15. Karena Kehadiran Natasya

1481 Kata
Hari ketiga Mas Rendra pergi. Tidur sendiri dan bangun sendiri. Tidak aneh sebenarnya, toh bukan yang pertama kalinya aku ditinggal pergi bertugas selama berhari-hari. Bedanya hanyalah sekarang ada orang lain di rumahku. Ya, orang lain. Natasya. Anak itu tidak memiliki hubungan darah apa pun 'kan denganku? Aku keluar dari kamar untuk salat Subuh. Menengok ke arah kamar sebelah yang terbuka sedikit pintunya. Ternyata dia sudah selesai solat. Itu karena aku melihat dia sedang melipat mukena, dengan satu tangannya yang masih terlihat bengkak di bagian jari telunjuk. Aneh. Aku pernah terluka karena pecahan beling, tetapi tidak separah itu. Ah, sudahlah. Mungkin itu karena dia masih kecil. Jadi daya tahan tubuhnya masih rentan atau mungkin lemah. Akhirnya aku pun pergi ke kamar mandi kemudian melanjutkan solat di kamarku. Ponsel di atas ranjang berdering ketika aku selesai solat. Segera kuraih karena tahu itu pasti telepon dari suamiku. "Mas Rendra," gumamku senang. Segera aku tekan opsi jawab. "Assalamualaikum, Mas," sapaku sembari duduk di tepian ranjang. "Waalaikumsalam, Nara. Apa kabar?" sahut Mas Rendra. "Alhamdulilah, baik. Kamu apa kabar, Mas? Sudah makan? Lagi apa sekarang? Gimana kerjanya lancar?" Aku memberondongnya dengan banyak pertanyaan. "Kamu nanya satu-satu, dong. Mas bingung jawabnya." Suamiku itu malah terkekeh. "Ya, habis. Aku juga bingung mau tanya yang mana dulu." Aku pun tersipu sendiri. Aku membuka bibir, hendak bertanya yang lain lagi. Akan tetapi urung ketika ternyata Mas Rendra mendahuluiku dengan satu pertanyaan yang menyebalkan dan sangat menganggu mood-ku. "Natasya sedang apa?" Aku berdecih. "Ada di kamar. Entah sedang apa." "Kamu masih marah?" tuduhnya. Mungkin karena mendengar nada suaraku yang berubah seketika saat membahas anak itu. Aku terdiam. Rasanya tak perlu kujawab pertanyaannya itu. "Dia cuma anak kecil, Nara. Dia tidak tau apa-apa. Aku yang salah," lirih Mas Rendra. Kemudian hening selama beberapa detik. "Ya sudah, aku mau siap-siap dulu buat sarapan dan ke kantor. Nanti aku hubungi lagi." "Ya," sahutku singkat. "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Kuturunkan ponsel dari daun telinga. "Kenapa harus membahas anak itu setiap menelepon?" ujarku kesal seraya menyimpan ponsel di atas nakas. Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Besok 'kan Mas Rendra pulang. Itu artinya Natasya juga akan kembali ke pantai asuhan. Aku pun keluar dari kamar karena perut yang sudah terasa lapar. Pagi ini aku berencana untuk memasak nasi dan telur ceplok saja, karena memang hanya tinggal itu yang tersisa di kulkas. Selain persediaan mie instan tentunya. Kebetulan aku memang belum berbelanja kebutuhan bulanan lagi. Selesai mencuci beras dan memasukkannya ke dalam magic com, aku mengambil tiga butir telur. Tiga? Ya, tiga. Kurasa itu tidak terlalu banyak untukku dan Natasya. Tentu saja aku tidak boleh membiarkan Natasya kelaparan, 'kan? Aku mengambil wajan, menyimpan di atas kompor. "Loh, kok ... eh, mati." Aku menatap api yang tiba-tiba mengecil lalu padam. "Tasya 'kan udah bilang kalau gasnya hampir habis." Aku menoleh ke belakang. Anak itu berdiri di ambang pintu dengan dengan sorot yang menurutku seperti 'sok tahu'. Aku abaikan perkataannya itu dan memilih berjongkok untuk melihat regulator di bawah kompor. Ck, dan ternyata memang benar gasnya habis. "Tante bilang kemarin ada gas cadangan?" Aku berpura-pura menelisik jarum penunjuk di bagian regulator. "Tante bisa pasang gas?" Aku masih berpura-pura memeriksa. "Kalau aku dulu Mama suka suruh ke warung trus panggil Pak Lik Sujono buat bawa gas, terus Pak Lik yang pasang. Jadi aku langsung bisa mas--" "Tante enggak nanya, kok. Kenapa kamu cerita panjang lebar?" potongku sambil berdiri, menoleh ke arahnya yang kini sudah berada selangkah di belakangku. "Tante enggak jadi masaknya. Mau beli bubur ayam aja," ucapku. Kemudian melangkah keluar dari dapur. "Tante mau aku beliin gas? Warungnya di mana?" Anak itu mengikuti langkahku. "Enggak usah, Natasya. Tante keburu males masak," tolakku. Padahal, aku sedang kebingungan. Aku berbohong soal gas cadangan itu. Lalu kalau pun ada, aku tidak bisa memasang regulatornya kembali. Bisa saja aku melakukan cara yang diceritakan oleh anak itu, meminta si pemilik warung untuk ke rumah. Karena memang biasanya seperti itu jika Mas Rendra sedang tidak ada. Namun, apa kata Pak Tarno jika dia melihat ada anak kecil di rumahku? Akhirnya aku mengambil sejumlah uang dan pergi dari rumah setelah sebelumnya berpesan pada Natasya agar jangan pergi ke mana-mana. Siangnya, aku membeli lauk pauk di warung nasi terdekat. Untuk malam malam aku membeli pecel lele. Anak itu tampak lahap sekali setiap makan. Meski dia makan dengan sedikit kesulitan karena bengkak di tangannya belum berkurang. Bahkan yang aku lihat malah semakin membesar saja. *** "Natasya, ini bubur ayamnya." Kusimpan sebungkus bubur ayam di atas meja makan. Namun, hingga bubur ayam milikku habis anak itu tak kunjung keluar dari kamar. Kenapa? Selesai sarapan aku mencoba melihatnya ke kamar. Tampak anak itu tidur membelakangi pintu. "Natasya, kamu masih tidur?" tanyaku. Kemudian terkejut kala menyadari anak itu sedang menangis. Pelan sekali, nyaris tak terdengar. "Kenapa menangis?" tanyaku penasaran. Natasya tidak menjawab. Dia malah memperlihatkan tangannya yang membengkak itu. Kedua mataku melebar setelah melihat ada nanah di bagian luka yang terkena pecahan beling kemarin. Ah, bagaimana ini? Segera aku berlari ke kamar untuk mengambil ponsel, lalu menelepon Risma, adik iparku. "Assalamualaikum, Teh Nara," sapa Risma dengan sopan seperti biasa. "Waalaikumsalam. Ris, kalau tangan bengkak itu kenapa, ya?" tanyaku cepat. "Bengkak? Terkilir atau bagaimana, Teh?" "Mm, itu ... apa. Kena pecahan beling," jawabku gugup. "Kamu ... ingat anak tetangga Teteh yang demam itu? Nah, itu dia kena pecahan beling," terangku agar Risma tidak kebingungan. "Astagfirullah, kok bisa," ucap Risma dengan nada prihatin. "Tapi udah diobati, 'kan?" tanya kemudian. "Katanya sih dibersihkan waktu terluka itu pakai cairan Rivanol. Tapi kok, masih bengkak, ya?" tanyaku bingung. "Rivanol 'kan cuma pembersih. Teteh yakin di dalam lukanya itu enggak ada pecahan beling yang masuk?" Aku terdiam mendengarnya. "Emang bisa?" tanyaku akhirnya. "Ya, bisa dong, Teh. Pecahan kecil 'kan enggak terlihat. Lagian kenapa bisa anak kecil kena pecahan beling? Memang enggak ada orang dewasa pas kejadian dia kena pecahan beling itu?Apa mungkin dia beresin pecahan beling itu sendiri? Memangnya enggak ada yang bantuin dia buat bersihin?" Rasa prihatin Risma sepertinya berubah menjadi rasa penasaran. "Kak ... Kakak kurang tau," jawabku spontan. "Terus kalau sudah bengkak dan ada nanahnya gimana, ya?" "Bawa ke dokter aja, Teh. Harus dibersihkan itu." Aku memejamkan kedua mata. Bagaimana caranya aku membawa dia ke dokter? "Ya sudah, Teteh bilang sama ... ibu anak itu. Terima kasih banyak, ya. Assalamualaikum." "Sama-sama, Teh. Waalaikumsalam." Aku menyimpan ponsel di atas nakas. Baru saja akan beranjak untuk keluar dari kamar, benda itu kembali berdering. Bukan Risma, tapi nama Mas Rendra yang tertulis di sana. Ya ampun, bagaimana ini? Bagaimana jika dia bertanya tentang Natasya? Dengan agak ragu aku meraih benda itu dan menjawab panggilannya. "As ... salamualaikum, M-Mas." "Waalaikumsalam, Nara. Mas sore ini pulang, paling sampai rumah agak sorean. Mau titip oleh-oleh apa?" Aku menelan saliva. Bukan karena terkejut atas pertanyaannya. Mas Rendra memang selalu bertanya seperti itu setiap kali dia akan kembali dari tugas luar kotanya. Akan tetapi, entah kenapa aku malah jadi memikirkan Natasya. "Nara, kamu baik-baik aja, 'kan?" "Iya, Mas. Sebentar, aku bingung mau apa," jawabku asal. "Biasanya juga kamu minta mochi, 'kan?" "Ya ... udah. Mochi aja kayak yang biasa aku pesan," jawabku cepat. "Ini Mas lagi ada di depan toko kue bolu pisang juga. Kamu mau?" "Terserah kamu deh, Mas," sahutku lagi. "Ya udah, Mas beli, deh. Siapa tau Tasya suka. Ya sudah, nanti Mas telepon lagi kalau sudah mau pulang. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Kusimpan ponsel dengan cepat di atas nakas lalu setengah berlari ke luar kamar. Ah, jika begini jadinya aku harus segera membawa Natasya ke dokter. "Natasya, ayo bangun. Ikut Tante ke dokter!" ajakku cepat. Aku memeriksa isi tasnya, barangkali ada jaket dan celana panjang. Sayangnya anak itu tidak menjawab. Akhirnya aku hampiri lagi dia. "Natasya. Ish, anak ini," ujarku kesal. Mau tak mau aku menarik tubuhnya agar duduk, lalu memakaikan jaket pada tubuhnya. "Aw, pelan-pelan, Tante." Anak itu meringis ketika tanpa sengaja jarinya itu terkena tepian kain saat aku memasukkan tangannya ke dalam lengan jaket. "Maaf," ucapku refleks. Setelah selesai aku mengamit tangannya yang lain untuk keluar dari kamar. "Sebentar, tunggu di sini." Aku membuka pintu rumah. Melihat apakah ada orang di sekitar jalanan menuju rumahku. Biasanya di jam seperti ini suasana komplek agak sepi. Para bapak pergi bekerja dan para ibu sedang sibuk dengan pekerjaan rumahnya. "Sepertinya memang sepi," bisikku. Kemudian berbalik ke arah rumah lagi, meraih tangan Natasya agar ikut denganku. "Naik motor bisa, 'kan?" tanyaku. "Bisa, Tante. Tapi susah," jawabnya ketika akan berpegangan pada jok motor untuk naik dan duduk. Aku berdecak. Lagi-lagi mau tak mau aku memegang kedua sisi tubuhnya dan mengangkatnya agar bisa duduk di jok belakang. Aku pun naik segera di bagian depan. Melajukan motor keluar dari halaman bahkan tanpa memanaskan mesinnya terlebih dahulu. Sepanjang perjalanan aku merasakan waswas dan ketakutan. Aku kuatir ada tetangga atau orang yang kenal denganku melihat kami. Bukan apa-apa. Rasanya aku belum siap jika orang-orang tahu Mas Rendra sudah memiliki anak dari perempuan lain sebelum menikahiku. Itu artinya sama saja dengan menjatuhkan diriku, 'kan? Karena kehadiran Natasya, kini membuatku terbebani akan kondisi diriku. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN