"Makan dulu. Habis itu minum obat. Nanti ... Tante ganti perban lukanya," ucapku seraya menyimpan nasi dan sayur sop di atas nakas.
Natasya yang sedang duduk di atas ranjang bergerak ke tepian dan menurunkan kedua kakinya, lalu menarik piring itu dengan satu tangan. Aku masih menatapnya, hingga kemudian dia menoleh ke arahku, kemudian tersenyum. "Terima kasih, Tante," ucapnya.
"Sama-sama," sahutku. Hampir beranjak untuk keluar dari kamar, tapi kemudian teringat sesuatu. "Bisa makannya? Apa ... mau disuapin?" tawarku ragu. Sebenarnya hanya tawaran yang tidak didasari niat tulus. Ini hanya sebagai ungkapan rasa bersalah saja karena gara-gara aku yang kurang teliti dalam membersihkan lukanya, jarinya itu akhirnya mengalami infeksi dan harus dibersihkan oleh dokter.
"Enggak usah, Natasya bisa sendiri, kok. Sekarang udah enggak terlalu sakit." Dia menjawab diakhiri senyum lebar.
Anak itu ... kenapa selalu tersenyum kepadaku?
"Tante juga pasti mau makan, 'kan?" Dia meraih sendok di atas piring. Setelah mengucap doa, anak itu pun mulai menikmati makan siangnya. Duduk di tepian ranjang dan piring yang tetap di atas nakas.
"Kalau gitu Tante ke dapur dulu," tandasku.
Natasya menganggukkan kepala dengan mulut yang terlihat penuh karena mengunyah nasi berikut potongan daging ayam yang lumayan besar.
Aku keluar dari kamar, melangkah ke arah dapur. Mengambil piring dan mengisi dengan nasi, lalu menambahkan sisa sayur sop di mangkuk. Sesaat kemudian berdecak menatap piring di depan mata. Bahkan aku dengan sukarela memberikan semua potongan ayam untuk Natasya, dan hanya menyisakan potongan wortel dan kol saja untukku.
Hm, entah itu karena aku yang terlalu baik atau merasa sangat bersalah pada dia.
Ponsel di saku daster berdentang saat aku selesai menyantap makan siang. Ternyata satu pesan baru dari Mas Rendra. Segera aku buka chat dari suamiku itu.
"Aku berangkat sekarang," tulis Mas Rendra.
Dengan cepat aku ketik balasan. "Hati-hati, Mas. Sampai ketemu di rumah."
"Iya, Sayang."
Senyum kecil terukir di wajah. Pipi ini pun terasa hangat karena membaca pesan terakhir darinya. Tidak biasanya dia memanggil Sayang padaku.
Aku memasukkan ponsel ke dalam saku daster lagi, kemudian membereskan piring kotor ke dalam wastafel. Terdengar suara langkah kaki mendekat. Aku menoleh ke belakang. Ternyata Natasya masuk ke dapur membawa piring kotor.
"Sini, biar Tante yang cuci." Aku mengambil alih piring di tangannya.
"Tasya bisa, kok," ujar anak itu, masih berdiri di tempatnya. Sekitar satu meter di belakangku.
"Udah, Tante saja. Sana, kamu nonton tivi atau buku. Papa sebentar lagi pulang," ujarku sembari membasuh piring dengan air dari kran.
"Papa pulang hari ini?" Suara Natasya terdengar senang.
Aku yang sedang memakaikan sabun pada piring di tangan, seketika terdiam. Tersadar akan sesuatu. Karena merasa senang, aku bahkan lupa pada kata-kataku sendiri.
"Iya, lagi di jalan." Kali ini aku berkata dengan nada sedikit ketus.
"Asyik, Papa pulang. Papa lagi di jalan." Anak itu berlalu dari hadapanku, keluar dari dapur dan melangkah entah ke mana.
Cerobohnya aku!
Selesai mencuci piring, aku menepati janjiku untuk mengganti perban di jari Natasya. Selama itu pula, dia terus menatap setiap gerakan tanganku dengan kedua tatapan mata polos dan lugunya. Sesekali tersenyum, lalu menatapku selama beberapa detik.
"Terima kasih, Tante," ujar anak itu, lagi-lagi tersenyum ke arahku lalu menatap jarinya sendiri.
"Sama-sama." Aku menjawab dengan suara yang nyaris tanpa nada. Beruntung lukanya itu tidak mengeluarkan darah, meski memang aku sempat melihat warna merah di bengkaknya dan menyebabkan kepala ini terasa sedikit pening. Ya, setidaknya aku bisa menguasai diri untuk tidak mual.
Demi menghindari efek yang berkelanjutan, aku memutuskan untuk membereskan kamar, ruang tamu, ruang keluarga juga dapur. Meski semua ruangan itu tidak terlalu berantakan, tapi aku harus memastikan semuanya rapi dan bersih. Aku tidak mau jika Mas Rendra menganggap istrinya ini malah berleha-leha selagi dia pergi.
Azan Ashar pun berkumandang. Segera aku mandi dan melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim. Setelahnya, berdiri di depan lemari dan memilih baju yang kira-kira bagus dan cocok untuk menyambut kedatangan Mas Rendra sore nanti.
"Gamis ini, apa gamis ini, ya? Atau ini?" gumamku sembari melihat satu persatu koleksi gamis di lemari. "Ini sepertinya bagus." Kuambil satu gamis berwarna pink pastel. Gamis yang aku beli lewat online shop dua tahun lalu. Sebenarnya aku kurang suka dengan warnanya, tapi karena saat itu Mas Rendra mengatakan gamis ini bagus dan cocok untukku, akhirnya aku pun membelinya.
"Tante cantik banget. Mau ke mana?" tanya Natasya, ketika aku keluar dari kamar. Dia sedang duduk di sofa yang letaknya berdampingan dengan pintu. Sepertinya dia sengaja duduk di sana karena sedang menunggu kedatangan Mas Rendra.
"Enggak ... ke mana-mana," sahutku sedikit malu.
"Papa masih di mana, Tante?" tanyanya lagi dengan senyum yang terus terukir di wajahnya.
"Enggak tau. Belum ada telepon lagi," tandasku. Kemudian berlalu dari hadapannya untuk menuju dapur. Niat hati ingin menyiapkan camilan, tapi aku lupa jika belum berbelanja kebutuhan bulanan. Akhirnya aku memutuskan untuk membeli beberapa jenis buah dan sayur dari minimarket di depan. Aku cukup memesannya lewat aplikasi yang tersedia dan meminta untuk diantar ke rumah.
Setelah mendapat jawaban jika pesanan akan segera dikirim, aku memutuskan memasak air panas dan memasukkannya ke dalam termos. Agar ketika Mas Rendra pulang nanti aku bisa langsung membuatkan teh untuknya.
Saat menuangkan air ke dalam termos, terdengar suara orang mengucapkan kalimat permisi. Merasa tanggung kalau harus berhenti, kuselesaikan saja mengisi termos. Setelah penuh aku pun dengan segera menutup termos dan menyimpan teko di atas kompor lagi. Kemudian melangkah lebar ke arah depan, dan terkejut saat mendapati pintu berwarna putih itu sudah terbuka lebar.
"Mamanya ke mana, Dek?"
"Ada, tapi lagi di dapur."
Apa?!
Apa yang dia lakukan?!
"Natasya!" panggilku segera.
Dia menoleh dengan tatapan polosnya tanpa rasa bersalah. "Iya, Tante."
"Masuk!" perintahku segera.
"Iya." Natasya setengah berlari ke arah pintu. Berhenti di sampingku, lalu menatap kedua mata ini dengan sorot penuh tanda tanya.
"Tante 'kan udah bilang jangan keluar," ucapku agak pelan dan menekan.
"Maaf, tadi Tasya kasian kakak itu nung--"
"Tante suruh kamu masuk, bukan bercerita," potongku kesal.
"Iya, Tante." Natasya merunduk lalu melangkah meninggalkanku.
"Maaf, saya pikir itu anaknya, Mbak." Tahu-tahu pelayan minimarket itu sudah berdiri di hadapanku.
Sontak aku menoleh. "Tidak apa," sahutku sedikit gugup, atau lebih tepatnya malu. "Berapa semuanya?" tanyaku demi menepis rasa canggung ini.
"Ini struk pembelanjaannya, Mbak." Lelaki kisaran dua puluh tahun itu memberikan sepotong kertas juga kantong belanja berisi pesananku.
"Sebentar," ucapku setelah meraih keduanya. Aku pun masuk ke dalam kamar dan mengambil sejumlah uang dari dompet.
Selesai melakukan pembayaran, pelayan itu berpamitan pergi. Aku pun masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Duduk di sofa lalu menyandarkan punggung sembari mengembuskan napas lega.
"Untung bukan karyawan yang biasa ke sini. Sepertinya dia karyawan baru," gumamku.
Kupijat pelan pelipis ini. Rasa pening yang sudah pergi, tiba-tiba datang kembali.
Rasanya, ingin segera anak itu pergi dari rumah. Agar aku tidak harus merasakan waswas terus seperti ini setiap harinya.
Aku bangkit segera, bermaksud untuk memberinya pengertian. Agar setibanya Mas Rendra di rumah nanti, dia langsung meminta pulang ke panti asuhan.
Namun, baru saja akan melangkah, suara klakson dari halaman depan terdengar. Karuan saja aku mengubah tujuan.
"Mas Rendra," bisikku senang saat melihat mobil itu berhenti di halaman. Kubuka pintu dan berdiri menyambut kepulangannya. Tampak lelaki itu keluar dari kendaraan berwarna putihnya. Aku pun tersenyum lebar saat melihat dia membalas senyum seiring langkahnya menghampiriku.
"Assalamualaikum," sapanya.
"Waalaikumsalam," sahutku. Segera aku raih tangan kanannya dan mencium punggung tangan dari lelaki yang sudah sangat kurindukan. "Sehat, Mas?" tanyaku.
"Alhamdulillah. Kamu gimana?" tanya Mas Rendra balik.
"Alhamdulillah, aku juga baik," jawabku.
Mas Rendra menoleh ke arah dalam rumah. "Tasya mana?"
Senyum di wajahku pun luntur seketika setelah mendengar pertanyaannya itu.
"Dia ... ada, 'kan?" tanya Mas Rendra lagi.
"Ada di kamarnya," ketusku sembari memalingkan wajah dari tatapannya.
Mas Rendra tak berkata apa-apa. Hanya memberikan sebuah usapan lembut di pipiku. Kemudian dia masuk ke dalam rumah. Ya, dan seperti dugaanku. Dia menemui anak itu di kamarnya. Detik kemudian, kamar yang semula sunyi pun berubah. Terdengar tawa dan teriakan gembira dari pasangan ayah dan anak itu.
Aku pernah melihat Mas Rendra memeluk Umi, juga melihatnya bercengkerama dengan Risma ditemani tawa dan canda. Saat itu, aku tidak merasakan marah sedikit pun. Justru aku merasa ikut senang atas kebahagiaan mereka.
Akan tetapi, kali ini rasanya berbeda. Entah kenapa, melihat Mas Rendra memeluk Natasya dan tertawa bersamanya, malah menimbulkan rasa iri dan cemburu yang mendalam di hati ini.
Apakah mungkin karena dia putri dari Atikah, cinta pertama Mas Rendra?
Ataukah aku merasa iri, karena aku belum sanggup memberikan seorang anak untuk suamiku?
Atau mungkin, aku cemburu pada Natasya, atas keberhasilannya dalam merebut separuh kasih sayang Mas Rendra dariku?
Aku merasa, posisiku tergeser semenjak kehadiran anak itu di hidup suamiku.
Kuraih kantong belanja di atas meja. Berniat membawanya menuju dapur. Lebih baik aku menyiapkan camilan dari pada harus menjadi penonton atas pertemuan Mas Rendra dan Natasya.
"Lho, ini tangan kamu kenapa?"
Aku menghentikan langkah di depan pintu kamar Natasya.
"Ini ... kena ... pecahan beling, Pah."
"Beling? Kenapa bisa?"
"Mangkuknya jatuh. Tasya enggak sengaja jatu ... hin."
"Memangnya Tante Kinara lagi ke mana waktu itu?"
Ya ampun, bagaimana ini?
Apa yang harus aku katakan nanti jika Mas Rendra bertanya akan hal itu juga padaku?
Dadaku berdegup kencang seketika. Rasa iri dan cemburu itu dengan cepatnya kini berubah menjadi rasa takut dan cemas. Aku kuatir jika Mas Rendra menuduhku lagi sebagai perempuan yang tidak memiliki naluri keibuan sama sekali, yang akhirnya menyebabkan aku belum juga diberi kepercayaan untuk hamil dan memiliki anak sampai saat ini.
*****