Fajar belum menyingsing sempurna, tapi pintu rumah Irna sudah diketuk seseorang. Si empunya rumah saja baru selesai subuh, terburu Munasih yang melepas mukena terlebih dulu untuk membuka pintu dan melihat siapa tamu yang berkunjung sepagi ini ke rumah mereka. “Mbak Zalfa.” Wajah Zalfa yang terlihat garang membuat Munasih terkejut, dia membuka lebar pintu rumah dengan tangan yang bergetar. Pasti ada hal penting yang membuat Zalfa menyambangi rumah mereka sepagi ini, sendiri, berjalan kaki dan tidak ditemani siapa pun. “Mbak Zalfa mau minum apa?” Meski usia Munasih lebih tua, jelas dia amat menaruh hormat pada anak majikannya. “Tidak perlu, aku hanya mau ngomong sama Bibi saja.” “Oh, iya, silakan duduk,” gagap Munasih. Sorot mata Zalfa yang memandang tidak suka padanya semakin meyakinka

