18. Kebencian Nara

1519 Kata
"Kalau aku benci dia, aku enggak mungkin bawa dia ke dokter," sangkalku segera. "Oh, ya?" Mas Rendra menegakkan tubuhnya. "Apa bukan karena rasa bersalah, karena membuat dia terluka seperti itu?" Aku menoleh ke arah kiri, mengangkat kepala dan menatap wajah itu. "Kamu tau sendiri aku seperti apa. Aku akan mengabaikan sesuatu yang tidak aku suka," tukasku. Kuteguk sisa sirup di dalam gelas hingga tandas, menyimpan di atas meja lalu berdiri. Memutar tubuh dan menatap sorot mata dingin itu. "Harusnya kamu menyadari sesuatu. Perempuan mana yang tidak marah jika berada di posisi seperti aku? Harusnya ... kamu paham kenapa aku bersikap seperti ini. Aku ... benci dengan kenyataan ini. Lebih baik aku tidak pernah mengetahui masa lalu kamu, juga bertemu dengan putrimu itu. Dengan begitu aku yakin akan merasa baik-baik saja, tidak menderita seperti sekarang," ucapku panjang lebar. Mas Rendra tidak berkata apa-apa. Hingga akhirnya aku pun meninggalkannya sendirian di dapur. Petang datang, hingga malam menjelang. Aku tidak melihatnya atau pun sekedar berpapasan ketika hendak ke kamar mandi. Situasi pun berganti. Jika beberapa waktu lalu aku tidur di ruang tengah dan Mas Rendra tidur di kamar, kini aku yang memilih tidur di kamar dan Mas Rendra entah di mana. Kondisi itu berlanjut hingga keesokan harinya. Mas Rendra yang mendapat jatah cuti di hari terakhir hari kerja, menggunakan waktu istirahatnya itu untuk menemani Natasya sepanjang hari. Dari pagi sampai malam, dan aku hanya bisa menjadi penyimak seperti biasa. *** Terdengar ucapan salam dari arah depan, membuatku yang sedang asyik menonton televisi akhirnya bangkit untuk melihat. "Assalamualaikum, Teh Kinara." "Waalaikumsalam," sahutku seraya membuka pintu. "Bu Indah, selamat sore. Ada apa, Bu?" sapaku. "Ini, mau kasih ini." Perempuan berhijab itu memberikan kotak di tangannya padaku. "Lho, ada acara apa memangnya di rumah, Bu?" tanyaku setelah menerima kotak itu. "Biasa, haol ayah mertua. Tadi pagi saya ketemu Pak Rendra, tapi katanya enggak bisa datang." Perempuan berusia empat puluhan itu memberikan seulas senyum. "Ya sudah kalau begitu, saya pamit karena masih harus ke tempat lain. Assalamualaikum." Bu Indah pergi dari hadapan setelah aku menjawab salamnya juga mengucapkan terima kasih atas kiriman nasi kotaknya. Aku pun menutup pintu, kembali melangkah ke arah ruang tengah. Duduk dan menyimpan kotak di tangan ke atas meja. Kupalingkan wajah ke belakang, menatap pintu kamar tempat Natasya tidur. Kemudian mengalihkan pandangan ke arah jam dinding di salah satu tembok. Sudah pukul lima sore, Mas Rendra dan Natasya belum pulang juga sejak kepergian mereka pagi tadi. Ya, mereka pergi sekitar jam sembilan. Tentunya setelah menyiapkan dan menyantap sarapan bersama, tanpa aku. Biasanya, sepulang tugas luar kota Mas Rendra akan beristirahat di rumah sepanjang akhir pekan. Kali ini tidak. Dia pergi keluar bersama anak perempuan itu. Hingga kini, petang hampir tiba. Ayah dan anak itu tak kunjung pulang. Pergi ke mana mereka? Bahkan sampai matahari tenggelam dan berganti rembulan yang menggantung di langit sana, Mas Rendra dan Natasya tidak juga terlihat. Akhirnya pukul sembilan aku bersiap tidur, setelah meyakinkan diri jika Mas Rendra sepertinya tidak akan pulang. Sebelum merebahkan diri, aku memeriksa notifikasi di layar ponsel. Tidak ada pesan mau pun telepon dari suamiku. Apa dia marah? Ah, sudahlah. Jika dipikir-pikir kembali, sepertinya justru akulah yang tersiksa sekarang ini. Kusimpan ponsel di atas nakas dan bergegas berbaring di atas peraduan. Namun, baru saja akan memejamkan mata, telingaku mendengar suara tak asing. Mesin mobil yang berhenti di depan gerbang pagar. Mungkinkah itu Mas Rendra? Tanpa menunda waktu aku bangkit dan turun dari ranjang, bergerak beberapa langkah dan berhenti di samping jendela. Kusingkap sedikit tirai yang menutupi kaca, melihat ke arah luar sana. Benar, itu mobil Mas Rendra. Aku bisa pastikan dari jenis dan warnanya. Akan tetapi, kenapa dia diam saja? Lelaki itu tidak turun dari mobil dan membuka gerbang seperti biasa. Jangan berpikir dia tidak membawa kunci gerbang atau bahkan kunci pintu rumah. Semua kunci sudah dia satukan dengan gantungan kunci mobil. Itu artinya tidak mungkin jika dia lupa membawa kunci gerbang. Aku menatapnya dengan saksama, tapi sesaat kemudian berdecak kesal. Kaca mobilnya gelap, dan dia tidak menyalakan lampu. Aku tidak bisa melihat apa-apa. Kulepas tangan yang menahan kain tirai, memutuskan untuk kembali ke atas ranjang. Tunggu! Apa mungkin dia menungguku untuk membuka pintu? Bisa saja, tetapi apa alasannya? Apa mungkin Natasya tertidur hingga dia mengalami kesulitan? Akhirnya aku mengganti arah langkah menuju pintu untuk keluar dari kamar. Hampir tangan ini menyentuh anak kunci yang tergantung di paku di bagian atas pintu utama, terhenti saat menyadari ternyata Mas Rendra sedang membuka kunci gembok gerbang pagar. Kumiringkan sedikit tubuh dan melihatnya dari sela tirai. Dia sudah mendorong pagar agar terbuka lebar. Sampai akhirnya dia naik kembali ke dalam mobil dan melajukan kendaraannya memasuki halaman rumah. Aku terdiam, memerhatikan dia yang tidak langsung turun kembali dari mobil. Jelas saja aku merasa terheran. Tidak biasanya Mas Rendra membiarkan pintu pagar terbuka lama selarut ini. Tak lama kemudian lampu mobil menyala, tampak lelaki itu menyandarkan punggung ke sandaran jok. Kedua tangannya mengusap wajah hingga ke belakang, menahan rambutnya di puncak kepala selama beberapa detik. Terlihat seperti orang yang sedang frustasi. Apa ... terjadi sesuatu padanya, atau pada Natasya? Astaga, aku baru teringat anak itu. Ke mana dia? Kenapa dia tidak terlihat ada di dalam mobil? Mas Rendra menegakkan tubuh lalu mematikan lampu dengan cepat. Turun dari mobil dan menyalakan kunci otomatis berikut alarmnya. Dengan gerakan cepat lagi dia melangkah ke arah pagar, menutup gerbang dan mengunci gemboknya kembali. Aku terkesiap saat menyadari dia sudah melangkah ke arah pintu rumah. Entah kenapa rasa penasaran pun berganti menjadi panik. Aku memutar tubuh dan masuk ke dalam kamar. Mas Rendra membuka pintu lalu menutupnya. Dia juga menguncinya kembali. Sementara itu aku masih berdiri di belakang pintu kamar. Menunggu apa dia akan masuk ke dalam kamar atau tidak. Rencananya jika dia masuk, maka aku akan berpura-pura terbangun. Namun ternyata, hingga beberapa detik berlalu Mas Rendra tak jua masuk ke dalam kamar. Entah dia pergi ke ruang tengah, dapur atau mungkin kamar sebelah. Satu hal yang membuatku merasa lebih ingin tahu. Apa benar dia tidak membawa Natasya pulang? Aku melangkah ke arah jendela, menatap kendaraan berwarna putih itu. Jelas sudah tidak ada siapa-siapa di sana. Lagi pula jika anak itu tertidur, Mas Rendra sudah pasti membawanya masuk. Apa ... dia sudah mengantarkan Natasya kembali ke panti asuhan? *** Pukul lima lebih lima belas menit, ketika aku keluar dari kamar. Gara-gara kesulitan tidur dan baru bisa terlelap lewat tengah malam akhirnya mengakibatkan aku bangun kesiangan. "Astagfirullah," ucapku terkejut saat hampir bertabrakan dengan sesosok tubuh yang ternyata hendak keluar dari kamar mandi. "Mas Rendra? Maaf, aku ...." Kalimatku menggantung begitu saja. Biasanya, dia akan mengatakan maaf karena telah membuatku terkejut. Kemudian berpamitan untuk melanjutkan langkah kakinya. Ya, biasanya seperti itu. Akan tetapi kali ini tidak. Lelaki itu pergi begitu saja dari hadapanku, dan aku pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Setelah menutup pintu, aku terdiam mengingat kembali seraut wajah sendu itu. Kedua matanya terlihat bengkak. Persis seperti aku setiap kali menangisi test pack yang menunjukkan hasil negatif. Apa benar dugaanku, jika Mas Rendra menangis semalaman tadi? Dia ... menangisi Natasya. Bahkan salat Subuh-ku pun menjadi kurang fokus karena terus mengingat sorot mata yang dipenuhi kesedihan itu. Selesai salat, aku keluar dari kamar. Membuka tirai jendela di setiap ruangan agar angin sejuk di pagi hari bisa masuk ke dalam rumah. Tak lama, terdengar suara khas pedagang bubur ayam menjajakan jualannya. Itu membuatku tergugah untuk membeli. "Mang, tunggu!" panggilku ketika penjual itu mendorong gerobaknya di depan pagar. Dengan segera aku pergi ke dapur untuk membawa mangkuk. Kuambil satu mangkuk, tapi ... bagaimana dengan Mas Rendra? Aku belum menanak nasi, dan lagi sepertinya aku sedang malas berhadapan dengan kompor. Mungkin karena tubuhku yang masih terasa lemas akibat kurang tidur. Akhirnya aku mengambil dua mangkuk dan membawanya ke depan. Tampak Mas Rendra masuk ke dalam kamar mandi saat aku menyimpan mangkuk di atas meja makan. Aku pun dengan segera menyiapkan teh tawar hangat sebagai pelengkap sarapan pagi ini. "Sarapan bubur ayam, Mas. Masih panas," tawarku ketika melihat lelaki itu keluar dari kamar mandi. Mas Rendra tidak menjawab. Aku hanya bisa mengembuskan napas. Memaklumi jika dia mungkin masih bersedih. Akhirnya aku melanjutkan menikmati bubur ayam di hadapan. Hampir aku masuk ke kamar tidur untuk memberitahukan lagi pada suamiku jika bubur ayam di dapur sudah mulai dingin. Aku tahu jelas jika dia tidak suka bubur ayam dalam keadaan tidak hangat sama sekali. Akan tetapi langkahku terhenti saat menyadari Mas Rendra ternyata sedang menyalakan mesin mobilnya. Apa dia akan berangkat sekarang? Aku berbelok ke arah ruang tamu dan bergegas membuka pintu untuk keluar. Sayang, mobil itu dengan cepat keluar dari halaman rumah. Dia tetap melajukan mobilnya, meski sempat melihat keberadaanku. Dia bahkan tidak menyahut sama sekali, padahal aku memanggilnya berulang kali. Kenapa? Ada apa dengan Mas Rendra? Apa dia benar-benar sedang marah padaku? Apa ini ada hubungannya dengan Natasya? Tanpa terasa kedua tangan mengepal, disusul dengan air mata yang mulai berjatuhan membasahi pipi. Aku benci ini. Aku benci keadaan ini. Semenjak kehadiran anak itu, rumah tanggaku bersama Mas Rendra yang selama ini selalu baik-baik saja sekarang berubah penuh duri. Kenapa ini harus terjadi padaku? Kenapa harus anak itu? Kenapa?!! Ini membuatku semakin membenci dia. Aku benci dia! Aku benci Natasya! *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN