11. Permintaan Mas Rendra (2)

1496 Kata
“Kamu seperti bukan Nara yang aku kenal,” tukas Mas Rendra yang ternyata mengikutiku ke dapur. “Dan kamu sendiri?” tunjukku ke arahnya setelah berhenti melangkah lalu berbalik ke arahnya. “Kamu pun seperti bukan Narendra yang aku kenal selama ini!” “Nara, sekali saja. Aku minta kamu luangkan sedikit waktu untuk mendengar penjelasan aku,” ujar Mas Rendra yang kini sudah berdiri di depanku. “Penjelasan apa? Penjelasan bahwa selama tujuh tahun ini kamu bohongi aku, itu? Kamu dan seluruh keluargamu sudah tega membohongi aku selama ini. Iya, ‘kan? Lalu kini, kamu datang bersama anak itu dan dengan mudahnya meminta aku untuk menerima dia di rumah ini. Anak dari hasil pernikahan kamu sama Ati—“ “Cukup, Nara!” teriak Mas Rendra. “Sifat kamu ini ternyata masih kekanak-kanakan. Mungkin ini alasannya kenapa Allah belum mempercayakan buah hati pada kita. Kamu bahkan tidak memiliki naluri keibuan sama sekali. Tidak memiliki belas kasihan pada anak sekecil itu yang hidup tanpa memiliki siapa pun di dunia ini!” Aku menatapnya. Menatap sorot mata itu. Pertama kalinya aku melihat dia berkata sekasar itu dengan tatapan semarah itu juga padaku. “Jadi, kamu lebih pilih Natasya?” tukasku dengan suara berat dan menekan. Mas Rendra memejamkan kedua matanya selama tiga detik. “Bukan begitu maksud aku, Na—“ “Aku juga hidup sebatang kara. Jika bukan karena kamu, aku pun tidak memiliki siapa pun di dunia ini. Aku seorang yatim piatu.” Aku menunjuk dadaku. “Kalau kamu memang pilih anak itu, baik, aku keluar dari rumah ini.” Kuputar tubuh untuk melangkah. “Aku suamimu, Kinara. Suamimu,” cegah Mas Rendra seraya mencekal tanganku. “Aku melarangmu untuk keluar dari rumah ini, walau cuma sejengkal pun,” desisnya di depan wajahku. Kemudian berlalu, masuk ke dalam kamar. Tanpa sadar, aku pun meluruhkan tubuh. Duduk di atas lantai bersamaan dengan runtuhnya kepercayaan hatiku pada suamiku sendiri. *** Aku terjaga kala merasakan sentuhan di lengan. “Kamu?” ujarku tak percaya pada gadis kecil di depanku. Natasya menarik tangannya dari selimut di tubuhku. “Maaf, Tante. Tadi selimutnya jatuh,” ucapnya. Aku memutar tubuh dengan sekali entak. Merasa sebal melihat dan mendengar suaranya dari dekat. “Tasya.” “Iya, Pah.” “Katanya mau solat Subuh?” “Iya.” Terdengar langkah kaki anak itu menjauh dariku. Memang jam berapa sekarang? Aku merogoh ponsel di saku daster. Ah, ternyata memang sudah Subuh. Aku pun berputar lagi. Bangkit dan duduk, lalu menggerak-gerakkan badan karena rasa pegal di sekujur tubuh. Tidur di atas sofa ternyata memang cukup menyiksa. Rasanya tidak leluasa. Kuambil bantal dan selimut, membawanya ke dalam kamar. Setelah itu aku pun mengambil wudu ke kamar mandi. “Assalamualaikum warahmatullah, assalamualaikum warahmatullah.” Aku mengusap wajah, lalu mengangkat kedua tangan ke atas. “Ini dibaca Ba, ini Ta.” “Ba, Ta.” Aku yang hendak berdoa, kehilangan fokus seketika mendengar suara-suara dari kamar sebelah. Hm, bahkan hari ini Mas Rendra sengaja tidak pergi ke masjid demi bisa salat dan mengaji bersama anak itu. Akhirnya aku menurunkan tangan, terdiam tanpa tahu harus berdoa apa. Sekitar jam enam pagi aku baru keluar dari kamar. Membawa keranjang cucian yang sudah terisi penuh. Itu karena beberapa hari ini aku malas mencuci baju. “Tante, mau sarapan. Papa sama Tasya masak nasi goreng.” Aku menutup pintu kamar, berlalu begitu saja dari hadapannya. Saat memasuki dapur, tampak lelaki itu sedang berdiri di samping meja makan. Menatapku dengan sorot datar dan tanpa ekspresi. Aku pun tak menghiraukannya. Terus berjalan menuju ke pintu penghubung menuju teras belakang, tempat di mana mesin cuci berada. “Tante Nara enggak mau makan, Pah. Mungkin belum lapar.” “Ya udah, enggak apa. Kita makan berdua dulu aja.” “Iya.” Anak itu berkata semringah. “Papa, Tasya juga mau cuci baju.” “Boleh. Nanti Papa bantu.” “Jangan, Pah. Tasya bisa cuci sendiri. Mama bilang Tasya harus jadi anak mandiri. Mandi sendiri, makan sendiri, cuci baju sendiri. Kalau Tasya udah jadi anak baik, Mama pasti cepat pulang.” Aku yang sedang memilah baju dalam keranjang tertegun seketika. Pulang? Dia bilang ... pulang? Apa itu artinya Natasya tidak tahu kalau ibunya sudah meninggal? “Kamu udah jadi anak baik, kok. Besok, selama Papa pergi kamu juga harus jadi anak baik, ya.” “Iya, Tasya janji. Tasya enggak akan repotin Tante Nara.” Apa maksudnya dari perbincangan mereka? Selesai mencuci baju, aku masuk ke dalam dapur. Mengambil gelas dan mengisinya dengan air hangat. Duduk di kursi demi mengistirahatkan tubuh. Tampak di tengah meja makan sebuah mangkuk berisi nasi goreng kecap, juga piring di sebelahnya yang berisikan satu telur ceplok. Apa mereka sengaja menyisakannya untukku? Aku memang lapar, karena belum makan sejak kemarin siang. Entah kenapa rasanya malas sekali menyuapkan makanan ke dalam mulut setiap kali mengingat keakraban di antara Mas Rendra dan Natasya. Akhirnya aku berjalan menuju rak penyimpanan makanan. Mengambil sebungkus mie rebus untuk aku masak sebagai sarapan. Terdengar suara tawa bersahutan dari arah depan. Aku yang hendak masuk ke kamar akhirnya malah mengalihkan langkah menuju pintu. “Airnya segar, Pah!” teriak Natasya. “Segar? Ini, Papa kasih lagi kalau segar.” Mas Rendra mengarahkan selang air pada anak itu. Karuan saja dia berlari menghindar sembari tertawa. Mas Rendra dan Natasya tampak asyik bermain air sambil memandikan mobil berwarna putih itu, tanpa menyadari jika di luar pagar sana ada dua ibu-ibu komplek sedang berdiri memerhatikan. Dari raut wajah mereka, pasti merasa heran karena ada anak kecil di rumahku. Ah, sudah kuduga. Ini akan segera terjadi. Orang-orang itu pasti akan semakin menyudutkanku saat mengetahui jika Mas Rendra sudah punya anak dari perempuan lain. *** “Papa berangkat sekarang?” tanya Natasya, yang berdiri di samping Mas Rendra. Sementara laki-laki itu sedang membereskan pakaiannya ke dalam tas yang biasa dia pakai jika ada tugas ke luar kota. “Iya, nanti sekitar jam delapan. Papa langsung berangkat ke Sukabumi,” jawab Mas Rendra. Aku yang sedang berdiri di balik pintu hanya bisa mengintip dari celah yang ada. Biasanya jika ada acara keluar kota seperti itu, maka aku yang akan membantunya bersiap. Menyiapkan semua keperluan pribadinya selama dia di sana. Namun, sekarang tidak sama sekali. Sejak selesai salat Subuh Mas Rendra sibuk berbenah sendirian, tanpa meminta bantuanku. Lalu, ada Natasya yang menemaninya bersiap. Sepertinya, dia tidak membutuhkanku lagi. Aku mengembuskan napas, memalingkan wajah dari percakapan dua manusia itu. Merasakan ada rasa tak biasa dalam d**a. Amarah yang selalu muncul setiap kali Mas Rendra terlihat dekat dengan wanita lain, tapi masalahnya yang sedang bersama dia saat ini adalah anak perempuan berusia tujuh tahun. Ah, kecemburuan macam apa ini? Aku melanjutkan langkah, mengambil selimut dan bantal bekasku tidur semalam. Kemudian membawanya masuk ke dalam kamar. Tanpa memedulikan keberadaan ayah dan anak itu, aku menyimpannya di atas kasur. “Tasya, bisa tunggu di kamar kamu sebentar,” ujar Mas Rendra. “Iya, Papa.” Anak itu berjalan dengan riang keluar dari kamar. “Nara, aku mau bicara.” Terasa tangan itu memegang pundakku saat aku hendak melangkah. Aku menoleh tanpa berkata apa pun. “Aku titip Natasya, selama empat hari. Kamu mau ‘kan jaga dia?” Kupalingkan wajah dari sorot mata penuh harapnya. “Aku bisa saja tetap meninggalkan dia di panti, tapi aku pikir itu bukan pilihan tepat. Kamu tau, setiap malam dia selalu menangis memanggilku. Aku jadi tidak tenang.” Aku tetap bergeming. Berusaha terlihat tidak peduli pada apa yang dia bicarakan. “Mungkin, itu karena dia berbeda dengan anak lain. Dia tumbuh di lingkungan yang ... tak seharusnya untuk anak sekecil itu. Sekarang, dampak dan pengaruhnya baru terasa.” Kedua mataku mengerjap, menunggu ucapan Mas Rendra selanjutnya. Sayangnya, dia tidak melanjutkan ceritanya. Malah meraih kedua tanganku dan menggenggamnya. “Aku mohon, kali ini saja aku meminta tolong sama kamu. Sepulang dari Sukabumi, aku akan mengembalikan dia ke panti. Meski aku tau risikonya aku harus pulang pergi ke sana lagi, tapi buatku itu tidak apa. Asalkan kamu tidak marah terus seperti ini.” Kali ini aku menoleh, menatap wajah sendunya itu. Jujur saja aku merasa terharu dengan ucapannya. Kupikir dia sudah tidak peduli lagi padaku. Mas Rendra melepas kedua tangannya dari jemariku, beralih menangkup kedua sisi wajahku. “Cuma kamu perempuan yang aku cintai saat ini. Kinara Larasati, istriku satu-satunya. Meski dulu aku pernah menikah, tapi itu semua sudah berlalu. Aku sengaja menjatuhkan talak pada Atikah sehari sebelum kita menikah agar aku bisa benar-benar menjadi suami yang baik buat kamu. Aku jatuh cinta sama kamu, sejak pandangan pertama. Aku tidak mungkin tega mengkhianati kamu.” Tanpa terasa kedua mataku menghangat, lalu buliran embun pun menghalangi pandangan. “Aku mohon, kamu mau ‘kan menjaga Natasya selama aku pergi?” tanyanya lagi. Aku menelan saliva, mengedipkan mata lalu menganggukkan kepala. Sepertinya ini bukan keputusan yang buruk. Menjaga Natasya selama empat hari, demi mempertahankan kelangsungan pernikahan kami selama tujuh tahun bukanlah hal yang berat. Meski aku tidak tahu, apa aku bisa memperlakukan anak itu dengan baik, seperti Mas Rendra memperlakukannya selama beberapa hari ini. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN