Zalfa VS Irna

2227 Kata
Ada raut tak suka, ada wajah yang tak bahagia melihat Warja dan Irna duduk berdua, saling berhadapan tanpa ada siapa pun di antara mereka. Tanpa izin dia duduk di tengah, Irna dan Warja berada di kiri kanannya. Sungguh demi apa pun Irna ingin enyah saja dari pada ada dia di antara mereka. Berbeda dengan Warja yang terlihat santai, tidak keberatan sama sekali. Bahkan parahnya Warja tidak menangkap sinyal tidak nyaman yang dirasakan Irna. Nyalinya langsung menciut, tidak lagi mampu bercanda dan berkata seperti semula. Nona muda keras kepala seolah datang menghancurkan mimpi indah yang baru dia rasakan. “Kenapa? Kamu tidak suka aku duduk di sini?” tanya Zalfa. Tampak wajah sangar dan nada jutek yang sampai di telinga Irna, meski saat mengalihkan pandangannya pada Warja, Zalfa justru melempar senyum termanisnya. “Boleh kan aku gabung?” “Tidak masalah,” jawab Warja singkat. Bukankah Zalfa sudah duduk terlebih dulu meski belum mendapat izin dari mereka. Lagian dalam ripikir Warja, mereka bertiga ini teman sedari sekolah dasar, jadi tidak masalah kalau ada Zalfa di sana. “Ini berasa reuni tiba-tiba,” sambung Warja berbasa-basi. Entah dia pura-pura abai atau memang tidak tahu ketegangan yang langsung terasa sejak kedatangan Zalfa. “Iya, tapi sayang si Irna tidak bawa es bom-bom.” Zalfa melirik Irna, senyum meledek dia tampilkan dan Irna hanya bisa diam, meneguk saliva dan menutup rapat mulutnya. “Es bom-bom lima ratusan, es bom-bom lima ratusan,” imbuh Zalfa menirukan gaya Irna yang bermuka datar saat menawarkan dagangannya dengan suara amat pelan. “Terus kamu pasti datang. Bak super hero yang bantuin upik abu macam Irna. Es bom-bom woi, es bom-bom manis, murah-meriah, lima ratus serasa es krim.” Tawa cekikan Zalfa terdengar bak bilah belati yang mengiris hati Irna. Sesaat Warja melirik gadis yang dia jemput dan dibawa ke tempat ini. Tidak ada lagi senyum manis, tidak terdengar juga sepatah kata yang diucapkan Irna sejak Zalfa duduk bersama mereka. “By the way kamu ke sini sama siapa?” tanya Warja. Rasanya topik tentang masa lalu mereka bukan hal tepat untuk dibahas di sini. “Sama teman, tapi di bawah. Kebetulan aku lihat motor kamu di parkiran. Iseng deh naik ke sini, ternyata benar ada kamu sama Irna.” Untuk kesekian kalinya lirikan Zalfa begitu tajam membuat Irna kembali menunduk. Kesal dirasa, marah pun tak bisa. Irna tak bisa dibandingkan dengan Zalfa sang nona muda. Bagaimana pun Irna berusaha keras menyaingi Zalfa tidak akan pernah mereka terlihat sama saat strata sosial mereka begitu timpang. “Mau pesan makan?” tanya Warja lagi. Semakin lama Warja mulai peka kalau Irna mulai tidak nyaman. Namun, tetap saja Warja tidak tahu mesti bagaimana untuk mengusir Zalfa dari meja mereka. “Tidak usah, aku ke sini cuma untuk nongkrong saja. Aku ganggu kamu?” “Sebenarnya iya, tapi tidak apa-apa. Aku sama Irna juga mau balik kok.” “Balik, kok buru-buru. Jangan bilang kalau gabungnya aku ke sini malah bikin acara nge-date kalian gagal.” Senyum Zalfa kali ini jelas sekali menutup luka hatinya. Tidak lupa dia menekan suara ketika mengatakan kata nge-date. Masa iya seorang Zalfa Putri Wibawa kalah saing dengan Irna Melina yang hanya anak dari buruh yang kerja di sawah milik orang tuanya, bahasa Indramayunya kedua orang tua Irna itu hanya sebatas pawongan. Sementara keluarga Zalfa yang jadi majikannya. Tidak, kalau pun dugaan Zalfa benar. Dia tidak akan pernah ikhlas melihat Irna bersanding dengan Warja. Apa kata Linda dan kawan karib mereka lainnya. Bisa-bisa Zalfa akan dipandang rendah karena hal ini. “Kok diam?” Zalfa bergantian menatap keduanya. “Kami hanya sekedar keluar. Tadi rencananya mau ajak Irna makan. Sayangnya dia tidak biasa makan berat kalau malam. Jadilah ini yang kami pesan.” Warja menunjuk roti bakar dan kentang goreng di meja mereka. “Lebay banget,” decih Zalfa pelan sembari melirik pada Irna. “Btw, besok aku mau ke Indramayu kota. Mau ikut? Mau ke butik sahabat kamu itu.” “Besok ya? Aku belum bisa jawab, soalnya mas Wahyu kadang suka tiba-tiba kasih kerjaan.” “Kalau begitu kamu bisa bilang sama mas Wahyu kalau diminta bawa mobil aku. Gampang kan? Sama-sama kerja sepertinya tidak akan masalah.” “Aduh, jadi sopir nih?” Zalfa mengangguk disertai senyum manisnya. Sungguh keberadaan Irna di sana sama sekali tidak dianggap olehnya. “Kamu mau ikut?” Warja melirik Irna, tapi Irna lekas menggeleng menolak ajakannya. “Tidak bisa dong, Ja. Kamu kan lagi kerja sama aku, masa iya ajak Irna juga. Eh, tapi tidak masalah sih kalau Irna memang mau ikut,” ralat Zalfa cepat. Bukannya cara terbaik melumpuhkan musuh itu dengan memakai topeng, berpura jadi sahabat mereka meski ujung-ujungnya menikam saat musuh sedang lengah. “Ngomong dong, Ir. Kamu tidak gagu kan? Masa dari tadi kamu diem mulu. Jadi besok kamu mau ikut sama kami?” “Aku sibuk.” Singkat Irna menjawab. Tangannya bergetar menahan rasa yang berkecamuk di d**a. Diraihnya tas selempang yang dilepas dan ditaruh di atas meja. “Kalian bisa lanjutkan makan dulu, aku pulang duluan.” “Eh, jangan dong. Kamu kan datang bareng aku.” Warja mencoba menahan Irna. Namun, terlebih dulu Zalfa menarik tangan Warja dan memintanya duduk lagi. “Biar saja dong, Ja. Dia kan mau pulang.” Irna terus mempercepat langkahnya, tidak peduli Warja menyusulnya atau tidak. Dulu dan sekarang masih sama, ternyata Zalfa memang masih menaruh harapan pada Warja dan itu berarti Irna harus menimbang kembali keputusannya untuk menerima tawaran mak Jum. Jawaban yang dia berikan tadi sepertinya tidak lagi berlaku sejak Irna sadar akan keberadaan Zalfa yang masih jadi pengganggu langkahnya. Cinta bukanlah segala, ada budi dan jasa yang harus dibalas. Bukankah dia bisa jadi seperti sekarang karena bantuan dari Hari Wibawa. Luruh air mata menyertai setiap jejak langkah Irna. Dari mulai menuruni tangga hingga dia memilih duduk sebentar di sudut sepi parkiran motor, air mata tak kunjung berhenti meski rajin dia tepis. “Kita pulang?” Irna lekas membalik badannya, menyembunyikan wajahnya yang penuh dengan lelehan air mata saat mendengar suara Warja. Tidak disangka Warja malah menyusulnya, Irna tidak bisa membayangkan bagaimana amukan Zalfa kalau benar dia masih mencintai Warja seperti dulu. “Kita pulang ya,” ajak Warja untuk kedua kalinya. Kepala Irna menggeleng, dia remas dadanya, mencoba menenangkan diri dari perih hati yang dirasa setelah sebelumnya angan melambung tinggi. Harapan merajut masa depan dengan Warja hilang seketika bersamaan dengan kedatangan Zalfa. “Kenapa? Kamu marah?” Irna menggeleng lagi. Dia masih menyembunyikan wajahnya dari Warja. Sesenggukan ditahannya agar tidak terdengar meski tetap saja Warja tahu Irna menangis. “Aku minta maaf.” Irna masih tidak bisa menjawab. Ketika hatinya gondok, saat dia menangis, Irna sama sekali tidak bisa buka suara. Bagi sebagian orang memang ada yang bisa meluapkan kesalnya sembari terisak. Namun, ini beda dengan Irna, bicaranya saja seperlunya. Sedari kecil Irna dikenal sebagai sosok pemalu. Irna si introvert dan lebih suka menyembunyikan perasaannya sendiri. “Loh, kok masih di sini?” Terdengar lagi suara Zalfa. Pikiran Irna semakin berkecamuk. Hendak lari ke mana untuk menghindar dari Zalfa, menyembunyikan tangis yang tidak ingin dia pertontonkan. “Kamu nangis?” Tentu saja pertanyaan itu dialamatkan pada Irna. Irna tidak membalas, dia malah berdiri ingin menjauh dan kabur dari hadapan Zalfa. Entah kenapa setiap kata yang keluar dari mulut Zalfa bagai duri yang sengaja ditancapkan di permukaan hatinya. “Ir, aku antar.” Warja berhasil meraih pergelangan tangan Irna untuk menahan langkahnya. “Cengeng banget, gagal nge-date malah nangis. Bagaimana kalau gagal nikah, bisa-bisa bunuh diri ya, Ir,” decih Zalfa. “Fa.” “Iya.” Berbeda nada suara Zalfa antara suara yang ditujukan pada Warja dan Irna. Nada lemah lembut dan nada sinis yang kini sangat kentara perbedaannya di telinga Warja. “Aku antar Irna pulang ya. Have fun buat kamu.” “Oke. Jangan lupa besok ya, Ja. Tidak perlu juga kamu ajak si cengeng ini.” “Fa.” Pelan Warja menegur Zalfa, sedangkan Irna sendiri sudah berontak ingin Warja melepaskan cekalan tangannya. “Aku pulang,” pamit Warja menuntun Irna hingga ke motornya. Tatapan Zalfa tampak sengit. Tidak terima di depan matanya, Zalfa melihat Warja menggandeng tangan Irna, lebih dari itu mereka pun berboncengan naik motor. Sepanjang jalan Irna memilih diam, tidak tahu apa yang ingin dia sampaikan saat hatinya merasa tertekan seperti sekarang. Namun, di luar dugaan, Warja tiba-tiba menghentikan motornya di depan tenda warung kopi. “Kita turun dulu ya.” Irna tidak bergerak, tidak juga menjawab. Warja menggeser spion motornya agar bisa melihat wajah Irna, tapi yang ada Irna langsung berpaling ke arah lain. “Aku tidak mungkin membawa kamu pulang dengan keadaan seperti ini. Aku bawa kamu baik-baik dari bapak dan ibumu. Kalau aku pulangkan kamu dengan keadaan seperti ini, takutnya mereka salah paham.” Mendengar itu Irna langsung turun dari boncengan motor. Tidak terlalu salah kalau Zalfa menuduhnya bisu atau gagu, memang seperti itu nyatanya. Irna tidak juga buka suara. Dia memilih berdiri di samping motor Warja. Masih berusaha melobi hatinya sendiri agar tidak terus larut dalam rasa sedih dan was-was karena bagaimana pun Zalfa bisa berbuat sesuatu di luar nalar. “Kita duduk dulu. Kamu di sini, aku pesan minum dulu. Mau teh hangat atau es teh?’ “Es.” “Mau makan.” Pertanyaan Warja yang kedua kembali dijawab dengan gelengan kepala bukan suara. “Oke, sebentar ya.” Warja pergi, Irna meraih ujung kerudungnya. Meski jorok, tapi terpaksa dia membersihkan ingus dan lelehan air mata dengan kerudung yang dia pakai. Untungnya malam ini dia keluar dengan mengenakan gamis lengkap dengan kerudung instan ceruti model pinguin. Setidaknya ujung belakang kerudung bisa dijadikan pengganti tisu yang aman tanpa terlihat bekasnya oleh Warja. “Minum.” Warja mengulurkan es teh dalam gelas. Sementara di tangan kirinya aroma bandrek menguar membuat Irna memastikan minuman apa yang dipegang Warja. “Mau Wedang bandrek?” “Ini saja,” tolak Irna. Suaranya sudah kembali saat tangisnya usai. Mata Irna masih terlihat merah, pucuk hidungnya pun jelas terlihat kalau Irna habis menangis. Warja tidak mungkin mengembalikan Irna dalam keadaan seperti tadi. “Aku minta maaf ya.” “Buat?” “Kamu aku ajak keluar malah seperti ini. Padahal niatku bukan ini. Hanya apa yang terjadi di luar dugaan.” “Ya, aku tahu.” “Apa yang kamu tahu?” Ditanya seperti itu Irna pun bingung, ke mana sebenarnya arah pembicaraan mereka. “Maksudnya?” “Apa yang kamu tahu tentang Zalfa?” “Oh, itu.” Irna meminum dulu es teh dalam genggamannya. “Bukannya semua juga tahu kalau dia menyukai kamu,” sambung Irna berkata tanpa menatap lawan bicaranya. “Oh iya?” Anggukan pelan terlihat di mata Warja. “Tapi aku malah tidak tahu.” “Kamu mungkin pura-pura tidak tahu. Bukannya sedari SMA dia sudah rajin ngejar kamu. Pas reuni pertama dia juga kasih hadiah yang wow.” “Kamu masih ingat?” “Masih, dia kasih kamu handphone supaya mudah buat kalian berkomunikasi.” Warja tersenyum. “Ingatan kamu tajam. Aku malah lupa, soalnya bukan cuma dia yang kasih hadiah.” “Iya, lagian Warja itu memang anak kesayangan abah Kiyai, sirep peletnya manjur. Jadilah semua wanita suka sama kamu.” “Termasuk kamu?” Warja meneliksik wajah Irna meski sedari tadi tatapan Irna selalu menghindar. Sengaja tidak mau beradu dengan mata Warja. “Aku?” “Iya, kamu. Kamu suka tidak sama aku?” “Apa itu perlu aku jawab?” “Tentu. Bukannya mak sudah melamarmu. Kamu sudah kasih jawaban sama aku dan mak. Meski aku tidak tahu alasan apa yang membuatmu menerima tawaran mak.” Irna diam, awalnya dia semangat untuk membeberkan semua obrolan dia dan Juminah. Siapa wanita yang tidak terkesan saat ibu dari pria yang dia suka malah datang untuk menawarkan agar Irna mau jadi menantunya. Namun, sayang kebahagiaan itu hanya sesaat, Irna harus kembali sadar kalau memiliki Warja bukan hal mudah jika yang jadi saingannya adalah Zalfa. “Aku harus berpikir dulu. Tidak bisa langsung menjawab seperti tadi.” “Tentu saja, berpikirlah dengan matang. Apalagi aku ini seorang pengangguran. Kerja saja serabutan. Jangan percayakan hidupmu pada pria sepertiku.” “Bukan itu,” elak Irna. “Kamu jangan salah paham. Aku tidak pernah berpikir ke arah sana.” Irna mulai terlihat seperti awal mereka tiba di kafe, bicaranya kembali lancar. Tidak lagi gagu seperti apa yang dikatakan Zalfa. “Bukan, aku paham kalau maksudmu bukan itu. Hanya sebagai pria aku ini harus pandai berkaca, Ir. Mak menyuruh aku cepat nikah, sedangkan pekerjaan tetap pun aku belum punya. Itu yang membuat aku tidak berani ambil langkah. Nikah buat seorang pria itu bukan tanggungan yang main-main. Kalau sekedar saya terima nikahnya, itu gampang. Hanya di balik kata itu banyak beban yang harus aku tunaikan. Bukan hanya soal nafkah lahir dan batin. Aku pun harus siap menjadi pengganti orang tua buat istriku. Siap menyayangi dia, menerima dia dengan segala kekurangan, memenuhi semua keinginan dia yang mungkin waktu masih tinggal bersama orang tua mudah untuk didapat. Nah, kalau aku ini pengangguran? Bingung kan? Desakan mak harus aku tunaikan, tapi menikah bukan persoalan lucu yang bisa jadi bahan candaan,” papar Warja cukup panjang. “Jadi? Mak yang ingin aku jadi mantunya, tapi kamu tidak menginginkan aku untuk jadi calon istrimu?” Entah kenapa Irna malah menarik kesimpulan seperti itu. Seperti yang tampak di hadapannya, tidak ada cinta di mata Warja. Selama ini hanya dia yang mendamba sementara Warja hanya menganggap Irna murni sebagai teman biasa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN