Yardan segera menggendong Livia untuk membawanya masuk ke dalam. Tertinggal dua orang yang saling berpandangan dengan wajah ambigu.
“Jika tahu dia sudah menikah, untuk apa lagi aku menyukainya Yol? Hancur sudah perasaanku,” sungut Arka lalu menggandeng tangan Yolanda untuk diajaknya pulang.
“Yang sabar! Mungkin wanita itu memang bukan jodohmu. Ayolah bersemangat! Masih banyak wanita lajang lain di luaran sana,” kekeh Yolanda antara menenangkan si sahabat atau tengah mengejeknya.
Tanpa keduanya sadari, Yardan keluar dari rumah dan mencari keberadaan mereka. Ia belum mengucapkan terima kasih karena telah mengantar Livia. Namun karena tak mendapati mereka di luar, Yardan lalu kembali masuk ke rumah. Ia harus mengurusi si Livia yang tengah mabuk itu.
Yolanda dan Arka tidak langsung pulang. Keduanya mampir di salah satu minimarket membeli makanan cepat saji dan minuman kaleng beralkohol.
“Maaf, tapi makanan ini sudah kadaluwarsa,” ucap penjaga kasir memberitahukan.
“Kapan kadaluwarsanya?” tanya Yolanda sembari mengangkat makanan di kotak dengan sebelah tangan.
Si penjaga kasir melihat sebentar bandrolnya dan menyahut sopan. “Jam setengah 12 tadi. Sekarang sudah jam 12 lebih 15 menit.”
Yolanda mengedikkan bahunya. “Tidak masalah kalau begitu. Aku tetap beli ini. Berarti akan ada diskonnya karena aku beli yang sudah kadaluwarsa, bukan?” celetuknya ringan.
Si penjaga kasir mengangguk mengiyakan. Usai membayar apa yang ingin dibeli, Arka dan Yolanda keluar untuk memakannya di bangku yang sengaja disediakan oleh pemilik toko.
“Yol, kau serius mau makan itu?” tanya Arka menaik-turunkan alisnya.
“Masih bisa dimakan dan harganya murah, kok. Kau juga tak usah sok-sok an meledek, padahal diri sendiri juga memakannya,” sahut Yolanda melirik ke kotak makanan yang Arka beli.
Keduanya lalu terbahak karena obrolan konyol itu. Yah, pasalnya keduanya memang tak suka menghamburkan uang untuk hal sepele begini. Toh, makanannya tidak mengandung racun yang membuat keduanya sakit jika memakannya kelewat dari batas kadaluwarsa lebih dari sejam saja.
Setengah jam keduanya habiskan untuk makan, lalu Arka berinisiatif mengantar Yolanda pulang dengan selamat. Meskipun Yolanda sempat menolak karena terlalu kasihan pada Arka yang baru menerima kenyataan pahit wanita incarannya sudah punya suami.
“Yol, bagaimana jika aku menyukaimu saja? Dijamin aku takkan salah pilih seperti ini,” celetuk Arka yang mulai membual.
“Jangan gila! Aku tidak mau punya hubungan asmara dengan temanku sendiri yang kuanggap keluarga. Dan kau—berhenti berpikiran bahwa wanita hanya dia saja! Masih banyak wanita lajang di luaran sana, dan yang jelas itu jangan aku.” Yolanda menghujat begitu sarkas satu kalimat yang terlontar dari bibir Arka.
Arka yang mendapat hujatan hanya bisa tersenyum paksa. Ia juga takkan sudi menyukai wanita barbar seperti Yolanda ini. Ia itu pantasnya menyukai wanita karier yang elegan, bukan modelan Yolanda yang disenggol dikit langsung bacok.
“Eh, tapi kalau dipikir-pikir aku tidak menyangka bahwa wanita pujaanmu ternyata istrinya Yardan. Seolah takdir kita berempat ini memang saling berhubungan begini. Bagaimana menurutmu?” celetuk Yolanda menimang pemikirannya itu.
Arka menoleh sebentar padanya. “Takdir naas maksudmu? Aku patah hati, Yol. Kau itu bukannya menghibur tapi malah membuatnya makin sakit saja,” sahutnya mangkel.
Yolanda terkekeh. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia ‘kan hanya sedang berpikir random. Yah, meski diakui juga olehnya waktu dan tempatnya tidak pas karena Arka tengah bersedih.
“Tapi siapa tahu bahwa wanita pujaanmu dan Yardan bercerai? Jika iya, bukankah itu kesempatan bagimu untuk mendekatinya. Kau jangan pesimis dulu makanya!” ucap Yolanda tiba-tiba dengan suara bersemangatnya yang malah mengagetkan bagi Arka.
“Kau itu sudah gila atau bagaimana Yol? Kau tak lihat tadi betapa Yardan peduli begitu pada Livia? Jika dilihat dari kacamata semua orang, itu karena mereka berdua pasangan harmonis. Untuk apa pasangan harmonis bercerai? Dasar ya, sepertinya otakmu sudah geser karena makanan kadaluwarsa tadi,” tukas Arka menggeleng prihatin pada Yolanda yang menurutnya sedang sakit itu.
Wajah Yolanda langsung berubah datar sedatar tripleks. Tanpa rasa iba, ia menggetok kepala Arka hingga empunya mengerang kesakitan. Yolanda tidak minta maaf dan menyelonong masuk ke dalam kost-annya dan menutup pintu tanpa berpamitan pada Arka yang telah mengantarnya.
Arka menendang keras pintu kost nya Yolanda, namun temannya itu tidak keluar. Malahan tetangga sebelah kost nya Yolanda yang keluar dengan membawa sapu ijuk.
“Malam-malam begini mau apa buat kegaduhan di sini, hah? Cepat pergi atau kalau tidak sapu ini akan melayang ke tubuhmu!” makian tetangga itu membuat Arka lari kocar-kacir.
Malam ini adalah yang terburuk bagi Arka. Ia yang kandas dalam urusan percintaan, punya teman yang tak memahami perasaannya, dan bahkan tetangga temannya itu mau memukulnya dengan sapu untuk mengusirnya.
Arka pulang dengan perasaan tak karuan sedihnya. Semoga saja besok ia sudah kembali sediakala tanpa rasa patah hati.
*****
Yolanda bangun tidur dan segera merenggangkan otot-otot tubuhnya. Ia menggeliat di kasurnya saja tanpa niatan untuk mandi. Toh, dirinya tidak ke mana-mana karena kerjanya sore hari.
Tangannya menggapai ponsel yang di charger tak jauh darinya. Ia mengirim pesan teks pada Arka karena mengkhawatirkan teman seperjuangannya itu. Miris sekali jadi Arka karena sekalinya menyukai wanita, malah yang sudah beristri. Yolanda berharap ia takkan seperti itu. Ia akan cari suami yang benar-benar jelas bibit, bebet, dan bobotnya agar tidak salah pikir. Terserah saja jika ia dibilang matre atau wanita yang pemilih padahal dirinya sendiri banyak kurangnya. Begini-begini Yolanda mau cari yang terbaik untuk spek jodohnya.
[Arka, bagaimana patah hatimu? Kau masih mampu bekerja nanti sore atau ambil libur saja?]
Pesan terkirim. Tak menunggu 2 detik, sudah ada pesan balasan membuat Yolanda menyunggingkan senyum. Kalau ditebak, sepertinya Arka sudah lupa soal patah hatinya.
[Siapa yang patah hati? Maaf, sepertinya kau salah tebak. Aku ini kemarin hanya tiduran saja di rumah tanpa ke mana-mana, kok.]
Benar saja tebakannya setelah membaca pesan balasan dari Arka. Syukurlah temannya itu tidak berlarut dalam kesedihannya, batin Yolanda. Terkadang Yolanda ingin berpikir seperti para lelaki kebanyakan yang mengandalkan logika. Karena setahunya perempuan itu lebih banyak memakai perasaan, jadi jika patah hati butuh waktu lama untuk pulihnya. Dan waktu terbuang itu jika digunakan mencari uang, akan cukup baginya menambah tabungan biaya hidupnya.
[Baguslah jika kau lupa. Eh, aku nanti akan telat datangnya karena akan pergi ke pemakaman orangtuaku. Katakan pada bos kalau aku izin cuti beberapa jam saja.]
Yah, hari ini tepat 7 tahun orangtuanya meninggalkan dirinya. Sudah jadi kebiasaan Yolanda jika peringatan kematian orangtuanya, ia akan berkunjung ke makam mereka sekedar berkeluh kesah. Ya, karena ia tak pernah cukup bahagia untuk menceritakan kebahagiaannya setelah ditinggal oleh orangtuanya.
Yolanda benar-benar menghabiskan waktu seharian ini untuk bermalasan. Saat melihat jam dinding sudah menunjukkan angka 4 sore, barulah ia bangun dari kasurnya dan mandi. Ia bersiap ke pemakaman orangtuanya. Tapi sebelum ke sana, ia membeli bunga serta kue ulang tahun.
Yolanda datang sendirian. Ia tak mengizinkan Arka untuk ikut meski berulang kali sahabatnya itu menawarkan diri. Karena nanti di sana Yolanda akan memaki dan menumpahkan kekesalannya pada orangtuanya secara bebas. Jika ada Arka, mungkin akan canggung.
Yolanda duduk perlahan di antara makam ayah dan ibunya. Ia membuka pembungkus kue ulang tahun dan mengeluarkannya dari kotak.
“Apa kalian tidak melihatku dari atas sana? Apa penderitaanku di sini sendirian sama sekali tak membuat kalian iba padaku? Paling tidak, kalian bisa membawaku juga untuk pergi dan tidak meninggalkanku sendiri di sini.”
Yolanda tidak menangis. Tatapannya malah terlihat amat kosong dan seolah ucapannya tak lagi mengeluarkan perasaan sesak apapun. Mungkin karena ia sudah terlalu hafal keluhan yang selalu sama dan jawabannya.
Yolanda mengedarkan pandangannya ke area pemakaman. Niatnya hanya iseng, namun tatapannya malah menemui sosok yang membuatnya kaget bukan kepalang. Di ujung sana berjarak 10 makam, Yardan dan anak kecil bernama Leta itu juga tengah mengunjungi makam.
Karena rasa penasaran Yolanda, ia datang mendekat. Dari belakang ia bisa mendengar jelas ucapan Yardan.
“Kamu lihat anak kita?–Aleta sudah tumbuh besar. Ia jadi anak yang manis dan juga penurut. Dia tidak suka merepotkanku dan bisa memahami diriku, sama sepertimu. Bisakah aku dan Leta tetap tenang begini selamanya meski tanpa kehadiranmu, Istriku?”