21. Kesepakatan

1688 Kata
Aku terjaga saat hidung ini mencium aroma tumisan bawang. Harum khas ini .... Aku pun memutar kepala ke arah kanan, dan benar saja dugaanku. Lelaki yang semalam tergolek tak berdaya di sampingku, kini sudah tidak ada di tempatnya. Apa mungkin Mas Rendra sudah sembuh? Apa dia sudah kuat untuk memasak? Bahkan selepas aku salat Subuh tadi pun dia tampak masih terlelap. Bergegas aku turun lalu melangkah lebar ke arah dapur. Ya, dan benar saja. Lelaki itu sedang berdiri di depan kompor dengan tangan kiri memegang telinga wajan dan tangan kanan sibuk mengaduk isi wajan itu. Dia sudah memasak nasi goreng di jam enam pagi seperti ini. Apa itu artinya dia akan pergi ke panti? "Nara." Aku yang sedang melamun pun akhirnya tersentak kaget. "Mas," panggilku gugup. "Sudah sembuh?" tanyaku seraya berjalan ke arahnya. Mas Rendra tidak langsung menjawab. Dia malah mematikan kompor, lalu menepuk-nepuk kedua tangannya. Tanpa diduga dia menarik tangan kananku dan mengisyaratkan untuk duduk di kursi, di depannya. Mas Rendra merundukkan setengah badannya. Tangan kanannya bergerak mengusap samping kepalaku yang kemudian berlanjut ke bagian pipi. "Hampir sembuh, karena dirawat dengan penuh cinta oleh istriku tersayang," ucapnya. Wajahnya semakin dekat ke arahku, hingga terasa kening ini dikecupnya dengan agak lama. "Terima kasih," bisiknya. Karuan saja aku tersipu. Bahkan mungkin kedua pipiku ini terlihat merah akibat perlakuan manisnya. "Sama-sama. Itu 'kan ... sudah kewajibanku sebagai istri kamu," sahutku malu. Mas Rendra menurunkan tubuhnya hingga berjongkok di atas lantai. Kedua tangannya menggenggam telapak tanganku dengan erat. "Aku juga berterima kasih atas kerelaan kamu untuk menengok Natasya. Semalam Ibu Fitri mengirim pesan, katanya Tasya tidur tanpa banyak drama." Bibir itu tersungging lebar. Entah kenapa aku malah ikut tersenyum, meski tidak selebar senyum lelaki di depanku. "Terus ... hari ini kamu mau ... ke mana?" tanyaku dengan agak ragu. "Aku enggak ke mana-mana. Aku cuma masak nasi goreng aja." "Buat Natasya?" Aku berkata cepat. Mas Rendra tertawa kecil. "Buat kamu, Sayang," ujarnya, yang kemudian berdiri dan melangkah ke arah rak piring. Dalam hitungan detik, sepiring nasi goreng tersaji di depanku. Mas Rendra bahkan menambahkan irisan mentimun dan beberapa helai daun kemangi, ciri khas nasi goreng kesukaanku. "Kamu ke halaman belakang buat petik daun kemangi?" tanyaku tak percaya. "Iya. Khusus buat kamu." Satu tangannya mencubit pelan pipiku. "Kamu makan sendiri ya, aku mau istirahat lagi. Kayaknya badan aku masih belum fit." Bibir itu tersenyum lagi, sebelum akhirnya pergi meninggalkan aku di dapur. Aku menatap langkah kakinya yang masih terlihat lesu. Apa benar dia melakukan ini demi aku? Dia memaksakan diri menyiapkan sarapan untukku, meski kondisinya belum benar-benar sehat. Aku mengalihkan pandangan ke arah piring di atas meja. Dia khusus membuatkan ini untukku, bukan untuk Natasya lagi. Kenapa rasanya terasa aneh begini? Aku ... merasa diistimewakan lagi olehnya. . Menjelang siang, kondisi Mas Rendra sudah terlihat lebih baik. Itu karena aku melihat dia mulai membuka laptopnya. Mungkin memeriksa pekerjaan yang tertinggal selama beberapa hari ini. "Jangan lama-lama buka laptopnya. Kepalanya nanti pusing lagi," tegurku, seraya menyimpan piring berisi potongan buah di atas meja, tak jauh dari laptopnya. "Cuma sebentar," sahut Mas Rendra. "Aku mau masak buat makan siang. Mas butuh sesuatu lagi?" tanyaku. Mas Rendra menggelengkan kepala. "Ini udah cukup. Terima kasih." Lalu tersenyum. Aku pun menganggukkan kepala, kemudian melangkah keluar dari kamar. Selama hampir satu jam aku berada di dapur. Menyiapkan makan siang untukku dan Mas Rendra tentunya. Hingga akhirnya tak terasa terdengar azan berkumandang saat aku selesai membereskan peralatan masak yang kotor ke dalam wastafel. "Alhamdulillah." Aku mengusapkan kedua tangan ke bagian samping daster. "Mandi solat, habis itu makan. Eh, tapi bagaimana kalau Mas Rendra sudah lapar," gumamku. Akhirnya kuputuskan pergi ke kamar lebih dulu untuk menanyakan pada Mas Rendra barangkali sudah ingin makan segera. "M-Mas ...." Bibirku terkatup, ketika melihat dia ternyata sudah berbaring di atas peraduan lagi. Aku hanya bisa tersenyum di ambang pintu kamar. Kupalingkan wajah ke arah meja tempat dia duduk tadi, dan benar saja dugaanku. Dia belum sempat menutup laptopnya. "Kebiasaan. Kalau lagi sakit pasti gini," ujarku seraya melangkah ke arah meja itu. "Naruh handuk sembarangan, simpan barang di mana aja, bahkan enggak sanggup buat tutup lap ...." Kedua mata ini terpaku setelah menyadari sesuatu. Di layar laptop, tampak wajah seorang anak gadis sedang tersenyum lebar. Sorot mata polos dan penuh keceriaan, ciri khas anak kecil yang tidak memiliki beban hidup sama sekali. Tentu saja aku tahu siapa dia. Siapa lagi jika bukan Natasya. Aku melirik ke arah lelaki yang terlelap dalam tidur siangnya. Apa mungkin Mas Rendra merindukan Natasya? . Sepanjang siang, hingga sore, lalu malam tiba. Wajah anak itu terus terbayang di pelupuk mata. Terkadang aku menatap wajah suamiku sendiri, menelisik apa ada raut kesedihan di matanya, yang mencerminkan jika dia sedang merindukan putrinya itu. Pukul delapan malam, ketika aku selesai memberikan obat. Wajah Mas Rendra sudah tidak terlalu pucat, dan tampaknya sudah mulai bertenaga lagi. Terbukti dengan sanggupnya dia menunaikan salat Isya dengan cara berdiri. Tidak duduk lagi seperti kemarin-kemarin. Saat itulah ponsel di atas nakas berdering. Aku yang hendak berdiri untuk menyimpan gelas ke dapur, sempat melihat layar benda itu. Meski sekilas, jelas tertulis nama Ibu Fitri di sana. Inginnya aku diam, demi bisa mendengarkan apa yang dibicarakan perempuan itu. Namun, sepertinya aku tidak boleh menunjukkan rasa ingin tahuku secara terang-terangan di hadapan Mas Rendra. "Assalamualaikum. Oh, ini Tasya. Alhamdulillah, Papa udah lebih baik. Besok? Gimana, ya? Kalau Papa udah bisa bawa kendaraan, ya. Tante Kinara ... jangan, kasihan dia kerepotan. Ya, dia 'kan juga rawat Papa selama sakit." Aku menghentikan langkah di balik tembok ketika Mas Rendra menyebut namaku. Apa yang Natasya bicarakan dengan papanya? "Iya, nanti. Kalau Tante Kinara udah kasih izin, kamu boleh tinggal di sini. Papa enggak tau kapan. Ya, kalau belum boleh nanti seperti kemarin-kemarin. Papa tengok kamu ke panti setiap hari, terus Sabtu Minggu kita jalan-jalan. Apa? Papa sakit lagi? Kamu takut Papa sakit lagi? Ya, berarti Papa harus bisa jaga kesehatan biar kuat. Hahaha." Tubuhku mematung seketika. Anak sekecil itu saja sudah bisa mengkhawatirkan papanya. Lalu aku? Kenapa aku tidak bisa mencemaskan suamiku sendiri? Sepertinya ... apa yang ditakutkan oleh Natasya itu benar. Seandainya Mas Rendra harus bolak-balik lagi untuk mengunjungi Natasya pagi dan sore, itu pasti membuatnya kelelahan, lalu sakit lagi. Jika sudah begitu, tetap saja aku yang akan merawat Mas Rendra hingga sembuh. Setelah itu, dia kembali lagi ke rutinitas mengunjungi Natasya di panti. Berputar-putar dan berulang-ulang. Sampai kapan akan seperti itu? Aku melanjutkan langkah menuju dapur karena tidak bisa lagi mendengar secara jelas apa yang Mas Rendra bicarakan, masalahnya dia lebih sering tertawa dibanding berbicara. Entah menertawakan apa? Sepertinya Natasya sedang menceritakan sesuatu yang lucu. Kusimpan gelas ke dalam wastafel, lalu duduk di salah satu kursi meja makan. Merenungkan sesuatu. Selama bermenit-menit. Hingga muncullah sebuah kesimpulan. Baiklah. Aku harus bisa mengambil keputusan. "Mas," panggilku ketika duduk di atas peraduan. "Ya." Lelaki itu mengalihkan pandangan dari layar ponsel, tapi hanya satu detik. Ck, rupanya dia sedang memandangi foto Natasya dan dirinya. "Kamu mau Natasya tinggal di rumah ini?" tanyaku serius. Mas Rendra yang sedang menatap layar ponsel kembali, mengerjapkan kedua matanya. Kemudian menoleh ke arahku, dan kali ini agak lama. "Maksud ... kamu?" Suaranya nyaris seperti bisikan, dengan sorot mata tak percaya. "Aku enggak mau kamu kecapean lagi karena harus membagi waktu untuk bekerja, untukku, dan untuk ... Natasya," paparku, lalu menelan saliva. Entah kenapa tiba-tiba terasa berat mengatakan keputusan ini. Mas Rendra menurunkan ponselnya dengan gerak lambat. Dia menatapku serius. Seolah belum percaya atas apa yang aku katakan. "Jadi ... aku boleh bawa Natasya tinggal di rumah ini, bersama kita?" Aku menganggukkan kepala. "Tapi dengan satu syarat," pintaku segera. "Apa itu?" Mas Rendra pun berkata dengan tempo cepat. Terlihat antusias. Sepertinya dia sudah tidak sabar mendengarkan syarat dariku. "Natasya boleh tinggal di sini, asalkan dia ... tidak merepotkan aku." Kedua alis lelaki di depanku kini bertaut. Sudah kuduga dia pasti tidak akan mengerti dengan syarat yang akan aku berikan. "Dimulai dari bangun tidur. Dia harus membereskan kamarnya sendiri. Dia bisa makan bersama kita, asalkan dengan menu yang sama. Tidak boleh meminta yang lain selain dari apa yang aku sediakan. Dia boleh menyatukan bajunya dengan cucian kita, asalkan tidak kotor dan penuh noda. Dia juga tidak harus mencuci peralatan makannya sendiri. Aku takut dia memecahkan mangkuk atau mungkin piring dan akhirnya membuat tangan dia terluka. Itu membuatku menjadi merasa bersalah. Jadi dia cukup menyimpannya di wastafel," tuturku panjang lebar. Tatapan mata Mas Rendra sedikit meredup. Raut wajah sumringah pun berubah perlahan. Sementara itu, aku semakin penasaran menunggu jawabannya. Apa dia akan setuju dengan syarat yang aku ajukan? Mas Rendra berpaling dari tatapanku, lalu pandangannya menerawang ke arah jendela. Karena terlalu lama menunggu, akhirnya aku pun memutar setengah tubuh ke arah samping. "Nara," panggil Mas Rendra. "Hm," sahutku sambil melepas tali kerudung. "Aku setuju." Tangan yang sedang bergerak pun terdiam seketika. "Aku setuju, meski sebenarnya aku menginginkan Natasya mendapatkan sedikit saja kasih sayang darimu sebagai seorang ibu. Tapi ... aku rasa ini lebih baik, dari pada dia harus tetap tinggal di panti asuhan dan tidak mendapatkan kasih sayang dariku." Kulanjutkan melepas kerudung dan menyimpannya di atas kursi. "Kalau boleh, aku juga ada satu permintaan sebelum memutuskan membawa Tasya ke sini." "Apa itu?" tanyaku tanpa menoleh ke arahnya. "Jangan marahi dia. Setidaknya kamu bisa bersikap baik dan ramah meski tidak memperlakukannya sebagai anak sendiri." Aku menelan saliva. Ragu harus berkata apa. Seandainya aku menolak, mungkin Mas Rendra akan berpikir jika aku hanya mempermainkannya. Atau mungkin dia tetap berpikir bahwa aku belum berubah selama ini. Masih bersikap kekanak-kanakan dan belum memiliki naluri keibuan. Aku memutar tubuh, lalu menyunggingkan seulas senyum kecil. "Selama dia bersikap baik, aku akan bersikap yang sama. Jangan sampai menyulut emosiku, itu saja." Mas Rendra menganggukkan kepala samar. Dia menyimpan ponselnya di atas meja, kemudian merebahkan diri dan mengatur posisi tidurnya. Aku pun melakukan hal yang sama. Bersiap untuk beristirahat. Satu menit, dua menit, hingga lima menit. Ternyata aku masih belum bisa memejamkan kedua mata. Banyak pertanyaan yang berkelebat di benak ini. Apa dia benar-benar setuju? Atau mungkin dia ragu dengan kesepakatan ini? Bagaimana jika besok Mas Rendra membawa anak itu? Sanggupkah aku bersikap baik? Bisakah aku mengenyahkan rasa cemburuku selama ini? Cemburu ... karena anak itu adalah putri dari cinta pertamanya. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN