Pagi datang kembali. Waktu yang aku lewati terasa cepat berlalu meski tanpa ada sepatah kata pun yang terucap dari bibir ini. Aku diam sejak sore itu, tepatnya setelah Mas Rendra mengatakan ingin menitipkan Natasya padaku.
Ini ... pertama kalinya aku merasa benci dengan kondisi yang sedang kami hadapi selama tujuh tahun berumah tangga. Bahkan lebih menyakitkan dibanding dengan omongan para tetangga yang menganggapku mandul, dan karena hal itu pula kini aku merasa gelisah juga tertekan memikirkan kehadiran Natasya.
Apa yang akan dikatakan orang-orang tentang pernikahan kami nanti?
Apa mungkin tuduhan mereka tentang aku bukanlah perempuan yang sempurna pun akan terbukti?
Ah, rasanya aku ingin menghentikan waktu saja. Atau seandainya jika bisa, lebih baik aku putar saja. Aku mau semua kembali ke masa di mana Natasya belum hadir di antara kami.
Namun, aku tahu. Itu tidak mungkin terjadi.
Pukul delapan lebih sepuluh menit, saat aku memutuskan untuk keluar dari kamar. Seperti biasa, rasa lapar ini yang memaksa untuk pergi ke dapur. Melihat apa ada makanan atau mungkin saja Mas Rendra sudah menyiapkan sarapan seperti kemarin-kemarin.
Aku mengangkat sedikit ujung bibir, saat melihat ada piring di atas meja makan. Nasi yang dibentuk bulat ditemani telur orak-arik sebagai lauknya. Ckckck, pasti Mas Rendra kesulitan menentukan menu sarapan untuk anak itu. Secara dia hanya bisa memasak beberapa jenis makanan saja.
“Enak,” gumamku setelah mencicipi sarapan buatan suamiku. Lalu tersenyum sendiri, mengingat begitu besarnya perubahan yang terjadi selepas kehadiran Natasya. Dulu, hanya ketika aku sakit Mas Rendra mau menyiapkan sarapan. Setelah aku sudah sehat kembali, dia tidak pernah mau. Katanya, dia rindu masakanku.
Lalu sekarang, apa dia tidak merindukan sarapan buatanku lagi?
Nasi beserta telur orak-arik pun habis tak bersisa. Aku membereskan piring dan gelas kotor juga peralatan memasak ke dalam wastafel. Hendak mencucinya, tapi urung kala mendengar suara mesin mobil berhenti di depan rumah.
Sepagi ini?
Ada apa?
Sebenarnya ini memang hari Sabtu dan Mas Rendra libur bekerja. Akan tetapi, bukankah Sabtu lalu pun dia tetap pulang di waktu sore setelah seharian mengunjungi Natasya di panti asuhan. Lalu sekarang, kenapa sudah pulang?
Aku membersihkan tangan lalu bergegas berjalan ke arah depan.
“Ini rumah Papa?”
“Iya, ini rumah Papa sama Tante Nara.”
“Tante Nara itu ... yang ke panti waktu itu?”
“Iya.”
Aku mematung seketika di balik pintu. Jadi, Mas Rendra serius membawa anak itu ke rumah ini?
Pintu terbuka, sementara aku masih terdiam di tempat. Rasanya seluruh saraf di tubuhku mati, sulit bergerak.
“Assalamualai ... kum,” sapa Mas Rendra, yang sepertinya agak terkejut ketika mendapatiku ada di balik pintu.
“Assalamualaikum.” Anak itu ikut mengucapkan salam.
Aku mengerjapkan mata. Menatap Mas Rendra dan Natasya secara bergantian.
“Nara, aku ... bisa ... kita ... bicara ... sebentar,” ucap lelaki itu dengan terbata.
Aku menggelengkan kepala, berbalik dengan cepat untuk masuk ke dalam kamar.
“Tante Nara kenapa?”
“Sepertinya kurang enak badan.”
Aku menutup pintu. Menempelkan punggung di belakangnya dengan tangan kanan menutup bibir. Ya Allah, aku belum siap dengan semua ini. Semua masih terasa berat bagiku. Aku belum bisa menjadi perempuan yang ikhlas menerima takdir seperti ini dari-Mu.
“Ayo, kita siapin kamar kamu.” Terdengar ajakan Mas Rendra.
"Asyik! Tasya punya kamar sendiri."
Lagi-lagi air mataku meleleh begitu saja. Pasti Mas Rendra membawa Natasya ke kamar sebelah, karena memang hanya ada dua kamar di rumah ini. Kamar yang beberapa waktu lalu sempat aku siapkan untuk bayi Diana, dan kini ternyata Natasya lah yang berhasil mengisinya.
***
“Kita mau makan siang di mana, Pah?”
“Kamu maunya apa?”
“Tasya mau ... mie aja, deh.”
“Mie goreng?”
“Iya. Beli aja mie goreng di minimarket seperti waktu itu, terus nanti kita masak sendiri.”
“Boleh. Kalau gitu, ayo kita beli.”
Aku yang sedang berada di kamar mandi hanya bisa mendengarkan percakapan mereka. Setelah yakin mereka keluar dari rumah aku pun membuka pintu. Berjalan menuju kamar untuk menunaikan salat Zuhur.
Hingga tak berapa lama, selepas aku selesai salat terdengar kembali suara dua manusia berbeda generasi itu memasuki rumah.
“Aku mau pakai telur ceplok, Pah! Pakai nasi juga.”
“Wah, kamu lapar?”
“Iya, Tasya lapar banget.”
Mas Rendra tertawa menanggapi celotehan anak itu.
Aku menundukkan kepala, menangis lagi membayangkan kedekatan mereka. Hanya dalam waktu kurang dari sebulan, mereka bisa seakrab itu. Aku tahu jika Mas Rendra memang memiliki sifat baik, rendah hati dan mudah bersosialisasi. Namun, ini pertama kalinya aku melihat dia bisa dengan cepatnya akrab pada anak sekecil itu.
Apa itu disebabkan oleh adanya ikatan di antara mereka berdua? Ayah dan anak yang telah lama berpisah jauh dan kini dipertemukan kembali setelah kepergian mantan istri juga ibunya.
Astagfirullah, lagi-lagi aku mengingat perempuan itu. Atikah.
“Sadarlah, Nara. Dia sudah meninggal dunia.” Aku bergumam dengan kedua tangan mengusap wajah. Sangat tidak pantas jika aku cemburu pada orang yang sudah tiada, tapi apa aku juga pantas merasa cemburu pada anak kecil itu?
Ya, Allah. Tolong beri aku petunjuk atas kegelisahanku ini.
Hingga malam tiba, Mas Rendra masih asyik menghabiskan waktu bersama Natasya. Mereka melewati banyak kegiatan. Belajar menulis, menggambar, mewarnai, bahkan dia pun mengajarkan huruf Hijaiyah pada putrinya.
Itu ... membuatku benar-benar merasa iri dan cemburu. Aku merasa terkalahkan. Ibaratnya, seperti mainan yang dibuang oleh pemiliknya karena sudah mempunyai mainan yang baru. Terdengar berlebihan memang, tapi itu yang aku rasakan sekarang. Mas Rendra seperti melupakanku setelah memiliki Natasya.
Suara pintu kamar terbuka, saat aku selesai melipat mukena. Mas Rendra masuk, lalu mengambil handuk dan menggosok wajah basahnya. Aku pun membereskan semua peralatan salatku di atas meja di sudut kamar. Sempat kulihat jam weker yang menunjukkan angka delapan lebih lima menit. Sepertinya Natasya sudah tidur dan Mas Rendra bisa meninggalnya sendiri di kamar.
Aku melangkah melewatinya yang masih berdiri di depan lemari.
“Nara,” panggil Mas Rendra saat aku hendak menarik handel pintu.
Aku menolehkan kepala.
“Mau ke mana?” tanyanya.
“Minum,” jawabku asal. Padahal aku sengaja keluar demi menghindar darinya.
“Air minum sudah ada di situ,” tunjuk Mas Rendra ke arah meja di samping ranjang.
Aku pun membuang muka dari tatap matanya. Kebingungan mencari alasan apa lagi.
“Boleh aku bicara sesuatu.” Tahu-tahu dia sudah berada di sampingku.
Aku bergeming. Masih berdiri di depan pintu.
“Aku tau kamu marah dengan keputusanku ini, tapi aku terpaksa melakukannya, Nara. Aku enggak tau harus bawa dia ke mana lagi.”
Dadaku mulai merasa sesak mendengarnya menyebut kata ‘dia’, yang kutahu pasti itu adalah Natasya.
“Kamu tau tentang Atikah dari siapa?” Satu tangan Mas Rendra meraih tanganku.
Aku tak menjawab, hanya mengedipkan dengan wajah yang masih enggan untuk menatapnya lagi.
“Umi, ‘kan?” tebaknya. “Kalau kamu bertanya soal pernikahanku dulu dengan Atikah pada Umi, itu artinya kamu tau Umi tidak pernah setuju jika aku menikah dengan ... Atikah. Iya, ‘kan?”
Aku menarik tangan, tapi sayangnya Mas Rendra menggenggamnya dengan sangat kuat.
“Aku pikir, dengan membawa Natasya ke sini, dia bisa mengisi kekosongan hati kita selama ini,“ lirihnya. “Bukankah kamu sempat ingin mengadopsi anak lain untuk kamu urus?”
Kali ini aku mengalihkan pandangan mataku padanya. Menatap dengan tajam. “Itu tidak sama,” dalihku.
“Maksud kamu?” Mas Rendra seolah tidak paham dengan perkataanku.
“Ini beda, Mas. Beda,” sanggahku lagi. “Aku ingin mengadopsi anak Diana, karena tau siapa dia. Dan lagi kita tidak ada hubungan darah sama sekali. Tapi Natasya, dia anak kamu sama Atikah. Istri pertama kamu yang selama ini belum pernah kamu ceritakan sama aku,” tegasku panjang lebar.
“Tapi dia sudah meninggal, Nara. Dia sud—“
“Dia cinta pertama kamu. Iya, ‘kan?” tukasku.
Mas Rendra mengerjapkan kedua matanya. “Kamu masih cemburu sama dia?”
“Terserah kamu mau berpikiran seperti itu padaku. Tapi yang jelas, aku enggak mau Natasya tinggal di rumah ini. Dan kalau kamu masih bersikeras menitipkan anak itu padaku ....” Aku menelan saliva, bersiap mengatakan kalimat selanjutnya. “Aku pergi dari rumah ini,” ancamku, lalu dengan sekuat tenaga menarik tangan dari genggamannya.
Kedua mata itu menatap tak percaya. “Nara,” panggilnya, tapi aku tidak peduli. Aku tetap keluar dari kamar meninggalkannya yang masih berdiri mematung.
*****