Adinda Ayu Lestari

2161 Kata
Pagi ini seperti yang sudah diagendakan, Warja akan bertemu dengan beberapa mahasiswa KKN dari Institut Pertanian Bogor. Sebagai salah satu alumni IPB, Warja seperti mengenang masa-masa kuliahnya kalau berbaur lagi dengan mereka. Seperti sekarang obrolan ngalor ngidul yang diawali tentang pertanian di desa Suka Sari malah lari melenceng membahas kabar sekitaran kost Dramaga beserta kuliner ala anak kost. “Aduh sorry ya telat.” Mahasiswi yang datang dengan napas tersengal berhasil merebut perhatian Warja. Matanya tidak berkedip, terus memastikan kalau yang ada di hadapan mata adalah gadis yang sama dengan yang dia temui di kereta. “Din, kenalkan ini mas Warja.” Bayu-ketua kelompok memperkenalkan nama yang sebenarnya sudah tidak asing buat Dinda. Mata Dinda dan Warja saling beradu, Dinda langsung menjentikkan jari dengan senyum lebar. “Eh, ketemu lagi,” ujarnya bernada ceria. “Ini yang dinamakan jodoh, Dinda.” “Ciye, Dinda baru datang langsung dapat jodoh.” “Pantas aku kayak kenal dengan nama Warja. Jadi ini mas-mas yang nemeni kamu di kereta.” “Ah, iya ini, sepertinya bakal ada cinlok, Bray.” Bergantian tiga temannya saling menyahut meledek Dinda. Senyum malu-malu dia tampakkan. Pasalnya usai perjalanan lima jam bersama Warja di kereta. Dinda sempat heboh menceritakan si Warja pada teman-teman sekamarnya. Meski kulitnya tidak putih, tapi Warja tampan khas pria desa dengan badan kekar, rahang tegas dan sudah Dinda bayangkan mudahnya Warja menggendong badan kecilnya. Secara, angkat karung padi saja petani di sini kuat, apalagi mengangkat tubuhnya. “Ye, malah ngelamun. Bangun woi, bangun, mas Warja masih di depan. Tidak usah mupengnya keliatan.” Seru Atika membuat Dinda refleks memukul lengan temannya. “Berisik, malu tahu.” “Tapi aku suka loh lihat wajah Dinda yang lagi malu, merah kan, seperti pakai blash on.” Warja melirik Bayu untuk meminta persetujuan. Namun, bukan hanya Bayu yang ikut memperhatikan Dinda. Jadilah pertemuan awal mereka diwarnai tawa yang kerap terdengar karena meledek Dinda yang tidak bisa menyembunyikan kekikukannya di depan Warja. Siang menjelang zuhur, observasi lingkungan dengan memperkenalkan beberapa tempat pembibitan di desa Suka Sari usai dilaksanakan. Kelima teman Dinda entah kenapa seperti membuat kesepakatan meninggalkan dia berdua saja dengan Warja. Keduanya berjalan beriringan menuju tempat Warja memarkir motornya. Ah, sial, Dinda baru sadar kalau dia ditinggal sendiri dan belum hafal rute kembali ke rumah kontrakan. Desa ini mirip dengan labirin. Banyak gang yang saling menyambung, membentuk putaran desa dan Dinda tidak tahu jalan gang mana yang harus dia pilih agar tidak tersesat. “Kenapa? Kok jadi gelisah?” tanya Warja. “Sepertinya mereka sudah pulang semua, tinggal motor mas Warja saja di pos,” tunjuk Dinda dengan arah pandang matanya. Warja mendongak, tampak di depan motor supra miliknya yang dibeli di dealer motor bekas sebelum keberangkatannya ke Bogor dua tahun silam. “Kita keasyikan ngobrol sepertinya.” Dinda mengangguk malas. “Aku antar pulang,” tawar Warja. Masa iya kesempatan emas seperti ini dia sia-siakan. Kemarin dia menyesal tidak sempat meminta nomor Dinda. Hari ini harusnya Warja tidak menyiakan kesempatan yang ada. “Bagaimana, mau aku antar?” ulang Warja kembali menawarkan tumpangan. “Nanti merepotkan, aku pulang sendiri saja.” Setidaknya penolakan ini hanya basa-basi belaka karena Dinda tidak benar-benar berharap Warja meninggalkannya sendirian di sini. “Kamu mau pulang sendiri dari sawah ke kontrakan? Jalan kaki? Rumah Wa Sumin jau dari sini loh, Din.” Jelas sekali Warja meragukan hal itu. “Aku, nanti. Oh, iya, aku minta salah satu dari mereka jemput aku saja di sini.” Ide cemerlang seketika menyambanginya. Namun, kening Dinda malah mengernyit melihat Warja membaui badannya sendiri. “Kenapa?” “Aku hanya mengecek tubuhku bau busuk tidak sampai kamu menolak aku antar pulang.” “Eh, kok begitu. Aku tidak berpikir ke sana. Aku hanya takut merepotkan mas Warja.” “Aku tidak merasa direpotkan. Malah aku senang bisa kembali bertemu dengan gadis cantik berkerudung toska yang membuat perjalanan di kereta penuh tawa.” “Ish, tumben ini. Ada sarjana pertanian yang pandai ngerayu. Biasanya anak pertanian kaku. Ini mas Warja malah beda, bisa banget merangkai kata sampai semuanya berakhiran a.” “Biar petani, kerja di sawah, pria juga butuh ilmu romantis biar calon istrinya nanti tidak garing kayak jemuran padi.” “Ya Allah.” Dinda menggelengkan kepala sambil tertawa. “Mas aku bisa beneran jatuh hati kalau mas Warja semanis ini.” “Itu yang aku harapkan.” Sesaat pandangan keduanya kembali beradu. Beberapa detik Dinda menyelami sorot netra Warja untuk mencari tahu maksud perkataannya sesuatu yang bisa dipertanggung jawabkan atau sebuah guyonan semata. “Ayo, pulang. Panas, sudah mau zuhur.” Warja yang lebih dulu berpaling. Segera dia menuju motor. Siang ini untuk pertama kalinya mereka berboncengan berdua, melintasi jalan desa di mana banyak warga yang menyapa keduanya. Namun, tidak ada yang menyangka kala ada yang langsung terbakar rasa cemburu. Sungguh demi apa pun, dia tidak rela melihat wanita asing yang baru dikenal Warja duduk mesra berboncengan dengan pria yang dia puja. Bukankah dia yang sudah menginginkan hal itu sejak lama. Namun, sekarang dia hanya bisa gigit jari sembari menahan gemuruh di d**a melihat keduanya melintas di depan mata. “Awas kamu!” geramnya sembari mengepalkan tangan. *** “Ciye, Dinda pulangnya diantar mas Warja niye.” Lontaran kalimat ledekan dan siulan menyambut kedatangan Dinda. Hari panas, kuping Dinda pun terasa panas. Namun, senyumnya tetap merekah karena kesejukan sedang menyapa hatinya. “Din, asyik enggak bonceng motor berdua sama mas Warja.” Atika mengedipkan matanya dengan gaya centil. “Asyik dong.” “Ciye, bahagia banget,” sorak Asti tidak mau kalah. “Kayaknya empat puluh hari kagak bakal berasa Tik, asalkan mas Warja di depan mata,” Sambung Aryo yang langsung mendatangkan gemuruh tawa, tepuk tangan serta siulan dari mereka semua. Bayu-sang ketua KKN yang biasanya terlihat jarang tertawa dari tadi terus senyum-senyum geli saat proses observasi dengan Warja. Apalagi Bambang, Aryo, dan Atika. Mereka tentu sengaja sekali menyusun siasat agar Adinda Ayu Lestari, satu-satunya teman sekelas mereka berlima yang belum pernah terdengar punya pacar bisa mendapatkan jodohnya di Suka Sari ini. “Parah, kalian semuanya stress.” “Bukan kami yang stress, Din. Biasanya orang jatuh cinta macam kamu yang pikirannya sedikit oleng,” balas Bambang. Semuanya malah bersorak mendukung perkataan Bambang hingga Dinda pun mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kepala dan menggoyangkannya. “Ampun, ya. Aku kalau keroyokan macam ini lebih baik masuk ke kamar.” Dinda melambai, tidak peduli Atika dan Asti yang berusaha menahannya. “Eh, ini mas Warja WA tanya nomor Dinda.” Blam. Langkah Dinda berhenti, dia langsung balik kanan, berlari menghampiri Bayu dan duduk di sampingnya. “Serius, Bay. Lihat dong.” Dinda melongok ke layar ponsel Bayu tanpa peduli tawa cekikan dari teman-temannya. “Ini beneran ya, Dinda si jutek dari kelas A sudah kesengsem dan terperosok pesona mas Warja.” “Apaan sih, Yo. Lebay, masa terperosok, terpesona kek, terjebak kek. Itu lebih enak didengar dari pada terperosok,” protes Atik. Dinda sendiri malah fokus membaca isi pesan Warja yang diawali basa-basi, mengirimkan beberapa contoh laporan program sewaktu dia KKN. Bagian akhirlah yang membuat Dinda langsung senyum-senyum dan tanpa sadar merebut ponsel Bayu. “Apaan sih, Din. Balikin, nanti juga aku kasih nomor kamu sama mas Warja. Jual mahal dikit dong, kagak perlu mupeng lo kentara banget.” “Eits, ingat aturan buat pakai kata ganti aku kamu, bukan lo gue,” tegur Bambang. “Aturan kamu yang buat, masa iya kamu juga yang melanggar sambungnya. “Tuh kan, ini gara-gara Adingdong, gue, eh salah aku sampai kena semprot si Bambang. Cepat balikin hapenya.” Telapak tangan Bayu terbuka tepat di depan wajah Dinda. “Pelit banget. Cuma pinjam bentar Bayu. Awas saja kalau minta dimasakin mie rebus,” ancam Dinda. Dia kembali berlalu ke kamar. Bukan hanya Dinda, Atika dan Asti pun turut serta ke kamar mereka untuk istirahat sebentar sebelum menunaikan salat zuhur. Tidak sabar rasanya Dina menantikan Warja menghubunginya. Ah, kenapa pula dengan dirinya. Ini bukan pertama kali Dinda bertemu dengan pria berparas dan berperawakan seperti Warja. Namun, jujur kali ini hatinya terus berdesir. Dalam setiap helaan napas, detakan jantung, ada selintas wajah Warja yang sesekali datang membuatnya tersenyum. Seperti inikah jatuh cinta? Tapi kenapa saat pertama merasakan cinta justru pada pria yang amat asing untuknya. Suku mereka berbeda, tempat tinggal pun jelas berjauhan meski banyaknya transportasi dan alat komunikasi yang akan mendekatkan mereka. “Din. Kamu oke?” Asti mendekat, dia berangsur turun dari kasur. Berpindah duduknya bersandar di tembok sementara Atika sudah lelap tertidur di kasur. “Aku oke, memangnya kenapa As?” “Aku rasa sejak pagi kamu aneh. Ini beneran kamu suka sama mas Warja?” “Eh, kok tanya itu. Kenapa mas Warja terus yang jadi pembahasan. Aku pikir sudah selesai ngomongin dianya,” elak Dinda. Bagaimana pun dia tentu merasa malu kalau harus terang-terangan mengatakan isi hatinya. Asti dan Atik bukan sekedar teman saja buat Adinda. Trio A ini sudah bersahabat sejak mereka sama-sama jadi Maba dan masuk ke kelas A. Namun, hanya Dinda saja yang sampai saat ini belum pernah terdengar punya jalinan asmara. Rasanya aneh buat Asti kalau hanya karena pertemuan singkat Adinda dengan Warja seorang Dinda yang kukuh menutup hatinya untuk pria hingga dia dinyatakan lulus jadi sarjana. Kini malah amat mudah tergoda akan kehadiran Warja. Bukannya selama ini banyak pria yang terang-terangan mendekati Adinda selalu ditolak, tapi kenapa giliran Warja justru malah Adinda yang tergoda lebih dulu. “Tuh kan, kamu banyak melamun. Kamu aneh, kita ini bukan sehari, seminggu atau setahun kenal, Din. Kita sudah bareng dari dulu. Aku tahu kalau gelagat macam ini tandanya kamu sedang mulai kasmaran. Senang melamun, cari spot sepi, duduk sendiri, senyum-senyum tidak jelas. Dan aku yakin dalam otak kamu itu terlintas bayangan seseorang.” “Kok kamu mirip dukun si As, bisa menebak semua itu.” “Bukan dukun, tapi aku kan sudah pernah ada di posisi kamu.” “Oh iya.” Dinda menggaruk lehernya yang kini sedang tidak ditutupi kerudung. Toh di kamar ini semuanya perempuan. Tidak pernah juga Bayu, Bambang dan Aryo membuka pintu kamar mereka tanpa izin. Meski tinggal satu rumah, tapi mereka berenam sepakat untuk menjaga privasi masing-masing. Apalagi ketiga anggota kelompok wanita semuanya mengenakan kerudung bukan hanya sekedar saat di kampus. Namun, mereka bertiga benar-benar memakainya sepanjang hari di depan pria yang bukan mahram. “Kamu nungguin WA dari mas Warja?” Asti melirik tangan Adinda yang tidak lepas dari ponsel. Padahal dulu benda itu paling sering dia abaikan. “Enggak, aku hanya, apa ya.” Dinda gelagapan, dia memang sama sekali tidak pintar dalam hal berbohong. “Jujur deh, kamu beneran suka sama mas Warja?” “Aku enggak tahu As, lagian ini baru kedua kalinya kami bertemu. Pertama di kereta dan kedua tadi.” “Terus akan ada pertemuan selanjutnya karena selama kita di sini mas Warja akan membimbing kita,” potong Asti. “Serius.” “Yup.” Asti mengangguk, Dinda pun meringis membayangkan seringnya intsensitas pertemuan mereka. “Ingat loh, Din. Kita tidak tahu aslinya mas Warja itu seperti apa. Di sini niat kita murni untuk menjalankan program KKN sampai selesai tanpa ada kendala apa pun. Aku harap kamu bisa mengendalikan diri. Banyak kasus mahasiswa KKN pulang membawa benih dalam perut. Hasil hubungan terlarang denagn warga di desa tempat mereka KKN. Aku tidak mau kamu seperti itu.” “Ya Allah Asti, kamu mikirnya jauh banget. Aku masih tahu batasan. Jangankan berpikir ke arah sana. Untuk dekat berdua dengan ams Warja saja aku grogi gila. Makanya aku tidak mau kejadian seperti tadi siang terulang. Masa iya kalian tega ninggalin aku berdua dengan mas Warja. Itu sekali tidak ada masalah. Takutnya yang seterusnya setan datang dan bikin aku jadi oon terus khilaf. Kan kalian juga ikut andil berdosa.” “Ya, itu si Atik. Idenya dia dan anehnya si Bayu malah iya-iya saja. Nantilah, kalau ada wacana seperti itu lagi biar aku tentang. So, kamu beneran tertarik sama mas Warja?” Asti masih kepo dengan jawaban Dinda. “Aku belum bisa bilang jatuh hati. Hanya menurut aku mas Warja itu istimewa, dia supel, ramah, mukanya khas pria desa yang enggak neko-neko. Wajar kan kalau aku suka?” Malu-malu Dinda mengakuinya. “Wajar, tapi kita belum tahu aslinya mas Warja seperti apa. Banyak pria memakai topeng, aslinya mereka rubah, tapi malah berperan jadi anak kelinci yang lucu biar bisa menarik perhatian kamu. Waspada harus tetap Din. Apalagi di sini kita pendatang. Kita juga pelajar, mahasiswa yang membawa nama besar kampus. Jangan sampai kita salah tingkah, pokoknya harus tetap saling mengingatkan.” “Oke, thank you As.” Dinda merentangkan tangannya, badannya condong maju ke depan bersiap memeluk Asti. Namun, tidak disangka suara keras benda yang dilempar mengenai pintu membuat keduanya sama-sama kaget. Bukan hanya mereka saja, dari kamar pria pun Bayu dan Bambang langsung berteriak siapa dan suara pintu terbuka diiringi langkah mereka berlari menuju pintu depan langsung terdengar. “Ada apa ya As?” “Entahlah, ayo kita lihat.” Asti menarik lengan Adinda. Mereka berdua menyambar jilbab instan yang tergantung di hanger sebelum keluar kamar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN