Aliya terbangun dengan sakit di sekujur tubuhnya, ia membalik tubuhnya pelan-pelan dan melirik ke arah nakas. Ada teh dan bubur jagung, beberapa kali ia memejamkan matanya yang sepertinya buram, ia menggosok-gosok matanya beberapa kali namun yang ia lihat hanya buram. Sebelah pelipis dan mata kirinya terasa sakit dan semakin sakit bila melihat cahaya.
Hari sudah siang sekali, hampir senja, Ibu pasti belum pulang. Ia harus minta tolong pada siapa? Aliya masih enggan untuk meminta tolong pada Mai yang ia tahu pasti bubur itu dia yang memasak.
Aliya mengusap wajah sebelah kirinya pelan-pelan agar perihnya mereda namun tak berhasil, masih saja sakit dan matanya buram lagi. Ada apa ini? Apa Tiara tadi memukulnya begitu keras hingga sekitaran pelipisnya sakit dan matanya menjadi agak buram seperti ini?
Aliya bersandar pada bantal, memeluk bonekanya lalu menangis. Mengapa dirinya semengenaskan ini? Kenapa juga hidupnya harus seperti ini? Tak habis di bully Tiara, sejak kelas 10, awal sekali masuk sekolah.
Cklek
Pintu kamar Aliya terbuka, ia melirik sedikit melihat siapa yang datang. Oh dia. Pikirnya. Mai melangkah masuk ke dalam lalu melakukan anamnesis pada Aliya. "Masih sakit ya?" tanyanya, Aliya mengangguk.
"Kok tante bawa stetoskop? Tante dokter ya?" tanya Aliya penasaran.
Mai kembali memasang senyumnya dan mengangguk. "Sekarang, kamu pasien Tante. Yang kooperatif, ya." pintanya lalu segera memakai stetoskopnya.
Aliya masih diam, sesekali meringis. Ia masih menimbang-nimbang sejenak sebelum akhirnya ia memberi tahu bahwa mata kirinya terasa buram.
"Hmm, Tante kompres ya? Kamu ada ice pack?"
"Nggak punya Tante."
"Ya udah, handuk aja ya pakai es batu." Aliya hanya mengangguk saja, ia sudah tak karuan rasanya.
Mai turun ke bawah mengambil peralatannya untuk mengompres. Di kepalanya saat ini adalah mengapa bisa Tiara sampai hati memukul temannya sendiri hingga mata Aliya kini jadi lebam dan buram jika melihat. Mai masih tak habis pikir, salah apa Aliya pada Tiara? Ini tak mungkin hanya karena status Aliya saja kan?
"Aku harus tanya sama Aliya." gumamnya sambil naik kembali ke lantai dua.
Aliya diam saja saat Mai mulai mengompres matanya sambil menahan perih, ia masih tak ingin membahas apapun saat ini. Walau di dalam hatinya saat ini ingin sekali ia menangis, di peluk tapi Ibunya belum pulang.
"Aliya, Tante mau tanya, boleh?" ujar Mai pelan usai meneteskan obat mata.
"Boleh." cicit Aliya.
"Tiara kok bisa sih kayak gini ke kamu?" tanyanya, Aliya diam seketika, Mai masih menunggu jawaban. "It's okay if you don't want to talk with me about this. I understand.." Mai tersenyum canggung.
"Maaf Tante." cicitnya lagi, ia jadi merasa tak enak hati karena sikapnya yang seolah tak menerima kehadiran Mai. "Sebenernya.." Aliya menggantung ucapannya, Mai menatapnya seksama.
"This is not my first time. Tiara bully aku sejak kelas 10. So, this is not my first injured." cerita Aliya, Mai tercenung mendengar ceritanya.
"But why? Kenapa dia bully kamu sampai seperti ini?"
Aliya menggeleng. "Mungkin karena Tiara bukan dari orang tua yang sempurna padahal aku juga. Tapi aku dan Ibu bahagia..."
"Sedangkan dia dengan Mamanya tidak? Jadi dia mau membuat kamu merasa apa yang dia rasa?" tebak Mai tepat sasaran, Aliya hanya mengangguk membenarkan.
"Kamu nggak mau pindah atau home schooling aja gitu?"
Aliya menggeleng. "Aku udah cukup menyusahkan Ibu dengan hal-hal ini dan nggak mau buat Ibu keluar uang lagi untuk pindah sekolah atau bahkan home schooling karena beban Ibu udah cukup banyak, Tante. Jadi ya terima apa adanya aja, toh tahun depan aku bakal lulus SMA kan?" Aliya mencoba tersenyum sementara di dalam hati Mai rasanya seperti tercabik-cabik.
Mai reflek memeluk Aliya, Aliya pun menyambut pelukan itu tanpa terasa ia menangis bersamaan dengan pelukan yang semakin mengetat. Rasanya hangat.
"Cry baby cry.., it's okay..." Mai mengusap punggung Aliya yang bergetar karena menangis. Mai menangkup wajah Aliya dengan kedua tangannya, ia tempelkan keningnya dengan kening Aliya. "It's okay now, you can tell me anything. Don't be hesitate, okay?"
Aliya sudah tak mampu lagi berkata, ia hanya bisa menangis karena sudah menahannya sejak tadi. Sekarang rasanya sedikit lega karena pelukan tadi membuatnya menangis kencang.
"Sekarang, makan dulu ya? Buburnya udah dingin, mau ganti yang baru?"
"Nggak usah, ini aja." jawab Aliya pelan.
Mai segera menyuapi Aliya, sesuap demi sesuap sambil mereka berbagi cerita, akhirnya Aliya bisa bicara dengan baik-baik tanpa frontal seperti tadi pagi. Akhirnya.
.
.
.
"Mai, mana Aliya?" tanya Anneke khawatir begitu sampai di rumah lepas maghrib.
"Aliya masih di kamar, aku minta dia istirahat dulu. Tadi ada lebam di matanya, udah aku kompres dan tetes obat mata."
"Tapi nggak apa-apa kan?"
"Ya, lumayan." jawab Mai. "Ini semua salahku, Ke.” ucap Mai menyalahkan dirinya.
“Nggak ada yang patut di salahkan, Mai.” Anneke menatap Mai, ia akhirnya jadi membiarkan saja Mai dekat dengan Aliya. Kali ini ia takkan mempersulitnya.
“Tapi Aliya di bully teman-temannya gara-gara aku,” ucapnya masih tertunduk menghadap lantai tak berani menatap Anneke.
Anneke menggelengkan kepalanya. “Udahlah, aku dan Aliya udah biasa dengan perlakuan seperti itu. Aliya hanya kehilangan kesabarannya aja tadi, tapi sebenarnya dia anak yang penyabar, tapi sabar ada batasnya dan tadi adalah puncak Aliya yang sudah kelewatan sabar. Apalagi soal kerudung, Aliya tidak bisa mentolerir itu sama sekali. Mereka boleh mengusik dan mencemooh Aliya sesuka hati asal tidak mengganggu kerudung Aliya. Karena tak ingin semua orang melihat rambut panjang nya yang selama ini dia sembunyikan di balik kain itu.”
Mailanny kembali terdiam mendengar penjelasan Anneke. “Ya Allah, orang tua macam apa aku ini? Ampuni aku yang telah gagal jadi orang tua yang baik untuk anakku dan telah gagal menjaga titipanMu,” batinnya. Menyedihkan.
***
Anneke masuk ke kamar Aliya, ia menyelinap masuk ke dalam selimut, ia peluk tubuh itu, Aliya balas memeluk, dia tahu itu Ibunya. Aliya pulas tertidur dengan memeluk Anneke posesif tak ingin Ibunya beranjak.
Tempat ternyamannya saat ini adalah di pelukan Ibu. Mai mengintip dari pintu kamar yang memang belum tertutup rapat, niatnya untuk menemani Aliya tidur namun apa dayanya? Di sana sudah ada Anneke yang pulas bersama Aliya. Sudahlah. Akan ada masanya ia dan Aliya akan dekat, mungkin tidak sekarang.
Mai menutup pintu kamar Aliya pelan hingga tak menimbulkan suara apapun, ia melangkah ke ruang tengah. Jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul 20.33 dan itu artinya sudah jam 9.33 pagi waktu New York. Segera saja ia men-dial nomor ponsel Suaminya itu.
Tepat di dering ketiga, teleponnya dijawab. "Assalamualaikum, sayang?" sapanya di seberang sana dengan suara khasnya.
Ya Tuhan, rasanya Mai ingin menangis sekarang. Rindu sudah tak terbendung lagi sepertinya.
"Wa'alaikumsalam, Mas. Apa kabar?" jarak tak terkira itu membuat mereka harus menjalani long distance marriage demi sesuatu tengah mereka perjuangkan saat ini.
"Alhamdulillah, Mas baik. Kamu gimana, Yang? Aliya gimana? Udah jumpa?" repetnya dengan beberapa pertanyaan sekaligus, sedikit tawa terdengar dari Mao saat Hardi melontarkan begitu banyak pertanyaan.
"Aku juga baik. Aliya ya? Udah kok, tapi ya begitu deh. Jutek banget anakmu itu." keluhnya.
"Hahhaaha, gen Mama toh?" candanya berusaha mencairkan suasana. "Aku kangen, kangen kamu, kangen princess juga."
"Aku juga kangen kamu, Mas. Kamu pulang ya, bisa kan?" pintanya.
"Bisa, aku memang sedang urus cuti yang nggak pernah terpakai itu. Mas akan cuti 6 bulan, proyek yang mas tangani semua sudah selesai juga jadi ya sebaiknya di manfaatkan untuk aku pulang. Kangen masakanmu juga,"
"Iya, nanti aku masakin ya. Kapan rencananya kamu berangkat dari sana?"
"Weekend ini, jemput aku di airport ya." pintanya. "Kamu nggak ada jadwal praktik kan?"
"Nggak ada. Weekend libur kok, see you in a days."
"See you in a days too, Mama. I have to go now, Assalamualaikum," tutupnya.
"Wa'alaikumsalam," layar ponselnya kembali ke menu utama, ada helaan napas yang begitu berat terdengar di ruangan yang sudah sepi ini. Mai tak sampai hati menyampaikan apa yang di alami Aliya hari ini.
Ada rasa sesal begitu besar masih hinggap di hatinya saat ini. Apa yang ia lakukan dulu?? Kalau saja ia memilih mengabaikan permintaan gila ibu mertuanya, mungkin Aliya takkan memanggilnya dengan sebutan Tante seperti tadi.
Kalau saja ia menuruti kata hatinya untuk turut serta membawa Aliya ke New York, tepat saat Aliya 2 tahun mungkin ia takkan sesakit ini di abaikan.
Yang ia ingin saat ini hanyalah Aliya tahu siapa dirinya, memanggilnya dan Hardi dengan sebutan Mama dan Papa, bukan sebutan Om dan Tante.
Namun semua butuh proses, Mai dan Hardi pun harus siap dengan segala reaksi yang di timbulkan Aliya nantinya. Segala bentuk penolakan saat ini dan nanti bisa saja setelah Aliya tahu malah semakin menjauh dan menolak.
Ia sandarkan tubuhnya ke sofa, mengambil bingkai foto kecil yang ada di atas nakas. Ada Aliya dalam foto itu, bersama Anneke tentu saja. Membawa serta piala serta piagam kemenangannya di lomba debat bahasa inggris belum lama ini. Ia tersenyum bangga, Anneke membesarkan Aliya dengan baik, amat sangat baik hingga dirinya kini tidak tega meminta Aliya pada Anneke.
Apapun yang Anneke lakukan, takkan bisa dihargai dengan uang. Seberapa besar nominal yang dijumlah nantinya, karena apa yang dilakukan Anneke takkan pernah bisa terhitung dengan apapun, semua itu terlalu berharga. Amat sangat berharga.
"Mama bangga sama kamu sayang. Mungkin bukan Mama yang membuatmu ada di titik sekarang, tapi Mama bangga bisa melihat anak Mama berprestasi." gumamnya pelan seraya memindai piala yang berjejer serta medali yang di dapat Aliya sejak TK hingga SMA.
****
Sementara di New York
Hardi tengah menikmati kopi hitamnya sambil memandangi gedung-gedung pencakar langit di hadapannya. Sudah belasan tahun ia hidup di negeri orang, hidup di New York dengan segala hal yang terjadi di dalamnya, jatuh bangun bersama Istri tercinta, satu-satunya yang juga seorang dokter, Mailanny.
Ia menatap langit cerah New York dari balik jendela kaca ruangannya yang besar, lengan kemejanya ia gulung sampai siku. Weekend ini ia akan pulang, kurang lebih untuk 6 bulan ke depan.
Ia akan bantu Mai untuk mendekatkan diri dengan Aliya. "Apa kabar kamu, princess? Maafkan Papamu yang pengecut ini belum berani nampakkan diri di hadapanmu. Maafkan Papamu yang pengecut ini terlalu takut untuk berhadapan denganmu, dengan reaksimu. Salahkan Papa atas semua yang terjadi, jangan salahkan Mama. Karena pelaku sesungguhnya disini adalah Papa, Papamu yang pengecut ini. Yang terlalu takut mengambil keputusan saat itu. Kalau saja waktu bisa kembali Papa putar, kamu takkan bernasib seperti ini sayang, keluarga kita masih utuh, tak tercerai berai seperti ini. Maafkan Papamu yang pengecut ini, anakku, Aliya Ariana Nindita," ucapnya sedih sambil menengadah menghadap langit biru. Begitu besar salahnya pada Aliya, akankah ia dimaafkan?
tok..tok
Sebuah ketukan membuyarkan pikiran Hardi.
"Come in,"
"Mr. Hardi, we have to meet our client, meeting in 15 minute." ujar Caroline, Sekretaris Hardi.
Hardi mengangguk mengiyakan. "I'll be there. Thank you," ujarnya.
Caroline pamit permisi. Hardi merapikan penampilannya lalu memakai kembali jas kerjanya yang berwarna abu-abu, tanpa dasi. Ah, biasanya Mai yang memilihkannya dasi untuk ia pakai ke kantor.
Ia berjalan keluar ruangannya membawa beberapa design yang akan ia presentasikan pada kliennya pagi ini.
Sampai di ruang meeting, ia langsung berhadapan dengan kliennya. Namun ada yang tak biasa, kliennya ini membawa anaknya yang kira-kira berusia 4 tahun, perempuan dengan rambut blonde yang dikucir dua kanan-kiri. "Is she your daughter?" tanya Hardi penasaran.
"Yes, Angela. She's my daughter. I'm sorry, i have to bring her here, she so close to me and she really corious with everything," ujarnya lalu terkekeh sambil sesekali melirik Angela yang sedang mencorat-coret kertasnya.
"It's okay Mr. Mike." sahut Hardi tersenyum ramah saat netra Angela memandang ke arahnya.
Ya Tuhan, apalagi ini. Jika saja,... ah, tak akan selesai bila selalu dibandingkan dengan Jika.
Meeting mereka berjalan lancar dan selesai tepat saat makan siang. Mr. Mike dan Angela lalu pamit, ia menggandeng tangan Angela yang di punggungnya terpasang sayap ala-ala tinkerbell sampai keluar dari ruangan meeting.
Hardi memejamkan matanya saat di rasa ada matanya berair, sesedih ini kah? Entah sudah sedalam apa rindunya dengan Princess satu-satunya yang kini ia sedang menerka dan meraba seperti apa wajahnya kini. Mai belum mengirimi fotonya.
Hardi mengeluarkan ponselnya, hendak mengecek beberapa pesan namun pesan bergambar dari Istrinya begitu menarik perhatiannya dan benar saja, saat ia buka pesan itu, ada wajah Aliya di sana, Mai memotretnya dari foto yang ada di dalam bingkai. "Masha Allah, princess, cantik," gumamnya meraba foto di dalam ponselnya.
Segera saja ia mengetik balasan pesan untuk meminta foto high resolutions kalau bisa foto berdua dengan Mai.
---------