Di tempat lain, Eva menatap tanpa ekspresi pada sebuah pesan singkat yang baru saja ia dapatkan. Seseorang mengirimkan sebuah foto makam juga pesan harapan terakhir yang di inginkan oleh sang pemilik pusara tersebut. Eva mengusap pipinya yang tanpa ia sadari telah basah. Seburuk-buruknya Axel di masa lalu, pria itu pernah menariknya sejenak dari lubang gelap yang tercipta di dalam keluarganya. Pria itu pula telah menitipkan sosok yang paling berharga dalam hidup Eva. Yaitu Alva putranya. "Maaf karena tak pernah berpikir untuk mempertemukan kalian. Aku hanya terlalu takut kehilangan putra yang ku rawat dengan segenap pengorbanan, berpaling pergi meninggalkanku. Andai aku tau, kamu akan pergi secepat ini, aku akan memberikanmu sedikit kesempatan agar Alva tak tumbuh dalam sesal di kemudian

