Resmi sudah Rana dan Ratva berpisah. Entah berpisah sementara atau berpisah selamanya. Begitu Rana pergi, Ratva bergegas mengikutinya dari belakang. Meninggalkan cincin yang tergeletak begitu saja di atas meja. Ia ingin memastikan bahwa Rana baik-baik saja for the last time. Tangis Rana pecah ketika ia sudah masuk ke dalam mobil. Rasa sakit dan juga sesak. Keduanya menyerang sekaligus. Ratva yang melihat itu mengepalkan kedua tangannya. Tak dapat di pungkiri bahwa pria itu juga masih menyimpan rasa. Pikirannya kalut. Gadis itu benar. Perpisahan ini tidak hanya melukai Rana seorang, tapi juga melukainya. Maniknya mengilap kala kesakitan menjalar di seluruh tubuhnya. Ratva melangkah mendekati Rana dan menarik tubuh gadis itu keluar. Suaranya tertahan. Dengan cepat Rana menghentikan

