Berbeda Level

2177 Kata
Di sepertiga malam, Warja kembali menengadahkan tangan. Hidup ini hanya sebuah settingan. Namun, sayangnya Warja tidak tahu lakon seperti apa yang diperuntukkan buatnya. Sebisa mungkin dia tidak gegabah mengambil keputusan yang dirinya saja tidak yakin. Menikah bukan perkara mudah, memang sudah lama Juminah menginginkan hal itu. Sebelum keberangkatan Warja ke Bogor pun sering Juminah bertanya tentang calon istri. Pertanyaan yang sekarang malah bertambah sering didengar Warja. “Ya Rabb, Kau yang membolak-balikan hati hamba. Tetapkan hati hamba pada agamamu. Tunjukan mana yang terbaik untukku. Aku pasrah ya Rabb. Aku pasrah menyerahkan hidupku pada Mu.” Warja mengakhiri duduk silanya. Lantunan doa panjang sudah dia panjatkan. Usai salat malam, menunggu subuh datang Warja meraih al quran yang sudah dia miliki sejak jadi santri kalong di Pondok Pesantren Darul Ni’mah yang diasuh abah Hasan dan Umi Fatimah. Siangnya disibukan dengan aneka pekerjaan meski sepulangnya dari Bogor Warja masih kerja serabutan membantu tetangga sana-sini. Kadang juga menggantikan Wahyu menyetir mobil pick up miliknya. Dan sesekali diminta memilihkan obat pestisida oleh tetangganya. Dini harilah waktunya bermunajat, menyampaikan cinta dan kerinduan pada sang pemilik semesta. Seperti Ying dan Yang, Warja selalu menyeimbangkan antara hubungan baiknya dengan manusia dan dengan penciptanya. Tak pernah dia lupa pesan Abah Hasan yang meminta Warja rutin melantunkan ayat-ayat suci di setiap harinya. Minimal satu juz per hari tidak Warja tinggalkan sejak dia masih duduk di bangku SMP. Malam sejatinya memang jadi waktu tenang untuk memadu cinta dengan sang penguasa. Menyalurkan rindu, mendamba harap akan jadi nyata lewat beragam doa yang dilangitkan. Bukan hanya Warja yang menghabiskan sepertiga malamnya khusus untuk sang penciptanya. Di sudut musala santri putri, beberapa sajadah pun tergelar. Ada beberapa santri yang bangun duduk untuk bermunajat dan menyampaikan rindu serta keluh kesah di sepertiga malam akhir. Salah satu dari mereka ada Isma yang sedang menengadahkan tangannya ke atas. Dia masih bocah, remaja labil yang belum tahu arti sebenarnya dari sebuah pernikahan. Namun, entah mengapa dalam hatinya tertanam niat begitu mendalam. Sebuah keyakinan untuk mengabdikan hidupnya untuk melayani Warja. Jalan satu-satunya untuk merealisasikan keinginannya adalah dengan menikah. Menghalalkan hubungan antara mereka agar menjadi sebuah ibadah. Bukankah ibadah terlama dalam hidup ini adalah pernikahan. Tidak mudah menyatukan dua hati, dua pikiran, dua orang yang memiliki sikap, watak dan kepribadian berbeda. Harus ada unsur kasih sayang yang membuat setiap pasangan menerima segala bentuk kekurangan dari teman hidupnya. Isma si bocah, Isma yang pacaran pun belum pernah, Isma yang merasa dirinya berhutang budi pada Warja. Dia kini sedang merayu Tuhan agar mengizinkan di sisa hidupnya bisa menyampaikan rasa terima kasih dengan menjadi istri Warja. Tidak peduli akan perbedaan usia yang ada. Tidak peduli kalau dirinya belumlah matang untuk berumah tangga. Murni dalam hati Isma tertanam niat untuk melayani Warja, mengabdikan hidupnya untuk jadi sahaya yang halal. Tuhan, pada siapa Kau berpihak. Kala Isma merayumu. Di sudut kamar lainnya seorang gadis pun tak ubahnya dengan Isma. Wajahnya sudah basah dengan lelehan air mata. Cinta yang terpendam sejak lama, dalam dan tidak berani diungkapkan. Rasa yang membuat dia selalu membutuhkan Warja kini membuat Irna ikut mengemis belas kasih Mu untuk menjodohkan dia dengan Warja. Seistimewa apa Warja di hatinya hingga Irna rela menolak beberapa lamaran demi menunggu Warja yang datang. Sejak sekolah dasar Irna sudah terbiasa menjajakan makanan buatan Munasih. Es bombom, bubur kacang hijau, cilok sambal kacang dan beragam jajanan bocah yang menunya berbeda setiap hari. Warjalah yang selalu membantu Irna keliling. Tanpa meminta upah, tanpa merasa direpotkan Irna. Setiap hari kala Irna berjualan dia selalu siap sedia menemaninya, bahkan ketika mereka sama-sama sekolah di SMA yang sama. Gedung IPA dan IPS yang berjauhan tidak menjadi penghalang untuk Warja dalam membantu Irna. Setiap pagi mereka berangkat bersama, menghadang pembeli di lorong yang memisahkan kelas mereka. Kala masih tersisa beberapa, jam istirahat Warja akan menyambangi kelas Irna. Memastikan dagangan yang dibawa sudah habis atau Irna masih memerlukan bantuannya. Katakan hati wanita mana yang tidak meleleh, terenyuh karena perhatian Warja yang begitu tulus di mata Irna. Tidak jarang mereka malah dikira pasangan kekasih. Irna dan Warja tidak ada yang mengelak, mereka terjebak hubungan friendzone. Saling nyaman, saling menaruh perhatian, tapi tidak ada kata yang mengikat kasih di antara mereka. Salahkah Irna jatuh cinta pada Warja? Salahkah dia merindukan setiap perhatian Warja yang sudah tidak pernah dia rasakan lagi. “Ya Allah, aku rindu. Rindu yang sudah berusaha aku redam dan hilangkan, tapi malah mencuat dan membawa tinggi harapan. Harus bagaimana aku sampaikan risalah resah hati karena rasa ini. Aku mencintai Mu, mengharapkan setiap ridamu dalam langkah yang aku ambil. Izinkan aku mencintainya, izinkan aku merasakan cintanya. Aku mohon ya, Rabb, dekatkan dia, jodohkan kami dalam ikatan kasihmu.” Terus saja Irna mengulang permohonan yang sama dengan lelehan air mata yang tak kunjung berhenti. Dadanya terasa sesak, tenggorokannya tercekat, sudah tidak ada suara yang bisa dia ucapkan. Sisa tangis dan sesenggukan yang tak kunjung hilang mereda. Badannya luruh ke lantai, lelah mengiba, lelah berharap akan hal yang selalu didambanya. Namun, mencoba abai dan melupakan, nyatanya Irna tak mampu. Pagi menjelang, setiap insan sudah disibukkan dengan rutinitas pagi mereka. Di rumah Hari, Zalfa sudah rapi dengan seragam kerjanya. Tahun lalu Zalfa lolos tes seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja atau P3K. Sekarang dia berdinas di SMP Negeri Dua di kecamatannya. “Wah, anak bapak sudah cantik. Siap berangkat kerja nih?” Hari melipat koran yang di genggamnya. Meski jaman sudah canggih, berita bisa dia dapatkan dari ponsel pintar. Namun, Hari tidak meninggalkan hobinya membaca koran setiap pagi. “Siap.” Singkat Zalfa menjawab, senyumnya tidak terlihat. Murung, seperti bukan Zalfa yang selalu ceria, optimis dan semangat menghadapi setiap hari yang akan dilalui. “Loh, loh, masih pagi wajahnya ditekuk. Ini kenapa, Fa?” Zalfa menggeleng, dia langsung duduk di meja makan. Bukan untuk ikut sarapan, tapi Zalfa mengeluarkan kotak bekal, memasukan nasi dan lauk pauk yang sudah dimasak asisten rumah tangga yang membantu Sarinih setiap pagi hingga sore. “Ada masalah?” Hari masih tampak penasaran. Pertanyaan kedua pun dijawab dengan gelengan kepala. “Terus kamu kenapa? Kok ya murung begini. Bapak ngelihatnya enggak sreg loh, Fa. Kalau mau apa-apa itu ngomong. Jangan diem, mancut, cemberut, bapak malah sumpek lihat kamu macam itu.” “Aku kan sudah ngomong, tapi bapak malah tidak menanggapi keinginanku.” “Ngomong apa? Kapan kamu ngomongnya?” tanya Hari sembari mengingat permintaan apa yang diucapkan Zalfa, tapi belum dia penuhi. “Kemarin.” “Kemarin ya.” Hari masih mengingat-ingat. “Dia mau kawin, Pak, tapi sama si kere Warja. Sudahlah, biarin saja si Zalfa. Mau ngambek selama apa pun Ibu tetap tidak setuju punya menantu anak si miskin Juminah itu.” Datang-datang Sarinih langsung menyambar. Zalfa yang sudah selesai memasukan bekal ke kotak makan langsung menutupnya dan memasukan ke dalam tas. “Aku pergi,” pamitnya. Bergantian dia menyalami Hari dan Sarinih, “Kamu itu kurang apa toh, Fa. Sudah jadi pegawai pemerintah, anak kepala desa. Sawah banyak berhektar-hektar. Bapakmu juga punya toko grosir sembako gede di pasar. Masa iya kamu mau nikah sama pengangguran macam Warja,” omel Sarinih tidak peduli dengan wajah masam Zalfa. “Warja bukan pengangguran, Bu. Dua tahun ini dia kerja di pabrik teh. Jadi manager lagi.” “Dulu, Fa. Itu dulu, sekarang dia pulang ke desa ya jadi gembel lagi. Apaan menejer, yang ada nanti dia malah nyadong, minta kamu yang nafkahin dia. Cari suami itu yang mapan, kamu pikir hidup itu cukup hanya dengan makan cinta. Cinta tidak bisa buat beli tas shopie martin, apalagi tas fossil atau Longchamp Clutch. Belum lagi akomodasi liburan itu butuh duit, bukan butuh cinta. Persetan itu cinta, paling sebulan juga hilang kalau kamu sudah bosan,” oceh Sarinih makin panjang saja. “Sudah-sudah, sana kamu berangkat. Ini sudah jam enam lebih. Kamu malah nanti terlambat kalau dengerin ibumu ceramah.” “Aku tidak ceramah toh, Pak. Aku ini ngomong apa adanya. Memang kenyataannya seperti itu. Hidup hanya bermodal cinta itu tidak seindah di sinetron, Fa.” “Aku berangkat,” sela Zalfa. Dia langsung meninggalkan ruang makan tidak peduli dengan panjangnya ocehan Sarinih yang madih bisa didengar. “Ingat ya, Pak. Pokoknya aku tidak mau berbesan sama Juminah. Masa ibu kepala desa, anak Haji Juanda-juragan kaya di kecamatan Bango Putih malah punya besan orang melarat. Aku malu toh, Pak.” “Kalau soal itu bapak sih tidak masalah. Yang jadi masalah Zalfa itu apa-apa maunya dituruti. Nah, kamu tahu sendiri gaya hidup anak kita seperti apa. Lelah pasti si Warja mengikuti maunya Zalfa.” “Ya itu sih sama saja masalahnya kemelaratan Warja, Pak.” Sarinih dan Hari masih terus memperbincangkan keinginan putri mereka. Sementara di jalan hati Zalfa semakin gundah gulana. Dia tahu seperti apa istimewanya Warja. Bukankah materi bisa dicari, tapi pria semacam Warja sudah sangat langka. Meski miskin dia rajin, pekerja keras, punya tanggung jawab dan selalu memegang teguh ucapannya. Ketika kebanyakan pria hanya bisa mengobral janji tanpa bukti. Warja bukan pria semacam itu. Dia tidak suka berjanji kalau memang tidak bisa menepati. Suaranya selalu terdengar lembut, santun, dan masih banyak sikap Warja yang menjadi alasan Zalfa menaruh hati padanya. “Zalfa.” Zalfa menghentikan laju motornya ketika dirasa suara si pemanggil begitu familiar. Ya Tuhan, katakan kebetulan macam apa ini. Saat di pikirannya dipenuhi nama Warja. Dia malah sedang tersenyum lebar, duduk di motor yang berhenti di tepi jalan. “Eh Warja, kok di sini sedang apa?” Zalfa terlihat gagap, antara tidak percaya dan bahagia sepagi ini bisa bertatap muka dengan pria yang semalam terus mengganggu tidurnya. “Sedang temani mak belanja. Katanya mau masak enak mumpung aku di rumah.” Warja turun dari motor, dia berjalan mendekati motor Zalfa untuk mengajaknya bersamalan “Keren kamu, Fa. Cantik, masih muda, sekarang sudah jadi PNS P3K,” puji Warja dengan decak kagum yang menyertai ucapannya. “Keren apanya, Ja. Biasa saja, nanti tahun depan kamu bisa ikut daftar. Ini hanya keberuntunganku saja, Ja.” “Aku ini mau jadi petani saja, Fa, tidak cocok pakai seragam besi macam kamu. Minder aku, aduh malu berdiri di samping gadis cantik yang sudah sukses.” Pujian Warja berhasil membuat wajah Zalfa menghangat. “Apaan sih, kamu lebay. Ini sudah siang aku berangkat ya.” “Iya sayang, mau cium tanganku dulu tidak,” gurau Warja dengan terkikik geli meledek Zalfa. “Nanti ya Mas. Halalkan dulu aku baru setiap pagi aku pamitan cium tangan,” balas Zalfa. Sudah sering mereka bercanda seperti ini. Namun, sekarang debar jantung Zalfa malah meningkat drastis. Asli dia gemeteran saat mengucapkan itu, tapi tetap disertai harapan kalau ini bukan hanya candaan semata. “Insya Allah nok. Tunggu mas datang ya, nanti malam juga mas halalkan kamu.” “Gila, sudah ah. Aku berangkat, bye.” Zalfa kembali menjalankan motornya. Kabur dari hadapan Warja adalah cara terbaik untuk mengusir gugup yang kini mulai menyerangnya. “Siapa itu, Ja?” tanya Juminah yang datang setelah kepergian Zalfa. “Zalfa, Mak. Anaknya pak Kades. Aku dengar dia sudah jadi PNS. Sudah sukses dia, padahal dulu kami satu sekolah. Maaf ya, Mak. Anak mak ini belum bisa membanggakan mak.” “Kata siapa, kamu juga sudah jadi menejer itu mak bangga. Kamu sudah perbaiki rumah mak. Sudah kasih uang bulanan yang banyak selama kamu kerja. Nanti uangnya buat kamu bikin rumah kalau sudah nikah.” “Nikah lagi,” desis Warja yang sepertinya memang harus siap Juminah selalu mengaitkan semua bahan obrolan mereka dengan pernikahan Warja. “Iya lah, masa iya kamu mau jadi bujang tua, bujang lapuk yang tidak kawin-kawin. Mak pokoknya mau masak enak, mau kirim calon mantu.” “Siapa mak?” Kening Warja mengeryit. “Ada saja, nanti kamu tahu kalau misi mak sudah sukses. Yang penting bukan Zalfa. Kalau dia itu ketinggian, bukan level kamu. Jangan coba-coba kamu jatuh cinta sama Zalfa. Ingat ya, Ja. Meski kamu dan Zalfa sama-sama sarjana, tetap saja level kita berbeda. Zalfa anak orang kaya. Malah dia turunan orang kaya. Dari mulai buyutnya, kakeknya, sampai orang tua Zalfa pun orang yang paling kaya sekecamatan Bango putih. Kamu suka sama Zalfa itu seperti bumi dan langit, mustahil dapat restu dari orang tuanya.” “Ya Allah mak, aku juga bisa berkaca kalau masalah itu.” “Terus kenapa kamu malah sok akrab sama dia. Pakai acara ketawa-ketiwi di pinggir jalan. Kamu pikir orang-orang itu tidak memperhatikan kalian. Kalau ibu Kades tahu, ibu bisa kena ceramah dia. Dulu saja waktu kamu dan Zalfa pernah kerja sensus bareng itu. Ibunya selalu minta mak buat jaga kamu. Biar kamu tidak demen sama anaknya.” “Ya sudah, pulang yuk. Masa pagi-pagi kita gosip ngomongin orang di pinggir jalan. Gosipnya di dapur saja. Nanti aku temani mak masak ya.” “Enak saja.” Warja meringis terkena tamparan telapak tangan Jum di lengannya. “Kamu itu pria, kerja di sawah, kerja cari uang, masa kamu malah di dapur bantu mak. Masak mah tugasnya perempuan, bukan kamu.” “Mak sayang, aku kerja narik mobil mas Wahyu habis zuhur kok. Jadi paginya aku bantu mak dulu. Yuk pulang yuk, ngomelnya di rumah saja,” ajak Warja. Dia tidak pernah mengeluhkan sikap Juminah. Baginya, selagi masih hidup, Juminah dan Warita harus selalu dijunjung, disayang dan dijaga semampunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN