‘’Maaf dengan siapa?’’ Ia tampak sangat penasaran. ‘’Apa kau tidak mengenali suaraku?’’ Tanya suara di seberang sana. Ambar berpikir sejenak lalu mencoba untuk menerka. ‘’Jeslyn.’’ Begitu Ambar selesai menebak, tiba-tiba saja terdengar tawa centil dari si penelepon. ‘’Benar sekali.’’ Ekspresi wajahnya yang penasaran seketika berubah antusias begitu mengetahui si penelepon itu adalah sahabat kecilnya. ‘’Ah, Jes. Aku sangat merindukanmu. Selama enam bulan kau tidak menjawab telepon maupun membalas email dan juga pesan-pesanku. Jahat sekali.’’ Ucapnya dengan nada manja. Lagi-lagi Jeslyn tertawa. ‘’Maafkan aku, Teman. Final exam benar-benar menyita waktuku. Untuk menebus kesalahan itu, aku punya kabar baik untukmu.’’ ‘’Apa?’’ Tanyanya penasaran. ‘’Aku akan kembali dalam beberapa minggu d

