nikmat banget mbaak!!” Embun berkata sambil memberikan ekspresi seperti orang yang kagum.
“Tepat bangetkan pilihan gue hari ini? Sekali-kali kayak begini gak apa Mbun. Memanjakan diri.” Dea nyengir ke arah Embun.
“Eh, ngomong- ngomong, gimana hubungan Mbak sama Bang Darto?” Embun bertanya tanpa melihat ke arah Dea dan asik mengunyah dagingnya.
Raut wajah Dea berubah menjadi datar dan berhenti memotong daging steak dipiringnya. Ia menghela nafas kasar dan melihat isi piringnya dengan tatapan kosong.
“Kenapa Mbak? Something happen ya?” tanya Embun takut-takut sambil menatap mata Dea.
“Gue sebenernya sabtu lalu pergi ya sama Darto, tapi ya..” Dea mengedikkan bahunya lalu kembali memotong dagingnya dan memasukkan kedalam mulut.
“Bang Darto masih takut ketemu sama orang tua mbak?”
“Ya.. masih sama, ngerasa gak pantes karena jabatan bokap gue. Gue liatlah secinta apa gue sama dia. Kalo masih cupu aja, gue mundur, Mbun! Bukan karena gua ngebet banget nikah, tapi bokap gue pasti udah gak bisa tolerir lagi kejombloan gue karena dia udah pengen punya cucu.”
“Hail, anak tunggal!” Embun mengacungkan gelas minumannya dan disambut dengan Dea sambil tertawa. Menurut Embun beginilah nasib anak tunggal, apalagi diumuran 25 tahun ke atas. pertanyaan kapan menikah seperti sudah menjadi momok tersendiri.
Mereka melanjutkan makan mereka sampai sebuah sapaan terdengar ditelinga Embun.
“Embun?” suara pria yang sepertinya tak asing untuk Embun.
Embun menoleh kearah yang menyapanya, dan mencoba menelan makanannya.
Ngapain coba disini?! ucap Embun dalam hati. Ia masih belum mau mengeluarkan sepatah katapun hingga beberapa saat berlalu.
Dea yang dihadapannya menatap Gavin dan beralih menatap Embun yang terlihat santai tapi jelas terlihat gugup bagi Dea. Dea tersenyum tipis sambil melanjutkan acara makannya.
Merasa tidak ditanggapi oleh Embun, Gavin mengulurkan tangannya pada Dea yang terlihat kebingungan di samping Embun. “Halo gue Gavin, lo pasti temennya Embun. Satuuu .. perusahaan?” Gavin mengalihkan pandangannya kepada Dea dan membaca tag perusahaannya.
“Haaaii.. Dea.” Dea membalas uluran tangannya sambil tersenyum kearah Gavin.
Gavin menarik satu kursi kosong di antara Embun dan Dea.
Demi menghilangkan kegugupan, Embun minum lemon tea dan merapikan anak rambutnya kebelakang daun telinganya walaupun tidak ada yang berantakan karena dia menguncir kuda rambutnya.
Gavin memperhatikan wajah Embun dan tengkuk putihnya yang terekspos karena kuncir kuda Embun. Gavin meneguk ludahnya dan diperhatikan oleh Dea yang sedang menyeruput lemon teanya.
“Gue boleh gabung dulu sebelum acara makan malam gue nggak? Soalnya Embun lagi rese’, gamau bales chat gue.” Gavin menoleh kearah Dea untuk meminta izin mengganggu makan malam mereka.
“Sure, take your time!” Dea tersenyum ke arah Gavin.
“Mbak Dee..” Embun melotot pada Dea dan berkata dengan tanpa suara.
“Did something wrong happen between you, guys?” Dea tidak menggubris dan tersenyum sambil melanjutkan memotong steaknya.
“Gue ngerasa gak ada masalah De, tapi rasanya Embun ngehindarin gue deh.” Gavin menjawab sambil mencebik dan berkata seolah tidak ada Embun di sekitarnya.
Embun masih saja sibuk mengunyah daging di mulutnya tanpa mengatakan apapun. Dea yang membaca suasana canggung itu memilih untuk menghindari situasi yang ada.
“Ekhm! Gue ke toilet dulu Mbun. Kebelet gue! Titip tas gue ya!!” Dea berdiri dan segera berlalu.
"Mbak.." Embun mencekal tangan Dea, namun dia langsung menepis tangan Embun dan tersenyum seolah memberi kode untuk menyelesaikan masalahnya. Setelah Dea beranjak dan sedikit menjauh barulah Embun bersuara.
"Ada perlu apa ya, Vin?"
"Kamu gak ngeblock nomer aku kan?"
“Kalo yang lo permasalahin adalah ajakan pergi yang gue abaikan. Gue rasa gak gue bales, lo juga bisa aja pergi sama cewek manapun kan? Gak ada wanita yang bakal nolak lo untuk diajak jalan dimalam minggu atau hari libur lain. Yaa.. kecuali gue sih! Dan menurut gue bales atau gak bales chat lo, itu hak gue kan?” ucap Embun datar.
“Kenapa kamu nolak, aku maunya sama kamu?” dahi Gavin mengernyit.
Haaahh.. Buaya! Soalnya gue udah liat sendiri, dan gue yakin pasti ada wanita lain yang lo ajakin jalan dan banyak, tapi sorry gue gak minat jadi pilihan kesekian lo. Apalagi saingan gue atasan gue!! Batin Embun. Embun mendengus kesal dan meminum lemon teanya hingga menyisakan separuh gelas.
Gavin masih setia menunggu Embun menjawab dengan menatap lekat Embun.
"Mbun, di dunia ini gak ada masalah yang selesai kalau diucapin cuma dalam hati. Mana aku bisa ngerti apa salah aku kalau kamu nggak mau ngomong. Inget! jangan benci-benci banget sama aku, akhirnya nanti juga kamu bakalan cinta sama aku!" ucap Gavin sambil mencubit gemas hidung Embun dengan senyum merekah karena melihat betapa menggemaskannya Embun yang terlihat merajuk dihadapannya.
Embun yang marah, kini malah salah fokus dengan senyuman Gavin. Raut mukanya kini bingung harus bagaimana menghadapi Gavin. Tidak ada suara apapun yang keluar dari mulut Embun setelah sekian menit berlalu membuat Gavin memutuskan untuk beranjak dari kursinya sambil tersenyum.
“Aku udah bayar makanan ini, jadi kamu gak perlu bayar lagi. sebagai gantinya, kamu jangan cuekin aku. Oke?! Aku permisi dulu, acaraku mau mulai. Jangan sampai gak dibales ya pesanku, soalnya aku tipikal laki-laki pemaksa.” Gavin menepuk bahu Embun pelan dan berlalu menuju sebuah ruangan yang sepertinya ruangan VVIP di restoran tersebut. Embun memperhatikan dengan seksama laki-laki yang sudah mulai mencuri perhatiannya itu.
Ih! Apaan sih?! Ya tuhan kenapa otak, hati, tindakan hamba bisa gak sinkron! Ucap Embun dalam hati menyesali kenapa tidak melawan Gavin, di sisi lain ia sendiri terpesona dengan laki-laki tampan itu.
Tidak lama setelahnya, Dea kembali dan mendapati kursi sebelah Embun sudah kosong.
“Lho? Udah pergi?” Dea kembali duduk dan menatap Embun.
“Hmm…” Embun mengelap mulutnya dan kembali menenggak minumannya. Matanya masih tidak lepas dariruangan VVIP yang ada diujung ruangan itu.
-***-