Irna mematut diri di depan cermin, ini kali pertama dia membuat janji keluar di malam Minggu dengan pria meski itu sahabatnya sendiri. Sahabat yang membuat Irna tahu bagaimana tidak nyamannya terjebak dalam friendzone.
Hubungan persahabatan yang saling merasa nyaman, tanpa ikatan saling memiliki. Sayangnya ada rasa tidak rela kala membayangkan Warja akan meninggalkannya. Ingin Irna, Warja cukup ada di sampingnya, cukup dia perempuan yang menjadi alasan Warja tertawa dan bahagia. Namun, sayang cinta yang dirasa Irna hanya sepihak saja karena Warja murni hanya menganggapnya sekedar teman biasa.
“Ya Allah, Nok. Kamu masih muter-muter di depan kaca. Perasaan dari selesai magrib kamu dandan. Sampai sudah isya belum juga kelar.” Suara teguran Munasih terdengar dari ambang pintu.
Irna membalik badannya, meringis menyadari kalau kelakuannya tertangkap basah sang ibu. “Sudah cantik belum, Bu?”
“Cantiklah, kamu anak ibu yang paling cantik. Sana kamu keluar, Warja sudah menunggu di depan. Dia sedang ngobrol sama bapakmu.”
“Warja sudah datang?”
“Iya, katanya mau ajak kamu cari makan di luar. Mungkin sekalian ngomongin masalah yang tadi pagi itu.”
“Yang mana, Bu?” Kening Irna mengernyit.
“Wualah, kamu ini pikun apa pura-pura tanya. Masalah pertanyaan si Jum itu, yang minta kamu buat jadi calon istri si Warja. Siapa tahu Warja ajak kamu keluar buat nembak kamu macam sinetron di tipi itu loh, Nok.”
“Oh.” Irna mendadak kikuk. Seulas senyum dia sembunyikan membayangkan apa yang dikatakan Munasih. Apa iya malam ini Warja akan menembaknya, bukan hanya sekedar meminta Irna jadi pacar, tapi menyatakan keinginan Warja untuk menjadikan dia calon istri.
Ya Tuhan, seandainya itu benar, tentulah bahagia tak terkira dirasa Irna. Tidak semua wanita bisa beruntuk mendapatkan jodoh seorang pria yang dia inginkan.
“Ya belum apa-apa sudah ngayal.” Tegur Munasih dengan terkikik geli.
“Jangan malu-malu kucing. Kalau suka langsung jawab iya saja dari pada keduluan perempuan lain. Tidak usah pakai berkhayal panjang, kesempatan sudah di depan mata,” imbuhnya membuat wajah Irna semakin merona.
“Iya, Bu.”
Munasih berlalu dari kamar Irna. Segera Irna menyambar mini sling bag yang di dalamnya hanya ada uang di ritsleting dalam dan sebuah ponsel.
Irna kembali mematut dirinya di depan cermin untuk memastikan penampilannya sudah pas. Malam ini warna manis gamis lilac perpaduan abu-abu yang dia pilih membuat wajah Irna terlihat lebih cerah. Sapuan tipis lipmate menambah kesan cantik dan manis, semoga malam ini benar-benar malam keberuntungannya.
Irna berdehem begitu tiba di ruang tamu. Ada Warja dan kedua orang tuanya di sana. Suara deheman Irna menyita atensi ketiganya. Begitu Warja mendongak, senyum dia lemparkan sebagai pujian melihat Irna begitu cantik malam ini.
“Hualah, anake bapak ayu tenan iki.”
“Matur suwun bapak.” Malu-malu Irna menanggapi.
“Ya sudah, kalian berangkat saja. Nanti keburu malam, titip Irna ya, Ja. Pulangnya jangan kemalaman. Tidak enak sama tetangga.”
“Siap-siap pak.”
Mereka langsung berpamitan. Warja dan Irna berboncengan sepeda motor bebek milik Warja keluar dari halaman rumahnya. Senyum lebar masih tampak di wajah Munasih. Ibu mana yang tidak bahagia melihat anak gadisnya mendapat calon suami pria seperti Warja. Namun, sayang kebahagiaan yang dirasa Munasih sepertinya tidak dirasakan Nali.
“Bapak kenapa toh? Mukanya tidak ada senang-senangnya anak gadisnya sudah nemu calon laki.”
“Bapak senang, Bu. Hanya sedikit khawatir,” aku Nali. Napasnya terasa berat, pandangan matanya di buang jauh menatap kerlip bintang yang menghiasi cakrawala malam ini.
“Khawatir kenapa pak?”
“Ibu lupa?” Nali malah balik bertanya. Jelas saja Munasih menyorot tajam wajah suaminya dengan rasa penuh tanya.
“Lupa apa?”
“Zalfa,” desis Nali menyebut nama putri tunggal anak kepala desa. Bukan hanya kepala desa, anak majikan mereka. Orang yang paling kaya di wilayah ini.
“Bukankah dulu Zalfa pernah marah-marah datang ke rumah waktu Irna diantar Warja tes ke bank itu. Kita juga tidak diizinkan kerja sama orang tuanya sampai cukup lama. Itu yang pertama.” Kepala Nali bergerak membalas tatapan Munasih yang sedari tadi fokus menyimaknya.
“Yang kedua Zalfa juga marah-marah waktu Irna antar si Warja belanja mempersiapkan keberangkatan dia ke Bogor. Dia bilang Irna keganjenan, Irna tidak pandai mengaji rasa, tidak pandai berkaca. Ah, bapak ini jadi khawatir kalau malam ini kepergian mereka juga mendatangkan masalah yang sama.”
Munasih jadi terpengaruh ucapan suaminya. Teringat juga kata-kata Zalfa yang meminta dia mengajari Irna agar jangan merebut pria yang dicintai Zalfa.
“Tolong ya, Bi. Warja itu tidak pantas sama Irna. Bibi ajari dia jangan keganjenan. Jangan lenjeh sama Warja.”
Jadilah keduanya harap-harap cemas menanti kepulangan Irna. Sementara Irna dan Warja memilih kafe di desa tetangga sebagai tempat mereka mengobrol. Malam Minggu suasana kafe lebih ramai dari biasanya.
Bukan hanya pasangan muda-mudi saja yang terlihat. Ada beberapa meja diisi para keluarga yang sengaja menghabiskan akhir pekan mereka dengan makan malam di luar. Warja dan Irna memilih tempat di roof top. Duduk lesehan dengan ditemani hiasan lampion, lampu tumbler kerlap-kerlip juga gemerlap bintang yang malam ini banyak bertaburan.
“Aku baru ke sini loh, Ja,” aku Irna membuka obrolan mereka.
“Ah, masa sih. Kalau aku baru ke sini wajar. Aku baru pulang merantau. Tempat ini juga masih terbilang baru. Nah, kalau kamu ....” Warja melempar senyum menatap Irna yang langsung kikuk mendapat senyum semanis itu dari Warja.
“Aku pergi sama siapa. Kamu tahu sendiri aku ini ya begini.”
“Begini bagaimana, Irna Melina. Kamu cantik dan selalu tampak cantik di mataku.”
Melted. Wanita mana yang hatinya tidak meleleh mendapat pujian seperti itu meski ini bukan kali pertama Warja memujinya. Dari dulu, dari semenjak belum ada pria yang bilang dia cantik, Warja sudah rutin mengingatkan Irna kalau dirinya itu cantik.
Berbeda dengan sekarang, setiap hari pujian cantik sering dia dengar dari rekan kerja di bank. Malah terkadang beberapa nasabah yang berhadapan dengannya sesekali menyuarakan pujian untuk Irna.
“Hatiku langsung senut-senut dipuji cantik sama kamu.”
“Eh, bisa lebay juga Irna si putri maluku.”
“Aku bukan putri malu lagi, Ja. Aku mungkin sudah putri yang malu-maluin,” aku irna dengan tawa pelannya. Nama putri malu disematkan Warja sejak mereka masih duduk di bangku awal SMP hingga lulus SMA bersama Warja sering mengklaim kalau Irna putri malunya.
“Masa sih, tapi aku jalan sama kamu bangga loh Na. Kamu malam ini beneran cantik. Rasanya aku tidak percaya diri jalan sama kamu. Irna yang sekarang memang bukan Irna yang dulu. Sekarang kamu jauh lebih-lebih baik dari segala hal.”
“Terima kasih.” Irna menunduk, malu-malu dia mengucapkannya. Jangan tanya betapa heboh detak jantungnya kini. Rasanya duduk berdua dengan Warja saja sudah membuat detak jantungnya berloncatan. Ditambah dengan pujian yang terus Warja layangkan untuknya.
“Kamu tahu kenapa malam ini aku ajak kamu ke sini?”
Irna menggeleng, wajahnya terus saja menghangat hingga tak mampu bersikap santai membalas setiap tatapan Warja.
“Tadi pagi mak ke rumah?”
“Iya, mak kirim aku masakan. Katanya mak Jum tahu dari kamu kalau aku jatuh dari motor. Padahal lukaku tidak parah, tapi mak sudah repot-repot menjenguk aku,” beber Irna.
“Itu modus,” celetuk Warja membuat Irna membalas tatapannya disertai beberapa garis kerutan di kening.
“Modus bagaimana, Ja?”
“Ya modus, alasan belaka. Aslinya mak datang ke rumahmu bukan hanya untuk menjenguk, tapi menjalankan misi gerilya cari calon mantu.”
Deg. Napas Irna berhenti sesaat, tangannya yang tersembunyi di bawah meja meremas paha. Sepertinya obrolan sudah menuju ke ranah yang lebih serius.
“Mak bilang apa sama kamu?”
“Ya seperti yang tadi kamu bilang, mak lagi cari calon mantu. Dia mau kamu cepat nikah.”
“Terus?”
“Tidak terus-terus soalnya aku bukan juru parkir.”
“Ya Allah Irna.” Warja terkikik geli. Ternyata putri malunya sudah pandai mengolah kata, bukan lagi gadis penjual makanan yang hanya keliling tiap kelas berjalan di belakangnya tanpa ikut menawarkan dagangan.
“Kamu bisa juga bercanda. Kirain masih kaku,” ujar Warja dibalas senyum oleh Irna.
“Jadi mak tidak bilang kalau dia mau kamu jadi calon istriku?” Tatapan mereka beradu, hati Irna mulai bisa diajak berkompromi, mampu terlihat santai meski netra mereka saling memandang seperti sekarang.
“Iya, Mak ngomong kok sama aku.”
“Ngomong apa?”
“Ya ngomong itu, yang tadi kamu omongin.”
“Yang mana?” tanya Warja seperti memancing agar Irna mengulang apa yang dikatakan Juminah padanya.
“Mak Jum tanya sama aku, mau tidak aku jadi calonnya kamu.”
“Terus kamu mau tidak jadi calon istriku?”
Satu sudut bibir Irna terangkat dengan seulas senyum saat dia menundukan wajah. Pertanyaan Warja tadi terdengar amat datar di telinganya.
“Ini kamu lagi nembak aku atau kamu lagi bertanya biasa, Ja?”
“Aku tidak bawa senapan? Mana bisa aku menembak kamu.” Warja memperlihatkan tangan kosongnya. “Aku hanya ingin tahu jawaban kamu? Kamu mau jadi calon istriku?” Warja mengulang pertanyaannya.
Sorot matanya terlihat serius, Irna menangkap tidak ada kesan bercanda di sana. Jadi sekarang saatnya dia menjawab.
“Permisi, mbak, mas. Makanan sudah siap.” Dua orang pelayan datang dengan membawa nampan masing-masing.
“Roti bakar tiramisu, kentang goreng, mojito dan latte coffe ya, Mas?”
“Iya, mbak,” jawab Warja.
“Selamat menikmati.” Kedua pelayan kembali meninggalkan mereka berdua.
Irna menyeruput mojito yang dia pesan, mengambil satu stik kentang untuk mengusir rasa grogi yang menderanya.
“Ini kamu kenyang makan begini saja.” Warja menunjuk piring roti bakar dan kentang di depannya.
“Aku jarang makan malam.”
“Oh, pantas badan kamu langsing tinggi semampai. Kerja di bank memang ada tuntutan buat menjaga bentuk badan?”
“Tidak, hanya aku memang terbiasa tidak makan malam. Ini pengecualian karena yang ngajak aku keluar kamu.”
“Masya Allah, berarti aku istimewa dong?”
“Sangat istimewa,” balas Irna dengan suara amat pelan. Tatapannya pun di buang ke sembarang arah saat mengucapkannya.
Cinta, haruskah dia ada sekarang? Duduk lama di depan Irna tidak membuat Warja merasa getar rasa seperti yang dirasakan kala berada di dekat Dinda. Ah, jahatnya, kenapa saat dia berdua dengan Irna malah wanita lain yang dipikirkan.
Beberapa kali Warja menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Setidaknya dia ingin membuang bayang-bayang Dinda dulu. Fokusnya harus pada Irna, bukankah dia yang bilang pada mak Jum kalau siapa pun wanita pilihan sang ibu akan Warja terima dengan senang hati.
“Irna.” Panggilan Warja berhasil membuat tatapan Irna kembali tertuju pada Warja.
“Aku merasa ini lucu, sungguh aku tidak mengira kalau hal ini akan terjadi. Kamu bukan hanya sekedar teman buat aku. Dari sekolah dasar, SMP, sampai SMA pun kita sekolah di tempat yang sama. Tidak jarang kita juga berangkat bareng.
Yang lain naik sepeda motor, kamu malah bonceng sepeda ontel punyaku. Ah, rasanya lucu kalau memang benar Allah menjodohkan aku denganmu. Benar kan?”
Irna menggeleng, Warja menyipitkan matanya. “Kenapa?”
“Ya aku hanya merasa kalau ini bukan sesuatu yang lucu. Aku malah mengharapkan ini dari lama,” aku Irna. Meski malu, entah dari mana dia mendapat keberanian untuk mengatakan itu.
“Dari lama? Maksud kamu?”
“Aku bingung menjelaskannya. Yang pasti aku sudah menantikan ini sejak lama. Malulah aku kalau harus membeberkan semua rahasia hatiku sekarang.”
“Rahasia apa Ir. Kalau memang benar kita ditakdirkan berjodoh. Aku ingin di antara kita tidak ada rahasia.”
Irna mengaduk gelas mojito di genggamnanya dengan sedotan. “Dari dulu aku berharap hubungan kita bisa lebih dari sekedar teman. Aku nyaman sama kamu.”
Pengakuan Irna membuat Warja terdiam sesaat. Ternyata perasaan dia dan Irna berbeda. Awalnya Warja berharap pertemuan ini bisa mengubah pilihan Jum. Namun, prediksinya salah karena ternyata Irna memang menerima permintaan Juminah tanpa paksaan.
“Sejak kapan?”
“Kelas dua SMA. Aku tidak terima saat Zalfa terus memonopoli kamu. Sayangnya aku tidak punya keberanian untuk mengatakannya.”
“Kamu cemburu sama Zalfa waktu itu.”
“Sama seperti dia yang cemburu sama aku dari dulu sampai sekarang.”
“Maksudmu?”
“Tidak ada. Kenapa kita malah bahas orang lain. Ini nanti pembicaraan kita malah melebar ke mana-mana.” Irna mencoba mengalihkan topik.
“Oke, kita kembali laptop.” Warja menirukan gaya Tukul Arwana saat memandu sebuah acara reality show.
“Jadi kamu bersedia buat jadi calon istri si miskin Warja ini?”
Mata Irna berkedip dengan perasaan mantap sebagai bentuk jawaban dari pertanyaan Warja.
“Alhamdulillah, berarti mak tidak perlu cari calon istri lagi buat anaknya. Mak terlalu takut kalau aku jadi bujang lapuk, setiap hari dia terus saja menanyakan hal yang sama. Kamu sudah punya calon? Kapan kamu menikah?
Dan sekarang pertanyaan itu bukan lagi sesuatu yang horor. Berarti kalau ditanya perihal calon istri aku bisa menjawab kalau calon istriku Irna Melina dan aku menunggu kamu siap nikah baru kita menikah, begitu kan Irna?”
Irna mesem. “Kok aku malah berpikir kamu terpaksa menjadikan aku calon istri hanya agar selamat dari teror mak Jum yang memaksa kamu segera menikah.”
“Masa sih?”
“Iya, kalau memang tidak cinta jangan memaksa, Ja. Ada yang bilang kalau cinta wanita itu akan hadir seiring kebersamaan yang terjalin. Merasa nyaman, dijaga, disayang dan diperhatikan akan meluluhkan hati wanita.
Beda halnya dengan pria. Kalau tidak ada cinta yang mendasari, akan berat perjuanganku untuk mendapatkan cintamu. Aku akui kalau aku mencintaimu, Ja, tapi kalau cinta itu tidak kamu rasa. Aku tidak akan memaksa. Aku cukup bahagia melihat kamu bahagia meski bukan denganku.”
Perih dan sesak coba Irna singkirkan. Tidak akan berakhir indah sesuatu yang dipaksakan. Setidaknya duduk berdua seperti sekarang cukup memberi waktu untuk Irna menyelami perasaan Warja. Dan dia pun tahu kalau di mata Warja tidak ada cinta untuknya.
“Kalian ngapain di sini berduaan?”
Irna dan Warja mendongak melihat seseorang yang tiba-tiba menyambangi meja mereka.