7. Telepon Dan Kepergian Rendra

1331 Kata
Hampir aku menekan tombol jawab, tapi urung saat mendengar suara motor yang berhenti di depan rumah. Akhirnya aku memasukkan kembali ponsel itu ke dalam tas meski deringnya belum berhenti. Kemudian membenahi diri lagi seperti semula, sebelum Mas Rendra pergi. Terdengar pintu depan terbuka, lalu tertutup. Langkah kaki dengan agak mengentak menuju dapur, kemudian berbalik lagi. Pintu kamar pun terbuka, Mas Rendra datang membawa plastik di tangan kiri dan sendok di tangan kanan. “Tukang buburnya sepi, jadi enggak lama,” ucapnya seraya membuka kemasan bubur. “Aku suapi, ya?” sambungnya. Aku pun membuka mulut dan menerima suapan darinya. Selagi mengunyah, kulirik tas di sebelah kiri. Mencoba mendengarkan jikalau ponsel Mas Rendra berdering lagi. Karena ternyata suaranya itu berhenti saat dia baru saja masuk rumah, dan sekarang belum terdengar berbunyi kembali. “Sudah,” tolakku disuapan kelima. “Buburnya masih banyak. Habiskan, ya?” bujuk Mas Rendra. Aku menggelengkan kepala. “Satu lagi kalau gitu.” Mas Rendra tetap membujuk. Akhirnya aku membuka mulut demi suapan terakhir darinya. Setelah itu aku meminum obat dan berbaring lagi, sedangkan Mas Rendra membereskan semuanya, keluar dari kamar untuk menyimpan sisa bubur ke dapur. Lalu, suara itu terdengar lagi saat Mas Rendra baru saja masuk ke dalam kamar. Dering panggilan masuk dari ponsel yang disimpan di tas kerja. Lelaki itu dengan segera menutup pintu dan melangkah cepat ke arah ranjang. “Dari tadi bunyi terus. Siapa?” tanyaku. Dia hanya tersenyum kecil seraya membuka tas dan mengambil ponselnya. “Aku jawab dulu,” pungkasnya, keluar lagi dari kamar. Setertutup itu dia sekarang? Padahal jauh sebelumnya, jika ada telepon masuk entah dari siapa pun, Mas Rendra selalu menjawabnya di depanku tanpa rasa canggung dan takut. Mengobrol seperti biasa meski itu permasalahan tentang keluarganya, pertemanannya atau pekerjaannya. Tak ada yang dia tutupi dariku. Kini, semenjak kedatangannya dari Yogyakarta itu, dia tampak berbeda. Mas Rendra berubah 180°. Seperti bukan Narendra yang aku kenal tujuh tahun lalu. Pintu kamar terbuka, sosok itu masuk kembali dan duduk di tepian ranjang membuka tas kerjanya. Aku yang masih berbaring di bawah selimut pun mencoba bertanya lagi. “Telepon dari siapa, Mas?” “Di dapur ada buah mangga. Apa itu dari Risma?” Dia malah balik bertanya. “Ya, tadi Risma ke sini. Telepon dari siapa?” “Mau aku kupasin?” Mas Rendra berdiri, menyimpan tas di meja. “Atau mau aku belikan sesuatu? Habis Magrib nanti aku keluar cari makan.” Dia berbicara dengan posisi membelakangiku, kedua tangannya sibuk membenahi meja di sudut ruang tempat dia menyimpan laptop dan berkas-berkas pekerjaannya. Aku tak menjawab, lebih memilih memutar tubuh membelakanginya. Hingga akhirnya tak terdengar lagi suara di antara kami, karena aku dan Mas Rendra memilih saling diam selama beberapa saat. Sekitar jam delapan, aku kembali meminum obat setelah Mas Rendra membuatkan segelas s**u juga membawa beberapa bungkus roti yang sengaja dia beli di minimarket. Itu karena ketika dia bertanya aku ingin apa, aku tidak menjawab. Kupikir dia bisa mengartikan jika itu adalah bentuk penolakan dariku. Entah penolakan untuk tawarannya, atau penolakan atas sikapnya itu. Satu hal yang membuatku bingung adalah dia tidak bisa berkata jujur, tapi tetap bersikap lemah lembut dan perhatian padaku. Apa mungkin karena aku sedang sakit? Atas mungkin ini adalah ungkapan rasa bersalahnya padaku? Bahkan dia terus memaksaku untuk memakan sebungkus roti dan beberapa teguk s**u buatannya itu. Apa dia ingin aku sehat lebih dulu sebelum akhirnya mengatakan semua kejujuran yang dia tutupi selama ini? Ah, ini membuatku semakin cemas dan serba salah. Apa yang harus aku lakukan? Aku membuka mata ketika merasakan ada pergerakan di samping tubuh. Ternyata Mas Rendra membaringkan tubuhnya. Itu artinya dia sudah bersiap untuk beristirahat malam ini. “Belum tidur?” tanya lelaki yang memakai kaos putih polos itu. “Enggak bisa,” sahutku lemah. Memang sejak tadi pun aku belum bisa tidur dengan nyenyak, rasa pusing dan dingin di sekujur tubuh membuat kedua mata ini enggan terpejam lama. “Mau aku peluk?” tawarnya. Aku tahu dia berkata seperti itu, karena kebiasaanku jika sakit selalu ingin dipeluk olehnya. Mas Rendra merapatkan tubuhnya, melingkarkan tangan kirinya di pinggangku. Sebuah kecupan terasa hangat di kening ini, membuatku lagi-lagi harus menepis jauh rasa amarah dan kecewa pada dirinya. Lalu dia mulai melantunkan lagu yang biasa dia nyanyikan untukku, di setiap kali aku kesulitan tidur. Membuatku merasa nyaman dan ingin berlama-lama dalam pelukannya. “Hatimu tempat berlindungku, dari kejahatan syahwatku, Tuhanku merestui itu, dijadikan engkau istriku. Engkaulah ... bidadari surgaku.” Kenapa dia harus menyanyikan lagu itu, di saat seperti ini? Apa sebenarnya Mas Rendra tahu, jika hatiku sedang tidak baik-baik saja? Dia terus menyanyikan lagu itu dengan pelan diiringi usapan lembut di punggungku. Hingga kemudian, ada sesuatu hal mengusik ketenangan kami. Dering ponsel itu lagi. Mas Rendra menghentikan nyanyiannya, menoleh ke arah nakas, tempat di mana dia menyiapkan benda persegi itu. Aku tahu dia akan bergerak untuk melepas pelukannya, tapi aku cegah segera dengan cara memegang kaos bagian depannya. “Jangan,” pintaku. “Aku cuma lihat. Siapa ya—“ “Jangan,” ucapku lagi. Pelan tapi menekan, dan aku semakin kuat mencengkeram kaos di tubuhnya. “Tapi Nara ....” Aku menenggelamkan kepalaku semakin dalam di dadanya. “Jangan, Mas. Aku bilang jangan,” lirihku. “Cuma seben—“ “Apa itu Atikah?” “Hah?” “Apa itu telepon dari Atikah? Atau ada hubungannya dengan Atikah?” Hening. Tak ada jawaban dari lelaki di depanku. Akhirnya aku mengangkat tangan kiriku, memeluknya dengan erat. “Jangan. Aku mohon jangan,” pintaku lagi. Ponsel itu masih berdering, lalu berhenti. Berdering lagi, lalu berhenti. Seperti itu selama berkali-kali, dan setiap berbunyi lagi membuat tangan ini semakin erat memeluknya. Akhirnya Mas Rendra pasrah. Bergeming hingga ponsel itu tidak berdering lagi. *** Suara azan Subuh membuatku terjaga. Entah karena efek obat atau mungkin pelukan Mas Rendra yang tak lepas dari tubuhku, semalaman ini aku merasa tertidur dengan sangat pulas. Ah, nyamannya. Setelah bermalam-malam tidak bisa tidur nyenyak. Aku membuka mata lebar-lebar, menyadari ternyata laki-laki itu tidak ada di tempatnya. Mungkin sudah pergi ke masjid untuk salat berjamaah. Aku pun beranjak dari tidur untuk menunaikan salat Subuh. “Assalamualaikum warahmatullah, assalamualaikum warahmatullah.” Aku mengangkat kedua tangan ke atas, seperti biasa melantunkan doa-doa untuk kedua orang tua yang sudah berpulang lebih dulu. Hampir tangan ini meraih tasbih di atas meja, tapi terhenti ketika menyadari sesuatu. Kenapa Mas Rendra belum juga pulang? Biasanya dia akan pulang tak lama setelah aku selesai salat. Kulanjutkan mengambil tasbih dan membaca beberapa selawat juga bacaan zikir pendek, dan sampai aku selesai membaca semuanya, Mas Rendra belum juga pulang. Aku melepas mukena, membereskan semua peralatan salat. Menyambar kerudung yang aku simpan di atas kursi lalu keluar dari kamar. Kusingkap kain gorden jendela di ruang tamu, dan ternyata kecurigaanku benar adanya. Mobil Mas Rendra tidak ada di halaman rumah. Itu artinya, dia bukan pergi ke masjid. Lalu ... ke mana dia? Aku melangkah cepat, kembali ke kamar. Ponselnya yang semalam disimpan di atas meja pun tidak ada. Aku bergerak lagi untuk mengambil ponsel milikku dan mencoba menelepon nomornya. Tidak ada suara deringnya di ruangan ini, juga di seluruh rumah. Jadi, dia pergi selagi aku tidur? Dia juga tidak mengangkat teleponku saat ini. Tanpa terasa ponsel dalam genggaman pun jatuh, bersamaan dengan air mata yang berderai membasahi pipi. Sesak rasanya d**a ini, menyadari perlakuannya padaku. Setega itu Mas Rendra. Dia pergi meninggalkan aku, di kala sedang merasa nyaman dengan sikapnya itu. Aku ... sakit hati. Aku sudah tidak kuat lagi. Aku melangkah lebar keluar dari kamar untuk menuju tempat itu. Di mana Mas Rendra menyimpan selembar foto pernikahannya bersama Atikah. “Aku benci, aku benci,” bisikku, dan potongan gambar itu pun berserakan di atas lantai. Ya, aku merobeknya. Aku merobek foto itu. Namun ternyata, rasa sakit di hati tak kunjung berkurang meski aku sudah melihat foto itu hancur di depan mata. Tubuh yang masih terasa lemas, kini semakin tak sanggup lagi untuk menopang diri. Aku luruh, bersamaan dengan hati yang terluka. “Kamu jahat, Mas Rendra. Kamu jahat,” bisikku. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN