19. Kedatangan Kinara

1700 Kata
"Mas, makan malam sudah siap," tulisku di dinding pesan. Detik kemudian aku menghapusnya, menulis kalimat yang lain. "Mas, kapan pulang? Aku sudah siapin makan malam buat kamu." Lagi, jariku menekan tombol hapus karena merasa pesan itu kurang cocok untuk aku kirimkan padanya. Jam di layar ponsel menunjukkan angka 20.30, dan Mas Rendra belum juga pulang. Karena sudah tak tahan menahan kantuk, aku tidur lebih dulu. Esoknya, dia kembali diam. Berangkat ke kantor tanpa berpamitan dan tanpa sarapan, meski tahu aku sudah menyiapkan makanan untuknya. Lalu pulang larut malam, dan tak menunjukkan rasa bersalahnya walau pun melihat aku tertidur di meja makan karena menunggunya. Kejadian itu terus berulang selama berhari-hari. Membuatku frustasi dan semakin membenci Natasya. *** "Maaf, Rey, aku lupa. Iya, akhir-akhir ini aku sibuk. Enggak. Ya, lagi ada masalah pribadi aja. Hm, makasih. Aku janji hari ini laporannya selesai. Maaf sekali lagi. Ya, sampai bertemu di kantor." Aku yang hendak masuk ke dalam dapur, mematung seketika saat menyadari suara Mas Rendra terdengar parau. Sepertinya dia sedang tidak sehat. Biasanya ini terjadi jika dia kurang istirahat, kurang minum air putih dan makan tidak teratur. Biasanya lagi, jika kondisinya sudah seperti itu maka aku akan membuatkan segelas teh madu ditambah jahe untuknya, agar gejala batuk pileknya itu segera reda. Namun, kali ini sepertinya aku tidak harus melakukannya. Karena dia sudah membuat minuman itu dengan kedua tangannya sendiri. Aku melihat ada sisa potongan jahe dan botol madu di atas meja makan. Mas Rendra menutup laptopnya, lalu meraih cangkir di atas meja. Meneguk sisa teh hasil racikannya itu. Aku pun bergegas melanjutkan langkah memasuki dapur, berpura-pura sibuk membersihkan meja makan saat dia menyimpan cangkir kotor ke dalam wastafel. Kejadian pagi kemarin, dan selama beberapa hari ini terulang lagi. Mas Rendra pergi begitu saja dari rumah, tanpa berpamitan padaku. Aku hanya bisa mengembuskan napas, saat melihat nasi uduk di atas meja makan tidak disentuh sama sekali olehnya. Ah, sudahlah. Ini bukan pertama kalinya. Setidaknya karena sudah terbiasa diabaikan seperti ini, kini aku tidak merasa sakit hati lagi. Aku pun mengerjakan beberapa pekerjaan rumah. Selesai mencuci piring, aku mengambil sapu untuk membersikan ruang demi ruang di rumah ini. "Loh, kok hapenya ketinggalan," gumamku saat menyadari ada benda persegi pipih di atas meja ruang tengah. Apa mungkin Mas Rendra lupa membawanya? Aku melanjutkan menyapu ruangan karena tidak ingin terlalu memikirkan alasan lelaki itu tidak membawa ponselnya ke kantor. Hingga kemudian, benda itu berdering. Sekali, aku tidak peduli. Entah siapa yang menelepon, aku tidak mau tahu sama sekali. Tak lama, benda itu berdering lagi ketika aku sudah berpindah ke rumah tamu. Aku abaikan kembali karena merasa tidak memiliki alasan untuk melihat ponsel itu. Ketiga, keempat, sampai kelima kalinya benda itu berdering lagi. Aku mulai terdiam, mendengarkan secara seksama. Jika keenam kalinya ponsel itu berdering, aku berniat untuk melihat siapa gerangan si penelepon. Berpikir barangkali itu telepon penting. Akan tetapi ternyata hingga satu menit berlalu, tidak terdengar lagi dering dari benda itu. Aku lanjutkan lagi menyapu ruang tamu, tapi terhenti saat menyadari dering benda di ruang tengah terdengar kembali. Terpaksa aku melangkah ke ruangan itu dengan sapu yang masih di tangan. "Ibu Fitri?" Kedua mataku memicing membaca nama kontak di layar ponsel. Bukankah ... dia pemilik panti asuhan itu? Ada apa dia menelepon? Pasti ini ada hubungannya dengan Natasya. Aku yakin. Hampir aku melangkah untuk kembali ke ruang tamu, tapi entah kenapa tiba-tiba rasa penasaran pun muncul di kepala ini. Tidak, bukan penasaran. Ini lebih ke rasa kesal dan muak atas sikap anak itu. Sakit Mas Rendra, pasti disebabkan oleh dia. Laporan bulanan yang belum selesai pun, pasti karena dia. Anak manja itu, sudah terlalu banyak mengganggu waktu Mas Rendra. Aku harus melakukan sesuatu. "Assalamualaikum." Aku menyapa ibu pemilik panti itu setelah menekan tombol jawab. "Waalaikumsalam. Maaf, apa Pak Rendra-nya ada?" tanya perempuan itu dengan suara cemas. "Sedang ke kantor, hapenya tertinggal di rumah," jawabku dengan suara datar, tanpa ingin beramah tamah sedikit pun padanya. "Kapan pulang?" "Sore mungkin." "Apa saya boleh minta nomor lain yang bisa dihubungi?" Aku berdecak. "Tolong, ya, Bu. Jangan lagi menelepon Ma--" "Papa, Tasya mau pulang. Tasya enggak mau tinggal di sini lagi. Tasya mau sama Papa!" "Astagfirullah, Tasya. Sabar, Nak. Jangan seperti ini. Halo, Bu. Bu, saya mohon. Katakan pada Pak Rendra kalau Natasya tantrum lagi. Saya tidak bisa mengatasinya. Hanya Pak Rendra yang bisa membuat Natasya tenang lagi." "Tapi ...." Perkataanku mengambang setelah menyadari panggilan terputus tanpa adanya kalimat berpamitan dan ucapan salam. Kusimpan ponsel di atas meja lagi, disertai amarah yang sudah menggunung di d**a. Tidak. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus melakukan sesuatu agar anak itu berhenti mengganggu kehidupan rumah tanggaku bersama Mas Rendra. Akhirnya, dalam waktu kurang dari satu jam aku sudah berada di depan panti asuhan. Tempat dulu Mas Rendra memperkenalkan Natasya padaku. "Mau bertemu siapa ya, Bu?" tanya seorang perempuan muda bergamis hitam dan berkerudung putih yang menyambut di ambang pintu. "Ibu Fitri ada?" tanyaku. Gadis yang sepertinya masih berusia belasan tahun itu pun tersenyum. "Ada di lantai atas. Mari, saya antar," tuturnya dengan gerakan tangan yang memberi isyarat padaku untuk melangkah bersamanya. Aku pun melangkah setelah menganggukkan kepala. "Papa! Papa! Tasya mau pulang sama Papa!" Teriakan pun terdengar saat kakiku memijak anak tangga. Suara yang tak asing lagi bagiku, meski ini pertama kalinya aku mendengar dia menangis seperti itu. "Itu, Ibu Fitri. Beliau sedang menenangkan salah satu anak," ucap gadis di sampingku. "Apa mau saya panggilkan?" "Tidak usah, biar saya yang menemuinya ke sana. Terima kasih," ujarku. Gadis itu menganggukkan kepala, melangkah pergi setelah mengatakan 'sama-sama'. "Papa, Tasya mau ketemu Papa." Kali ini suara anak perempuan itu terdengar lebih pelan. Sepertinya dia mulai kelelahan karena sudah menangis cukup lama. "Iya, Ibu sudah telepon Papa kamu. Tapi dia masih kerja, Tasya. Nanti setelah pulang kerja Papa pasti ke sini. Sekarang kamu makan dulu, ya. Dari pagi kamu belum makan, Sayang," bujuk Ibu Fitri. "Tasya mau makan sama Papa!" jerit anak itu, yang ternyata tenaganya masih kuat. "Assalamualaikum," sapaku. "Waalaikumsalam." Ibu Fitri menoleh ke arahku. Posisinya memang sedang duduk membelakangiku. Kedua matanya menyipit seperti sedang mengingatku. "Tante Kinara?" ucap Natasya tiba-tiba. "Tante, mana Papa? Tante ke sini sama Papa?" Anak itu turun dari kursi tempat dia menangis tadi, kemudian berlari menghampiriku. "Tante, Tasya mau pulang ke rumah Papa. Tasya janji enggak nakal lagi. Tante, Tasya mau pulang," rengeknya dengan kedua tangan memeluk bagian bawah tubuhku. "Tuh, 'kan. Tantenya ke sini. Sekarang makan dulu. Tante Kinara enggak bakal ajak kamu pulang kalau kamu enggak makan." Aku menoleh ke arah Ibu Fitri. Apa maksudnya dia mengatakan itu? "Iya, Tasya mau makan sekarang, Bu." Sontak anak itu melepas pelukannya lalu menghampiri Ibu Fitri kembali dengan tangan yang sibuk mengusap kedua belah pipinya. "Makan sendiri, ya." Ibu Fitri memberikan piring berisi nasi dan dan telur mata sapi yang sudah ditambah kecap. "Makannya di sana, Ibu mau ngobrol dulu sama Tante Kinara," tunjuknya ke arah meja lain. "Iya," sahut Natasya disertai anggukan kepala antusias. Kedua tangan kecilnya itu memegang piring plastik dengan erat, berjalan ke arah meja di sudut ruang. Tidak jauh sebenarnya, hanya sekitar lima meter dari kursi tempat Ibu Fitri duduk. Aku menatap anak itu. Dari tempatku berdiri, aku bisa tahu jelas jika nasi dan telur di piring itu sudah dingin. Akan tetapi dari penglihatan ini juga, aku bisa menyaksikan bagaimana lahapnya Natasya menikmati makanannya. Kasihan. Pantas saja Mas Rendra selalu berusaha memberinya makanan yang dirasa 'lebih wah'. "Silakan duduk, Bu Kinara." Aku tertegun, menoleh ke arah Ibu Fitri. "Terima kasih," ucapku, lalu melangkah ke arah kursi kayu di sampingnya. "Ibu ini istrinya Pak Rendra, 'kan? Yang beberapa waktu lalu pernah ke sini bersama beliau," tukas perempuan itu dengan nada ragu setelah melihat aku duduk. "Iya, saya Kinara. Istri Mas Rendra, yang tadi menjawab telepon Ibu," sahutku. "Oh, ya. Maaf soal itu. Saya memang selalu kesulitan setiap kali menangani Natasya. Di--" "Saya mohon untuk ke depannya tidak usah menelepon suami saya lagi," potongku dengan ekspresi dingin. Ibu Fitri menampakkan raut terkejutnya. "Maksud Ibu Kinara?" "Sejak kehadiran Natasya, kehidupan rumah tangga saya dan Mas Rendra menjadi kacau dan selalu dipenuhi masalah," dalihku, kemudian menoleh ke arah Natasya. "Saya belum siap menjadi ibu sambungnya." "Tapi bagaimana pun juga dia putri Pak Rendra. Lelaki yang kini menjadi suami Ibu," bela Ibu Fitri. "Saya bahkan tidak tau jika suami saya pernah menikah sebelumnya," sangkalku lagi. Ibu Fitri terlihat menahan rasa kesalnya atas penolakanku. Dia mengembuskan napas lalu tersenyum kecil. "Itu masalah pribadi antara Ibu Kinara dan Pak Rendra. Yang harus kita utamakan sekarang adalah kondisi psikologis Natasya yang tidak bisa jauh dari ayahnya." Aku mengerjapkan mata, menoleh lagi ke arah Natasya. Anak itu ... memang terlihat berbeda sekali dibandingkan dengan beberapa waktu lalu ketika berada di rumahku. Aku tahu Mas Rendra sengaja membelikannya banyak baju baru. Piyama dan setelan perempuan dengan motif khas anak-anak. Namun sekarang, yang kulihat Natasya hanya memakai kaos lusuh dengan gambar yang sudah mulai pudar, juga rok sebatas lutut yang terlihat kusut karena tidak disetrika. Satu hal lagi. Rambutnya yang terlihat tidak terawat. Meski laki-laki, tapi Mas Rendra selalu memperhatikan kebersihan rambut Natasya. Keramas setiap hari dan mengikatnya jika sudah kering. Kini yang kulihat rambut anak itu terlihat semrawut seperti belum disisir selama berhari-hari. "Ibu Kinara," panggil Ibu Fitri. "Bukannya Ibu dan Pak Rendra belum ... memiliki anak?" Perlahan aku menolehkan kepala, masih dengan ekspresi datar sedari tadi. "Itu masalah pribadi antara saya dan suami saya," sahutku, kemudian berdiri dan melangkah ke arah meja tempat Natasya duduk. Dia terlihat tergesa-gesa menghabiskan nasi yang tinggal beberapa butir lagi di atas piring. "Tasya udah selesai, Tante," ucap anak itu dengan mulut penuh. "Tante pulang dulu. Nanti sore Tante ke sini lagi sama Papa. Mengerti?" Natasya mengerjapkan kedua matanya. Tenggorokannya terlihat kesulitan bergerak demi menelan semua makanan di mulutnya. "Tasya ikut Tante sekarang aja," pinta anak itu. "Nanti sore, atau tidak sama sekali?" Natasya terdiam mendengar perkataanku. Perlahan kepalanya bergerak samar. Menganggukkan kepala meski tampak berat, kurasa. Aku pun berbalik dan pergi dari hadapannya. Saat menuruni anak tangga, terdengar suara tangis yang sempat terhenti selama beberapa menit tadi. Lalu perempuan bernama Ibu Fitri pun sibuk menenangkan lagi. Ah, bagaimana ini? Apa yang aku katakan padanya sudah benar? Lalu, apa aku harus melakukan yang sudah aku katakan itu? Pertanyaannya adalah ... apa mungkin aku sanggup membiarkan Natasya tinggal dan hidup satu rumah bersamaku? *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN