14. Bukan Siapa-Siapa

1222 Kata
"Assalamualaikum, Teh Nara," sapa Risma setelah dia menjawab teleponku. "Waalaikumsalam, Risma." Aku menjawab gugup. "Ada apa, Teh?" tanya adik iparku itu. Mungkin karena aku terdiam selama beberapa detik. Aku menggigit tepian bibir. Bingung harus berkata apa. "Mm, gini, Ris. Teteh mau tanya sesuatu. Kalau ... anak demam itu ... gimana ya, cara turunin panasnya?" "Dikompres aja, Teh," jawab Risma. "Pakai ... handuk dan air hangat 'kan, ya?" tebakku. "Bisa. Tapi kalau mau lebih praktis Teteh bisa pakai plester kompres. Jadi enggak repot, tinggal ditempel aja." "Belinya di mana?" "Biasanya di apotek, sih. Tapi kadang di warung juga ada." "Oh, iya. Teteh coba beli," sahutku. Hampir bibir ini berkata 'terima kasih', tapi urung saat Risma berkata lagi. "Buat siapa memang, Teh?" Aku menelan saliva. "Ini, ada tetangga baru. Kebetulan punya anak kecil. Ya sudah, terima kasih banyak, ya." "Memang ibunya ke mana?" tanya Risma cepat. "Assalamualaikum," tandasku segera berpura-pura tidak mendengar. "Waalaikumsalam." Aku menutup sambungan. Menyimpan ponsel di atas meja. "Apotek? Apa aku harus ke apotek?" gumamku kebingungan. Kemudian aku menengok ke arah kamar Natasya. Anak itu masih terbaring di atas ranjangnya sambil menyembunyikan tangan di sela paha. Akhirnya aku masuk ke dalam kamar untuk mengambil dompet dan kunci motor. Setelah itu masuk ke kamar Natasya. "Tante pergi beli dulu plester kompresan. Kamu tunggu, ya." "Iya ... Tante," jawabnya di sela isak tangis. Dengan cepat aku keluar lagi dari kamarnya, lalu keluar dari rumah. Memanaskan motor dan pergi ke apotek. Aku harus cepat. Jika terjadi apa-apa pada dia, aku yang akan disalahkan oleh Mas Rendra. "Beli plester kompres untuk demam, Mbak," pintaku pada petugas apotek. "Untuk dewasa atau anak kecil, Bu?" tanya petugas itu ramah. "Anak kecil," jawabku segera. "Usia balita atau di atas lima tahun?" tanyanya lagi. "Tujuh tahun." "Mau yang dari merek apa?" Ya ampun. Membeli kompres anak saja serumit ini! "Merek apa saja, Mbak. Yang penting bisa cepat menurunkan demam," pintaku lagi. Petugas itu melangkah ke salah satu rak, mengambil beberapa kotak berukuran lumayan kecil. Dia menyimpannya di depanku dan menerangkan semua merek plester kompres itu. Astagfirullah, aku tidak menyangka jika membeli plester saja bisa membuatku kerepotan. "Ini saja," putusku cepat menunjuk salah satu kotak. "Berapa bung--" "Semua saja. Bersama kotaknya." Aku menyela cepat. "Baik." Dia pun mengambil kantong kresek dan memasukkan kotak berisi plester kompres ke dalamnya sembari menyebut sejumlah angka sebagai harga. "Ini." Kuberikan uang padanya dan mengambil alih kantong itu dengan segera. "Kembaliannya, Ibu!" teriakan pun terdengar karena aku berlalu dari hadapan perempuan berjilbab putih itu. "Sudah, untuk Mbak saja!" pungkasku cepat. Tanpa menunda waktu aku menaiki skuter matikku lagi dan pulang menuju rumah. "Mana, sini kening kamu." Aku duduk di tepian ranjang dan membuka kotak, mengeluarkan satu bungkus plester dengan cepat. "Tapi ... gimana cara pakainya?" bisikku kemudian. Akhirnya aku membaca lebih dulu aturan pemakaian. Setelah paham baru aku memasangkan satu plester di kening Natasya. "Sudah. Semoga demamnya cepat turun." Aku merapikan kotak plester dan menyimpan di atas meja. "Kamu mau makan apa?" "Terserah Tante aja," jawab Natasya pelan. Aku mengembuskan napas pendek. "Tante beli sate dulu ke depan, tapi kamu tunggu di sini." "Iya, Tante." Natasya menjawab seraya menganggukkan kepala. Kini dia sudah berbaring dengan posisi terlentang. Awalnya aku ingin memasak nasi lebih dulu sebelum pergi, tapi entah kenapa rasanya malas. Mungkin karena tenagaku habis setelah dipakai menyetrika tadi, lalu pergi ke apotek membeli plester kompres. Sekarang pun kalau bukan karena anak itu sakit, aku enggan membeli sate ke depan komplek sana. "Mang, satenya sepuluh tusuk sama nasi dua, ya?" pintaku pada pedagang sate langganan. "Eh, Teh Kinara. Ditunggu ya, Teh," sahut si amang pedagang dengan ramahnya meski sedang sibuk mengipasi pembakaran. "Iya, Mang. Enggak apa," timpalku. "Eh, Mbak Kinara. Baru kelihatan. Ke mana aja?" Seorang perempuan masuk ke kios sate dan duduk di sampingku. Tetangga dari blok sebelah sebenarnya. "Eh, Bu Aini. Ada aja, Bu. Cuma akhir-akhir ini sering kurang enak badan," jawabku. "Oh, hati-hati, Mbak. Hari gini tuh harus pintar jaga kesehatan. Apalagi kalau lagi enggak ada suami. Aris bilang Pak Rendra sedang ada tugas ke luar kota, ya?" "Iya, Bu." Aku menganggukkan kepala. Aris itu adik ipar Bu Aini. Kebetulan bekerja di kantor yang sama dengan Mas Rendra. "Ini, pesanan Mbak Kinara." Amang penjual sate memberikan pesananku. "Sate sepuluh dan nasi dua jadi empat puluh ribu." "Ini, Mang." Aku menerima kantong plastik dari tangan itu lalu memberikan selembar uang lima puluh ribu. "Lho, bukannya Pak Rendra lagi enggak ada. Kok, beli nasinya dua, Mbak Kinara?" tukas Bu Aini. "Mungkin sedang lapar, Bu," seloroh amang sate sembari memberikan uang kembalian. "Ini ... buat malam, Bu. Kebetulan enggak masak nasi," sahutku asal. "Mari, duluan," pamitku. "Iya, silakan," sahut Bu Aini. Aku berusaha terlihat biasa saja meski sebenarnya hati ini sangat kesal. Kenapa harus bertanya seperti itu? Memang kalau aku sendirian di rumah, aku hanya boleh membeli satu nasi? Cih, aneh. "Mbak Kinara, Mbak Kinara!" Aku menoleh ke belakang. Tetangga dari komplek lain lagi-lagi menghampiri. "Ada apa, Bu Santi?" tanyaku waswas karena melihat dia berlari dan berhenti di depanku. "Ini loh, Mbak. Aku dengar di rumahmu ada anak kecil. Benar enggak?" tanya perempuan berdaster motif dedaunan itu. "Kata siapa?" tanyaku dengan nada sedikit terkejut. "Kata Bu Lina dan Bu Resti. Beberapa hari lalu mereka lewat depan rumahmu dan lihat suamimu lagi mandikan mobil sama anak perempuan," terangnya. "Benar itu, kalian adopsi anak?" Kini wajahnya terlihat menyimpan sorot penasaran. "Oh, itu." Aku berkata dengan nada sesantai mungkin. "Anak saudara, kebetulan lagi main." "Anak saudara?" "Iya." "Tapi kok, panggilnya papa?" "Memang suka panggil papa. Kebetulan udah deket banget, jadi panggilnya papa," jawabku. Lagi-lagi aku harus mengarang cerita tentang keberadaan Natasya. "Saya pulang dulu, Bu. Sudah hampir magrib. Mari," pamitku segera. "Iya." Bu Santi memberi seulah senyum yang entah kenapa terlihat sangat hambar di mataku. Dengan langkah cepat aku berjalan menuju rumah. Ingin segera sampai dan bersembunyi saja. Sepertinya aku tidak boleh keluar dulu. Setidaknya sampai Natasya kembali ke panti asuhan lagi. "Ini, ayo makan. Habis itu makan obat penurun demam," perintahku. Menyimpan piring berisi nasi dan sate, juga sebungkus obat penurun demam anak. Beruntung beberapa waktu lalu Mas Rendra pernah salah beli obat untuk anaknya Risma, jadi dia membawa pulang dan menyimpannya di rumah. Natasya bangun, memutar tubuh lalu duduk di tepian ranjang. "Tapi tangan aku sakit, Tante. Aku enggak bisa makan," lirihnya. "Ya sudah, makan pakai tangan kiri saja," pungkasku. Kemudian keluar dari kamarnya tanpa memedulikan bagaimana cara dia makan. Aku sendiri pun sedang lapar dan ingin segera makan. Aku duduk di meja makan, menarik piring berisi nasi dan sate yang sudah kusiapkan sedari tadi. Kurang dari sepuluh menit, sebungkus nasi dan lima tusuk sate habis tak bersisa. Sepertinya selain rasa lapar, rasa kesal akibat pertanyaan dari dua tetangga tadi membuat nafsu makanku meningkat. Selepas makan, aku pun menyimpan piring kotor ke dalam wastafel. Kemudian memutuskan ke kamar untuk menunggu magrib tiba. "Yah, jatuh." Suara itu terdengar saat aku hendak masuk ke kamar. Aku berhenti di depan pintu, lalu memiringkan tubuh demi melihat ke arah dalam kamar di sebelah. Anak itu sedang berusaha menyuapkan nasi dengan sendok memakai tangan kirinya, dan ternyata dia terlihat kesulitan. Bahkan membuat nasi dari sendok pun berjatuhan di atas lantai. Sedikit terenyuh melihat dia kesusahan, tapi ... sudahlah. Untuk apa aku memedulikan dia. Toh, dia bukan siapa-siapa bagiku. Hampir aku melangkah, tetapi urung ketika menyadari sesuatu. Kenapa anak itu mencelupkan sate ke dalam gelas berisi air terlebih dahulu sebelum memakannya? *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN