Dia Sudah Menikah

1312 Kata
Yolanda akhirnya mengetahui fakta bahwa istri Yardan alias ibunya Aleta sudah meninggal dunia. Ketiganya kini tengah duduk di salah satu bangku beton yang sengaja dibuat di luar area pemakaman guna tempat istirahat para peziarah. Leta yang bertemu Yolanda tentu saja merasa senang. Ia bahkan merengek minta dipangku oleh Yolanda dan perempuan ini menurutinya. Yardan sendirilah yang menceritakan soal kepergian sang istri. Ia katakan bahwa Laras sudah 4 tahun ini meninggal karena kecelakaan. “Istriku benar-benar mempertaruhkan hidupnya untuk melahirkan Leta. Ia yang waktu itu pendarahan hebat akibat kecelakaan, nyatanya tetap memilih agar Leta selamat keluar dari perutnya. Meski Leta pada akhirnya harus lahir prematur dan menjalani operasi sesar, dia mampu tumbuh menjadi anak sehat seperti sekarang.” Yardan menjelaskan itu dengan mata menerawang seolah mengingat kejadian beberapa tahun silam itu di mana ia kehilangan sang istri tercinta. Ada rasa senang juga sedih menyelimutinya kala itu. Ia yang akhirnya dikaruniai bidadari cantik yang bernama Aleta, namun di saat bersamaan harus dipisahkan dengan wanita tercintanya. Hebatnya Yardan, ia tidak pernah sekalipun menyalahkan kehadiran Leta yang secara tidak langsung adalah alasan istrinya direnggut paksa darinya. Sebaliknya, ia amat menyayangi Leta sebagai buah hatinya dan sang istri. “Kau ayah yang sangat baik ternyata,” komentar Yolanda setelah mendengar cerita Yardan yang sejujurnya amat menyentuh sanubari terdalamnya. Yardan saja bisa menerima takdir pilu yang menghiasi hidupnya dengan sukacita, namun berbeda dengan Yolanda yang masih marah jika terbayang ingatan kejahatan sang ayah. Ia masih punya dendam pada orangtuanya sendiri. Yardan menoleh ke arah Yolanda yang tengah mendongak tenang ke langit yang kebetulan sedang mendung. “Ya, aku selalu memprioritaskan Leta di atas segalanya. Aku tak ingin Leta merasa kekurangan kasih sayang karena tidak memiliki orangtua lengkap seperti anak sebayanya. Aku ingin memberikan yang terbaik bagi Leta agar nanti jika dipertemukan lagi dengan istriku di surga, aku bisa dengan bangga mengatakan bahwa aku sudah membesarkan Leta dengan begitu baik.” Yardan berucap pelan dengan diselingi kekehannya yang merasakan bahwa ucapannya itu pasti dianggap menggelikan bagi Yolanda dan penuh omong kosong. Tetapi kebenarannya adalah Yolanda merasa termotivasi dengan ucapan Yardan. Namun untuk mempraktikkannya, Yolanda akui belum siap. Ia belum mampu merelakan kepedihannya karena ulah sang ayah. “Sebaiknya kita pulang saja atau bagaimana? Soalnya mendungnya makin terlihat tebal dan kurasa akan hujan lebat sebentar lagi. Kita lanjutkan obrolannya di mobilku saja,” ajak Yardan menyadari situasi alam tidak mendukung. Yolanda setuju dan ketiganya menuju ke mobil Yardan yang terparkir tak jauh dari pemakaman. Leta sudah tidur di jok belakang karena efek kelelahan, mungkin. Gadis kecil itu sangat aktif waktu tadi dipangku Yolanda. Tangan kecilnya terus memegangi dan mengelus jari-jari Yolanda. Entah kenapa, tapi Yolanda tidak merasa terganggu dengan tingkah Leta yang malah terlihat menggemaskan di matanya. “Kau sendiri bagaimana? Kau mengunjungi makam siapa kalau boleh tahu?—tadi aku tak sengaja lihat ada kue ulang tahun di dekat makam tak jauh dari makam istriku. Kurasa itu kau yang bawa,” ucap Yardan melirik sekejap ke arah Yolanda di sampingnya. Yolanda menggigit bibir bawahnya sambil melihat ke jendela sebelahnya. Ia tak suka pertanyaan dari Yardan, sungguh. “Makam kedua orangtuaku. Yah, hari ini tepat 7 tahun mereka pergi. Em, bisakah kita tidak bahas topik keluarga? Aku kurang nyaman sebenarnya,” sahut Yolanda yang to the point. Yardan tertawa kikuk sembari menggaruk tengkuk lehernya. “Aku minta maaf jika menyinggungmu.” “Oh, tidak masalah. Oh iya, bagaimana keadaan istrimu kemarin? Bukankah Livia mabuk berat malam itu?” kekeh Yolanda mencoba mengalihkan topik. Ia tiba-tiba teringat soal Livia. Sekalian saja mengorek sedikit informasi perempuan itu untuk nantinya ia beritahukan pada Arka, sang sahabat. Yardan terlihat membolakan mata kaget mendengar pertanyaan tak masuk akal Yolanda. Istri katanya? Hey, dirinya itu masih menduda sejak ditinggal Laras pergi. Dan apa-apaan dengan mengatakan bahwa Livia itu istrinya. “Hey, Livia itu tak lebih dari sekretarisku. Ia memang orang terpercaya bagiku. Lebih tepatnya, orangtua kami bersaudara jadi wajar saja ia dan aku seakrab itu.” Yardan tak bisa untuk tidak terbahak kala menjelaskannya. Ia bisa tebak jika kemarin itu Arka dan Yolanda pasti salah paham akan hubungannya dengan Livia. Sejujurnya Livia keesokan harinya saat kepalanya saja masih sangat pening, ia sempat-sempatnya menanyakan siapa yang sudah mengantarnya pulang. Namun Yardan yakin bahwa Livia tidak kenal kedua orang itu jadi dia pikir tak perlu memberitahu siapa yang mengantarnya. Ia bilang bahwa ada yang menelefonnya agar menjemput Livia. Sekretarisnya itu percaya dengan mudah. Sekarang Yolanda gantian menatap melongo saking kagetnya. Jika tahu begitu, ia tak perlu merobohkan semangat 45 Arka untuk mendekati Livia. Ia mungkin akan mendukung penuh jika teman karibnya itu mau menggoda Livia. Toh, wanita itu bukan istri orang. “Eh, tapi apakah Livia itu sudah punya pasangan? Maksudku seperti pacar, mungkin.” Salahkan mulut lames Yolanda yang suka tak difilter dan asal mengucap! Yolanda langsung membekap mulutnya dengan senyum malu hingga kedua matanya menyipit lucu. Yardan tak masalah akan pertanyaan Yolanda. Ia mengibas sebelah tangannya tanda tak tersinggung. “Livia itu sudah putus dari pacar brengseknya sebulan yang lalu kalau tidak salah. Intinya dirinya sekarang itu jomblo. Kenapa memangnya?—kenapa kau penasaran akan statusnya?” lontar Yardan dengan rasa penasaran. Yolanda menggeleng sambil tersenyum. “Tidak ada, sih. Hanya ingin tahu saja,” kelitnya mencoba terlihat meyakinkan. Yolanda tentu takkan begitu saja membeberkan rencananya untuk Arka yang mungkin akan mendekati Livia. Iya jika Yardan setuju, tetapi bagaimana jika Yardan malah menentang keras Arka mendekati sepupunya sekaligus sekretarisnya itu? Yah, karena jika dipikir-pikir, mana ada yang merentangkan tangannya untuk menyambut kedekatan keluarga dengan seorang seperti Arka dan Yolanda. Kedua orang ini bekerja di bar yang sudah pasti mendapat cap buruk banyak orang. “Sedang memikirkan apa, Yol?” kejut Yardan bertanya karena Yolanda melamun. “Bisakah kau berikan aku tumpangan? Tidak sampai rumahku, kok. Hanya sampai ke pemberhentian bis di sekitaran sini,” elak Yolanda yang tak mau membahas lebih jauh apapun dengan Yardan. Ia tiba-tiba teringat soal profesinya yang tak sebanding dengan Yardan. Ia merasa jadi insecure dan itu membuatnya tak nyaman. Yardan mengangguk kaku tapi tetap menuruti Yolanda. Entah kenapa, ia merasakan perubahan sikap Yolanda dari tutur bicaranya. Tepat saat Yardan menginjak pedal gas, hujan mengguyur ke bumi. Pandangan Yardan saat mengemudi sangat diandalkan karena hujan lebatnya amat mengganggu penglihatan. “Hati-hati, Yar!” peringat Yolanda sembari melirik ke belakang untuk memastikan Leta di jok belakang aman. “Iya aku paham,” sahut Yardan pelan. Ia benar-benar mengemudikan mobilnya dengan saksama karena tak ingin hal buruk terjadi seperti kecelakaan contohnya. Yolanda beberapa kali selalu menengok ke belakang dan melihat Leta masih nyaman tidur di belakang. Hatinya lega di satu sisi, namun juga resah karena intensitas hujan yang makin deras disertai kilatan petir menyambar. “Yardan, sebaiknya kita berhenti dulu! Cari tempat aman karena menurutku hujannya makin berbahaya jika kita memaksa menerobosnya!” usul Yolanda mencari aman. Yardan mengangguk setuju. Ia menepikan mobilnya ke pinggir jalan yang lenggang di mana tak ada pepohonan di sekitar. Yah, mewanti-wanti apabila ada pohon ambruk yang bisa saja menimpa mereka. Yardan dan Yolanda berbarengan menghela nafas. Saat keduanya menyadari aksi konyol itu, tak anyal membuat tawa pecah. “Eh, sudah malam. Mau bagaimana ini?” ucap Yardan melihat jam di pergelangan tangannya menunjuk angka 7 malam. Tak terasa memang keduanya terjebak hujan lebat kali ini. Yolanda menepuk jidatnya cukup keras sampai Yardan di sebelahnya meringis ngilu melihatnya. “Ada apa memangnya? Apa kau kelupaan sesuatu?” tanya Yardan peduli. Yolanda meringis terpaksa. “Ini waktunya aku kerja,” lontarnya penuh kemirisan. Yardan terkekeh pelan melihat wajah Yolanda antara kasihan dan juga menggemaskan itu. “Ya kau tinggal minta izin terlambat atau sekalian izin cuti saja hari ini. Kenapa kau amat memusingkan pekerjaanmu itu, sih?” celetuk Yardan ringan. Wajah Yolanda langsung berubah masam dan tak bersahabat. Ya, memang bagi Yardan pekerjaannya itu tidak ada apa-apanya dibanding dia pastinya. Tapi apa salahnya jika Yolanda tetap memprioritaskan pekerjaannya? Itu mata pencariannya, Bung. Batinnya Yolanda menggerundel mangkel mendengar ucapan Yardan barusan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN