Tidak ada Adinda Ayu Lestari bersama rombongan yang dipandu Warja. Mereka memang sengaja membagi kelompok jadi dua. Dinda ikut dengan Bayu dan Asti kembali ke tempat pembenihan yang mereka datangi kemarin untuk mengamati patologi benih sayuran di sana.
Sementara Atika, Bambang dan Aryo ditemani Warja ke pesawahan untuk observasi hama dan penyakit dari padi menjelang musim panen.
Gelisah cukup terlihat dari wajah Dinda. Dia yang memutuskan ikut dengan Bayu, dia pula yang kini tersiksa memikirkan apa yang dilakukan Warja bersama ketiga temannya. Jadilah sedari tadi fokus Dinda hilang, melayang, malah melamunkan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan kerja mereka.
“Panas, ke gubuk dululah, As,” ajak Bayu.
“Lagian kita sudah cukup data kok tinggal bikin orat-oret saja. Pulang yuk, beneran panas banget Indramayu itu, Bay.”
“Okelah, kita balik. Izin dulu sama yang jaga di sana.”
Sepertinya Dinda tidak mendengar apa yang diobrolkan kedua temannya. Dia masih berdiri di tengah lahan yang dijadikan bibit sayuran. Tangannya memegang buku catatan dan pulpen, tapi tidak ada satu pun yang dia tuliskan di sana.
“Dinda mana?” tanya Bayu saat mereka tiba di pos jaga.
Asti memutar badan, dia menepuk kening melihat Dinda berdiri mematung tanpa terganggu sama sekali dengan teriknya matahari yang terasa membakar kulit.
“Dindong, Din,” teriak Asti. Dinda terkesiap, dia kaget menyadari tinggal dirinya saja yang masih ada di sana sementara Bayu dan Asti malah sudah ada di pos jaga.
“Kok aku ditinggal,” gerutunya sambil menyusul kedua temannya ke pos jaga.
“Kamu apa sih, melongo terus di sana.”
“Aku, tulis. Ini.” Dinda menunjukkan buku catatan yang masih kosong.
“Apa yang kamu tulis Din, itu kosong.” Bayu berdecak sambil cekikikan. “Balik yuk, kata si bapak mah takut kesambet. Kamu kebanyakan bengong, melompong. Dibilang biasa saja, tidak usah terlalu dimasukan ke hati nama mas Warjanya. Sakit hati itu lebih menyiksa dari sakit gigi yang mudah diobati.”
“Apaan sih, Warja lagi Warja lagi. Bosan aku. Yuk, balik.”
Mereka berboncengan bertiga menuju rumah kontrakan. Tiba di sana kelompok yang lain pun sudah tiba. Namun, yang bikin terkejut, Warja juga ada di sana.
“By the way, habis zuhur aku ada kerjaan. Kalian aku tinggal tidak masalah kan,” pamit Warja bersamaan dengan datangnya Dinda.
“Lah, kok buru-buru mas. Baru juga ketemu aku. Ini ada beberapa hal yang mau aku tanyakan,” cegah Bayu.
Warja memindai muka jam di pergelangan tangannya. Masih jam setengah sebelas. “Baiklah, setengah jam ya.”
“Oke.”
Bayu dan Asti langsung melempar beberapa pertanyaan tentang masalah pembibitan yang mereka temukan di lapangan. Hanya Dinda yang terlihat diam, tidak bertanya satu hal pun. Penjelasan Warja malah dianggap bagai nyanyian perayu hati yang membuat tatapan Dinda terfokus pada Warja tanpa mendengar apa yang terjadi di sekelilingnya.
“Din.” Warja menggoyang telapak tangannya tepat di wajah Dinda.
Kelima temannya yang melihat hal itu hanya meringis saja. Ya Tuhan, di pikiran mereka kini hanya ada satu pertanyaan. Apa yang membuat Dinda mereka yang sok jual mahal dengan pria malah kini tampak begitu lemah di depan Warja.
“Din.” Asti menepuk tangan tepat di depan wajah Dinda dan langsung membuat kesadaran Dinda pulih sempurna.
“Eh, maaf. Aku pusing, aku ke kamar duluan,” gagap Dinda.
Kabur adalah cara terbaik agar tidak menjadikan dirinya umpan ledekan.
“Dinda kenapa?” tanya Warja bingung.
“Jangan-jangan dia kesambet gara-gara melamun di ladang bibit tadi tuh, As,” celetuk Bayu asal.
“Hust, kamu sudah mirip pak Sumin. Apa-apa dikaitkan dengan kesambet, kesurupan dan aneka hal lainnya.”
Mereka cekikan bersama. Di balik tirai jendela kamar, Dinda kembali mencuri pandang. Sungguh hatinya menolak jauh dari Warja, dekat pun rasanya dia tak mampu karena hanya bisa melompong, melamun tanpa bisa berujar apa pun.
Perasaan apa ini sebenarnya? Kalaulah benar ini cinta. Dia ingin seseorang menjelaskan cinta macam apa yang menderanya. Kenal baru, bertemu pun hanya sesaat. Tidak pernah ada interaksi yang terlalu dekat. Namun, jantung, hati, dan setiap helaan napasnya terasa terganggu dengan keberadaan Warja.
Warja benar-benar pulang usai menjawab beberapa pertanyaan dari Asti, Bayu dan lainnya. Derap langkah menuju kamar membuat Dinda segera beralih posisi. Dia tidak lagi berdiri di jendela, Dinda membaringkan badannya miring memeluk guling. Mata pun dipejamkan, berpura kalau dirinya sudah tertidur.
“Ya elah, ini anak kenapa. Belum juga zuhur, masa sudah tidur,” gumam Atika begitu melihat posisi tidur Dinda yang meringkuk.
“Tadi juga di ladang bibit dia banyak melamun.”
“Apa dia beneran jatuh cinta sama mas Warja,” tebak Atika. Asti mengangkat kedua bahu. Tidak mau mengambil kesimpulan yang terlalu dini meski dia juga berpikir hal yang sama dengan Atika.
“Aku hanya takut Dinda kecewa. Patah hati itu menyiksa. Apalagi kemarin ada yang jelas-jelas melempar batu ke pintu.”
“Oh iya, aku lupa mau tanya itu. Soalnya tadi Aryo sama bambang bahas itu sama mas Warja. Tapi mas Warja kukuh loh, As. Dia benar-benar bersumpah pakai nama Allah kalau dia tidak punya pacar.
Mas Warja malah memastikan kalau sekarang dia sedang tidak dekat dengan satu pun wanita. Dia saja baru pulang dari Bogor.”
Atika dan Asti terus membicarakan tentang Warja. Keduanya tidak sadar kalau telinga Adinda ikut aktif mendengar. Ada rasa lega yang dirasa saat dia tahu kalau Warja masih pria yang benar-benar single.
Apa salahnya dengan cinta lokasi. Bukankah sah saja Dinda jatuh hati pada Warja kalau memang dia belum punya ikatan apa pun dengan wanita lainnya.
Sementara Warja sendiri, begitu tiba di rumah dia terus menimang ponselnya. Nomor Dinda sudah dia dapatkan, tapi dia sedang berpikir untuk menelepon terlebih dulu atau mengirim pesan untuk memberi tahu Dinda kalau ini nomornya.
“Ja, Warja. Sini ja.” Suara panggilan Juminah menyentak Warja. Ponsel di genggaman langsung dia letakan di nakas samping kasurnya. Warja keluar lagi dari kamar. Padahal tadi niatnya beristirahat sejenak sebelum zuhur hingga malam menjalankan tugas mengangkut sayuran menuju ke kota.
“Mak semringah banget. Dapat arisan ya mak,” tebak Warja dengan wajah isengnya.
“Ngaco kamu, mak tidak pernah ikut arisan.”
“Eh, terus kenapa. Ini beneran wajahnya seneng banget mak. Aku ikut senang kalau lihat wajah mak ceria begini.”
“Iya dong, Ja. Mak senang karena mak sudah ketemu calon yang pas buat jadi mantu mak. Jadi calon istri buat anak bungsu mak.”
Warja terdiam sesaat, terpikir lagi akan rasa tertariknya pada Dinda. Ingin dia mengungkapkan rasa hatinya, tapi Warja tidak ingin wajah gembira Juminah malah nantinya berubah.
“Siapa mak?”
“Coba kamu tebak mak pulang dari mana?” Juminah memperlihatkan rantang susun yang ada di meja.
“Mak habis ngirim calon mantu,” tebak Warja asal.
“Seratus buat kamu. Ini kan hari Sabtu, Ja. Pastinya dia libur, terus kemarin kamu bilang dia jatuh dari motor. Jadi mak ada alasan buat main sekaligus nengok dia.”
“Sebentar mak.” Warja berpikir sesaat, jatuh dari motor jadi clue yang membuat dia bisa cepat menebak wanita yang dimaksud Juminah.
“Mak habis ke rumah Irna?” Tebakan Warja mendatangkan senyum lebar Juminah.
“Jadi maksud mak, calon istriku itu Irna?”
“Iya.” Juminah mengangguk tegas. “Mak baru pulang dari sana. Mak langsung sampaikan keinginan mak buat memantu.”
“Allahu rabb, mak. Irna temanku loh.”
“Tidak ada salahnya kamu menikah dengan teman sendiri. Dari pada kamu kaya si Jaya. Nikah sama cewek kenal si posbuk.”
“f*******: mak.”
“Iya pesbuk. Itu yang fotonya cantik, tapi aslinya burik. Sudah begitu tidak bisa masak, tidak mau bantu maknya. Itu kan lebih parah. Kalau sama Irna sudah jelas. Mak kenal dengan orang tuanya. Kamu juga kenal baik dengan Irna. Bagus kan?”
Warja meringis, tidak mengiyakan dan tidak pula mengelak. Entah apa tanggapan Irna.
“Kamu nolak? Kamu tidak mau kawin sama Irna? Bukannya kemarin kamu yang bilang pasrah sama mak. Kamu yang memutuskan akan menerima siapa pun calon yang mak pilih. Sekarang kamu malah begini.
Mak sudah ngomong sama Munasih, sudah ngomong juga sama Irna. Masa sekarang malah kamu yang mau bikin mak malu. Kalau kamu tidak setuju itu sama saja mak ini menjilat ludah sendiri. Mak datang ke rumah mereka menyampaikan keinginan mak. Mak juga yang
menarik kembali omongan mak. Begitu?”
Napas Juminah terlihat tersengal, wajahnya menahan kesal. Namun, Warja selalu bisa menenangkan kemarahan ibunya. Diusap punggung Juminah, pelan-pelan dia membalik badan Juminah, memijat pundak dan punggungnya dengan pelan.
“Aku tidak menolak, Mak. Aku malah senang kalau mak senang.”
“Terus kenapa muka kamu malah begitu. Kayak kamu tidak setuju dengan mak yang milih Irna.”
“Ah, siapa bilang. Memangnya mak ini kayak dukun bisa baca pikiran aku dengan pandang-pandangan mata begitu.”
“Ngaco!” Juminah menepak pelan tangan Warja yang sedang memijatnya. Dia membalik badan melarang Warja yang ingin kembali memijatnya.
“Jadi kamu setuju tidak kalau mak melamar Irna?”
“Insya Allah setuju. Aku yakin pilihan mak ini yang terbaik dari yang paling baik. Tapi –”
“Kalau sudah ada tapi tandanya kamu tidak ikhlas, Ja.” Potong Juminah cepat.
“Bukan begitu mak sayang. Aku bukan tidak ikhlas. Aku hanya ingin bicara dulu sama Irna. Bagaimana pun dia teman aku mak. Selama ini kami berteman baik. Rasanya lucu kalau aku langsung ke sana bawa mak, bapak, mas Wahyu dan keluarga lain buat melamar tanpa ada omong-omongan dulu.”
“Oh, ya kalau begitu mak setuju. Kebetulan nanti malam kan malam minggu. Bisa kan kamu ke kape sama Irna.”
“Kafe mak?”
“Iya, kape, tempat makan yang buat orang pacaran itu.”
“Aku kan sama Irna tidak pacaran. Aku hanya mau ngobrol saja, lebih baik nanti aku main ke rumah Irna ya.”
“Ya sudah atur kamu saja. Pokoknya kalau sudah beres, mak langsung lamar si Irna. Terus kalian nikah deh. Mak tidak sabar lihat kalian duduk di pelaminan, terus kamu punya anak juga dari Irna. Sudah lama mak tidak gendong bayi, sejak Maura itu loh.”
“Ya ampun mak. Nikah saja belum, sudah jauh sekali bayangannya. Ya sudah aku istirahat dulu ya. lumayan ada setengah jam sebelum zuhur. Habis zuhur aku bawa mobil mas Wahyu angkut sayuran.”
“Iya, iya, sana kamu kerja yang rajin biar kumpul duit buat mantenan.”
Warja masuk ke dalam kamar. Langsung dia menyambar ponsel. Namun, bukan Adinda yang dia hubungi melainkan Irna.
Di kamarnya, Irna yang memang sedang menantikan telepon Warja langsung tersenyum senang melihat nama Warja tertera di layar, meski gugup, dia langsung mengangkat telepon yang sudah sangat dinantikan.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, Allah sedang berbaik hati pada Irna. Cinta sedang berpihak padanya. Sekian lama menanti, sekian lama mencinta tanpa berani mengungkapkan. Pagi tadi Juminah justru datang ke rumahnya dengan membawa rantang berisi makanan.
Bukan makanan yang membuatnya bahagia, tapi sebuah tanya yang tidak pernah dia bayangkan akan didengar pagi tadi.
“Irna, mak ini sedang cari mantu. Warja itu sudah saatnya menikah.”
“Lah, kalau masalah itu aku juga sama Jum,” sela Munasih. “Anak kita kan usianya sama, sekolah juga bareng. Jadilah aku juga sedang cari mantu ini Jum.”
“Wualah, kebetulan yang pas ya Mun. Ya sudahlah, anak kamu jadi mantuku saja.”
Irna terbatuk-batuk saking kagetnya mendengar kalimat santai yang diucapkan Juminah. Dia memindai bergantian wajah ibunya dan Juminah penuh dengan tanya.
“Lihat toh, Jum. Anakku sampai keder. Kamu ujug-ujug ngomong begitu. aku juga bingung ini kamu serius apa guyon, Jum.”
“Mana ada guyon, ini aku masak saja spesial. Sudah aku niatkan buat Irna, Mun. Kemarin Warja cerita kalau Irna jatuh dari motor.”
“Iya, kemarin Irna pulang diantar Warja. Ke mantri desa juga ditemani anakmu,” imbuh Munasih.
“Nah, pas toh, Mun. Mereka sekolah bareng, main bareng, kalau nanti tidur sekasur dan sekelambu bareng juga tidak masalah kalau sudah nikah ya Mun.”
Wajah Irna menghangat, rona merah menjalar pertanda malu mendengar obrolan kedua wanita yang konon sama-sama sedang mencari mantu.
“Iya benar. Ya sudah kamu tanya saja sama Irna. Dia mau tidak main di dalam kelambu bareng Warja.”
“Eh, apaan kamu Mun. Lihat anakmu sampai malu begitu. Kenapa malah bahas permainan dalam kelambu. Maaf ya Irna.”
“Inggih mak, tidak apa-apa.”
“Aduh, cah ayu. Sopannya, suaranya manis, wajah iki ayu tenan Mun. Aku langsung tresno kalian anakmu.”
“Kamu tresno, aku demen si Warja juga percuma kalau anak kitanya tidak ada kemauan hidup bersama Jum.”
“Lah iya, kan yang mau nikah mereka. Jadi bagaimana Irna, mau tidak jadi mantu mak Jum ini. Jadi istrinya anak bungsu mak Jum yang paling ganteng se Suka Sari?’ tanya Juminah diselingi nada bercanda.
“Jangan malu-malu Ir, Kalau mau ya langsung bilang iya. Nanti malah nyesel toh kamu kalau Juminah keburu melamar wanita lain buat Warja.”
“Ya tidak lah, Mun. Aku sabar tunggu Irna jawab dulu. Barang kali dia mau mikir-mikir kan.”
“Halah, tidak usah mikir iya saja Ir, kapan lagi dapat suami rajin dan soleh macam Warja.”
Anggukan Irna pun terlihat. Jawaban yang membuat Juminah semringah, jawaban yang jadi alasan Warja kini meneleponnya.