Pulang dari rumah Irna, Warja terus saja memikirkan kalimat Nali. Bagaimana mana bisa Zalfa melabrak Irna hanya karena dia memboncengnya. Jalan kaki dari rumah Irna menuju ujung gang di mana rumahnya berada terasa lama saat langkah Warja begitu lambat.
Sesekali dia menebar senyum, menyapa para warga yang sedang duduk midangan sore di depan rumah mereka. Tiba di rumah, bukan hanya kedua orang tuanya yang duduk di ranggon bambu. Ada Ranti dan Dulah juga di sana, sepertinya mereka berempat memang sedang menunggu kepulangan Warja.
Buktinya, meski Warja masih cukup jauh, Juminah langsung mengajak kedua tamu mereka masuk ke dalam rumah. Sementara Warita diminta menunggu Warja, ada hal yang harus disampaikan sebelum Warja bertemu dengan Ranti dan Dulah.
“Ja, kamu pulang jalan kaki? Tidak bawa motor?”
“Iya, tadi ke pasar diantar Mbak Lelis. Terus pas pulang bareng sama Irna, dia jatuh dari motor. Tangan dan kakinya lecet, aku bawa ke mantri desa sekaligus antar dia pulang.”
“Ya Allah, terus sekarang keadaan Irna bagaimana, Ja?”
“Alhamdulillah baik, Pak. Mungkin harus pijat dulu karena namanya jatuh dari motor mau tidak mau badannya pasti nyeri juga.”
“Iya, benar itu. Sekarang kita masuk ke dalam. Ada tamu yang sedari tadi sudah menanti kamu pulang.”
“Siapa pak? Tadi sepertinya wa Dulah ya?” Warja melirik motor tua yang terparkir tidak jauh dari ranggon.
“Iya, Si Dulah sama Ranti. Katanya pas kamu pulang itu di toang kamu bantuin Isma dari preman yang mau memperkosa Isma. Makanya mereka ke sini buat berterima kasih langsung sama kamu.”
“Kok ya repot-repot segala. Harusnya tidak perlu ke sini juga mas Wahyu sudah menyampaikan rasa terima kasih mereka kok Pak.”
“Tapi katanya ada hal penting juga yang mau disampaikan sama kamu.”
“Apa itu pak?”
“Bapak juga enggak tahu. Hanya bapak minta apa pun yang akan mereka sampaikan, kalau bentuknya kasih uang atau barang, tidak usah kamu terima. Dulah sama Ranti itu satu dua sama kita. Hidupnya pas berkecukupan, sesama tetangga kita keluarga jangan pamrih ya, Ja.”
“Iya, Pak. Aku paham masalah itu.”
“Ya sudah syukurlah. Yuk, masuk. Kasihan mereka sudah terlalu lama menunggu.” Warita berjalan lebih dulu dan Warja mengekor langkahnya. Ucap salam tidak lupa Warja lakukan sebelum menyalami kedua tamunya.
Di meja sudah ada hidangan ala kadarnya, kopi hitam, teh hangat dan juga setoples keripik pisang pemberian Lelis.
“Nang, kami ke sini mau menyampaikan terima kasih. Rencananya, pagi setelah kejadian Isma di toang itu, kami ingin langsung datang bertamu. Hanya saja terlebih dulu kami kembalikan Isma ke pondok. Jadi mohon maaf, baru sekarang kami bisa berkunjung.” Dulah mengawali pembicaraan mereka sore ini.
“Tidak apa kok Wa, mas Wahyu juga sudah menyampaikan rasa terima kasih Wa Dulah sama Wa Ranti. Lagian kita ini tetangga, saudara satu desa, satu iman, memang sudah seharusnya saling membantu.”
“Masya Allah, aku tidak menyangka Jum. Ternyata apa yang dikatakan orang-orang benar. Anakmu bukan hanya gagah, pinter dan soleh, tapi Warja ini juga sangat peduli dengan sesama. Bangga kamu Jum, tidak semua anak laki-laki seperti Warja ini,” puji Ranti setelah mendengar kalimat Warja.
“Biasa saja, Ran, jangan dilebih-lebihkan. Isma juga anak baik, makanya sebelum terjadi sesuatu terlebih dulu Allah kirimkan penyelamat. Hanya kebetulan memang Warja yang melintas.”
“Iya, benar, kebetulan dan keberuntungan yang pas. Alhamdulillah, Isma tidak mengalami apa pun meski sempat ketakutan dan terus gemetar tubuhnya. Namun, itu tidak berlangsung lama Jum.
Hanya semalam saja, esoknya dia malah minta diantar balik ke pondok. Setidaknya kejadian semalam membuat Isma sadar akan kesalahannya yang kabur, pulang dari pondok tidak pamitan sama Pak Kiyai dan Ibu Nyai.”
“Alhamdulillah ya Ran, memang selalu ada hikmah di balik kejadian apa pun. Semoga setelah ini Nok Isma jadi betah mondoknya, jadi anak soleha, sampai khotmil Qur’an betah di sana.”
“Amin.” Serempak Dulah dan Ranti mengaminkan doa yang diucapkan Juminah.
“Tapi begini loh, Jum, Nang Warja dan Mang Warita. Aduh, kok tiba-tiba aku bingung mau mulai ngomong dari mana.” Ranti bergantian melihat semua orang yang ada di ruangan. Tidak lupa pahanya menyenggol paha Dulah sebagai kode kalau Ranti membutuhkan bantuan sang suami untuk menyampaikan tujuan utama kedatangan mereka ke rumah Warja.
“Ini kenapa toh, Dul, Ran, kok kayak ada yang penting. Sekiranya mau menyampaikan sesuatu, tidak perlu sungkan. Ngomong saja, tidak usah ragu begitu.” Warita yang menangkap kecanggungan Ranti pun bersuara setelah dari tadi hanya jadi penyimak saja.
“Ini susah loh Ta, mau ngomong rasanya berat.”
“Kalau berat ditaruh dulu bebannya Ran, biar gampang mangap-mangapnya,” gurau Juminah membuat mereka terkikik bersama.
“Bagaimana ya, Pak. Bapak sajalah yang ngomong, Ibu mah bingung.” Ranti melempar pandangan penuh harap pada sang suami yang duduk di sampingnya.
Warja sedari tadi memilih diam. Setiap kali berada di tengah para orang tua, dia lebih memilih menjadi pendengar saja. Bicara hanya seperlunya dan siap siaga kalau memang Dulah dan Ranti datang ke sini memerlukan bantuannya.
“Ini diminum dulu ya, Ta.” Dulah menyentuh gagang cangkir kopinya.
“Walah, iya sampai lupa aku. Sok atuh Dul, Ran, diminum dulu. Maaf, hanya ada ini saja di rumah.” Juminah membuka tutup toples sembari mempersilakan kedua tamunya untuk mencicipi apa yang sudah dia hidangkan di meja tamu.
Ada jeda sunyi sesaat Ranti dan Dulah meneguk minuman mereka. Tidak berapa lama suara deheman Dulah menyita atensi mereka. Tatapannya langsung jatuh pada Warja, bukankah lawan bicara terpenting untuk tujuannya kali ini adalah Warja.
“Ada yang bisa aku bantu Wa,” ujar Warja menawarkan bantuannya.
“Ada, Ja. Maka dari itu kami datang ke sini. Sebenarnya aku malu toh, Ta, Jum. Hanya ini memang harus disampaikan seperti apa yang Isma mau.”
“Isma mau apa Dul,” sela Juminah bertanya di tengah kalimat Dulah.
“Dia mau berterima kasih pada Warja. Hanya saja caranya sedikit aneh, tapi ya sebagai orang tua kalau memang itu baik. Kami tidak bisa melarang, hanya bisa membantu sebisanya karena keputusan tetap di tangan Warja.”
“Aku, Wa?” Warja menunjuk dadanya. Tidak mengerti ada hubungan apa antara keinginan Irna dengan dirinya.
“Iya, Ja. Isma kan ingin berterima kasih sama kamu. Jadilah, kamu yang menentukan mau menerima rasa terima kasih Isma atau menolaknya.”
“Walah, kalau soal itu jangan kamu pikirkan Dul. Warja hanya kebetulan lewat, anakku pasti ikhlas membantu anakmu. Jadi, tidak perlu bersusah menyampaikan terima kasih. Kedatangan kalian berdua ke sini saja sudah cukup. Benar begitu, Warja?” Warita meminta persetujuan putra bungsunya.
“Benar, Pak. Aku pikir masalah yang kemarin tidak usah diambil hati, Wa. Semuanya hanya kebetulan, anggap saja aku sudah menerima rasa terima kasih dari Wa Dulah dan Wa Ranti, juga Isma. Sudah cukup kok, Wa.”
Dulah menghela napas berat, dia lirik Ranti yang duduk di sampingnya. Sungguh berat menyampaikan amanah dari Isma. Memang di desa Suka Sari dan wilayah Indramayu lainnya, umumnya pihak prialah yang datang ke rumah pihak wanita untuk melamar.
Bukan sebaliknya, Dulah dan Ranti sore ini datang ke rumah Warja seolah ingin melamar Warja untuk putri mereka.
“Ngomong sajalah, Pak. Kalau sudah ngomong kan enak, lega, tidak perlu mikir jawaban Nang Warja. Intinya sampaikan amanah Isma, diterima atau tidak yang penting kita sudah ngomong,” bisik Ranti pada suaminya. Meski suaranya pelan, tetap saja ketiga tuan rumah bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
“Aduh, aku jadi deg-degan ini, Dul. Apa yang mau kalian sampaikan. Sepertinya ini hal yang serius ya.” Bergantian Warita memandangi dua tamunya.
Ranti dan Dulah saling sikut hingga akhirnya Dulah kembali mengalah. Suara dehemannya pun terdengar lagi sembari arah matanya menyorot pada Warja.
“Begini Nang Warja. Niat Uwa datang ke sini ingin menyampaikan pesan Isma. Dia berulang kali mengatakannya pada kami. Sehingga Uwa sama ibunya seperti punya tanggung jawab agar menyampaikan pesan ini.”
Warja melirik bapaknya. Warita mengangguk mengerti maksud Warja meski hanya pandangan mereka saja yang beradu.
“Mangga Uwa, katakan saja pesan Isma apa. Kalau sekiranya aku bisa membantu, insya Allah akan aku bantu sebisa mungkin.”
“Ini bukan perihal bantu-membantu, Ja. Ini masalahnya diterima atau ditolak.”
“Waduh, ini masalah apa toh, Dul. Jangan buat kami penasaran, ngomong dulu, biar Warja bisa menentukan.” Warita menengahi karena dirasa Dulah masih terbelit-belit, tidak segera menyampaikan maksudnya.
“Begini, Ja. Isma berkali-kali bilang. Sebagai tanda terima kasihnya. Dia ingin mengabdikan dirinya buat kamu.”
“Maksudnya apa ya,” sela Juminah.
“Mak, diam dulu. Biarkan Dulah selesai bicara,” tegur Warita. Dia kemudian mempersilakan Dulah melanjutkan kalimatnya.
“Iya begitu, Jum, Ta, Isma kukuh ingin mengabdikan sisa hidupnya buat Warja. Dengan kata lain, dia ingin menjadi istri Warja agar bisa melayani Warja sepanjang sisa hidupnya.”
Warja yang kaget langsung terbatuk-batuk. Hanya saja di sana tidak tersedia air minum untuknya. Dengan gerak tubuh Warja pun berpamitan, dia menuju dapur untuk mengambil air minum di gentong tanah. Tempat penyimpanan air minum yang sudah digodog dan matangkan oleh Juminah.
“Menikah,” desis Warja.
Terbayang lagi wajah Isma. Ketakutan gadis cilik yang meringkuk dengan tubuh bergetar di dalam mobil pick up.
“Tidak, mana bisa aku menikahi bocah,” elak Warja. Isma belum juga lulus SMA, mana bisa sudah ada wacana menikah dan Warja yang jadi suaminya.
Kini dalam otak Warja mulai menebak usia Isma dan dirinya, cukup jauh usia mereka terpaut. Rasanya Isma benar-benar bukan wanita yang Warja inginkan. Namun, yang bikin bahaya adalah apa yang disampaikan Dulah tadi didengar juga oleh Jum yang sedang terus mendorong Warja untuk menikah secepatnya.
Cepat-cepat Warja keluar sebelum semuanya terlambat. Jangan sampai Juminah malah menerima keinginan Isma terlebih dulu tanpa meminta persetujuannya.
“Wah, kebetulan ya Jum. Kalau memang kamu sedang cari mantu. Itu berarti kedatangan kami ke sini pas.”
“Tapi Ran, Isma itu bukannya masih mondok dan sekolah. Masa iya dia menikah, belum cukup usianya. Apa dia tahu kalau Warja itu terlalu tua untuknya.”
“Benar bapak.” Warja datang lagi di ruang tamu dan langsung menyambar membenarkan apa yang dikatakan Warita. Dia kembali duduk di tempatnya semula.
“Maaf Wa Dulah, Wa Ranti,” sambung Warja bergantian menatap orang tua Isma.
“Aku ini bukan menolak Isma, Wa. Bukan, tolong Uwa jangan salah paham.”
“Iya, Ja, aku paham itu. Kami ke sini hanya menyampaikan apa yang jadi keinginan Isma, tidak bisa kami memaksa kamu untuk memberi jawaban apa. Jadi terserah kamu saja, Ja. Apa pun jawaban yang kamu berikan, insya Allah kami terima.” Dulah tentu saja paham karena sangat jelas kontras perbedaan usia Warja dan Isma.
“Nang, jangan cepat ambil keputusan. Mungkin ini jalan yang dikirim gusti Allah. Mungkin dengan kamu pulang bersamaan dengan peristiwa kaburnya Isma dari pondok sudah merupakan skenario yang disiapkan gusti Allah untuk mempertemukan kalian.
Bukannya kamu tahu kalau di dunia ini tidak ada istilahnya kebetulan, semuanya sudah diatur Allah dengan baik. Jodoh dan rejeki kamu sudah ditentukan jauh-jauh hari sebelum kamu terlahir di dunia ini.”
Ah, berat. Masa iya Warja harus mendebat nasihat Juminah. Dia hanya bisa diam meneguk saliva. Selama ini, apa pun yang Juminah inginkan, sebisa mungkin dia kabulkan. Termasuk saat karirnya di pabrik teh sedang berada di puncak, tapi Juminah malah memintanya pulang. Mau tak mau keinginan sang ibu langsung disetujui tanpa banyak berpikir.
“Aduh, ini sepertinya akan panjang toh, Dul. Berat ini, ditawari gadis cantik salihah macam Isma, ini tentu suatu kebanggan buat keluarga kami Dul.” Warita bermaksud ingin menengahi agar tidak ada ceritanya istri dan anaknya memperdepatkan jawaban apa yang harus Warja ambil di depan tamu mereka.
“Hanya begini loh, Dul. Apa yang Warja bilang ini benar. Nok Isma itu masih mondok, dia juga masih sekolah. Apa iya Nok Isma mau nikah dengan om-om macam Warja. Sudah badannya tinggi, kekar, kulitnya juga tidak putih seperti mas Al suaminya mbak Andin di Tipi itu.
Kok ya aku guyu, guyu karena minder. Kasihan cah ayu macam Isma malah dapat suaminya seperti Warja. Maaf ya, Ja. Bukan bapak tidak bangga sama kamu. Hanya bapak ini sadar seperti apa anak bapak dan seperti apa nok Isma.”
Warja mengangguk, dia paham kalau maksud Warita malah justru ingin membelanya. Ya Tuhan, punya istri bocah? Sungguh itu sama sekali tidak terpikirkan dalam benak Warja. Rasanya Yongki yang harus meladeni kemanjaan Agatha saja sudah amat lucu di mata dia, sekarang bagaimana kalau dia malah menikah dengan gadis yang jarak usianya itu sampai tujuh tahun lebih.
Memang kata orang bagus kalau sang pria lebih dewasa dari istrinya karena nanti sudah matang dalam hal kedewasaan, Namun, bagi Warja, tentu ini cukup berat kalau dia harus menghadapi kemanjaan bocah macam Isma. Ah, kenapa Warja malah jadi sok tahu, belum juga dia mengenal Isma, tapi malah sudah memberi penilaian kalau Isma itu gadis yang manja.
“Jadi keinginan anak kami, Ismatul Maula ini ditolak ya, Jum?” Wajah Ranti tampak kecewa. Ini malah membuat Warja jadi dilema. Menolak, dia tidak tahu cara menyampaikannya bagaimana. Menerima pun sungguh itu bertolak belakang dengan isi pikirannya.