Namun Saat Ambar masuk ke ruangan selanjutnya, ia tidak mendapati siapapun di sana. ‘’Benar saja. Ruangan ini memang seperti ruangan Ayah. Bedanya hanya dua lapis pintu saja.’’ Ambar hanya melihat sekilas ruangan yang sangat luas itu. Ia tidak memimiliki banyak waktu untuk memperhatikan lebih detail karena harus segera menemukan toilet. Saat pandangannya menyapu ke setiap sudut ruangan, Akhirnya Ambar menemukan ruangan yang dicari-carinya. Ia harus bergerak cepat untuk berjaga-jaga jika pemilik ruangan itu segera kembali. Lagi-lagi Ambar berlarian. Saat ia sudah masuk ke toilet, Valgar yang tengah bersembunyi di balik gorden menahan tawa melihat gadisnya bertingkah seperti itu. Valgar masih teringat akan pesan Agzek yang mengatakan bahwa Gadisnya takut ketika menerima cake itu. Ka

