Aku bertopang dagu. Menatap datar interaksi antara Sofia dan Nazeef. Mereka terlalu larut dalam dunia mereka sendiri sehingga tidak menyadari kehadiranku. Ngenes banget sih nasibku yang berada di antara mereka tapi tidak dianggap. Sudah menjadi makanan sehari-hari ku sejak beberapa Minggu lalu tapi tetap saja terasa ngenes. Mereka terus berceloteh, menceritakan tentang kehidupan masa SMP mereka. Bagaimana diri Sofia dulu atau pun diri Nazeef yang dulu. Intinya mereka berdua sibuk flashback-an. Akan tetapi, kalau dilihat-lihat, mereka cocok juga. Sofia cerewet dan Nazeef kalem. Obrolan mereka pun juga selalu nyambung. Terutama, Sofia selalu terlihat antusias ketika berbicara dengan pria itu meskipun Sofia sudah berusaha menyembunyikannya. "Bagi yang tugas kelompoknya sudah selesai boleh

