“Apa sih? Kekanakan banget,” decih Bayu mengambil batu bulat dibungkus kertas yang disinyalir sengaja dilempar orang ke pintu rumah kontrakan mereka.
“Ada ribut-ribut apa Nang?” tanya Sumin-pemilik rumah yang memilih tinggal di rumah anaknya selagi rumahnya dikontrakan pada mereka.
Ternyata suara keras dari batu yang beradu dengan pintu bukan hanya didengar mereka saja, Sumin di rumah sebelah pun sampai ikut keluar.
“Ini Pak. Ada yang melempar batu. Iseng banget.” Bayu mengangkat tangan yang memegang batu.
“Buka dulu, Bay. Siapa tahu tuh orang meninggalkan jejak pesan,” saran Bambang.
Sumin mendekati mereka. Adinda dan Asti pun keluar dari dalam rumah.
“Apaan, Bay?” tanya Asti melihat Bayu membuka kertas pembungkus batu.
“Nah kan, ini Dinda ini yang harus waspada.” Bayu berdecak sembari memperlihatkan pesan yang dituliskan pada kertas pembungkus batu.
Bambang merebut kertas dari tangan Bayu. “Tidak usah keganjenan! Warja milikku. Kamu dekati dia sama dengan cari mati.” Bambang bergidik. “Cari mati, serem amat.”
“Gila ini, hati-hati loh Din. Ini fans fanatik mas Warja kayaknya lihat kamu boncengan sama dia tadi,” imbuh Aryo merebut kertas dari tangan Bayu.
“Warja siapa Nang?”
“Oh, itu Pak. Mas Warja Surya Atmaja. Yang rumahnya di ujung Gang Sawah Bera,” jawab Bambang.
“Oh, Warja anaknya Warita. Yang rumahnya paling ujung itu ya nang?”
“Iya, pak. Tapi aku kurang tahu mas Warja anak siapa,” balas Bambang.
“Bukannya dia kerja di Bogor. Bapak dengar sudah dua tahun dia kerja di pabrik teh di Bogor. Di bawa saudaranya teman ngajar Si Lelis-kakak ipar Warja.”
“Sudah pulang, Pak. Dia pulang kemarin narik keretanya juga bareng aku. Eh.” Dinda langsung menutup mulutnya yang keceplosan dengan percaya diri menimpali ucapan Sumin.
“Ciye, yang paling tahu mas Warja,” goda Aryo dengan berbisik takut ledekannya pada Dinda terdengar Sumin.
“Wah, kalau Warja yang itu mah banyak yang demen. Banyak yang mau mupu mantu juga. Pantas kalau ada yang marah lihat siapa itu?”
“Dinda, Pak. Ini anaknya yang tadi siang boncengan sama Warja,” tunjuk Bayu pada Dinda.
“Iya mbak. Hati-hati, takutnya malah salah paham. Sudah mah di sini masih lumrah pakai dukun. Ah, bapak mah takut si mbak nanti diapa-apain. Mending jauh-jauh dulu sama si Warja. Warjanya mah baik, nah ini wadon yang suka sama dia itu bisa saja bertindak macam-macam.”
“Kalau kata kami mah, cinta ditolak dukun bertindak ya pak,” seloroh Aryo dengan disertai tawa cekikian.
“Apaan sih Yo, kagak lucu. Lagian ini bukan salah aku. Kalian saja yang reseh. Aku ditinggal sendiri. Masa iya aku pulang dari sawah ke sini jalan kaki,” cebik Dinda tidak terima karena semua bermula dari ide isengnya Atika.
“Ya mana kita tahu kalau malah jadi begini. Yo wis mulai sekarang kita mesti hati-hati, waspada dan jaga sikap sama warga sini,” pesan Bayu yang bertanggung jawab sebagai ketua mereka.
“Nah itu benar Nang. Mawas diri saja, sebagai pendatang harus jaga sikap, takutnya nanti malah jadi bahan gosip warga sini juga. Bapak doain kalian lancar-lancar di sini sampai selesai programnya.”
“Amin.” Serempak semua mengaminkan ucapan Sumin.
Nyalang terik matahari siang ini membuat mereka segera membubarkan diri. masuk ke dalam rumah bersembunyi dari sengatan yang membuat kulit mereka terasa terbakar.
“Gila, Indramayu panas gila,” gumam Asti yang langsung sibuk mengipasi wajahnya dengan kipas tangan yang terbuat dari anyaman bambu. Dari Sumin mereka tahu kalau kipas itu diberi nama ilir oleh warga Suka Sari.
“As.”
“Hmm.”
“Kira-kira siapa ya yang melempar batu itu.” Adinda bertanya dengan nada mengambang. Ingin dia lupakan masalah tadi dan menganggap hanya bentuk keisengan saja. Namun, nyatanya otak dia tidak bisa mengabaikan itu.
“Ceweklah, cewek mas Warja yang cemburu sama kamu.”
“Tapi tadi pas di sawah kamu dengar sendiri kan mas Warja bilang dia single. I’m jomblo but I’m happy. Kamu dengar itu kan As?”
“Jangankan Asti, aku juga dengar kalau masalah itu,” sambar Aryo yang langsung duduk di sofa kosong sembari membawa segelas es tawar di tangannya.
“Gue, eh salah. Aku nih, Din. Kalau ketemu cewek cantik dan seksi di sini. Aku juga bisa ngomong sama dia kalau I’m jomblo and I’m happy.”
“Bohong. Kamu kan punya cewek,” potong Dinda cepat.
“Nah, ini kamu ngerti. Kamu, Asti dan Atika memang tahu aku punya cewek di IPB sana. Eh, cewek sini mana ada yang tahu, Din. Simple kan? Kamu paham?”
Dinda menggeleng.
“Langsung oon, Yo. Kalau sudah kasmaran, logika itu mandeg. Akal sehat kagak bisa berpikir jernih.”
“Apaan sih, As. Oon apanya, memang apa hubungannya kebohongan Aryo dengan si pelempar batu.”
“OMG, Din.” Asti menepuk jidatnya. “Kamu tidak terima dibilang oon, tapi hal simple macam ini tidak paham. Masa iya aku mesti ngomong kalau si Aryo bisa bohong mengaku dirinya jomblo, maka mas Warja pun bisa melakukan hal yang sama.”
“Jadi maksud kalian mas Warja bohong bilang kalau dia jomblo dan tidak punya pacar.”
“Nah.” Asti dan Aryo kompak menjentikan jari.
“Tapi ... eh ya sudahlah. Tidak usah bahas mas Warja lagi. Aku mau fokus menyelesaikan program ini. Mau cepat-cepat wisuda, kerja dan tidak jadi beban para kakakku lagi.”
“Amin,” seru Asti. “Aku catat ya Din. Mau fokus dan tidak bahas mas Warja lagi,” sambung Asti dan Dinda pun mengangguk mantap.
“Aku ke kamar ya. Gerah, mau lepas jilbab. Di sini bahaya ada Aryo. Awas As, diam-diam dia buaya.” Adinda langsung kabur setelah mengucapkan itu.
“Anjrit, sebuaya-buayanya aku mana doyan sama kalian. Buaya juga punya hati, Din. Apalagi buaya tampan dan mapan macam aku, mana mau makan daging temannya sendiri. Beli daging di luaran juga banyak.”
“Apaan sih, nyerocos enggak jelas.” Asti melempar bantal yang tadi dia pangku ke wajah Aryo sebelum menyusul Dinda masuk ke kamar.
***
“Ja.” Juminah kembali menunggu Warja seperti malam-malam sebelumnya.
Pertanyaan yang akan dia ajukan tentu sama. Juminah sangat menantikan kabar Warja siap untuk menikah. Di usianya yang sudah senja, harapan Juminah hanya ingin bisa menyaksikan Warja menikah, memiliki keturunan dan hidup bahagia dengan pasangannya.
“Mak belum tidur?” Warja mencium punggung tangan Juminah dan ikut duduk di sampingnya.
Sejak Warja pulang dari Bogor, Juminah memang setia menunggui kepulangan Warja dari masjid. Sama seperti malam ini, wajah Juminah penuh harap kalau sang putra sudah mendapat jawaban dari pertanyaan yang dia ajukan kemarin malam.
“Belum, mak tidak bisa tidur sebelum ngobrol sama kamu.”
Warja tersenyum simpul. “Maaf ya mak, aku juga ingin cepat pulang habis isya. Hanya mak tahu sendiri kalau di teras masjid suka banyak warga midangan dulu. Tidak enak kalau aku langsung pulang.” Kali ini lengan Juminah yang dia raih untuk dipijat.
“Mak tadi siang tidak kerja apa-apa. Tidak usah dipijat,” tolak Juminah menepis tangan Warja. Dia mendongak, sengaja membuat matanya beradu dengan mata sang putra agar Warja tahu harapan terbesar Juminah saat ini.
“Kenapa mak?”
“Mak ingin kamu menikah, Ja.”
“Insya Allah, disegerakan Mak. Kalau sudah jodoh tidak akan susah, tapi masalahnya jodohku belum kelihatan hilalnya.” Warja menjawab dengan nada bergurau. Namun, justru decihan kesal Juminah yang terdengar menanggapi kalimatnya.
“Mana bisa kelihatan kalau yang mendekat malah kamu tolak.”
“Siapa mak? Isma?”
“Iya, kan dia sendiri yang mau jadi istrimu.”
“Mak, Isma itu masih labil, dia masih remaja. Dia itu satu dua dengan Serlin atau Maura. Mak lihat aku, masa iya aku yang seusia ini menikah dengan bocah yang usianya tidak beda jauh dengan Maura. Maura loh, Mak. Bukan Serlin. Kalau Serlin itu sudah lulus SMA. Beda dengan Isma yang masih sekolah.”
“Masih sekolah juga dia wanita, pasti punya d**a, punya v****a juga. Tidak ada bedanya dengan yang dewasa.”
“Aduh.” Warja menahan napas, mengurut d**a, sungguh susah kalau Juminah sedang merajuk seperti ini. Ingin Warja mengabulkan permintaan Juminah. Hanya saja pernikahan itu momen sakral, inginnya hanya sekali seumur hidup tanpa ada kegagalan.
Mungkin kalau calon lain yang disodorkan Juminah, Warja bisa menerimanya. Tapi kalau itu Isma, aduh, Warja sungguh tidak bisa membayangkan dirinya mengimbangi usia Isma yang mungkin berjarak dua atau tiga tahun dari Maura.
“Aduh kenapa. Kamu mau cari alasan lagi, Ja.”
“Bukan cari alasan mak. Aku kalau ngurus Maura saja pusing. Sering kan Mas Wahyu suruh aku temani dia yang mau liburan di Bogor. Kepalaku nyut-nyutan mesti nuruti semua kemauan Maura, begitu pun Serlin. Nah itu hanya satu dua hari mereka di sana.
Sekarang mak suruh aku menikah dengan Isma. Mak tahu kan kalau inginnya aku menikah sekali saja, tidak mau ada kegagalan. Itu berarti sepanjang usia aku harus mengasuh dan mengemong Isma. Sementara sebagai suami aku maunya gantian antara melayani dan dilayani.”
“Kamu saja pintar beralasan. Masa sepanjang usia, kalau usia Isma bertambah, dia juga tambah dewasa. Masa iya selamanya Isma terus bocah dan kekanakan.”
Warja memilih diam, bingung kalau terus menjawab perkataan Juminah, perdebatan kusir macam ini akan berlanjut terus.
“Ya sudah, nanti mak sampaikan sama Ranti kalau kamu menolak keinginan Isma itu.”
“Tidak usah Mak. Biar aku saja yang ngomong sama Wa Dulah,” larang Warja karena tidak ingin Juminah malah mengimbuhi banyak kata yang tidak merasa dia ucapkan.
“Baguslah, berarti mak tidak usah malu ketemu sama mereka berdua.”
“Malu kenapa mak.”
“Mak malu dong, punya anak bujang tak nikah-nikah. Giliran ada gadis yang demen malah ditolak. Nanti kamu disumpahin jadi bujang lapuk sama Isma baru tahu rasa.”
“Astagfirullah al adzim, Mak. Mana mungkin Isma seperti itu. Sudah, mak tidak usah berpikir macam-macam, mak tidur ya. Nanti mak doain aku setiap habis salat.”
“Doain apa?”
“Ya doain jodohku mendekat mak.”
“Jodohmu mendekat, tapi kamu tolak. Capek dong mak doain kamu, Ja.”
“Jangan dong, Mak,” rajuk Warja. Kedua tangannya meraih telapak tangan Juminah dan menggenggamnya. “Kalau bukan mak dan bapak yang doain aku, siapa yang nanti mendoakan Warja ini mak.”
“Makanya kamu cepat nikah, Ja. Mak suruh kamu pulang itu biar cepat nikah.”
“Ya sudah, iya, iya. Besok aku keliling desa buat cari calon pengantin biar bisa segera nikah.”
“Kamu pikir cari calon istri kayak cari pedagang baso keliling apa!”
Warja terkikik geli. “Nah, mak tahu itu. Aku kalau sudah ada calon pasti bawa ke depan mak. Pasti.” Warja mengacungkan telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V.
“Atau begini saja. Aku pasrah sama mak. Silakan mak dan bapak cari jodoh buatku. Mau Isma atau siapa pun itu, pasti aku terima. Asal dia sayang sama mak. Dia nantinya mau menjaga dan merawat mak dan bapak bersama aku.
Kalau dia sayang sama mak, dia sayang sama bapak. Insya Allah, aku pun pasti akan menyayanginya. Deal?” Warja mengacungkan telunjuk, mengajak Juminah mengaitkan telunjuknya.
“No deal. Kamu kayak pilem super deal di tipi saja. pakai acara deal-deal segala.”
“Ya sudah, terserah bagaimana baiknya menurut mak. Pokoknya aku pasrah, aku serahkan sama mak dan bapak. Kalau menurut mak dan bapak dia baik untukku. Maka aku akan menerimanya.”
“Terima kasih ya, Ja.”
Warja memeluk Juminah. Orang tua adalah harta paling berharga. Jimat psuaka yang harus dia agungkan. Bagaimana pun watak dan perangai Juminah dan Warita, sebagai anak Warja tetap memiliki kewajiban untuk menaruh hormat, menjaga, menyayangi dan mengabulkan apa yang diminta keduanya.
Sebisa mungkin Warja tidak menyakiti hati Juminah dan Warita. Kesal tentu ada, itu rasa manusiawi, tapi Warja selalu menekannya agar marah dan kesal tidak perlu dia tunjukan di depan Juminah maupun Warita.
“Ja.” Pelukan mereka terlepas. Netra keduanya beradu, Warja setia menanti kalimat yang akan diucapkan Juminah. Namun, cukup lama menunggu, tidak ada satu kata pun yang dia ucapkan.
“Kenapa mak? Katakan saja, biar aku tahu.”
Juminah tampak berpikir untuk mengatakannya sekarang atau nanti usai dia berkunjung ke rumah wanita yang dirasa cocok untuk Warja.
“Mak, ngomong saja. Mak mau apa?” tanya Warja lagi.
“Tidak jadi, besok saja mak ngomong sama kamu. Besok mak mau main ke rumah gadis yang cocok buat kamu. Kita sepadan, dia juga gadis baik. Mak yakin dia akan menyayangi mak dan bapak seperti Lelis menyayangi kami.”
“Amin.” Warja mengusapkan telapak tangan ke wajahnya.
“Kamu tidak ingin tahu siapa?”
Warja menggeleng. “Aku pasrah saja sama mak. Apa yang menurut mak baik silakan pilih buat aku. Itu saja,” putus Warja.
Ingin rasanya dia mengajak serta Dinda ke rumah ini, memperkenalkan Adinda Ayu Lestari pada kedua orang tuanya sebagai calon istri. Namun, Warja tentu tidak yakin Dinda menerima niatannya. Selain Dinda masih aktif kuliah, Warja pun tidak tahu gadis berjilbab toska yang pertama kali memikat hatinya di kereta itu sudah punya pasangan atau belum.
Padahal di dalam kamar, Dinda begitu seringnya mengecek ponsel. Entah kenapa dia menunggu pesan dari Warja. Ingin bertanya hal ini pada Bayu, Dinda tentu malu. Apalagi siang tadi ada yang jelas-jelas tidak terima melihat dia dekat dengan Warja.
Ah, andai mereka saling bisa baca isi hati masing-masing. Tentu tidak akan ada keraguan untuk mengungkapkan apa yang dirasa oleh keduanya.