Warja memilih diam, seperti biasanya dia menyerahkan semua keputusan pada Warita dan Jum. Sebagai anak Warja percaya apa pun yang dipilihkan keduanya pastilah sudah dipikir dengan masak. Tidak ada orang tua yang ingin menjerumuskan anaknya. Apalagi ini perihal bab pernikahan.
Ranti dan Dulah masih tampak setia menanti keputusan. Beruntung suara lantunan azan magrib seperti penyelamat untuk Warita.
“Alhamdulillah sudah magrib ini, Dul, Ran. Sepertinya kami perlu berpikir dulu, soalnya seperti apa yang tadi aku sampaikan. Aku sebagai bapaknya Warja sangat terkesan dengan kedatangan kalian berdua yang menyampaikan maksud baik ini.
Hanya saja yang kami pikirkan bukan Warja, tapi justru Nok Isma, Sungguh usianya masih terlalu dini. Lebih baik Nok Isma fokus dulu dengan ngaji dan sekolah. Insya Allah tanpa membalas kebaikan Warja, kami sekeluarga ikhlas Dul.”
Dulah menghembuskan napas lega, sedangkan ada setitik rasa kecewa yang tampak di wajah Ranti. Sebagai ibu dia lebih mengerti keinginan Isma, tidak tega apa yang diinginkan putrinya tidak langsung mendapat jawaban positif.
Hanya saja Ranti pun setuju, seperti yang dikata Warita, gadis seusia putrinya memang lebih baik fokus belajar dulu. Tidak perlu terlalu dini memikirkan pernikahan.
“Ya sudah, Ta, Jum. Aku paham, apa pun keputusan Warja nantinya. Kami berdua akan menerima dengan baik. Sekali lagi aku berterima kasih atas bantuan Warja.”
“Siap, siap, Dul. Tidak perlu sungkan, aku juga dulu sering minta bantuanmu.”
“Kami pamit,” ujar Dulah sebelum menyalami Warita dan Jum diikuti Ranti. Namun, saat tiba giliran menyalami Warja, terselip amplop di tangannya.
“Maaf, Wa. Tidak perlu, aku ikhlas. Sungguh, Wa. Tidak perlu seperti ini,” tolak Warja dengan nada sopan. Dia kembalikan lagi amplop dari tangan Dulah.
“Ya ampun, Dul. Kalau kamu begini kesannya kita ini bukan teman, bukan tetangga. Jangan seperti ini Dul, siapa tahu lain waktu malah aku atau Warja yang butuh bantuanmu,” sambung Warita membela putranya.
“Aku juga ikhlas, Ta. Sangat ikhlas, Isma terlalu berharga buat kami. Entah jadinya seperti apa kalau tidak ada Warja.”
“Sudah Dul, jangan. Jangan begini. Ayo, aku antar ke motor. Ini bukan aku mengusir ya. hanya saja sudah magrib, nanti musala kosong kamu dan Ranti masih di sini.” Tangan kanan Warita merengkuh pundak Dulah, menuntunnya hingga keluar.
Kembali keduanya melempar senyum sebelum berboncengan sepeda motor butut menuju rumah mereka yang jaraknya memang cukup jauh.
Lega. Itu yang dirasakan Warja sekarang. Setidaknya dia tidak perlu payah membayangkan hidup beristrikan bocah. Yongki saja sering kelimpungan dengan kemanjaan Agatha. Apalagi Isma, delapan belas tahun pun belum masa iya dia seperti p*******a. Warja bergidik sembari masuk menuju kamar mandi.
Sejak sore itu tiga wanita tidak berhenti menghiasi hari mereka dengan khayalan dan bayang bisa menjadi istri Warja. Isma belumlah mengerti akan cinta, tapi sebagai remaja setidaknya niat awal dia hanya ingin membalas budi baik Warja.
Hidupnya akan hancur seandainya malam itu Warja terlambat datang. Itu yang membuat dia terus mengenang wajah Warja, melukisnya dengan pena yang digoreskan di buku tulis.
“Ciye, Isma sudah punya pacar woi,” teriak salah seorang teman sekamarnya yang diam-diam mengintip hasil gambar Isma yang beberapa hari ini selalu disembunyikan. Tidak lagi boleh dilihat siapa pun.
“Apaan sih Ti. Kamu reseh.” Isma merajuk. Segera bukunya ditutup, disembunyikan di d**a dan ditutup kerudung agar tidak ada yang merebutnya.
“Ya Allah Is, segitunya kamu. Aku ini teman sekamarmu. Sedari awal masuk pondok kita bareng-bareng. Masa iya cuma begitu saja kamu marah. Aku cuma lihat dikit, itu pun aku tidak tahu laki-laki mana yang kamu lukis,” oceh Tiara tidak terima melihat Isma cemberut padanya.
“Bukan masalah lihatnya, Ti. Hanya kamu selalu heboh sendiri. Aku tidak suka dijadikan bahan ledekan.”
“Di sini kita cuma berdua. Coba kamu lihat,” tunjuk Tiara ke arah pintu.
Faktor kaget membuat Isma tidak sadar kalau mereka hanya berdua di dalam kamar sementara teman yang lainnya sedang setor bacaan Al Quran. Jatah bulanan membuat mereka libur bersamaan.
“Maaf,” desis Isma merasa bersalah.
“Aku tahu kamu seperti apa Is, mana pernah aku umbar-umbar rahasiamu. Hanya aku penasaran saja, sejak kamu kabur pulang kemarin, terus kamu diantar lagi ke sini. Aku perhatikan kamu lebih sering diam, menyendiri di kamar.
Kamu juga jarang ikut gabung sama kita. Plus, ini yang paling penting loh. Kamu itu menyembunyikan semua hasil gambar yang biasanya kamu tunjukan buat aku kasih penilaian.”
Isma menunduk, dia sadar apa yang diocehkan Tiara semuanya benar. Tanpa sadar Isma terjebak asyik sendiri dengan dunianya bersama lamunan akan Warja. Pria dewasa yang seusia dengan pamannya, badannya kekar, pemberani, wajahnya tidak kemayu seperti aktor Korea yang selama ini dia gandrungi.
Posisi Lee Jong Suk kini tergeser, bukan lagi tipe pria manis seperti dia yang jadi dambaan Isma. Namun, rahang tegas wajah Warja, matanya yang tajam bulat dengan alis tebal. Isma terus saja mengingat setiap lekuk wajah Warja, setiap ekspresi wajahnya malam itu. Meski dalam kegelapan, remang rembulan mampu memberi cukup cahaya untuk Isma menghafal wajah super heronya.
“Is, kok malah melamun. Ada masalah? Aku dengar ....” Tiara menggantung ucapannya. Kabar tentang kaburnya Isma, begitu pula tentang dia yang hampir jadi korban pemerkosaan sudah beredar luas.
Bukan dari Mama Kiyai atau Mimi Nyai yang dibagi ceritanya oleh orang tua Isma. Namun, dari berita digital yang banyak dibagikan di media sosial. Mau tidak mau, meski hanya sebuah inisial, tapi karena di desa Isma berita ini santer tersiar. Jadilah, bukan sebuah rahasia lagi kejadian naas malam itu.
“Kamu dengar apa?” tanya Isma. Tiara tampak bingung, jemarinya saling tertaut dan menarik. Sudah sejak kemarin Tiara ingin menanyakan soal ini. Hanya belum ada waktu yang tepat.
Tiara menengok ke arah pintu, memastikan kalau sudah dikunci dan tidak ada yang nyelonong masuk ke dalam. Maklum, di pondok pesantren Al Hikmah. Satu kamar berukuran empat kali empat meter persegi dihuni oleh sepuluh hingga sebelas orang.
“Aku dengar kamu pas kabur itu malah mau dianu preman,” cicit Tiara. Pelan, ragu menyampaikan berita yang dia tahu.
“Terus apa lagi?”
“Katanya ada pemuda yang nolong kamu.”
“Terus selain itu?”
“Mereka bilang kamu naik ojek, tapi ternyata dia preman. Terus berhenti di toang yang sering terjadi pembegalan.”
“Hebat ya, sekarang aku jadi terkenal, Ti. Beritanya sudah viral?” Nada tanya dari Isma diangguki Tiara.
“Sekarang semua serba cepat, banyak banget yang membagikan berita itu. Memang tidak menyebut nama kamu. Hanya saja satu dua orang santri Suka Sari dapat berita itu dari orang tua mereka di rumah. Katanya awas, jangan kabur. Nanti kamu seperti Isma.” Tiara menirukan logat seseorang.
“Baguslah.”
“Kok bagus sih, Is.”
“Ya bagus, berarti kaburnya aku hari itu bukan hanya memberi peringatan buat aku saja. Santriwati yang lain, khususnya dari Suka Sari juga jadi berpikir ulang kalau mau kabur. Semoga setelah ini tidak ada lagi kasus santriwati yang kabur.”
“Iya, sih, tapi aku mikirin kamu. Setelah berita tersebut beredar kamu jadi sering sendiri. Di kamar, aku kan jadi kepikiran kamu.”
“Aku tidak apa-apa, Ti. Terima kasih buat perhatian kamu.” Isma merentangkan tangannya, dia berangsur mendekati Tiara dengan p****t mengesot. Mereka pun berpelukan, tidak ada tangis karena yang dirasa Isma sekarang justru lega.
Di sini, meski di pondok dan jauh dari keluarga. Masih ada sahabat yang begitu perhatian padanya. Aslinya bukan hanya Tiara, tapi beberapa hari ini Isma memang memilih menjauhi semuanya hingga teman-temannya merasa sungkan mendekati Isma.
Isma tidak tuli, telinganya bisa mendengar jelas desas-desus beberapa santri yang membahas kejadian malam itu meski tidak menyebut namanya. Itu yang membuat Isma memilih menyibukan diri dengan pena dan kertas. Banyak menggambar wajah sang super hero yang pelan-pelan merasuk ke relung hati terdalamnya.
“Ini siapa?” Saat pelukan terlepas, Isma kecolongan, buku yang tadi dia sembunyikan sudah dipegang Tiara.
“Dia super heroku.”
“Ciye, jadi om ganteng ini yang sudah menyelamatkan kamu?”
Isma mengangguk malu. Rasa hangat menjalar di wajahnya. Ingin Tiara meledek, tapi dia tekan, perasaan Isma tidak sedang baik-baik saja. lebih baik dia membuka tiap lembar buku untuk tahu apa saja yang Isma lakukan beberapa hari ini.
“Kamu seperti orang sedang jatuh cinta, satu buku penuh isinya orang yang sama.”
“Cinta?”
“Iya, jatuh cinta pada super hero. Ih, gemes.” Tiara mencubit pelan pipi Isma sebelum tawanya terdengar. Namun, suara ketukan pintu membuat Tiara segera mengembalikan buku milik Isma.
Pintu kembali diketuk disertai panggilan pada Isma dan Tiara. Setelahnya riuh langkah dan suara para santri yang baru kembali dari musala akhwat terdengar semakin ramai. Waktu belajar mereka selesai. Itu menandakan obrolan mereka pun harus dijeda sementara hingga ada kesempatan lagi.
***
“Warja, sini duduk sama mak.” Juminah menepuk tempat kosong di kursi panjang.
Sejak tadi dia menunggu Warja kembali dari masjid padahal Warita sudah satu jam yang lalu datang. Kini suaminya malah sudah terlelap di kamar.
“Bapak tidur Mak?” Warja mencium punggung tangan Juminah sebelum duduk di sampingnya.
“Iya, kelelahan. Besok masih harus ke sawah lagi.”
“Padahal bapak sudah tua, sudah jangan ngoyo-ngoyo kerja, Mak. Biar aku saja yang gantikan bapak.”
“Gantikan apa, Nang. Besok bukannya kamu ada jadwal ketemu masiwa kaen di balai desa.”
“Mahasiswa KKN,” ralat Warja membenarkan ucapan Juminah.
“Iya, maksud mak itu. Mereka yang cantik dan ganteng pakai jas seragaman kan?”
“Iya yang itu namanya mahasiswa KKN mak.”
“Yo wis, kamu jalani saja kegiatanmu. Bapakmu juga mana betah diminta diam. Sudah dari kecil dia itu pekerja keras.”
“Iya, Mak. Sini aku pijat, mak juga pasti lelah.” Warja mengangkat kaki Juminah dan menaruh di atas pahanya. Pelan-pelan tangannya bergerak memijat betis Juminah.
“Jadi bagaimana dengan Isma, Ja?”
Warja sudah menduga pertanyaan ini akan butuh jawaban secepatnya. Bukan Ranti dan Dulah yang tidak sabaran, tapi justru Juminah orang pertama yang menanti jawaban Warja.
“Isma itu kayak si Serlin dan Maura, Mak. Aku geli membayangkan istriku seusia dengan kemenakanku.”
“Jadi kamu menolak? Terus kamu punya calon, Mak dan bapak ini sudah tua. Mak tidak sabar ingin segera menimang cucu dari kamu, Ja.”
Gerak tangan Warja berhenti sesaat memijat betis Juminah. Dia berpikir siapa calon yang mungkin disodorkan pada Juminah. Ah, seandainya saja dia tidak lupa meminta nomor ponsel gadis yang ditemui di kereta. Sungguh Warja tidak ragu kalau matanya langsung terpesona pada pandangan pertama.
“Tuh, kan. Sudah mak tebak, kamu menolak Isma juga tidak punya calon. Mak ini tidak pandang dia bocah atau dewasa. Yang penting dia terima kamu sepaket dengan mak dan bapak. Bagaimana pun kamu ruju kami. Mak ingin sampai tua tinggal dekat dengan kamu dan istrimu.
Di samping rumah masih bisa dibangun rumah sederhana. Bapakmu juga sudah punya tabungan yang cukup. Kalau calonmu sudah di depan mata. Sebelum melamarnya, mak dan bapak ingin bangunkan kamu rumah dulu.”
“Ya Allah mak. Aku jadi malu. Sampai dewasa seperti sekarang aku masih saja merepotkan mak. Sudah mak, aku bisa tinggal di sini sama kalian. Tidak perlu bangun rumah lagi,” tolak Warja dengan bahasa yang begitu halus.
“Rumahnya di samping situ kok, Ja, Dekat. Satu rumah itu idealisnya hanya ada satu raja dan ratu. Kalau ada dua pemimpin, sudah dipastikan semua akan berjalan kaku. Mak tidak mau seperti itu, mak dan bapak sudah pikirkan semuanya.
Sekarang tinggal kamu saja yang tentukan siapa gadis yang harus kami lamar. Kamu punya calon tidak? Barang kali di Bogor kamu ketemu cewek dan dia mau dibawa ke sini.”
“Tidak ada Mak. Aku di sana murni kerja. Tidak berpikir cari wanita.”
“Ya sudah, kalau menurut kamu Isma itu masih bocah. Itu teman sekolah kamu, si Irna. Kamu tahu Irna?”
“Iya, mak. Tadi sore juga aku ketemu dia. Aku antar Irna ke mantri dan ke rumah. Dia jatuh dari motor.”
“Astagfirullah, terus bagaimana keadaannya?”
“Hanya lecet saja di bagian lengan, siku, lutut dan kaki. Soalnya aspalnya kan di pasar tidak rata, Mak.”
“Bisa jadi itu tanda jodoh, Ja.”
“Jodoh bagaimana mak? Tadi aku menyelamatkan Isma mak bilang begitu, sekarang ke Irna juga begitu.”
“Ya mana tahu begitu. Lagian tidak ada yang murni kebetulan di dunia ini. Semua sudah diatur Allah, termasuk cara kamu bertemu jodoh.”
Warja memilih diam, terus menyimak petuah dan nasihat dari Juminah. Hanya sesekali saja dia menanggapi dengan kata iya dan tidak, mulutnya lebih suka tertutup. Namun, tangannya aktif bergerak memijat kedua kaki Juminah.
“Nah, sekarang kamu pilih saja mau siapa? Kamu pilih Isma atau Irna. Dua-duanya anak baik, Ja. Hanya kalau Isma pakai kerudung, sedangkan Irna pakai kerudung kalau berangkat kerja ke bank saja.”
Warja meringis, pilihan macam apa ini. Satu bocah, satu lagi teman karibnya dari bocah hingga sekarang.
“Malam ini kamu pikir dulu, kamu pilih mau Isma atau Irna. Nanti Mak ngomong sama masmu. Jangan lama-lama kamu membujang, mak sudah ingin menimang cucu dari kamu.”
Warja mengingat dua wajah wanita yang tadi disebut Juminah. Isna atau Irna? Namun, yang muncul justru wajah gadis di kereta dengan senyum manisnya.