8. Natasya

1157 Kata
“Nara, apa ini?” Aku mengangkat kepala yang merunduk di antara lutut. Menatap wajah itu dengan mata yang masih berurai air mata. Bahkan aku belum bisa meredakan tangis, saat Mas Rendra berjongkok dan memunguti sobekan kertas di hadapannya. Tanpa banyak bicara dia berdiri membawa serpihan foto itu dalam genggamannya, lalu memasukkan ke dalam tempat sampah di samping lemari buku. Aku memerhatikannya tanpa berniat beranjak dari dudukku. Semua masalah yang sedang aku tanggung saat ini rasanya membuatku tak kuasa untuk berdiri. Mas Rendra menurunkan tubuhnya lagi, lalu mengusap bahuku. “Aku tau kamu marah, aku bisa mengerti itu. Tapi satu hal yang perlu kamu ketahui. Saat ini, cuma kamu satu-satunya perempuan yang aku cintai di dunia ini,” ujarnya. Aku tak berkata apa pun karena bibir ini sibuk tersedu-sedu. Mas Rendra berdiri kembali, masuk ke kamar. Hingga dia berangkat bekerja, aku masih duduk di tempatku. Laki-laki itu pun sepertinya enggan untuk menenangkan lagi, karena mungkin dia tahu ini akan terasa sulit. Baginya untuk membujuk, dan bagiku untuk memaafkan. Siang menjelang saat tangisku sudah reda. Aku berdiri karena perut yang terasa perih. Bagaimana tidak lapar, makanan terakhir yang aku nikmati adalah sebungkus roti dan setengah gelas s**u full cream buatan Mas Rendra semalam. Kuputuskan untuk membuat segelas teh manis saja, dan setelah itu mandi untuk menunggu Zuhur tiba. Terdengar suara mesin mobil berhenti di depan rumah. Aku menoleh ke arah jam weker di atas nakas. Hampir pukul satu siang, tapi kenapa Mas Rendra sudah pulang? Terdengar pintu terbuka lalu tertutup. Sepertinya tadi pagi karena melihatku menangis, Mas Rendra membawa kunci cadangan dan mengunci pintu dari luar. Tak lama pintu kamar terbuka. Tampak sosok itu berdiri di ambang pintu selama beberapa detik. Aku yang masih duduk di atas sajadah pun rasanya sulit untuk berdiri dan menghampirinya seperti biasa. Apa ini karena amarah dalam dadaku padanya? Mas Rendra melangkah ke arahku tanpa menyimpan tasnya. Berjongkok kemudian mengusap bagian samping kepalaku. “Aku sengaja izin dari kantor, mau ajak kamu ke suatu tempat. Siap-siap, ya,” ucapnya, lalu berdiri lagi dan melangkah ke arah meja kerjanya. Sengaja izin dari kantor? Itu artinya ini benar-benar penting. Awalnya aku merasa ragu untuk menerima ajakannya, tapi jauh di lubuk hati ini, aku juga merasa sangat penasaran dan ingin tahu. Apa sebenarnya yang ingin dia tunjukkan? Apa ini ada hubungannya dengan nama kontak itu, Ibu Fitri? Ataukah Atikah, istri pertamanya? Aku harus mengetahuinya segera. Aku tidak bisa membiarkan perasaanku terombang-ambing seperti ini. Akhirnya aku putuskan beranjak dan segera mengganti baju. “Sudah makan siang?” tanya Mas Rendra selepas aku duduk di jok penumpang di sampingnya. “Belum,” jawabku singkat. “Aku juga belum, nanti kita makan siang sama-sama,” tuturnya, lalu menyalakan mesin mobil. Melajukan kendaraan keluar dari halaman. Sepanjang jalan aku diam karena tidak tahu harus membicarakan apa dengannya. Lagi pula, kulihat Mas Rendra pun seperti sedang tidak ingin banyak bicara. Dia terlihat terlalu fokus mengendarai mobilnya. “Sampai?” tanyaku ragu, ketika mobil berhenti di depan sebuah restoran cepat saji. “Belum,” jawabnya diakhiri seulas senyum, lalu mematikan mesin mobil. “Mau makan apa?” lanjutnya. “Apa aja,” sahutku asal. Sebenarnya agak ragu jika aku bisa makan atau tidak, karena saat ini yang aku rasakannya hanyalah ketakutan dan kecemasan atas apa yang aku ketahui sebentar lagi. Mas Rendra turun dari mobil, masuk ke dalam restoran itu. Sebisa mungkin aku menenangkan diri, menarik napas dan mengeluarkannya berkali-kali. Berharap debar jantung sedikit lebih tenang, dan prasangka dalam hati bisa kutepis jauh-jauh. Banyak hal yang terus melintas di benakku. Ada hubungan apa antara Mas Rendra dan Ibu Fitri? Sehingga dia sering menelepon suamiku hingga membuatnya tertawa dan tersenyum sendiri. Atau, apa mungkin ini berhubungan dengan Atikah? Apa benar dugaanku, Mas Rendra membawa mantan istri pertamanya itu dari Yogyakarta ke Bandung dan mereka masih sering berhubungan selama ini? Mantan? Bagaimana jika seandainya mereka tidak benar-benar bercerai? Aku memejamkan mata. Rasa panas mulai menguasai kelopak mataku lagi. Tidak. Tidak. Aku tidak boleh menangis di sini. Aku harus bisa menahannya. Kubuka mata, mengibaskan kedua tangan ke arah wajah. Kuhentikan gerakan tangan saat mengetahui Mas Rendra sudah masuk dan duduk di jok kemudi. “Banyak sekali?” Refleks aku bertanya seperti itu karena melihat dia membawa kantong berisi banyak makanan. Ada ayam goreng, kentang goreng, burger, juga minuman. Semua itu dia beli dalam jumlah dua untuk setiap jenisnya. “Nanti kita makan sama seseorang,” sahutnya, sembari menyimpan kantong itu di jok belakang. Seseorang? Siapa? Mobil kembali melaju menembus keramaian kota. Aku pun terdiam lagi, terhanyut dalam banyak pertanyaan yang semakin membuat dadaku terasa sesak. Apa benar dugaanku, ada orang ketiga di kehidupan rumah tangga kami? Menit demi menit berlalu dalam kebisuan di antara kami, hingga akhirnya mobil berhenti di depan sebuah bangunan berpagar putih. Aku menautkan kedua alis ketika membaca papan nama di bagian depan. Panti Asuhan Kasih Bunda. Kenapa ... harus panti asuhan? “Ayo, turun,” ajak Mas Rendra, membuatku terenyak dari lamunan. Segera aku melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil, mengikuti langkah suamiku memasuki rumah besar itu. Ketika menginjakkan kaki di lantai marmer putih itu, hal pertama yang aku lihat adalah anak-anak. Tentu saja, karena ini adalah panti asuhan. Aku terus melangkah mengikuti Mas Rendra meski sejujurnya belum tahu dia akan membawaku ke mana dan menemui siapa? “Pak Rendra,” sapa seorang perempuan bergamis pink muda tak lama setelah kami memasuki rumah. “Bu Fitri,” sahut Mas Rendra. “Sedang apa dia?” “Seperti biasa, duduk sendirian di atas ranjangnya. Menolak diajak main, menolak makan, bahkan menolak perhatian teman-temannya,” sahut perempuan bernama Ibu Fitri itu diakhiri senyum kecut. Jika dia Ibu Fitri, lalu siapa yang akan Mas Rendra temui? “Oya, kenalkan. Ini Kinara, istri saya,” ucap Mas Rendra. Aku pun mengulurkan kedua tangan menyambut salam tangan darinya. “Silakan, langsung masuk saja,” tuturnya. “Kami permisi dulu kalau begitu,” pamit Mas Rendra, yang ditanggapi oleh sebuah anggukan kepala. Mas Rendra melangkah, membawaku naik ke lantai atas. Aneh, dia masuk ke rumah orang lain seolah memang sudah terbiasa berada di sini. Aku pun terus mengikutinya dari belakang, hingga kemudian dia berhenti dan berdiri di sebuah ruangan dengan pintu yang terbuka lebar. Banyak ranjang di dalam ruangan itu, juga suara anak-anak yang sedang bermain. Mas Rendra terdiam selama beberapa saat, lalu menoleh ke arahku. Dia tersenyum disertai anggukan kepala. Entah isyarat apa, yang jelas aku mengartikannya sebagai permintaan agar aku menyiapkan diri untuk menghadapi ini. “Papa!” Tiba-tiba teriakan itu terdengar, entah dari mana. Aku yang merasa terkejut mendengarnya, semakin merasa shock ketika tahu-tahu seorang anak berlari ke arah kami dan memeluk Mas Rendra. “Papa,” panggil anak kecil itu lagi. Anak perempuan, dengan rambut panjang dikepang dua. “Papa?” gumamku tak percaya. “Namanya Natasya. Dia ... putriku, Nara,” ucap Mas Rendra. Kata-katanya pelan dan bernada biasa, tapi entah kenapa bagiku justru ucapannya terdengar seperti petir di siang bolong yang berhasil menyambar diriku. Natasya? Putrinya? Apa ini maksudnya? *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN