Suara khas mesin mobil berhenti di depan rumah terdengar saat aku baru saja selesai menata hidangan makan malam di atas meja. Tanpa menunda waktu, aku pun bergegas meninggalkan dapur demi menyambut kepulangan suamiku.
"Assalamualaikum," sapa Mas Rendra dari balik pintu yang dia buka sendiri.
"Waalaikumsalam," sahutku seraya membenarkan posisi kerudung. "Sudah pulang, Mas?" Aku meraih tangan kanannya, mencium punggung tangan seperti biasa. Sudah dua hari ini Mas Rendra kembali bekerja. Selain kesehatannya yang sudah pulih, pekerjaan di kantor pun sudah sangat menumpuk. Dia tidak bisa berlama-lama meninggalkan pekerjaannya.
"Pulang agak awal sebenarnya," jawab lelaki itu diakhiri senyum tipis.
Jelas saja aku menautkan kedua alis. "Pulang lebih awal? Tapi ini udah jam lima ...." Bibirku terkatup, menyadari ada seorang gadis kecil yang tiba-tiba berdiri di samping Mas Rendra.
"Assalamualaikum, Tante Kinara."
Aku mengerjapkan kedua mata. Tak percaya dengan penglihatanku sendiri. Kupikir tidak akan secepat ini dia membawa anak itu ke rumah. "Wa ... alaikumsalam."
"Aku tadi izin pulang lebih awal buat jemput dia, supaya kita bisa makan malam sama-sama," timpal Mas Rendra.
Kemudian tatap mataku beralih ke tangan kiri lelaki berkemeja biru tua itu. Kenapa aku baru sadar jika dia sedang memegang sebuah tas besar di tangan kirinya?
"Papa bilang mulai sekarang Tasya boleh tinggal di sini lagi, Tante." Natasya berucap diakhiri senyum lebar.
Aku pun hanya bisa menganggukkan kepala disertai senyum tipis. "Ayo, masuk kalau begitu," tandasku.
Mas Rendra dan Natasya masuk ke dalam kamar yang sudah beberapa waktu ini kosong. Memasang sprei yang sudah aku cuci, mengeluarkan selimut yang sudah aku masukkan ke dalam lemari.
Ah, tahu begitu lebih baik aku tidak membereskannya minggu lalu.
Kami pun makan malam bersama, layaknya keluarga kecil. Kebetulan aku memasak ayam kecap dan tumis sawi orak arik telur. Ternyata Natasya suka, atau mungkin memang lapar karena belum makan sejak siang, atau juga karena jarang makan dengan menu seperti ini.
"Tambah lagi?" tawar Mas Rendra saat nasi di piringnya tinggal satu suap.
Natasya tidak menjawab karena sedang mengunyah. Mulutnya terlihat penuh dan mengembung. Jadi dia hanya sanggup menganggukkan kepala.
"Pelan-pelan makannya, nanti tersedak," peringat Mas Rendra, yang kemudian menggelengkan kepala disertai senyum tertahan.
Lagi-lagi anak itu hanya menganggukkan kepala.
"Masakan Tante Kinara enak," puji Natasya setelah dia berhasil menelan isi mulutnya, dan aku hanya menanggapinya dengan senyum kecil.
Akhirnya, Natasya berhasil menghabiskan tiga piring nasi berikut tiga potong ayam. Bahkan tumis sawi orak arik telur pun habis tak bersisa.
"Enak, Papa! Besok Tasya mau makan sama ini lagi," ujar anak itu. Terlihat bahagia dan bersemangat sekali.
Sayangnya, Mas Rendra hanya bisa tersenyum mendengarnya. Tentu saja aku paham alasannya kenapa.
Natasya turun dari kursi, hendak membawa piring kotornya.
"Udah, biar Tante aja. Mendingan kamu mandi. Sebentar lagi azan Magrib," cegahku.
"Tapi Tasya udah mandi kok, tadi sebelum ke sini," sahut anak itu.
Aku mengerutkan kening. Menatap tak percaya ke arahnya. Pasalnya pakaian yang dia kenakan terlihat lusuh dan luntur warnanya.
"Aku lupa enggak bawa baju dia buat ganti," tukas Mas Rendra. "Tasya, nanti kalau mau wudhu kamu ganti bajunya, ya. Ambil di lemari, baju yang udah Papa belikan."
"Iya, Papa." Anak itu pun pergi ke arah menuju kamarnya.
Aku bangkit dari duduk untuk membereskan piring dan gelas kotor.
"Nara, aku mau bicara sesuatu sama kamu," ujar Mas Rendra yang juga masih duduk di tempatnya.
"Apa lagi?" tanyaku singkat.
"Aku mau cari sekolah buat Tasya."
Aku menoleh ke arahnya, lalu membawa tumpukan piring ke dalam wastafel. "TK atau SD?" tanyaku tak acuh.
"Dia pernah bersekolah TK selama hampir dua tahun sampai kemudian ... Atikah meninggal dunia. Harusnya dia sudah masuk SD sekarang," terang lelaki itu.
Aku mendengarkan ceritanya sembari membersihkan piring dengan sabun cuci. Tanpa tahu harus berkomentar seperti apa.
"Menurut kamu, apa bisa dia masuk ke sekolah SD?"
"Tidak tau," jawabku cepat.
"Papa, buku sama pensil Tasya di mana? Tasya mau belajar buat nanti masuk sekolah."
"Iya, sebentar."
Aku melanjutkan pekerjaan tanpa menoleh sedikit pun ke arah mereka. Rasa panas di d**a kembali menguasai hati. Bagaimana bisa aku bertahan dalam situasi ini?
***
Azan Subuh berkumandang. Aku yang baru terjaga, mengerjapkan mata berkali-kali demi mengusir kantuk ini.
"Mas, udah Subuh," ucapku dengan suara serak. "Mas, bangun. Udah Sub ...." Kupalingkan kepala seketika saat tangan ini ternyata hanya meraba ruang kosong di samping kananku. Ternyata sosok itu sudah tidak ada di tempatnya. Sejak kapan?
Apa mungkin dia sudah bangun lebih dulu?
Aku beranjak, turun dari ranjang. Melangkah ke arah lemari untuk menyiapkan baju koko dan sarung yang akan dipakai Mas Rendra ke masjid. Setelah itu aku pun keluar dari kamar.
Aneh. Jika Mas Rendra sudah bangun, kenapa dia belum menyalakan lampu ruang tamu dan ruang tengah?
Dugaan pun muncul saat aku melihat pintu kamar Natasya yang tidak tertutup rapat.
Aku melangkah dan berhenti di depan celah itu. Mendorong pelan daun pintu agar tidak menimbulkan suara.
Di sana, di kasur berukuran kecil itu. Mas Rendra tidur bersama Natasya.
Jadi ... sejak semalam dia tidur di kamar ini?
Bahkan dia rela tidur dengan posisi yang terlihat kurang nyaman akibat ruang yang tersisa untuknya tidak cukup, hanya demi bermalam bersama anak itu.
Hingga kemudian kulihat Mas Rendra terjaga saat mendengar suara seruan iqomah.
"Astagfirullah, kesiangan," gumamnya terkejut.
Aku mendorong daun pintu lebih lebar.
"Nara," ucapnya lagi saat menyadari kehadiranku.
"Maaf, aku juga baru bangun. Aku udah siapin baju kamu--"
"Aku solat di rumah aja," potongnya.
"Oh, ya," sahutku pelan.
"Papa, Tasya mau solat berjamaah sama Papa." Tiba-tiba anak itu berucap. Entah kapan dia bangun.
"Iya, Sayang. Kalau gitu cepetan bangun, ambil wudhu."
Dadaku berdegup mendengar Mas Rendra mengatakan 'sayang'. Bukan karena senang seperti biasa, tapi terkejut sebab ternyata bukan padaku saja dia memanggil Sayang.
Kenapa rasanya sungguh tidak nyaman?
.
Aku menyajikan telur otak arik bakso kecap sebagai menu sarapan juga potongan buah sebagai tambahan. Lagi-lagi, Natasya berhasil menghabiskan semuanya hingga tandas. Aneh, padahal beberapa waktu lalu tidak begitu. Apa mungkin karena dia tahu saat itu hanya tinggal sementara, sedangkan untuk saat ini dia akan tinggal di sini untuk waktu yang lama, atau mungkin ... selamanya?
"Kenyang?" seloroh Mas Rendra saat melihat Natasya menyandarkan punggungnya dengan satu tangan mengusap perut. Lelaki itu bahkan terlihat menahan tawa.
"Kenyang, dong." Natasya menjawab sambil menegakkan badan. "Tante Kinara hebat. Pintar masak. Semua masakannya enak. Enggak kayak Mama. Mamah enggak bisa masak. Bisanya cuma masak mie rebus sama telur ceplok."
Aku yang hendak meraih gelas, menoleh ke arah anak itu.
"Mama jug--"
"Tasya," sela Mas Rendra.
Natasya berhenti berkata, lalu menoleh ke arah ayahnya.
"Sudah beresin kamar?" tanya Mas Rendra.
"Sudah," jawabnya sembari menganggukkan kepala.
"Menghafal dulu. Sebentar lagi 'kan mau sekolah," tambah Mas Rendra. "Nanti hari Minggu kita beli peralatan sekolahnya, ya?"
"Iya, Papa." Natasya turun dari kursi lalu melangkah dengan riang keluar dari dapur.
Aku melanjutkan niat untuk mengambil gelas.
"Aku menikah siri dengan Atikah, jadi aku hanya cukup menjatuhkan talak untuknya. Semenjak itu aku tidak pernah mendengar kabarnya. Bahkan aku tidak tau kabar tentang kepergiannya beberapa bulan lalu."
"Apa yang mau kamu ceritakan padaku?" tanyaku tak mengerti, karena memang aku belum paham maksud dan tujuannya menceritakan kisah masa lalunya itu.
"Hingga saat aku ke Yogyakarta kemarin, aku baru tau kalau Atikah kembali bekerja di klub. Dia sering meninggalkan Tasya sendirian di rumah kontrakannya. Pergi malam dan pulang pagi. Sebelum pergi ke sekolah Tasya sarapan mie rebus yang dia masak sendiri, kadang berangkat dalam keadaan lapar jika Atikah lupa memberinya uang untuk membeli mie dan gas yang habis. Atikah nyaris tidak pernah menyiapkan makanan untuk Tasya."
Aku memalingkan wajah secara perlahan ke arah Mas Rendra.
"Untuk itu, aku harap kamu tidak usah merasa heran jika melihat dia makan selahap itu. Apa yang dia inginkan selama ini baru bisa dia rasakan di rumah ini."
"Apa?" tanyaku penasaran.
"Makan tepat waktu, tidak harus menahan lapar dan bisa makan dengan layak." Mas Rendra tersenyum simpul, lalu mengusap punggung tanganku. "Terima kasih," ucapnya lagi.
Akhirnya, aku yang sedang merasa kesal menjadi sedikit malu mendengar ucapan terima kasihnya. "Mm," sahutku seraya menganggukkan kepala.
"Aku mau siap-siap dulu ke kantor," tandasnya, kemudian berdiri dan pergi meninggalkan aku yang masih memikirkan ceritanya tentang kehidupan Atikah dan Natasya.
Pantas saja Natasya bisa bersikap sok dewasa dan mandiri. Ternyata, itu karena memang dia sering ditinggal bekerja oleh ibunya. Dia dituntut untuk bisa melakukan beberapa pekerjaan yang tak seharusnya dia lakukan, karena keadaan yang memaksanya.
"Papa kerja dulu. Ingat pesan Papa apa?"
"Jadi anak baik. Jangan merepotkan Tante Kinara."
"Pintar. Mengajinya jangan lupa juga, ya?"
"Iya, Papa."
Mas Rendra keluar dari kamar anak itu, berhenti di depanku yang sedang menunggunya. "Aku titip selama pergi bekerja," pintanya seraya meraih tas di tanganku.
"Iya," jawabku canggung.
Aku melepas kepergian suamiku hingga mobilnya menghilang di belokan blok perumahan. Baru setelah itu aku menutup pintu pagar.
"Tante, hape Tante bunyi terus." Natasya berlari ke arahku.
"Astagfirullah, jangan lari-lari sambil bawa hape, Natasya," ujarku kesal, lalu mengambil alih benda persegi pipih itu dari tangannya.
"Maaf. Tapi itu yang telepon Umi. Waktu itu juga Papa dapat telepon dari Umi langsung diangkat. Katanya enggak baik biarin Umi menunggu lama," papar anak itu.
"Umi?" Akhirnya aku menatap layar ponsel, dan benar saja nama itu tertera di layar ponsel sebagai kontak penelepon.
Aku melirik ke arah Natasya, lalu menekan tombol jawab. "Assalamualaikum, Umi."
"Waalaikumsalam, Nara."
"Maaf, agak lama jawab teleponnya Umi. Nara sedang di depan." Aku berbalik untuk masuk ke dalam rumah, tapi sesaat kemudian terheran setelah melihat kelakuan aneh Natasya. Dia berjalan perlahan, bahkan berjinjit masuk ke dalam rumah.
"Oh, Rendra sudah berangkat?"
Aku tertegun mendengarnya. "I-iya, Umi. Baru saja berangkat," timpalku.
"Tadinya Umi ingin menyapa dia sebentar saja. Sudah lama Rendra belum menengok Umi. Apa dia baik-baik saja?"
"Baik, Umi. Kemarin memang sempat sakit, tapi alhamdulillah sekarang sudah sehat, bahkan sudah bekerja lagi." Aku berdiri di ambang pintu, melongokkan kepala ke dalam rumah. Ke mana anak itu?
"Astagfirullah. Kenapa kamu tidak bilang kalau Rendra sakit? Pasti kamu kerepotan mengurus dia," ucap Umi dengan nada prihatin.
"Tidak, Umi. Nara tidak merasa kerepotan sama sekali." Aku akhirnya duduk di kursi teras. "Apa ada sesuatu yang penting, yang mau Umi sampaikan sama Mas Rendra?" tanyaku penasaran.
"Sebenarnya Umi mau minta diantar ke rumah Bi Halimah. Anak bungsunya mau tunangan," jawab Umi.
"Kapan Umi?" tanyaku lagi.
"Hari Minggu sekarang. Itu juga kalau Rendra mau dan ada waktu."
"Nanti Nara sampaikan. Mudah-mudahan Mas Rendra tidak ada acara dari kantor," ujarku.
"Iya, terima kasih banyaknya sebelumnya. Ya sudah kalau begitu. Kamu pasti masih sibuk, Umi juga mau pergi ke pengajian. Nanti Umi telepon lagi, ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Umi." Kulepas ponsel dari daun telinga.
Bagaimana ini? Bukannya hari Minggu nanti Mas Rendra berencana pergi bersama Natasya untuk membeli peralatan sekolah.
Sedangkan Mas Rendra pasti tidak tega untuk menolak permintaan Umi.
Ah, tidak. Jangan sampai jadi aku yang harus mengantar Natasya membeli semua kebutuhan sekolahnya.
*****