Malam semakin larut, tapi entah kenapa aku enggan beranjak dari dudukku di atas sajadah. Aku tidak menangis, aku hanya diam. Meski begitu, dalam hati ini terus berusaha mempercayai apa yang sudah terjadi hari ini. Kejadian tadi sore, di saat Mas Rendra dengan sengaja mempertemukan aku dan Natasya, putrinya bersama Atikah.
Kemudian, terbayang kembali kilasan itu. Fakta yang menyatakan, bahwa suami yang selalu aku anggap baik, jujur, bertanggung jawab dan tidak akan pernah menyakitiku, kini musnah sudah.
“Maksud kamu ... dia anak kamu dengan ... Atikah?” tanyaku dengan nada berat.
Mas Rendra menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum getir. “Maaf.”
Aku mengangkat tangan, menahan sakit dalam d**a. Rasanya seperti dihujani ribuan pisau yang menusuk secara bersamaan. Perih tak tertahan.
“Papa, ini siapa?” ucap anak itu dengan raut polosnya setelah melepas pelukan di bagian bawah tubuh Mas Rendra.
“Namanya Tante Nara,” jawab Mas Rendra dengan lembutnya.
“Oh,” timpal anak itu. Dia menatapku selama beberapa detik lalu tersipu malu. Sepertinya dia tidak tahu atau mungkin tidak akan paham jika aku ini istri dari laki-laki yang dia panggil Papa.
Papa?
Ya, anak itu memanggil suamiku dengan sebutan Papa.
Kenapa rasanya sungguh tidak nyaman mendengarnya. Terasa aneh dan tidak cocok, menurutku. Apa karena dia bukan anak kandungku?
Kupikir, anak yang akan memanggil Mas Rendra dengan sebutan Papa atau Ayah hanyalah anakku saja. Meski aku tidak tahu, kapan itu terjadi.
Hampir aku melangkah pergi untuk meninggalkan dia dan anak itu, tapi Mas Rendra menahan dengan cara memegang lenganku. “Jangan pergi, aku mohon,” pintanya dengan sorot mata sendu.
Mendengar permintaannya itu, aku mengurungkan niatku. Mas Rendra mengajak Natasya turun ke bawah. Menikmati makanan yang dia beli di perjalanan tadi di halaman depan. Tampak sekali jika anak itu menyukai ayam goreng dan kentang goreng yang Mas Rendra bawa.
“Enak ayamnya?” tanya Mas Rendra.
“Enak, Papa. Kentangnya juga enak,” jawab Natasya.
“Bu Fitri bilang kamu belum makan?”
“Belum. Tasya nunggu Papa.”
Lalu Mas Rendra mengusap puncak kepala anak itu disertai seulas senyum, dan aku hanya jadi penonton di antara keakraban mereka. Hingga akhirnya sekitar jam empat sore Mas Rendra mengajakku pulang, setelah sebelumnya mengatakan pada Natasya jika dia akan datang lagi besok pagi.
Selama perjalanan aku diam, tak sanggup untuk berkata apa pun. Aku muak, aku benci, aku kesal dengan semua ini. Namun anehnya, aku tidak tahu harus berbuat apa. Karena sejujurnya ketika melihat kedekatan Mas Rendra dengan Natasya, membuatku menyadari sesuatu. Ternyata selama ini, di balik kata-katanya yang selalu menguatkan aku dan meminta untuk bersabar menunggu, Mas Rendra juga menginginkan sosok buah hati di dalam hidupnya.
Iya, ‘kan? Karena aku bisa melihat itu dari perlakuan Mas Rendra pada Natasya
Mobil berhenti di pekarangan rumah. Mas Rendra melepas sabuk pengamannya, lalu membuka pintu.
“Jadi, setiap pagi kamu sibuk menyiapkan sarapan, pulang terlambat bahkan sudah makan malam di luar, semua karena anak itu?” tukasku, membuat dia mengurungkan niatnya untuk keluar dari mobil.
Mas Rendra duduk kembali, menoleh ke arahku. “Maaf, Nara,” ucapnya, yang kuanggap sebagai jawaban ‘ya’ atas pertanyaanku.
“Jahat kamu, Mas,” desisku. “Ternyata aku salah karena sudah mempercayai ucapan Umi yang mengatakan kalau kamu itu enggak akan pernah tega buat menyakitiku.”
“Dengar dulu, Nara. Aku terpaksa mel—“
“Cukup! Aku enggak mau dengar penjelasan kamu,” selaku, lalu keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
Itulah perbincangan terakhirku dengan Mas Rendra sore tadi, dan sampai detik ini kami masih saling diam dengan kesibukan kami masing-masing. Dia yang sibuk menikmati perannya sebagai ayah, dan aku yang masih sibuk untuk berusaha meyakinkan diri ini, jika aku bisa menerima kehadiran Natasya di kehidupan rumah tangga kami.
Akan tetapi, bagaimana jika seandainya aku tidak sanggup?
Apa yang harus aku lakukan?
***
Terdengar suara mesin mobil pergi meninggalkan halaman. Aku pun membuka selimut, berhenti dari pura-pura tidurku. Perut yang sudah terasa lapar sejak Subuh bahkan harus aku tahan.
Aku turun dari ranjang, keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur. Namun, langkahku terhenti saat baru saja sampai di ambang pintu. Kedua mataku mengerjap, tak percaya dengan apa yang aku lihat saat ini.
Di sana, di atas meja makan. Telah tersaji beberapa potong roti bakar isi selai coklat kacang dan segelas s**u. Apa dia sengaja menyiapkannya untukku?
Aku dekati perlahan, dan menatap menu sarapan itu. Ternyata ada kertas kecil terselip di bawah gelas.
‘Untuk istriku tersayang, selamat sarapan,' tulisnya.
Aku menghempaskan tubuh seraya menyimpan kertas itu di atas meja. Biasanya aku akan sangat senang jika mendapatkan perlakuan seperti ini, tapi entah kenapa pagi ini hatiku terasa biasa-biasa saja. Terlebih saat mengingat jika sarapan yang dia siapkan bukan hanya untukku saja. Pasti Natasya pun dibawakan roti dan s**u seperti ini.
Kuraih gelas itu dan meneguknya. Masih terasa hangat. Sepertinya Mas Rendra tahu kalau aku akan keluar dari gelungan selimut selepas dia pergi. Akhirnya dalam sekejap waktu aku menghabiskan sarapan itu.
Setelah mencuci piring dan gelas kotor, aku kembali ke kamar. Terdengar dering ponsel yang aku simpan di samping bantal. Segera aku duduk di tepian ranjang dan mengambil benda itu. Ternyata Umi menelepon.
Apa ... ini artinya Umi juga tahu tentang keberadaan Natasya?
Aku berdehem sebelum menjawab panggilan dari mertuaku itu. “Assalamualaikum, Umi,” sapaku dengan nada ramah.
“Waalaikumsalam, Nara. Bagaimana kabar kamu? Risma bilang kamu sakit?” tanya perempuan itu dengan nada lembut seperti biasa.
“Alhamdulilah, sudah lebih baik, Umi. Umi sendiri bagaimana kabarnya?”
“Alhamdulilah, baik. Risma bilang kemarin lupa mau kasih tau Umi. Umi minta maaf belum sempat menengok.”
“Tidak apa, Umi. Nanti saja Nara yang menengok Umi,” dalihku.
“Boleh Umi tanya sesuatu?”
Aku menautkan kedua alis. “Tentang apa, Umi?” tanyaku waswas.
“Kamu ... tidak marah ‘kan sama Umi?”
“Marah kenapa?”
“Tentang pernikahan Rendra dan Atikah. Demi apa pun, Umi tidak berniat menutupinya, hanya saja Umi berpikir untuk apa kamu tau, toh itu cuma masa lalu Narendra. Lagi pula, Umi tidak pernah setuju jika putra Umi satu-satunya menikah dengan perempuan ... seperti Atikah.”
“Tidak apa, Umi. Nara mengerti. Umi tidak usah cemas. Nanti jika waktunya sudah tepat Nara sendiri yang akan menanyakan tentang ini pada Mas Rendra.”
“Ya, baiklah. Umi pikir itu lebih baik. Kalian yang harus menyelesaikan masalah dalam rumah tangga kalian, jangan sampai ada orang ketiga yang ikut campur.”
“Iya, Umi."
“Kalau begitu sudah dulu, ya. Umi ada acara di luar. Kamu hati-hati di rumah, jangan sampai telat makan. Kalau masih sakit jangan terlalu cape.”
“Iya, Umi. Terima kasih banyak sudah mencemaskan Nara.”
“Kamu putri Umi. Jelas saja Umi kuatir.”
Aku menutup sambungan setelah Umi mengakhiri obrolan dengan ucapan salam. Terdiam memikirkan sesuatu. Apa itu artinya Umi tidak tahu jika Atikah sudah meninggal?
Apa itu artinya Umi juga tidak tahu kalau Mas Rendra memiliki anak dari pernikahannya dengan Atikah?
Jangan-jangan, memang Mas Rendra yang tidak memberitahukan itu semua?
Jika begini adanya, apa aku harus mengatakan ini semua pada Umi? Tentang meninggalnya Atikah dan Natasya yang berada di panti asuhan?
Hingga sore menjelang, pikiran itu terus menggangguku. Antara berkata jujur pada Umi atau tidak. Jika aku jujur, aku takut terjadi apa-apa pada Umi. Aku tahu pasti ini akan menyakiti perasaan ibu mertuaku, karena beliau pernah berada di posisi seperti aku sekarang. Ya, meski bedanya aku belum memiliki anak. Namun aku tahu pasti rasa sakit yang kami alami sama.
Sebenarnya, Umi terbilang sangat keras mendidik Mas Rendra, karena beliau pernah dikecewakan oleh suaminya. Saat Mas Rendra menginjak SMP, ayahnya pernah menikah lagi dengan perempuan yang jauh lebih muda. Meski sekarang sosok Abah sudah tidak ada di dunia, tapi aku tahu Umi masih bisa merasakan sakit hatinya itu jika mengingat masa lalunya.
Terdengar ucapan salam dari pintu depan. Aku yang masih memasak untuk makan malam jelas merasa terheran. Tidak biasanya Mas Rendra pulang lebih awal. Maksudku, setelah beberapa hari ini selalu pulang terlambat.
“Assalamualaikum,” sapa Mas Rendra lagi, berdiri di pintu penghubung dapur dan ruang tengah.
“Waalaikumsalam,” sahutku. Mematikan kompor lalu melangkah menghampirinya. “Tumben jam segini udah pulang. Enggak ke panti dulu?” tanyaku dengan nada sedikit ketus setelah mencium punggung tangannya.
“Ada sesuatu yang mau aku bicarakan sama kamu, Nara,” ujar Mas Rendra dengan nada serius.
“Apa?” tanyaku lagi. Berpura-pura terlihat datar padahal aku sangat penasaran. Apa ada hubungannya dengan Atikah atau Natasya?
“Akhir pekan ini aku ditugaskan untuk keluar kota selama seminggu.”
Aku menyipitkan mata. “Terus?”
“Aku ... bingung bagaimana dengan Natasya.”
Aku memutar bola mata. Membuang wajah dari tatapannya. “Kamu takut dia merindukan kamu?” sindirku.
“Bukan seperti itu, Nara. Kamu tau dia itu sedikit berbeda dengan anak lain. Dia ....” Mas Rendra mengembuskan napas, terlihat kebingungan dengan apa yang akan dia katakan.
Aku pun berbalik untuk menghidupkan kompor lagi.
“Aku mau titip Natasya sama kamu selama seminggu. Boleh, ‘kan?”
Aku tertegun mendengar perkataannya. Memutar tubuh lagi lalu menghampirinya. “Kamu lagi bercanda, ya?”
“Aku serius,” sahutnya, lalu meraih tangan kananku. “Aku mohon. Hanya seminggu saja,” pintanya lagi dengan sorot penuh harap. “Tolong jaga dia.”
Aku menarik tangan dengan sedikit mengentak. “Jangankan untuk mengurusnya. Melihat dia ada di rumah ini pun, aku tidak sudi!” tandasku dengan nada tinggi. Aku pergi meninggalkannya, memilih masuk ke dalam kamar. Menumpahkan bendungan air mata yang tak bisa kutahan lagi.
Cobaan apa lagi ini, Ya Allah?
*****