Ia segera menuju lokasi di belakang kelas dan menemukan robekan baju Ambar yang tersangkut di pagar. ‘’Dia benar-benar memanjat?’’ Maniknya menyipit. Valgar sedang membayangkannya. ‘’Tuan.’’ Ia segera menoleh ke arah anak buahnya yang mengambil robekan tersebut. Valgar baru menyadari bahwa helaian kain berwarna putih itu memiliki sebuah corak dengan warna mencolok. Merah darah. Lagi-lagi seperti ini. Padahal jauh di dasar hatinya tak ada niatan untuk melukai apalagi sampai menyakiti. Ia hanya ingin berkenalan. Itu saja . Tapi kegagalan yang terjadi secara berulang membuatnya marah hingga terus menggunakan cara apa saja. Ambar yang telah berhasil kabur kini sedang dibonceng oleh Rose dengan menggunakan sepeda motor. ‘’Kau memang bisa diandalkan, Teman.’’ puji Ambar. Rose tertawa ba

