UNINVITED GUESTS

1660 Kata
Keesokan paginya. Johnson Residence. 06.08 a.m. Valgar bangun lebih awal. Ia membuka jendela kamarnya sambil menghirup udara pagi yang sejuk.  Mimpinya tadi malam masih terbayang di ingatannya. Ia menyisir seluruh ruangan terutama tempat tidurnya. Namun ia cepat-cepat menyingkirkan mimpi itu agar tidak mengganggu pikirannya di pagi yang tenang ini. Dari kamarnya, Valgar dapat melihat taman milik ibunya yang di tanami berbagai macam jenis bunga berwarna-warni. Di tengah-tengah taman itu terdapat empat buah kursi yang mengelilingi meja bulat berwarna putih yang sedang diduduki oleh ayah dan ibunya saat ini. Ternyata ada yang lebih duluan bangun daripada dirinya. Valgar memutuskan untuk menghampiri ayah dan ibunya. ‘’Selamat pagi, Ibu. Selamat pagi, Ayah.’’ Menarik kursi dan duduk di seberang orang tuanya. Ia duduk di sisi kiri bersama kursi yang kosong. Sedangkan Ibu dan Ayahnya duduk di sisi kanan, saling bersisian satu sama lain. ‘’Selamat pagi, Sayang.’’ Ucap Adeline yang tengah sibuk merangkai bunga. ‘’Bagaimana tidurmu?’’ tanya ayahnya. ‘’Lumayan.’’ Tara membawakan sarapan untuk Valgar. Sebelum menghampiri orang tuanya di taman, Valgar lebih dulu menghampiri Tara untuk membuatkannya menu sarapan yang diinginkannya. American breakfast beserta segelas s**u telah tersaji di hadapannya. ‘’Silakan, Tuan Muda.’’ ‘’Terimakasih.’’ ‘’Apa kau akan ke kantor hari ini?’’ tanya Adeline. Valgar hanya mengangguk lantaran mulutnya penuh dengan makanan. Begitu ia sudah berhasil menelannya, Valgar kemudian berkata. ‘’Kapan Thunder akan di bawa pulang, Bu?’’ ‘’Dua hari lagi dia akan pulang dan akan tinggal selama tiga hari. Ibu ingin melihat hasil pelatihannya sebentar. Setelah itu akan Ibu kembalikan lagi.’’ ‘’Lihat ini.’’ Davis sangat antusias menunjukkan isi berita yang terdapat di koran kepada istri dan putranya. Berita di koran menunjukkan pembangunan sirkuit di Pulau Rovria dan mencantumkan gambar Johnson beserta Valgar. ‘’Wah … Ayah dan Valgar masuk berita.’’ Demi melihat itu, Adeline sampai menghentikan kegiatan merangkainya dan memilih untuk membaca isi berita tersebut. ‘’Pewaris utama Johnson Corporation yaitu Valgar Gio Johnson, sukses mengikuti jejak Ayahnya dalam dunia bisnis. Terbukti tender proyek Pulau Rotvia dengan mudah berhasil dimenangkan olehnya.’’ ‘’Berlebihan sekali.’’ Ucapnya ketus. Adeline melanjutkan. ‘’Di usianya yang baru menginjak dua puluh tiga tahun, ia termasuk ke dalam jajaran 100 pengusaha termuda paling berpengaruh di dunia.’’ ‘’Kau benar-benar membuat kami bangga, Nak.’’ ucap Ayahnya. Kali ini Adeline tidak melanjutkan bacaannya tersebut. Melihat wajah Valgar yang sama sekali tidak tertarik dengan pencapaiannya, membuat Adeline berkomentar. ‘’Kami sangat bangga sekali, ‘’ Menyentuh pipi putranya dengan lembut. ‘’ Dengan begini, para wanita yang ingin menikah denganmu semakin banyak peminatnya.’’ guraunya. Ia melirik ke arah ibu dan ayahnya yang sedang menahan tawa. ‘’Lelucon yang sangat lucu sekali.’’ Ujarnya kesal. Mendengar Valgar yang berkata dimikian, tawa yang dari tadi mereka pendam kali ini tidak dapat tertahan lagi. Valgar yang selalu bersikap cool dan berbicara seperlunya itu hanya diam dan tidak menghiraukan orang tuanya yang tengah tertawa lepas. Makanan yang berada di piringnya telah habis dan sekarang ia sedang menikmati segelas s**u yang sudah tidak hangat itu. Saat tawa orang tuanya telah usai, Tara mendatangi keluarga kecil itu. ‘’Tuan, Nyonya. Ada tamu datang.’’ ‘’Sepagi ini?’’ ‘’Iya, Nyonya.’’ ‘’Siapa?’’ ‘’Tuan Fredrick dan …’’ Belum selesai kalimat Tara selesai, Johnson menyuruhnya untuk mempersilakan tetangga mereka itu masuk. Valgar mendengar ucapan Tara yang terakhir, dengan cepat ia membaca situsi. Tiba-tiba Valgar menendang kursi yang berada di sebelahnya. Kursi itu pun jatuh. ‘’Valgar.’’ Adeline berseru setelah melihat apa yang putranya lakukan. Melihat putranya tak bergeming sedikitpun untuk membetulkan kursi yang menyentuh rerumputan itu, Johnson pun beranjak dari kursinya untuk mengembalikan kursi itu ke posisi semula. Baru saja beranjak , tiba-tiba Fredrick sudah muncul seraya berkata. ‘’Selamat pagi.’’ ‘’Selamat pagi.’’ Johnson mengurungkan niatnya sebentar. Dari balik tubuh Fredrick yang besar, muncul seorang gadis seumuran Valgar. Dia adalah Putri Fredrick yang bernama Fiona. Adeline melihat Valgar sekilas dan baru mengerti apa maksud dari sikap putranya tadi. ‘’Selamat pagi Tuan dan Nyonya Johnson. Selamat pagi, Valgar.’’ Sapanya ramah. Valgar tak menjawab sapaan itu sama sekali. Ia bahkan tidak menoleh sedikitpun ke arah mereka. Fredrick dan Fiona tidak melihat keberadaan kursi yang jatuh itu, mereka mengira bahwa kursi yang terdapat di meja bulat itu hanya memiliki tiga buah kursi saja. ‘’Selamat pagi, Sayang.’’ Adeline menjawab sapaan itu seraya tersenyum. ‘’Mari kita duduk di dalam.’’ ajak Johnson. Sebelum menghampiri mereka, Johnson melewati Valgar dan mengacak-acak rambut putranya. Valgar tak mengelak sama sekali. Ia bersikap tidak perduli dan terus meneguk s**u yang dari tadi berada di tangannya secara perlahan-lahan. Fiona yang berada di belakang Johnson dan Ayahnya terus menerus menoleh ke arah Valgar, ia berharap Valgar juga melihat ke arahnya. ‘’Sayang, haruskah kau bersikap seperti itu?’’ bisik Adeline. ‘’Percayalah, Bu. Aku tau apa yang dia pikirkan.’’ tegasnya. ‘’Berprasangka buruk pada seseorang itu tidak baik, Nak. Bagaimana kau bisa menebaknya?’’ ‘’Intuisi.’’ Sebelumnya Tara pernah memberitahu Valgar bahwa Fiona sering menanyakannya. Ia juga sering menitipkan salam dan memberi Valgar berbagai makanan melalui Tara. Namun dengan tegas Valgar menolak apapun yang dikatakan dan diberikan oleh tetangganya itu. Setiap pemberian Fiona, Valgar selalu memberikannya kepada Tara tanpa mengetahui apa isi dari gift itu sebelumnya. Setelah melihat Fiona dan Fredrick sudah tidak ada, barulah Adeline mulai sedikit mengeraskan suaranya. Adeline menjewer telinga Valgar. ‘’Kau ini sok tau sekali.’’ ‘’Ah, hentikan, Bu.’’ Rengeknya kesakitan. Valgar sudah tau bahwa Fiona juga datang, maka dari itu ia tidak ingin ayahnya menambah satu kursi lagi. Lebih baik menghilangkan satu kursi agar mereka tidak bisa bergabung, daripada menambah satu kursi yang nantinya membuat Valgar segera naik ke kamarnya. Tara yang mendengar suara rengekan dari dapur segera berlarian ke taman belakang. ‘’Kenapa, Tuan Muda?’’ Kedatangan Tara membuat Adeline menghentikan keusilannya pada Valgar. ‘’Tidak ada apa-apa, Aku hanya memberi sedikit pelajaran pada peramal menyebalkan yang sok tau ini.’’ Tara tertawa melihat telinga Valgar yang memerah. Ia mengusap-usap telinganya yang mulai terasa panas itu. ‘’Kali ini leluconmu berhasil, Bu.’’ Gerutunya yang melihat Tara mentertawakannya. ‘’Kau ini benar-benar ya.’’ Saat Adeline ingin mencubitnya, Valgar dengan cepat mengelak. ‘’Tara, ambilkan ponselku di kamar dan buku di atas meja yang berada di ruang belajar.’’ titahnya. Tara mengangguk sambil menahan tawa. ‘’Ibu mau ke ruang tamu.’’ Adeline membawa vas berisi bunga yang telah ia rangkai. Kini Valgar duduk sendirian di sana. Ia ingin menyempatkan membaca buku dan mengecek pekerjaan terlebih dahulu sebelum berangkat bekerja. Dalam lima menit Tara sudah kembali dengan napas yang sedikit terengah-engah. Hal itu dimaklumi olehnya lantaran mansion yang ia dan orang tuanya tinggali tersebut sangatlah luas. ‘’Ini, Tuan Muda.’’ Dengan cepat Valgar menerimanya. ‘’Terimakasih. Apa Agzek ada di luar?’’ ‘’Belum, Tuan.’’ Dengan napas terengah-engah ia menjawab pertanyaan Valgar. Karena sudah tidak ada lagi yang Valgar butuhkan, Tara pun segera pergi dari hadapannya. Valgar mengambil buku yang terletak di bawah ponsel dan mulai membaca halaman yang telah ia tandai. Penthouse, Study Room. 06.35 a.m. Ambar yang tengah sibuk membaca buku, dikejutkan dengan kemunculan Ratva yang datang secara tiba-tiba. ‘’Hei, Bungsu.’’ sapa Ratva. ‘’Kakak,’’ rengeknya. ‘’Mengagetkan saja.’’ Ratva tertawa pelan dan menghampiri Ambar yang tengah berbaring di sofa. ‘’Sekarang katakan. Mengapa selama ini kau tidak berterus terang padaku.’’ Ambar menutup buku yang sedang ia baca dan mengubah posisinya yang tadi sedang berbaring. ‘’Aku menyukai mobil itu.’’ ‘’Kau memiliki black card, tapi kau malah membeli rongsokan itu dengan cash. Kau melakukannya gar tidak terbaca olehku, Ayah maupun Ibu. Cerdas sekali. Aku sudah melihat hidden space miilikmu di balik lemari. Aku pikir kau menguras semua uang itu. Ternyata kau hanya membeli mobil itu saja. Apa dua mobilmu masih kurang? Mengapa kau tidak membeli mobil jenis lain yang lebih mewah?’’ cecarnya. ‘’Berjanjilah kau tidak akan memberitahukan masalah ini pada Orang tua kita.’’ Ambar menatap mata Ratva. ‘’I promise.’’ ujarnya. ‘’Sejak perkuliahanku dimulai. Aku selalu mendapatkan bunga dan surat di atas mobilku. Dan itu tidak hanya sekali. Namun terus berulang setiap hari.’’ ‘’Apa isi surat itu?’’ ‘’Kebanyakan isinya adalah surat pernyataan cinta.’’ Ia tertawa kecil mengingat isi surat tersebut. ‘’Jadi, karena itu?’’ ‘’Iya.’’ angguknya. ‘’Bukankah semua orang di kampus memang sangat menyukaimu? Aku mengetahui hal itu lantaran dosen dan teman-temanku selalu menyampaikannya.’’ ‘’Aku tau, Kak. Tapi hal itu selalu menggangguku. Aku hanya ingin terbebas dari banyaknya surat dan bunga yang datang setiap hari. Kalau aku menggunakan dua mobilku yang lain, maka mereka akan mengetahui di mana aku memarkirkannya walaupun aku telah memarkirnya di tempat tersembunyi sekalipun.’’ ‘’Jadi kau tidak menyukai hal itu?’’ ‘’Benar.‘’ Ratva melihat tatapan Ambar yang begitu tulus dan membuatnya sangat ingin membantunya. ‘’Baiklah, aku akan membantumu.’’ ‘’Kak. Ini adalah masalahku. Aku dapat menyelesaikannya dengan caraku sendiri.’’ ‘’Kau sudah tumbuh dewasa. Aku tidak menyadari hal itu.’’ Mengelus-elus kepala Adiknya. Johnson Residence, Garden. 07.07 a.m Valgar yang tengah sibuk membaca menghentikan kegiatannya sebentar lantaran Mark meneleponnya. ‘’Mark. Apa pekerjaan menjadi sekretarisku benar-benar menyenangkanmu? Sampai-sampai kau berani menggangguku sepagi ini.’’ ‘’Selamat pagi, Boss Muda. Maafkan aku yang menghubungimu pagi-pagi sekali. Dikarenakan Boss Besar akan pergi ke LA, jadi rapat yang tadinya akan dipimpin oleh Beliau akan digantikan olehmu.’’ ‘’Apa kau sudah memasukkan ke agendaku hari ini?’’ ‘’Sudah, Boss. Aku hanya mengingatkanmu.’’ Untung saja Mark sudah memasukkan perubahan jadwal kemarin malam. Jika belum, maka dia harus bersiap-siap untuk menerima amukan Valgar sepagi ini. Valgar menutup telepon itu kemudian menutup bukunya yang masih terbuka. Ia mengkroscek perkataan Mark. Walau sejauh ini Mark sama sekali belum pernah membuat kesalahan. Setelah ia memeriksanya, ternyata apa yang dikatakan oleh sekretarisnya itu benar. Jadwal itu telah berada di agendanya. Valgar juga mengecek semua pesan-pesan yang masuk. Pesan dari Antonio. ‘’Kapan kau akan datang berlatih?’’ Valgar pun menjawab singkat. ‘’Soon Day.’’ Kemudian Valgar membuka pesan dari Agzek. Beberapa gambar dikirim oleh pengawalnya itu dan sedang didownload olehnya. Saat gambar itu sudah berhasil ter-download. Awalnya ia tidak menyadari gambar apakah itu, ketika potret tersebut di perbesar, wajahnya tampak bersemangat, matanya membesar, dan juga membuatnya tersenyum lebar.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN