‘’Rose.’’ Suaranya tertahan. Penerangan yang hanya berada di tengah ruangan, membuat Ambar dapat melihat dengan jelas bahwa Rose tampaknya sedang tertidur di dalam sana. Ia berlarian masuk dan terus berusaha untuk membangunkan Rose. ‘’Teman, bangunlah.’’ Memegangi wajah pucat tersebut. BRUK. Pintu yang ia lewati tadi baru saja tertutup dengan sendirinya. Ia berlari ke arah pintu dan berharap tidak terkunci. Namun benar saja, pintu itu terkunci dari luar. Ambar menggedor-gedor pintu tersebut dan sekuat tenaga menggerak-gerakkan gagangnya. ‘’Tolong, Tolong,’’ teriaknya. ‘’Seseorang tolong buka pintunya.’’ Menyadari hal yang ia lakukan sia-sia, Ambar berlari mengecek Rose. ‘’Rose bangunlah, aku mohon. Kita terjebak di sini.’’ Saat ia tengah sibuk membangunkan Rose. Ia mendengar suara

