Hari demi hari berlalu, dan hampir dua minggu sudah rutinitas Mas Rendra seperti itu. Membuat makanan setiap pagi, berangkat lebih awal dan pulang terlambat.
Aku?
Aku tetap diam saja. Menunggu dan memastikan, sampai akhirnya ada sebuah bukti yang bisa aku lihat secara langsung dan kujadikan sebagai aduan pada Umi. Aku memang tidak bisa gegabah menuduh Mas Rendra begitu saja. Semua keluarganya jelas tidak akan percaya dengan mudahnya.
Berhari-hari aku tidak nafsu makan. Sarapan sekadar beberapa suap, demi mencicipi makanan yang Mas Rendra masak. Makan siang hanya segelas air agar badan ini tidak dehidrasi, lalu makan malam pun sering terlambat karena menunggu lelaki itu pulang.
Sakit?
Jelas.
Namun, aku tidak bisa memperlihatkan rasa sakit ini pada sembarang orang. Aku tetap menyembunyikan segala beban di hati ini, demi menjaga keharmonisan rumah tangga, yang entah sampai kapan bisa aku pertahankan.
Aku teringat curahan hati seorang teman dekat, saat dia harus berpisah dengan suaminya karena kehadiran orang ketiga. “Lebih baik aku dipukul saja, Nara. Sakitnya lebih jelas terasa. Daripada harus dibuat sakit hati seperti ini, rasanya perih dan tak bisa diungkapkan.” Begitu ungkapan perasaannya padaku.
“Tapi dipukul jelas lebih sakit, atau mungkin berbekas,” sangkalku.
“Sakit karena dipukul bisa hilang, bekasnya pun akan memudar seiring waktu. Tapi jika sakit hati seperti ini, seumur hidup kamu akan terus mengingatnya,” tegasnya lagi.
Ya, kurasa ucapannya saat itu benar. Karena sekarang ternyata aku juga bisa merasakannya. Sakit hati yang mendalam, dan tak tahu harus diobati dengan apa. Hanya bisa diam dan menangis ketika rasanya sudah sangat menyesakkan d**a, tanpa tahu harus melakukan apa.
Terdengar ucapan salam dari luar ketika aku baru selesai salat Zuhur. Tanpa melepas mukena aku bangkit dan segera berjalan menuju pintu depan.
“Assalamualaikum, Teh Nara,” sapa perempuan berjilbab cream setelah aku membuka pintu.
“Waalaikumsalam,” sahutku diakhiri senyum lebar. Ternyata itu Risma, adik iparku. “Ayo, masuk,” ajakku segera.
“Iya, Teh,” ucapnya seraya melangkah lalu duduk di sofa.
“Mau minum apa?” tawarku.
“Enggak usah, Teh. Risma enggak lama. Ini, mau anterin ini.” Risma mengangkat plastik di tangannya. “Pohon mangga di rumah Mama buahnya lebat banget. Risma jadi ingat Teh Nara. Teteh ‘kan suka banget buah mangga.”
“Ya, Allah. Kamu ini. Repot-repot banget,” ucapku seraya duduk di sofa lainnya.
“Kata siapa ngerepotin, Risma yang mau kok ke sini. Ini, harus dihabiskan, ya,” selorohnya.
“Pasti,” jawabku.
“Ngomong-ngomong, Teh Nara lagi sakit, ya?” Risma menatapku lekat.
“Cuma agak pusing ini kepala. Mungkin penyakit kurang darah Teteh kambuh,” tukasku.
Risma mendekat lalu meraba keningku. “Astagfirullah, panas, Teh. Teh Risma demam ini. Udah minum obat?” tanyanya dengan intonasi cemas.
“Belum, sih,” ujarku.
“Ya, Allah. Terus gimana, dong? Gimana nanti kalau Teteh makin pusing?” Risma malah semakin cemas.
“Udah, enggak apa. Nanti habis ini Teteh minum obat, ada kok di kulkas,” tuturku demi menenangkannya.
“Aduh, jadi enggak enak. Mana Risma enggak bisa lama lagi di sini. Ikram sama Iklima dititipin di rumah Mama.” Raut wajah adik perempuan Ma Rendra itu terlihat sangat bersalah.
“Udah, enggak apa. Teteh baik-baik aja, kok. Ini masih kuat berdiri.” Aku berusaha menenangkannya lagi.
“Maaf banget ya, Teh. Nanti Risma kasih tau Umi, siapa tau Umi bisa ke sini buat temani Teh Nara.”
“Jangan, kasian Umi kalau harus ke sini. Tenang aja, enggak usah cemas. Habis minum obat juga nanti baikan, kok.”
Tak lama kemudian, Risma pulang setelah berkali-kali meminta maaf dan mengutarakan rasa bersalahnya. Sebaik itu memang dia, tak jauh beda dengan kakaknya, yaitu Mas Rendra. Kadang inilah yang membuatku tidak enak hati bila harus bersikap kurang baik pada suamiku. Perhatian dan kebaikan ibu juga adik Mas Rendra padaku, yang tak pernah menganggap dan membedakan aku sebagai menantu atau ipar.
Aku mengembuskan napas berat, dan sekarang hal itu pula yang membuatku tersiksa. Apa ini seperti peribahasa memakan buah simalakama? Bicara salah, tak bicara pun tetap salah.
Selepas kepergian Risma, aku kembali masuk ke dalam kamar. Melepas mukena dan beristirahat setelah meminum obat. Semoga demam dan pusing ini segera membaik sebelum sore nanti. Aku harus menyiapkan makan malam untuk Mas Rendra.
Entah berapa lama aku tertidur, hingga terjaga ketika menyadari hari sudah sore dan terdengar ketukan dari kaca jendela kamar. Hanya satu orang yang selalu berbuat seperti itu. Mas Rendra. Dia akan mengetuk kaca jendela apabila setelah berkali-kali mengucap salam di depan pintu dan aku tidak mendengarnya. Dia pasti tahu aku sedang tidur.
“Astagfirullah, jam lima sore,” gumamku setelah melihat jam dinding di ruang tamu. Tentu saja aku bergegas bangun lalu membukakan pintu untuk Mas Rendra. Kebiasaanku memang mengunci pintu jika sedang sendirian di rumah.
“Kamu tidur?” ucap Mas Rendra ketika pintu sudah terbuka.
“Iya, Mas. Aku tidur siang, maaf,” ujarku.
Mas Rendra tak mengatakan apa-apa, bahkan tak mengucapkan salam dan mengulurkan tangan kanannya seperti biasa. Membuatku mematung selama beberapa saat demi melihatnya yang sedang menempelkan ponsel di samping telinga sembari berbicara lalu tertawa.
Ada apa dengan dia?
Aku mengerjapkan kedua mata, lalu menutup pintu. Memilih untuk mengambil wudu kala menyadari jika aku belum salat Asar.
“Oya? Hahaha. Iya, itu lucu. Hahaha.” Mas Rendra menoleh ke arahku. “Nara?” ujarnya dengan nada canggung. “Sudah dulu, ya. Nanti di telepon lagi. Dah.” Dia menghentikan percakapannya lewat ponsel, memasukkan benda itu ke dalam tas kerja yang masih dipegangnya.
Aku pun masuk dan melangkah ke sudut kamar untuk menunaikan salat. Sementara Mas Rendra keluar dari kamar, mungkin pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
“Assalamualaikum warahmatullah, assalamualaikum warahmatullah.” Aku mengangkat kedua tangan ke atas, menggumamkan beberapa doa yang selalu aku panjatkan untuk almarhumah ibu dan bapak di Surga sana.
Bisa kulihat dari ekor mata, Mas Rendra masuk ke dalam kamar sembari menggosok rambutnya yang basah. Aku pun melepas mukena lalu melipatnya, menyimpan kembali semua peralatan salat ke tempatnya lagi.
“Ahh,” bisikku ketika akan berdiri, memegang pelipis dengan jemari tangan kanan karena kepala ini terasa berat sekali.
“Kenapa?” tanya Mas Rendra yang masih berdiri di depan lemari.
Aku tak menjawab, berusaha berdiri kembali tanpa meminta bantuannya. Sayang, rasa pening di kepala malah semakin menjadi. Hampir saja tubuh ini luruh di atas lantai jika Mas Rendra tidak sigap menahanku.
“Badan kamu panas, Nara,” ujarnya seraya meraba keningku. Mungkin dia bisa merasakan hangat saat tangannya menyentuh lenganku.
Aku tak menjawab, tetap membisu sampai akhirnya dia membopong tubuhku dan membaringkan di atas peraduan.
“Sudah minum obat?” tanyanya, menutupi separuh tubuhku dengan selimut.
Aku menggelengkan kepala.
“Aku ambilkan obat, ya?” ucapnya, pergi begitu saja tanpa melihat respon dariku. Sekitar dua menit, dia sudah kembali membawa kotak obat dan segelas air. Dengan gerak cepat dibukanya kotak itu dan mencari obat penurun panas.
“Ini dia,” ujar Mas Rendra setelah menemukan obat yang dicarinya. “Duduk dulu, ya,” titahnya seraya mengangkat tubuh bagian atasku. “A, buka mulutnya,” ucapnya lagi setelah aku berhasil duduk dan bersandar pada head board ranjang.
“Airnya aja, aku haus,” pintaku akhirnya.
“Obatnya juga,” sahut Mas Rendra.
“Tapi aku belum makan.” Aku mendorong tangan yang sudah siap menyuapkan obat itu.
“Belum makan?” tukas Mas Rendra, yang kubalas anggukan kepala. “Ya udah, aku ambil dulu nasi sama lauk di dapur,” sambungnya, menyimpan obat di atas meja lalu pergi begitu saja tanpa mendengar perkataanku lagi.
Lima detik, sepuluh detik, tiga puluh, sampai satu menit kemudian dia kembali ke kamar.
“Kamu ... belum masak, Nara?” tanyanya, duduk di tepian ranjang di samping.
Aku pun menggelengkan kepala.
Mas Rendra mengusap pipiku. “Aku beli dulu bubur kalau begitu. Tunggu sebentar, ya?” Lalu mengecup keningku selama beberapa detik.
Aku pun mengangguk pasrah disertai kedipan mata. Mas Rendra beranjak segera dari duduknya dan melangkah ke arah lemari untuk mengambil jaket. Keluar dari kamar dengan langkah lebar. Sampai kemudian terdengar suara mesin motor yang menyala dan meninggalkan halaman.
Akhirnya aku hanya bisa duduk menunggu kedatangan suamiku, sembari membayangkan lagi wajah cemas dan kuatirnya beberapa menit lalu.
Secepat itu dia berubah?
Padahal, belum sampai satu jam lalu suamiku itu tampak mengobrol diselingi tawa bahagia ketika baru saja tiba di rumah. Mengacuhkan aku yang berusaha untuk kuat berdiri dan berjalan demi menyambutnya pulang.
Melihat sikapnya sekarang, kenapa aku menduga seolah itu adalah ungkapan rasa bersalahnya karena telah mengabaikanku selama beberapa harga ini?
Apa mungkin seperti itu?
Dering ponsel terdengar dari dalam tas yang ternyata masih berada di atas ranjang, di sisi tempat Mas Rendra tidur. Deringnya berhenti, tapi tak berapa lama berbunyi lagi. Seperti itu selama tiga kali.
Bagaimana kali ini, apa aku harus tetap mengabaikan telepon masuk itu, alih-alih menuruti permintaannya beberapa hari lalu?
Karena cemas itu telepon penting, akhirnya aku berusaha meraih tas kerja berwarna hitam dengan tangan kiri dan mengambil ponsel dari dalamnya.
“Ibu Fitri?” gumamku kala melihat nama yang tertulis di layarnya. Siapa? Setahuku tidak ada nama atasan Mas Rendi di kantor yang memiliki nama itu.
Apa ini temannya?
Atau ... dia yang selama beberapa hari ini selalu membuat suamiku tersenyum di setiap waktu akan tidur?
*****