Menu makan siang membuatku memutar bola mata malas dan mendesah sebal. "Oh ayolah, Kenan. Yang sakit itu tubuhku, bukan lambungku." Kenan mengusap puncak kepalaku lembut. "Tapi dokter menyarankan mu untuk makan bubur terlebih dahulu. Aku janji, besok kamu boleh memesan makanan apapun yang kamu inginkan." "Huh, baiklah." Untuk hari ini aku bisa tahan tapi jangan harap besok aku akan tahan lagi karena lidahku sudah mati rasa akibat makan bubur terus. Sangat memuakkan rasanya selalu makan bubur selama tiga hari berturut-turut ini. Aku butuh makanan lain, seperti ayam goreng, steak, mie ayam, nasi goreng, pecel lele, dan makanan lainnya. "Aku suapi ya, Bi?" Pertanyaan penuh harap dan penuh kehati-hatian Kenan membuatku menghela nafas panjang. Dia pasti takut akan dibenci lagi olehku

