17. Gara-Gara Mochi

1225 Kata
"Ada. Tapi ... Tasya memang enggak minta bantuan," jawab Natasya dengan nada ragu, dan itu semakin membuatku cemas. "Tapi habis itu Tante Kinara datang. Dia obatin luka ini. Tadi siang Tante Kinara bawa Tasya ke dokter juga, kok. Ini, sekarang udah enggak bengkak." "Syukurlah," ucap Mas Rendra. Aku menoleh, melirik sekilas. Ah, aku iri. Mas Rendra sedang memeluk Natasya. Sepertinya laki-laki itu memang benar-benar mencemaskan putrinya. Akhirnya aku melanjutkan tujuanku menuju dapur dengan langkah cepat. Kusimpan kantong belanja di atas meja makan. Mengerjapkan mata, lalu menerawangkan pandangan ke arah jendela. Hanya ada dedaunan di luar sana, yang bergerak pelan karena tertiup angin. Namun, entah kenapa yang ada dalam benakku tidak tampak seperti itu. Justru memperlihatkan adegan ayah dan anak yang sedang berpelukan. Semua jelas, masih terbayang di pelupuk mata. Sakit? Tentu saja. Meski sudah terlanjur begini keadaannya, ternyata aku tetap belum ikhlas menerima kenyataan. Aku berpaling, merundukkan kepala. Bersamaan dengan itu setetes air jatuh membasahi punggung tangan di atas meja. Ya Allah, apa Engkau akan memberikan kesempatan itu padaku? Memang aku pernah berdoa, jika aku ingin sekali Engkau membuatku menangis menikmati momen seperti itu. Melihat Mas Rendra memeluk seorang anak. Akan tetapi, aku ingin anak itu terlahir dariku. Dari rahimku. Bukan menangis seperti sekarang. Sebab aku merasa, ini hanya air mata kesedihan karena aku merasa kalah atas takdir yang Engkau berikan. Terdengar suara langkah kaki. Segera aku mengusap pipi yang terasa basah. "Nara." Aku menoleh. Mas Rendra masuk membawa tas belanja di tangannya. "Ini mochi pesanan kamu." "Makasih," sahutku seraya menerima kantong itu. "Sama-sama." Mas Rendra tersenyum lalu memutar tubuh, keluar dari dapur. Senyum itu .... Kenapa jadi mengingatkanku pada senyum Natasya? Apa itu persamaan yang dimiliki mereka berdua? Sama-sama suka tersenyum. Aku pun melanjutkan niat semula untuk menyiapkan camilan. Dikarenakan jika pulang bepergian Mas Rendra tidak suka makanan berat, itu sebabnya aku cukup menyiapkan buah segar. Hanya dalam waktu sepuluh menit, jeruk dan apel selesai aku cuci, juga semangka dan melon yang sudah aku potong. Tak lupa mochi hasil oleh-oleh dari Sukabumi, aku hidangkan di ruang tengah. Terdengar gelak tawa dari kamar Natasya. Entah mereka sedang membicarakan apa. "Mas, mau aku buatkan teh sekarang?" tawarku, berdiri di ambang pintu. "Boleh," jawab Mas Rendra yang hanya menoleh sekejap, lalu mengarahkan kembali pandangannya ke buku cerita di tangan Natasya. Ck, mereka pasti sedang meluapkan kerinduan karena tidak bertemu selama empat hari. Aku kembali ke dapur, menyiapkan teh hangat dengan gula secukupnya dalam teko kecil. Setelah siap aku bawa menuju ruang tengah. "Uhuk, uhuk." Aku yang baru menyimpan nampan di atas meja sontak terkejut melihat Mas Rendra keluar dari kamar Natasya sambil terbatuk-batuk. "Kenapa, Mas?" tanyaku panik. Mas Rendra yang kesulitan menjawab menunjuk ke arah meja dengan satu tangan menepuk-nepuk d**a. Dengan sigap aku menuangkan air teh ke dalam cangkir keramik dan memberikannya pada suamiku. "Ini," ucapku, kemudian mengusap punggung bagian atas Mas Rendra yang sudah duduk di sofa. Sekali teguk, teh dalam cangkir habis seketika. "Papa enggak apa-apa?" tanya Natasya yang entah sejak kapan ada di samping Mas Rendra. "Gimana, udah baikan?" tanyaku juga yang hanya berjeda satu detik dari pertanyaan Natasya. "Papa enggak apa-apa," ujarnya, lalu menyandarkan punggung. Aku terdiam. Menunggu dia menjawab pertanyaanku. Namun ternyata, Mas Rendra tak kunjung berkata lagi. Kulepas tangan dari punggungnya. Hampir aku memutar tubuh untuk masuk ke dalam kamar, tapi urung ketika dengan sigapnya lelaki itu memegang tanganku. "Aku baik, makasih tehnya," tuturnya, memutar tubuh ke arahku dan tersenyum. Awalnya aku masih ingin tetap marah, tapi berpikir kembali jika melakukan itu Mas Rendra pasti akan menganggap aku bersikap kekanak-kanakan. Akhirnya aku menarik kedua sudut bibir dan membalas senyum padanya. "Sini, duduk. Temani aku makan buah yang udah kamu siapkan," pintanya. Kuberi sebuah anggukan kepala, kemudian melangkah ke arah sofa dan duduk di sampingnya. "Ambil bolunya. Biar Tante Nara bisa cobain," perintah Mas Rendra pada Natasya. "Iya, Papa." Anak itu pun melangkah ke arah kamar. "Manis melonnya," tukas Mas Rendra setalah mencicipi buah yang aku hidangkan. Aku yang sedang memerhatikan Natasya menoleh ke arahnya. "Aku beli itu selagi kamu di jalan tadi," timpalku. Mas Rendra tersenyum, lalu menusuk sepotong semangka. "Ini, Tante. Cobain. Bolunya enak, deh. Tapi makannya pelan-pelan, biar enggak tersedak kayak Papa," ucap Natasya seraya menyimpan kotak berisi kue bolu. "Makasih," sahutku diakhiri senyum ragu. Ketika memalingkan wajah ke arah Mas Rendra, lelaki itu menatapku tanpa berkedip. Aku merasa dia sedang memerhatikan sikapku. "Ayo, cobain," ujar suamiku itu. Lagi-lagi aku menarik kedua sudut bibir, lalu mengangguk samar. Akhirnya tangan kananku pun bergerak mengambil sepotong bolu pisang oleh-oleh dari Sukabumi. "Ayo, Tasya. Makan lagi. Mau bolu atau buah aja?" tawar Mas Rendra. "Tasya mau apel," sahut anak itu dengan satu menjulur ke arah buah itu. "Biar Papa potong dulu," cegah Mas Rendra, membuat Natasya akhirnya hanya duduk melihat ayahnya memotong sebuah apel. Kebetulan buah itu memang masih berbentuk utuh. Takut jika aku terlihat kurang memperhatikan, aku pun meraih kotak mochi dan mengulurkan camilan itu pada Natasya selepas bolu di tangan habis. "Ini, coba ini dulu sambil nunggu." Pisau di tangan Mas Rendra jatuh ke atas lantai karena tangan kanannya menahan jemari Natasya yang hendak mengambil satu buah mochi dari kotak di tanganku. Aku terkejut, Natasya juga. Akan tetapi, di antara kami bertiga justru Mas Rendra lah yang terlihat lebih kaget. "Kenapa?" tanyaku panik. "Jangan makan itu," ucap Mas Rendra mendorong tangan Natasya dari kotak mochi. "Jangan beri dia mochi." Kali ini dia mengalihkan pandangannya ke arahku. "Natasya alergi kacang," sambungnya. "Oh, iya lupa. Tasya 'kan kalau habis makan kacang suka gatal-gatal, Tante." Anak perempuan itu ikut menimpali. "Oh," ujarku pelan seraya menarik tangan. "Aku enggak tau." Kusimpan kotak mochi di atas meja, lalu berdiri dan pergi ke dapur. Kali ini Mas Rendra tidak menahan sama sekali. Di dapur aku mengambil gelas, sebotol air dingin dan sebotol sirup rasa jeruk. Kusimpan semuanya di atas meja makan. Akibat kejadian barusan, sepertinya kini aku membutuhkan minuman dingin yang menyegarkan. Kurang dari dua menit aku sudah duduk di kursi sembari menikmati segelas sirup yang kuharap bisa meredam sedikit kadar emosi dalam d**a ini. Meski baru beberapa minggu bertemu, ternyata Mas Rendra tahu jika Natasya memiliki alergi kacang. Bukankah, itu artinya dia sudah sangat mengenal Natasya? Ah, kenapa aku harus merasa heran. Bisa saja Mas Rendra sudah menyadari jika selama ini dia telah memiliki putri dari istri pertamanya dulu, atau mungkin sudah tahu dan bahkan pernah bertemu sebelumnya. Terdengar langkah kaki mendekat, tapi aku berpura-pura tak mendengar. Aku tetap fokus pada gelas di tangan. Meski sebenarnya merasa penasaran. Mas Rendra, ataukah Natasya yang sedang menghampiriku. "Tante, Tasya sama Papa mau keluar beli makanan. Tante mau titip apa?" Aku diam, tidak berniat menjawab pertanyaannya itu. "Tasya mau beli ayam bakar, Tante mau nggak?" Aku masih diam dan tak ingin menyahut sama sekali. "Tasya, tunggu di mobil." Kali ini aku tertegun mendengar suara itu. "Iya, Papa." Anak itu berlari kecil keluar dari dapur, kemudian suara lambat tetapi berdetak berat berganti menghampiri. "Mau makan apa?" Mas Rendra bertanya dengan suara nyaris tak bernada. "Aku enggak lapar," ketusku. Lelaki itu tak bertanya lagi. Dia bergerak memutar tubuh. "Kapan kamu mau antar dia kembali ke panti asuhan?" sambungku. Bisa kulihat dari ekor mata, jika dia berhenti melangkah. "Bukankah ... hanya sampai kamu kembali dari tugas luar kota kamu?" tanyaku lagi. Mas Rendra berbalik, melangkah ke arahku. Perlahan dia merundukkan setengah tubuhnya, lalu berbisik di samping telingaku. "Sebenci itukah kamu padanya, hingga ingin dia segera pergi dari rumah ini?" *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN