"Umi minta diantar ke rumah Bibi Halimah hari Minggu nanti?" Kedua mata itu membulat setelah aku menceritakan telepon dari Umi tadi pagi.
"Iya, hari Minggu," tegasku seraya menganggukkan kepala.
Mas Rendra memalingkan wajah ke arah kamar Natasya, di mana anak itu sedang duduk di atas kasur sembari mengeja buku di atas pangkuannya.
"Kenapa enggak hari Sabtu aja belanja peralatan sekolahnya?" tanyaku.
"Hari Sabtu Pak Yudha mengundang kita ke acara selamatan khitanan anak bungsunya," jawab Mas Rendra seraya menyandarkan punggung, lalu satu tangannya mengusap wajah lelahnya yang baru saja pulang bekerja.
Aku yang juga duduk di sofa tak jauh darinya, tentu saja merasa heran atas kabar darinya itu. "Kita?" ulangku, merasa tak paham atas ucapannya.
"Ya, kita. Memang ... aku belum bilang sama kamu?" Mas Rendra menoleh ke arahku.
"Enggak," jawabku singkat.
"Maaf, sepertinya aku lupa. Akhir-akhir ini banyak permasalahan yang sedang aku pikirkan."
Aku hanya bisa mengembuskan napas mendengar keluhannya itu. "Jadi bagaimana?" tanyaku akhirnya setelah kami saling diam selama hampir satu menit.
"Nanti aku pikirkan." Mas Rendra bangkit dari duduknya. "Aku mandi dulu," tandasnya.
Kuanggukkan kepala. Lelaki itu pun masuk ke dalam kamar dan keluar lagi dengan membawa handuk di tangannya. Aku menolehkan kepala ke arah kamar Natasya.
Ck, gara-gara anak itu kami mulai menghadapi kesulitan.
***
Sabtu pagi tiba. Sekitar jam sembilan aku bersiap untuk pergi ke rumah Pak Yudha, menghadiri acara selamatan khitanan anaknya.
Mas Rendra memang selalu mengajakku pergi bersama di setiap acara seperti ini. Kecuali jika ada acara yang diadakan di luar rumah, seperti makan-makan di restoran atau kafe, dia jarang mengajakku karena para rekannya yang lain pun tidak membawa pasangan.
"Nanti di sana banyak orang, Pah?"
"Banyak."
"Dulu Tasya pernah ikut Bude Ratmi ke undangan pernikahan, banyak makanan. Sekarang juga pasti banyak makanan 'kan, Pah?"
"Banyak, tapi kamu enggak boleh sembarangan ambil. Harus lihat situasi dan kondisi sekitar. Paham?"
Aku yang sedang memakai hijab, menghentikan gerakan tangan. Menunggu jawaban anak itu.
"Enggak, Pah." Terdengar Natasya menjawab dengan suara polos khas anak kecil.
Karuan saja Mas Rendra tertawa terbahak-bahak. Tanpa sadar aku pun ikut tertawa sekejap. Ada-ada saja jawaban anak itu.
Akhirnya aku kembali memalingkan wajah ke arah depan, menatap pantulan wajah dari cermin.
Detik berikutnya, aku terpaku sendiri. Memori di kepala ini mulai berputar, memaksa mengingat satu hal yang sudah hampir aku lupakan.
Kapan terakhir kali aku mendengar suamiku tertawa seperti itu?
Aku lupa.
Dulu, di awal pernikahan memang selalu ada saja hal-hal kecil yang membuat kami terbahak-bahak bersama. Seperti ketika aku tidak menyalakan tombol penanak nasi, sementara kami sudah menunggu dalam keadaan lapar.
Atau ketika aku salah memasukkan garam ke dalam tehnya, karena kami yang bangun kesiangan dan Mas Rendra ada meeting pagi.
Atau juga hal-hal konyol lainnya seperti saat aku lupa memakai sandal ke acara pernikahan salah satu kerabat. Akhirnya kami terpaksa harus mencari toko sepatu terlebih dahulu.
Ya, kejadian seperti itulah, yang sudah lama tidak kami alami. Entah sejak kapan. Seakan menghilangkan rasa komedi dalam bahtera rumah tangga ini.
Sejujurnya, aku merindukan tawanya itu. Tawa yang sanggup membuatku yakin jika Mas Rendra bahagia melewati hari-harinya bersamaku.
Tawa yang bisa membuatku tidak meragukan lagi jika rasa cintanya masih dia jaga untukku.
Tawa yang mungkin bisa mengobati kehampaan dalam rumah tangga kami, yang hidup berdua saja di rumah ini, tanpa tawa seorang anak.
Ya, itulah yang aku maksud. Inti dari segala kerinduan ini.
Lalu kini, aku mendengar dia tertawa keras lagi, karena tingkah lucu seorang anak perempuan yang polos dan lugu itu.
Rasanya ... sedikit aneh, tapi juga indah.
"Nara, sudah selesai?"
Aku terperanjat. Bahkan jarum di jemari jatuh ke atas lantai.
"Kamu melamun?" Mas Rendra melangkah mendekati.
"Eng ... gak," sahutku gugup.
"Kamu pasti sedang memikirkan alasan apa yang akan kita katakan pada teman-temanku tentang siapa Natasya. Iya, 'kan?" Lelaki itu kini berdiri di sampingku dengan tatapan seriusnya.
Aku melirik sekilas, mengambil jarum yang lain di atas meja rias. "Siapa?" tanyaku singkat, karena sejujurnya aku masih canggung untuk menatapnya.
Aku bisa melihat dari ujung mata jika dia menoleh ke arah pintu. Setelah itu dia kembali menatapku yang masih membenarkan hijab di kepala.
"Anak saudara. Kita katakan saja itu," tukasnya.
Kupalingkan wajah ke arahnya. Mengerjapkan mata lalu menatapnya selama beberapa detik. Sebagai isyarat pertanyaan, 'apa kamu serius?'.
"Aku tunggu kamu di mobil." Tangan itu menepuk pelan lenganku, kemudian berlalu tanpa memedulikan rasa heran ini.
Anak saudara?
Atas dasar apa dia mengambil keputusan itu?
Tak ingin membuat Mas Rendra menunggu lama, aku pun segera meraih tas di atas meja dan bergegas pergi menemuinya di luar.
Mobil melaju, meninggalkan kediaman. Selama perjalanan, tampak Natasya mengedarkan pandangannya ke sana ke mari. Aku bisa melihatnya karena beberapa kali mencuri pandang dari kaca spion depan.
"Kita beli kado di toko itu," ujar Mas Rendra, yang kutanggapi dengan anggukan kepala saja.
Memasuki toko kado, kedua mata Natasya kembali terbuka lebar. Kepalanya berputar ke segala arah. Menatap antusias setiap penjuru toko.
"Kamu yang pilih kado. Aku mau jaga dia," pinta Mas Rendra, melirik ke arah anak perempuan yang sedang menatap boneka beruang.
Aku tahu maksudnya. Mungkin bukan menjaga, tapi menemani. "Ya," jawabku akhirnya, lalu melangkah ke arah hadiah khusus anak laki-laki.
Hanya sekitar lima menit. Aku sudah mendapatkan sebuah mobil mainan yang menurutku cocok untuk anak laki-laki yang dikhitan.
Aku pun kembali mencari Mas Rendra. Hm, kira-kira sebanyak apa dia akan membelikan hadiah untuk Natasya?
"Mas," panggilku, saat melihatnya masih berada di tempat aku meninggalkannya tadi.
"Udah?" tanya Mas Rendra setelah berbalik.
"Udah. Ini." Kutunjukkan mobil jenis jeep berwarna biru tua.
Mas Rendra menganggukkan kepala, lalu menoleh ke arah kanannya. "Tasya, ayo."
"Iya, Papa." Anak itu pun berdiri dari jongkoknya, tanpa satu mainan pun di tangannya.
"Natasya enggak beli apa-apa?" Aku bertanya setelah berdiri di mesin kasir.
"Enggak. Dia bilang bingung," sahut Mas Rendra disertai senyum kecil.
"Bingung?" Aku menautkan kedua alis.
"Bingung karena ingin semuanya. Ada-ada aja." Kali ini dia menggelengkan kepala sembari tertawa.
Lagi, dia tertawa menanggapi tingkah anak itu.
"Mau sekalian dibungkus, Bu?"
Aku menoleh ke arah kasir. "Iya, Mbak." Lalu melirik ke arah Mas Rendra yang sedang memerhatikan Natasya, yang ternyata sedang menatap mainan berupa peralatan dokter-dokteran.
Apa mungkin anak itu belum pernah membeli mainan?
Kami melanjutkan perjalanan. Natasya lagi-lagi terlihat bersemangat sekali selama berada di dalam mobil. Bahkan kali ini dia banyak bertanya pada ayahnya.
"Papa, itu apa?"
"Papa, itu bangunan apa besar sekali?"
"Papa, itu mobil apa?"
"Papa, ada badut!" Lalu dia bertepuk tangan sendiri.
Sementara aku semakin merasa heran, aneh dan juga penasaran.
Kenapa bisa dia memiliki sikap seperti itu?
Lingkungan seperti apa tempat dia tumbuh selama ini?
Lalu, ibu macam apa Atikah itu?
Karena dari yang aku lihat, sepertinya kehidupan Natasya memang berbeda dari anak perempuan pada umumnya.
Sampai di tempat tujuan, kami segera menemui sang tuan rumah. Tentunya dengan Natasya yang selalu berada di samping Mas Rendra. Seperti ucapannya di rumah, setiap orang yang bertanya tentang siapa anak itu, maka dijawabnya dengan kalimat, "anak saudara," tapi dengan suara setengah berbisik seolah tidak ingin diketahui oleh Natasya.
Hingga kemudian, ada seseorang yang bertanya dengan nada herannya. "Tapi kok, panggil Papa?"
"Ayahnya meninggal saat masih bayi, jadi sejak kecil panggil papa," jawab Mas Rendra tanpa beban.
Aku yang mendengar hanya bisa tersenyum menanggapi.
"Oalah, kirain ada udang di balik batu. Pantesan enggak mirip Pak Rendra," seloroh salah satu rekan kerja Mas Rendra, membuat semua orang yang sedang berkumpul itu tergelak bersama. Kecuali aku, yang sudah tidak bisa berkata-kata sejak menginjakkan kaki di rumah Pak Yudha.
Akhirnya, aku hanya bisa menyesali keputusanku karena ikut datang ke acara ini. Seandainya aku memilih untuk diam di rumah, dan mengizinkan Mas Rendra pergi sendirian--dalam artian Natasya menunggu di rumah bersamaku. Mungkin ini tidak akan terjadi. Teman-teman kantor Mas Rendra tidak akan mengetahui keberadaan anak itu di kehidupan kami.
.
Jam delapan malam. Aku bersiap untuk beristirahat di atas peraduan. Namun, baru saja hendak memejamkan mata, ponsel di atas nakas berdering. Merasa takut itu telepon penting, akhirnya aku mengurungkan niatku.
"Umi?" Kedua mata yang sudah terasa berat, membelalak seketika saat melihat nama yang tertulis di layar ponsel.
Bagaimana ini?
Pasti Umi ingin menanyakan tentang jawaban Mas Rendra untuk mengantarkannya ke rumah Bibi Halimah hari esok.
"Assalamualaikum, Umi." Mau tak mau aku mengangkat telepon darinya.
"Waalaikumsalam, Nara. Sudah tidur?"
"Belum, Umi. Masih ... nonton tivi," jawabku asal, lalu menggigit tepian bibir sembari memejamkan mata. Merasa bersalah karena sudah berbohong.
"Rendra sudah tidur?" tanya Umi lagi.
Sontak aku turun dari ranjang dan melangkah lebar menuju kamar sebelah. "Mas Rendra sedang ke kamar mandi," sahutku lagi asal-asalan. Beruntung ternyata sosok itu masih duduk di tepian ranjang dengan kedua tangan memegang buku. "Umi mau bicara langsung sama Mas Rendra?"
Lelaki itu menoleh seketika saat mendengar suaraku, terlebih aku menyebut 'Umi' sebagai isyarat.
"Boleh," jawab Umi singkat.
"Sebentar Umi." Kuberikan ponsel pada Mas Rendra disertai ekspresi wajah yang menunjukkan rasa kecemasan.
"Assalamualaikum, Umi. Alhamdulillah, sehat. Iya, maaf. Rendra akhir-akhir ini sedang banyak pekerjaan. Oh, ya. Nara sudah memberitahukan tentang itu. In Sya Allah, Rendra antar Umi. Merepotkan apa? Itu 'kan kewajiban Rendra sebagai putra Umi. Ya, Umi tunggu saja di rumah. Rendra jemput Umi, setelah itu kita ke rumah Bibi Halimah. Ya, waalaikumsalam."
Mas Rendra memberikan kembali ponsel padaku dengan gerak lesu, kemudian tersenyum simpul padaku.
"Mau bawa ... dia?" tanyaku sembari menunjuk Natasya dengan gerakan mata.
"Nanti aku bilang kalau dia anak salah satu teman kerja. Umi pas--"
"Anak teman kerja tapi panggil Papa?" selaku.
"Aku bilang saj--"
"Ayahnya meninggal?" Lagi, aku memotong ucapannya. "Kamu ayahnya, dan ucapan adalah doa," peringatku.
Mas Rendra terdiam. Sepertinya dia sedang kebingungan.
"Biar Natasya menunggu di rumah bersamaku. Katakan saja pada Umi aku sedang membuat pesanan kue dadakan, jadi tidak bisa ikut ke rumah Bibi Halimah," saranku.
"Kita berbohong?" tukasnya dengan nada ragu.
"Bukannya sejak kehadiran anak itu di rumah ini, kita sudah berbohong pada banyak orang?"
Mas Rendra terdiam sejenak, sampai akhirnya dia berkata. "Tapi aku sudah berjanji untuk tidak merepotkan kamu, Nara."
"Sudah, tidak apa. Ini kemauanku sendiri," dalihku.
Ya, lebih baik seperti itu. Dari pada lebih banyak orang lagi yang mengetahui tentang kehadiran Natasya di antara kami. Aku belum siap. Apalagi jika sampai orang-orang tahu, jika anak itu adalah anak kandung suamiku sendiri dari pernikahan pertamanya. Aku selalu muak jika mengingat hal itu.
*****