Irna Melina

2294 Kata
Zalfa yang terburu-buru meninggalkan lapak Warja begitu saja menyeberangi jalan tanpa melihat kiri dan kanan. Alhasil, sebuah sepeda motor pun banting stir, jatuh tersungkur agar tidak menabrak Zalfa. Teriakan langsung terdengar ramai. Orang-orang berlari mendekat untuk memberi pertolongan. Begitu pun dengan Zalfa yang turut serta mengecek siapa wanita pengendara motor yang hendak menabraknya. Dari lapaknya Warja ingin sekali berlari memastikan kondisi Zalfa. Meski tidak ada hubungan apa pun, setidaknya Warja cukup dengan dengan Zalfa. Tidak pantas dia diam di sini sementara orang-orang malah berlari ke sana. “Ja, itu ada apa?” “Alhamdulillah mas Wahyu datang. Aku ke sana dulu, tadi sepertinya Zalfa hampir ketabrak motor.” Buru-buru Warja berlari menyeberangi jalan tanpa menunggu jawaban Wahyu. “Zalfa, Zalfa yang mana ya,” gumam Wahyu mencoba mengingat nama Zalfa yang ada di desa Suka Sari. “Itu, tuh mas. Zalfa anaknya pak Kades. Yang gegernya suka sama adik mas Wahyu,” ujar Linda bernada tak suka padahal dia sudah bersuami dan memiliki anak yang sedang naik singa depok putar. Namun, tetap saja ada rasa cemburu dan tidak ikhlas melihat ada wanita lain mendekati Warja. “Oh, iya, itu memang teman Warja, Lin. Mereka sempat kerja sama mengurus pengadaan bibit tanaman.” “Kerja sama apa, itu mah modus si Zalfa,” decih Linda. “Modus bagaimana, Lin?” “Tidak ada mas. Sudah lupakan saja.” Linda menggoyang telapak tangannya. “Nok, turun yuk, sudah sore pulang,” ajak Linda. Dia pun meminta Wahyu menurunkan putrinya. “Lebay, semua tertipu. Paling juga Zalfa akting saja biar menarik perhatian mas Warja,” gumam Linda melirik ke arah kerumunan. Buru-buru Linda pulang tanpa ada keinginan sedikit pun untuk melihat kondisi Zalfa dan si pengendara yang jatuh tadi. “Fa, kamu tidak apa-apa?” tanya Warja dengan memindai Zalfa dari ujung kepala hingga kaki. Zalfa sepertinya tidak mengalami apa pun karena yang meringis dan merasakan nyeri dari beberapa bagian tubuh yang lecet justru pengendara wanita yang jatuh dari motor. “Aku baik-baik saja ko, Ja. Kamu kok ke sini, di sana ....” Zalfa menunjuk ke arah singa depok putar lapak Wahyu. “Oh, mas Wahyu sudah datang?” “Iya, makanya aku ke sini untuk memastikan kamu baik-baik saja.” Ces, ademnya hati kala yang dicinta menaruh perhatian lebih padanya. Zalfa tersenyum penuh bangga, semerbak wangi bunga seperti sedang mengelilinginya beserta banyaknya kupu-kupu warna-warni yang beterbangan. “Terima kasih ya, Ja.” “Terima kasih buat apa?” “Zalfa, Fa.” Suara Hari, menyita perhatian mereka. Terburu-buru Hari dan Sarinih menghampiri putri mereka yang dikabarkan warga hampir tertabrak motor. “Bapak. Ibu.” “Kamu tidak apa-apa Nok?” Sarinih langsung memegangi wajah sang putri, memutar pelan kepala Zalfa, turun lagi mengecek lengan Zalfa yang tertutup kemeja panjang. “Ora, Bu. Aku tidak apa-apa itu si Irna yang jatuh.” Zalfa menunjuk ke arah Irna yang sedang diberi pertolongan pertama oleh warga. “Alhamdulillah, syukurlah kalau kamu selamat. Ibu bawa Zalfa pulang, biar bapak di sini.” “Aku –” “Pulang Zalfa,” tegas Hari tidak mau perintahnya ditentang. “Iya,” pasrah Zalfa. Belum juga dia berpamitan pada Warja, tapi Sarinih sudah menariknya menjauh. “Pak Kades, aku ke sana dulu,” pamit Warja menunjuk ke arah Irna yang merupakan tetangganya juga. Hari hanya mengiyakan dengan kedipan mata. Pembicaraannya dengan Zalfa siang tadi membuat Hari jadi canggung berhadapan dengan Warja. ‘ Dia tidak satu pemikiran dengan Sarinih. Bukan tentang strata ekonomi mereka yang timpang, Hari tidak setuju kalau Zalfa ingin menikah dengan Warja. Namun, lebih tepatnya Hari takut kalau putrinya yang super manja hanya merasa cinta sesaat saja. Ketika bosan Zalfa malah akan dengan mudahnya meninggalkan. “Irna, lukanya parah. Kita ke pak mantri saja ya.” Warja membungkuk melihat lengan Irna yang lecetnya lebar. “Iya Ja, kamu bawa saja ke pak mantri. Ini kita ajakin dia tidak mau. Tadi itu Zalfa menyeberang seenaknya udel saja. Kasihan ini, demi tidak menabrak Zalfa sampai dia rela luka-luka sendiri,” cerita salah satu warga. Dia tidak tahu ada Hari juga di sana, saat deheman Hari terdengar, semua atensi mereka tertuju padanya. Si pelapor tadi pun hanya dapat meneguk lidah menyadari kalau pak Kades yang merupakan bapaknya Zalfa juga berada di sana. “Jadi ini yang salah Zalfa ya mang?” Hari memandang bergantian orang-orang yang ada di sana. “Inggih pak.” Beberapa menjawab hampir bersamaan. Sementara yang tadi kepergok bicara tentang Zalfa tidak berani mengangkat wajahnya. “Bapak minta maaf ya, Irna.” Hari menekuk lututnya, berjongkok di depan Irna. “Tidak apa-apa pak, ini Irna juga yang mungkin kurang hati-hati,” balas Irna takut-takut. Bagaimana pun orang tuanya merupakan pekerja kuli baku di sawah Hari dan Sarinih. Hari memang berperangai baik dan bijak, tapi tidak dengan Sarinih. Irna tidak ingin gara-gara masalah ini, nantinya orang tua juga yang kena imbas omelan Sarinih. “Ini, kamu ke mantri desa ya.” Hari mengulurkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan pada Irna. “Tidak usah, Pak,” tolaknya dengan menangkup tangan di d**a. “Tidak apa-apa, terimalah.” Sorot Mata Hari seperti memaksa Irna menerima uang darinya. Rahu-ragu tangan Irna menerima uluran uang dari Hari. “Terima kasih pak.” “Nah, Warja, bapak bisa minta tolong kamu antarkan Irna ke mantri?” Hari kembali berdiri, menoleh pada Warja yang masih ada di sana. “Bisa, bisa, Pak. Ayo, Irna.” Warja menuju motor Irna yang hanya mendapat sedikit goresan karena memang dia tidak sedang ngebut mengendarai motor. Jatuhnya pun pelan, tapi karena mengenai aspal, jadilah lengannya banyak yang lecetnya lebar. Dibantu Warga Irna dituntun naik ke atas boncengan motor. Sekarang bukan malah rasa perih yang membuatnya tidak nyaman. Namun, berdekatan dengan Warja membuat jantungnya berloncatan tidak karuan. “Sekali lagi bapak minta maaf atas nama Zalfa ya Irna.” Bagaimana pun Hari seorang kepala desa, seolah sebuah hal yang wajib untuk tetap jaga wibawa di depan warga agar elektabilitasnya sebagai pemimpin di desa ini masih tinggi menjelang Pilkades di tahun mendatang. “Iya, Pak. Aku juga minta maaf kalau mungkin aku yang salah.” “Kamu pegangan, nanti jatuh,” suruh Pak Kades. Meski malu Irna terpaksa juga melingkarkan tangannya memegangi kaos yang dipakai Warja. “Pelan-pelan, Ja. Hati-hati, bapak titip Irna.” “Inggih, Pak. Aku permisi.” Motor yang dibawa Warja berjalan pelan. Orang-orang yang tadi berkerumun pun membubarkan diri setelah sebagian bersalaman dulu dengan Hari. “Mas, aku antar Irna ke mantri dulu,” pamit Warja saat melewati lapak Wahyu. “Iya, hati-hati. Nanti langsung pulang saja tidak perlu ke sini,” pesan Wahyu. Warja kembali menjalankan motornya, pelan, dan itu membuat Irna tidak sabaran untuk segera sampai ke rumah mantri. Bagai mana bisa hatinya berhenti bergemuruh saat pria yang selalu ada dalam bayangannya justru memboncengnya seperti sekarang. Irna mencubit pipinya sendiri, dia meringis merasa sakit. Berarti ini nyata, bukan sebuah mimpi atau halusinasi. “Ir, kamu baik-baik saja kan?” Warja merasakan pergerakan badan Irna yang tidak bisa duduk dengan tenang hingga motor yang dia kendarai sesekali terasa bergoyang. “Ba-ik Ja,” gagap Irna. “Tahan ya, sebentar lagi kita sampai. Itu pasti tanganmu perih.” Warja salah mengira, dia sama sekali tidak peka akan perasaan yang dirasa Irna sesungguhnya. ‘Bukan tanganku yang perih, sekarang malah hatiku yang terus berdenyut nyeri gara-gara dibonceng kamu.’ Sayang kalimat itu hanya mampu dia ucapkan dalam hati saja. Sebagai wanita rasanya tidak pantas untuk mengungkapkan rasa. Apalagi Irna tahu kalau Zalfa juga menaruh hati padanya. Dia tidak akan mampu bersaing dengan anak sulung orang paling kaya di desa mereka. Biarlah cintanya hanya disimpan tanpa ada penyelesaian. Yang terpenting, sekarang salah satu mimpinya bisa jadi nyata. Berboncengan dengan Warja, sungguh ini saja di luar logika dan pemikirannya. Irna usai diperiksa mantri desa. Tangannya yang lecet sudah diperban dengan dibalut kasa. Tidak lupa juga dia diberikan obat pereda nyeri. Masih ada sisa uang yang diberikan Hari, rencananya mau dipakai Irna buat bayar pijat. “Kamu bisa pulang sendiri atau perlu aku antar?” tanya Warja saat keduanya sudah keluar dari ruang praktik mantri kesehatan desa. “Aku ... ini rasanya ....” Irna hanya bisa menunjukkan luka-luka yang kini ditutupi perban kasa. Sebenarnya bisa saja dia pulang membawa motor sendiri. Hanya permasalahannya kesempatan berboncengan dengan Warja tidak akan dia dapatkan kembali dengan mudah. “Ya sudah, aku antar yuk.” “Kamu enggak sibuk?” “Enggak, aku mau langsung pulang. Lagian rumah kita searah, bedanya kamu di depan gang aku di ujung gang.” Sebuah senyum terbit di wajahnya, senyum yang membuat hati Irna semakin dilanda kasmaran. Duhai hati, sampai kapan kau memilih tetap menjadi pemuja rahasia. Usiamu sudah tidak lagi remaja, dewasa membuatmu dituntut untuk menikah, sedangkan yang kau cinta hanya Warja saja. “Irna Melina.” Irna terkesiap, kembali sadar dari lamunannya saat Warja menyebut nama lengkapnya. Seperti yang biasa Warja lakukan saat mereka masih jadi anak sekolahan. “Maaf ya, Ja. Selama ini aku selalu merepotkan kamu. Dulu waktu kita sekolah setiap hari kamu bonceng aku naik sepeda, kamu juga bantu aku dagang biar jajanan yang aku bawa cepat habis. Sekarang pun aku hanya bisa merepotkan kamu saja. Maaf karena aku tidak bisa membalas satu pun kebaikan kamu.” “Kamu lagi baca puisi Ir?” “Maksudnya?” kening Irna mengernyit. “Aku ini temanmu, masa yang begini saja dibilang merepotkan. Lagian tidak perlu mengungkit yang dulu-dulu. Apa pun yang sudah aku lakukan itu ikhlas, murni sebagai teman aku tidak keberatan membantumu. Oke Irna cantik.” Ah, Warja. Bisakah berhenti kamu memujinya dengan kata cantik saat hatimu tidak memiliki rasa apa pun. Kamu tidak sadar kalau pujian itu membuat hatinya melambung tinggi. Berpikir kalau akan ada harapan untuk memperjuangkan cintanya. “Ja.” “Iya.” Warja sudah naik ke atas motor Irna. “Kamu bisa naik sendiri?” “Bisa.” Jawabannya bisa, tapi Irna tak kunjung naik ke boncengan hingga Warja pun memutar ke belakang kepalanya agar tahu apa yang sedang Irna lakukan. “Kamu kenapa?” Irna yang menunduk mengangkat kepalanya. “Aku dengar kamu pulang karena Mak Jum minta kamu pulang karena ingin kamu segera menikah. Apa itu benar?” Irna tampak ragu dan malu mengungkapkan tanya yang membuat rasa penasarannya terus mencuat. “Iya, mak mau cepat aku memantu. Biar lega katanya, kamu mau jadi istriku, Na?” “Hah? Apa? Jadi istri kamu?” Irna benar-benar kaget. Dia belum siap menerima pertanyaan ini meski sudah sangat dia nantikan sejak lama. “Biasa saja dong, Na. Mukanya tidak perlu begitu juga. Aku bercanda kok. Mana mau kamu sama anak buruh macam aku. Kamu cantik, Na. Aku yakin pasti akan ada pria kaya, ganteng dengan pekerjaan mapan yang akan datang melamarmu.” ‘Tapi aku maunya kamu.’ Irna berusaha menyembunyikan kekecewaannya. Pelan-pelan dia naik ke atas boncengan motor Warja. Motor mulai bergerak ke arah rumah Irna. Sudah tidak ada niatan Irna kembali buka suara, kenapa dari dulu sampai sekarang Warja hanya menganggapnya sekedar teman saja. Apa salah kalau Irna jatuh hati pada sahabatnya sendiri? Apa salah kalau dia berharap cintanya berbalas. Tidak ada ketimpangan ekonomi antara mereka. Irna dan Warja sama-sama anak buruh tani. Mereka berdua sama-sama beruntung bisa menyelesaikan kuliah dengan jalur beasiswa meski universitas mereka berbeda. Irna kini bekerja di sebuah bank rakyat di kecamatan tetangga. Sementara Warja yang seorang sarjana jurusan pertanian benar-benar memilih mengabdikan dirinya untuk pertanian di desa Suka Sari. Begitu tiba di rumah Irna, tidak disangka Sarinih sudah berada di sana. Dia terlihat mencak-mencak marah pada Munasih dan Nali, kedua orang tua Irna. “Tuh, lihat. Anak kuli macam kamu memang pantas dibonceng anak kuli juga, Mun. Jangan mentang-mentang Irna kerja di bank. Dia sudah berpenghasilan lebih dari Zalfa jadi bikin dia sombong. Di mana-mana yang salah itu motor, bukan yang jalan kaki. Anakmu yang mau nabrak anakku, tapi malah suamiku kasih uang sama dia. Balikin uangnya sekarang!” bentak Sarinih. Irna buru-buru turun dari motor, jalannya sedikit pincang, Warja sampai menuntunnya. “Ini kenapa bu Kades?” tanya Warja melihat Munasih dan Nali menunduk tidak ada yang berani mengangkat wajah mereka. “Kamu tidak usah ikut campur, Ja. Ini urusan aku dan anak Munasih yang kurang ajar itu,” tunjuk Sarinih dengan matanya yang lebar mengarah pada Irna. “Aku salah apa Bu,” gagap Irna bertanya tanpa tahu letak salahnya. “Kamu yang hampit nabrak Zalfa, tapi malah kamu yang dikasih uang sama bapaknya Zalfa. Sekarang balikin uangnya. Enak saja, sudah belajar meras orang ya kamu,” tuduh Sarinih membuat Irna menggeleng kepala mengelaknya. “Bukan seperti itu, Bu.” “Terus seperti apa? Jangan sombong kamu Irna, jangan mentang-mentang kerja di bank kamu jadi –” “Ibu, cukup!” sebuah bentakan menghentikan laju kalimat Sarinih. Dari arah jalan terlihat Hari terburu turun dari motor dan bergegas mendekati istrinya. “Mun, Nali, aku minta maaf atas kelakuan istriku. Ibu, minta maaf sama mereka,” perintah Hari. Namun, Sarinih malah melengos, tidak sudi dia minta maaf pada keduanya. “Ibu,” panggil Hari mencoba menghentikan langkah Sarinih. “Tidak apa-apa pak Kades. Ibu tidak salah, mungkin Irna yang salah. Nanti Irna akan kembalikan uang dari pak Kades,” ujar Nali. “Tidak perlu pak. Jangan dengarkan ibunya Zalfa. Sekali lagi aku minta maaf.” Hari mengajak semuanya bersalaman sebelum meninggalkan rumah Irna. Ah sangat disayangkan, dia yang sedang berjuang untuk merebut simpati warga, tapi justru istrinya yang menjatuhkan keluarga mereka. “Irna kamu tidak apa-apa.” Muna langsung memeriksa tubuh Irna. Setiap dia menyentuh bagian yang diperban, ringisan Irna pun terdengar. “Ini ceritanya bagaimana Nok. Bapak sudah bilang kamu jangan suka cari masalah sama keluarga Bu Kades. Sekarang kamu malah pulang berboncengan sama Warja, nanti setelah ibunya ngomel di sini. Pasti anaknya pun melabrak kamu.” “Melabrak Irna, siapa pak?” Nali langsung memukul pelan mulutnya sendiri menyadari dia sudah kebablasan bicara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN