20. Karena Permintaan Mas Rendra

2084 Kata
"Tasya mau ikut Tante Kinara, Bu. Tasya mau pulang ke rumah Papa." Suara itu .... Tangisan itu, dan permintaan dari suara pilu seorang anak perempuan berusia tujuh tahun. Terdengar menyedihkan memang, bahkan sepanjang perjalanan menuju pulang kalimat itu terus terngiang di kepalaku. Nyaris membuat lupa di mana tempat aku harus turun dari angkutan umum. "Stop, Mang," pintaku cepat setelah menyadari komplek perumahan sudah terlewat beberapa meter. Selepas memberikan ongkos, aku terdiam menatap gerbang komplek. Mengembuskan napas, merutuki kebodohanku sendiri. Ah, ini semua gara-gara anak itu. Membuat suasana hatiku semakin tidak nyaman saja. Beruntung suasana komplek sedang sepi, membuatku tidak harus menyapa atau pun menyahut pertanyaan para tetangga yang biasa kulewati rumahnya. Sesampainya di rumah, aku merebahkan diri di atas peraduan. Aku tidak mengantuk, tapi aku hanya ingin diam saja. Hingga sore hari, suara Natasya yang memanggil namaku dan Mas Rendra terus membayangi, membuatku enggan melakukan apa-apa. Ada apa denganku? Perasaan macam apa ini? Bisa-bisanya aku terus memikirkan dia. Suara mesin mobil membuatku terenyak. Segera aku bangkit dan melihat dari balik tirai jendela. Rupanya Mas Rendra sudah pulang. Tunggu. Kenapa ini terasa aneh? Kulirik jam weker di atas meja. Masih jam setengah lima sore dan dia sudah pulang. Ini tidak biasanya. Apa mungkin hari ini dia tidak pergi ke panti untuk menemui Natasya? Kuperhatikan secara saksama. Dari bahasa tubuhnya itu, aku yakin Mas Rendra sedang tidak baik-baik saja. Dia berjalan dengan langkah sempoyongan dan satu tangan memegang kepala. Jangan-jangan dia sedang sakit, dan karena itulah sepulang dari kantor Mas Rendra langsung ke rumah? Aku keluar dari kamar, bertepatan dengan Mas Rendra yang juga masuk ke dalam ruang tamu. Tanpa sepatah kata pun dia merangsek masuk ke dalam kamar, membuat tubuhku yang masih berdiri di muka pintu bergeser terpaksa karena ulahnya. Aku berputar, tetap berdiri di ambang pintu menatap gerak-geriknya itu. Mas Rendra menyimpan tas, lalu duduk di tepian ranjang untuk melepas sepatu lalu kaos kaki. Dia tidak melirik sedikit pun ke arahku meski tahu aku masih berdiri tak jauh di depannya. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan langkah keluar dari kamar karena merasa kesal atas sikap abainya. "Nara." Langkah kaki pun terhenti kala mendengar dia memanggil. Aku menoleh, menatapnya yang sedang berbaring secara asal di atas ranjang. "Nara," panggilnya lagi dengan suara lemah dan pelan. Aku masih mematung, merasa tidak yakin jika dia memang memanggilku. "Nara," ucapnya lagi, yang kali ini disertai gerakan tangan sebagai isyarat agar aku mendekat. Aku berbalik dan melangkah ke arahnya. "Tolong," bisiknya lagi. "Astagfirullah, panas sekali." Aku terkejut saat merasakan tangannya itu menyentuh lenganku. Dalam hitungan detik, perasaan cemas pun kini menyelimuti hati. Melihat dia terbaring tak berdaya dan kesakitan karena demamnya, membuatku menyingkirkan segala perasaan yang sedang mengganggu pikiran ini. *** Pagi tiba. Mas Rendra masih terlelap dalam tidurnya saat aku pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Awalnya aku tidak yakin, tetapi mengingat kondisinya yang sedang kurang sehat, aku pun menjadi tidak tega. Sop ayam dan brokoli beserta nasi yang baru matang sudah aku sajikan, kemudian membawanya ke kamar meski dengan perasaan ragu. Tampak lelaki itu masih tertidur pulas sewaktu kusimpan nampan di atas nakas. Semalam demamnya tinggi. Pasti kepalanya terasa sangat pusing. Jika sudah begini, aku sebagai istri pun akhirnya merasa bersalah. Karena permasalahan yang menimpa rumah tangga kami, menyebabkan Mas Rendra jatuh sakit. Aku duduk di tepian ranjang, di sebelah tubuh Mas Rendra. Perlahan kugerakkan tangan kanan untuk meraba keningnya, dan ternyata suhu tubuhnya belum benar-benar normal. Akhirnya aku berinisiatif untuk mengompresnya. "Nara." Aku yang hendak bangkit pun terduduk kembali karena mendengar suara itu memanggil, juga karena dia memegang lenganku. "Aku mau ambil han--" "Tasya," sela Mas Rendra. Aku mengerjapkan mata, menatap wajah pucat yang masih terpejam itu. "Tolong ... jenguk dia," ucapnya lemah. Aku mengembuskan napas. Membuang rasa kesal ini. Bahkan ketika sedang sakit pun, yang dia pikirkan hanyalah anak itu. "Nanti aku tengok dia, setelah keadaan kamu lebih baik. Ya?" sahutku agar dia tidak merasa cemas. Mas Rendra membuka matanya, menatapku dalam dengan sorot penuh harap. Kedua sudut bibirnya naik, lalu kepalanya bergerak kecil. Ah, kamu tidak tahu, Mas. Aku bahkan sudah menengoknya sebelum kamu minta. Menjelang sore, suhu tubuh Mas Rendra sudah lebih baik. Tentunya setelah aku merawat dia dengan penuh perhatian. "Demamnya udah turun. Apa kepalanya masih pusing?" tanyaku selepas menyimpan nampan berisi makan malam, lalu duduk di sampingnya. "Sedikit," jawabnya lesu. "Aku buatin kamu say--" "Kapan kamu tengok dia?" Tangan yang terulur hendak meraih piring pun berhenti. Kuembuskan napas, lalu menoleh ke arahnya disertai senyum. "Kalau kamu udah baikan, aku tengok dia," sahutku, lalu melanjutkan mengambil piring di atas nakas. "Kalau kamu masih sakit gini, aku juga enggak tega buat tinggalin kamu," sambungku, seraya menyuapinya dengan nasi yang sudah dicampur kuah sop tahu telur. "Enak?" tanyaku, menyeka tepian bibir Mas Rendra dengan jemari. Laki-laki itu hanya memberi sebuah anggukan kepala kecil. Dia tidak berkata apa-apa lagi hingga akhirnya nasi dalam piring pun habis. Itu bagus. Lebih baik dia makan saja tanpa perlu membahas lagi tentang Natasya. Setelah memberinya obat, aku pun keluar dari kamar untuk menyimpan piring kotor ke dapur. Selama mencuci piring, pikiranku terus berkecamuk. Memikirkan banyak hal. Apa aku harus menuruti permintaan Mas Rendra? Seandainya aku pergi ke panti, bagaimana jika anak itu ingin ikut denganku lagi? Alasan apa yang harus aku katakan pada Natasya? Lalu ... bagaimana jika Mas Rendra memintaku untuk membawa anak itu? Ah, kenapa membingungkan seperti ini?! Lima belas menit lagi menuju jam enam malam, dan aku baru masuk kembali ke kamar. Aku sengaja berlama-lama di dapur karena tidak ingin mendengar Mas Rendra yang terus memintaku untuk menengok putrinya. Namun ternyata, lelaki itu tampak tertidur ketika aku melihatnya secara jelas. Ah, syukur lah. Aku bisa bernapas lega. *** Sayangnya, nasib baik itu hanya sekejap. Karena ketika pagi tiba, lagi-lagi Mas Rendra memintaku untuk pergi ke panti. "Aku sudah lebih baik. Kamu bisa pergi. Jangan mencemaskan aku," bujuknya. "Ya, selesai sarapan nanti," dalihku kemudian seraya menyuapkan sesendok bubur ayam ke dalam mulutnya. "Kalau bisa, tolong belikan paket ayam goreng dan kentang gorengnya," pinta Mas Rendra lagi. Kali ini aku hanya menganggukkan kepala saja. Antara tidak tega untuk menolak keinginannya, tapi juga merasa muak dengan perintahnya itu. Ya, Allah. Situasi macam apa ini? Sekitar jam sembilan aku berpamitan untuk pergi. Itu karena aku melihat Mas Rendra yang tampaknya sudah sangat mencemaskan kondisi Natasya. Ya, seperti biasa. Ibu Fitri kembali menelepon dan mengatakan jika Natasya terus menanyakan dia. Beruntung tempo hari ketika mengunjungi panti, aku sempat meminta Ibu Fitri untuk tidak mengatakan tentang kedatanganku. Setidaknya Mas Rendra tidak akan berpikir macam-macam padaku. "Selamat pagi, Bu. Mau bertemu Ibu Fitri?" sapa gadis yang sepertinya memang bertugas menyambut kedatangan tamu di pintu depan. "Ya," sahutku singkat. "Silakan, langsung saja naik ke atas. Ibu Fitri sudah menunggu," tukasnya. "Terima kasih," tandasku. Kemudian berlalu dari hadapannya dan naik ke lantai atas. Ibu Fitri sudah menunggu? Apa mungkin Mas Rendra sudah memberitahukan perihal kedatanganku ke panti? "Natasya, jangan begitu, Sayang. Ayo, makan dulu." "Tasya mau ketemu Papa!" "Iya, hari ini katanya Tante Kinara mau ke sini buat tengok kamu, Sayang." "Kenapa bukan Papa?" "Papa kamu lagi sakit, Natasya," ucapku, membuat Ibu Fitri yang hendak berkata mengatupkan bibirnya. "Tante Kinara?" ucap anak itu dengan mimik wajah tak percaya. Dia yang sedang duduk sembari memeluk kedua lututnya bangkit seketika, dan berjalan ke arahku dengan langkah cepat. "Papa sakit apa?" tanyanya, menatapku dengan sorot cemas. "Sepertinya kecapean," sahutku, lalu menyimpan kantong di tangan ke atas meja. "Ini, Papa suruh Tante kasih ini buat kamu." "Wah, ayam dan kentang!" Kedua mata itu kini berbinar senang. "Terima kasih, Tante." Tanpa aling-aling Natasya meraih kantong itu dan membawanya ke salah satu meja yang kemarin sempat dijadikannya tempat makan. Apa dia lapar sekali, sampai-sampai langsung menyantap makanan yang aku bawa? Aku menatap tak percaya, melihat dia begitu lahap menggigit ayam goreng dan mengunyah kentang goreng secara bergantian. "Pelan-pelan, Nak. Nanti tersedak, loh!" peringat Ibu Fitri, lalu tersenyum seraya menggelengkan kepala. Aku tertegun ketika dengan tiba-tiba perempuan itu menoleh ke arahku. "Memang ... dia belum makan?" tanyaku berbasa-basi. "Makan, tapi hanya sedikit. Itu pun setelah saya rayu berkali-kali," jawab Ibu Fitri, diakhiri seulas senyum kecut. "Dia menunggu kedatangan Ibu Kinara setiap sore," sambungnya dengan nada prihatin. "Menunggu ... saya?" tanyaku ragu, juga malu sebenarnya. Tentu saja aku menyadari kesalahanku yang tempo hari sempat memberi janji pada Natasya. "Iya. Setiap sore dia menunggu kedatangan Ibu Kinara di depan rumah. Saya alihkan dia untuk melakukan hal lain, tapi dia tidak mau," papar Ibu Fitri. "Kebetulan Ibu datang pagi hari, seandainya sore nanti pasti Ibu melihat dia yang sedang duduk di teras depan sana." Aku tersenyum tipis. "Maaf, saya tidak tau jika suami saya tiba-tiba jatuh sakit." "Ibu tidak perlu minta maaf pada saya, tapi pada Natasya." Kukerjapkan mata, memalingkan wajah tanpa ingin menimpali ucapannya itu. "Saya tau ini berat untuk Ibu Kinara. Menerima kehadiran anak sambung, memang tidak semudah menerima kehadiran anak kandung. Tapi Ibu juga tidak berhak untuk memutuskan hubungan yang ada antara Pak Rendra dan Natasya. Ibu Kinara harus belajar ikhlas untuk menerima kenyataan ini." Lagi, aku terdiam mendengar perkataan perempuan itu. Dering ponsel dari dalam tas mengalihkan perhatianku. Merogohnya segera dan menatap layarnya. Mas Rendra? Bagaimana ini? Ada apa dia meneleponku? Apa dia ingin memintaku untuk membawa Natasya ke rumah? "Assalamualaikum, Mas," sapaku setelah menempelkan ponsel di daun telinga. "Waalaikumsalam. Sudah sampai panti?" "Sudah. Aku juga sudah berikan ayam dan kentangnya. Dia sedang makan sekarang," terangku, karena aku tahu dia pasti bertanya tentang Natasya. "Syukurlah. Terima kasih karena sudah membantuku. Apa boleh aku bicara dengan Natasya?" "Sebentar," sahutku. Aku melepas ponsel dari daun telinga, mengembuskan napas lalu menoleh ke arah Natasya yang sedang membereskan kotak bekas makanannya. "Tasya," panggilku. Anak itu menoleh cepat. "Iya, Tante." "Mas Ren ... Papa kamu mau bicara," ucapku sungkan. "Asyik! Papa!" Sontak dia berlari ke arahku, mengambil alih ponsel itu dengan raut wajah sumringah. "Halo, Papa. Assalamualaikum." Aku terdiam melihat anak itu. Entah sedang mendengarkan apa, tapi dia terlihat serius sekali. "Iya, Papa. Tasya janji. Tasya juga kangen Papa. Dadah. Waalaikumsalam." Anak yang sedang menjadi pusat perhatian aku dan Ibu Fitri itu memberikan lagi ponselnya, tentunya dengan senyum yang terus terukir di wajah polosnya. "Bicara apa Papa?" tanyaku penasaran. "Papa sakit, jadi belum bisa ke sini. Nanti kalau Papa sembuh, Tasya mau diajak jalan-jalan. Tapi Tasya harus jadi anak baik dulu," terang anak itu. "Wah, pinter. Ya sudah, sekarang kamu mandi, terus main sama teman-teman kamu. Ya?" ujar Ibu Fitri seraya mengusap puncak kepala Natasya. "Tasya mau main sendiri aja, Bu," sahut anak itu. Kemudian pergi ke arah meja tempatnya makan tadi. Melanjutkan membereskan bekas makanannya lalu membuangnya ke dalam tong sampah. Setelah itu pergi ke salah satu arah, entah menuju ke mana. "Dia memang seperti itu." Aku memalingkan wajah ke arah Ibu Fitri. "Siapa?" tanyaku tidak mengerti. "Natasya. Dia tidak mau bermain dengan anak lain. Pak Rendra tentu sudah menceritakannya pada Ibu Kinara," ujarnya lagi. "Memang Natasya kenapa?" Aku menautkan kedua alis. "Mas Rendra tidak menceritakan apa-apa pada saya." Ibu Fitri tersenyum, lalu mengembuskan napas pendek. "Ketika di Yogyakarta, Natasya sering diejek teman-temannya. Akhirnya dia lebih suka menyendiri. Dan kebiasaannya itu terbawa sampai di sini, makanya dia tidak punya teman. Jadi ... Ibu Kinara tidak usah merasa aneh kalau Natasya selalu memanggil Pak Rendra. Karena bagi dia, hanya Pak Rendra lah teman satu-satunya." Aku tersenyum kecil mendengar penjelasan perempuan paruh baya itu. Apa itu juga yang Natasya maksud, ketika bertanya padaku tentang anak-anak pengajian? Akhirnya, setelah melihat Natasya yang kini terlihat tenang--tidak menangis dan tidak meminta ikut pulang, aku pun berpamitan pergi dari panti. Sepanjang perjalanan, aku membayangkan Natasya. Saat dia menangis memanggil papanya, dan saat dia lebih memilih bermain sendiri dibanding bersama teman-temannya. Itu mengingatkan aku pada seseorang, yaitu ... diriku sendiri. Kinara Larasati ketika masih kecil. Kinara yang kehilangan sosok ayah, saat masih berusia enam tahun. Lalu, Kinara yang sering diolok-olok oleh temannya karena tidak memiliki mainan baru seperti mereka. Akhirnya, membuat sosok anak kecil itu selalu menyendiri. Ya, seperti itulah aku waktu kecil. Aku lebih banyak menghabiskan masa kanak-kanakku dengan membantu Ibu berjualan kue, karena aku memang tidak memiliki teman sama sekali. Kini, mendengar kisah hidup Natasya, itu seperti mengorek kisah lama pada diriku sendiri. Jika begitu adanya, apa aku masih tega memisahkan mereka? Mas Rendra dan Natasya. Apa aku harus jadi penyebab di antara perpisahan ayah dan putrinya? Bahkan sejak kemarin pun, melihat dan mendengar Natasya menangis memanggil Mas Rendra, itu sudah mengingatkan aku pada masa kecilku. Jujur saja, itu membuatku merasa bersalah karena sudah berusaha memisahkan suamiku dan putrinya. Lalu sekarang, apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menuruti saran dari Ibu Fitri untuk ikhlas menerima kenyataan ini? *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN