5. Atikah Kembali?

1612 Kata
Aku berdiri ketika melihat mobil itu memasuki halaman. Sosok itu keluar dengan gerak lesu, dan ini menimbulkan kecurigaan yang lebih dalam lagi untukku. “Cape, Mas?” tanyaku sekedar menegurnya. Mas Rendra mengangkat kepalanya. Tersenyum kecil lalu mengerjapkan kedua mata. Dia tampak tidak terkejut sama sekali, sepertinya sudah menyadari kehadiranku sejak tadi. “Assalamualaikum,” ucapnya kemudian seraya memberikan tangan kanannya. “Waalaikumsalam.” Aku menyambut uluran tangannya, mencium punggung tangan itu. “Lembur lagi?” tukasku. “Iya,” jawabnya dengan nada lemah. “Apa ada teman kamu yang ulang tahun lagi?” Mas Rendra yang hampir masuk ke dalam rumah berbalik kembali. “Maksud kamu?” ujarnya dengan intonasi bertanya. “Apa aku harus siapin makan malam buat kamu?” terangku. Mas Rendra yang sepertinya merasa tersentil atas sindiranku tersenyum lagi. “Iya, kamu siapin aja. Nanti aku makan habis mandi,” tandasnya, lalu melanjutkan langkah ke dalam rumah. Aku melirik ke arah jam dinding. Sekarang bahkan dia pulang lebih larut dari kemarin. Aku mengembuskan napas, berusaha untuk tenang. Akhirnya mengikuti Mas Rendra masuk ke dalam rumah untuk menyiapkan makan malam. “Kamu udah makan?” tanya Mas Rendra, duduk di kursi meja makan selepas mandi dan salat Magrib. “Belum,” jawabku singkat, meraih piring dan mengisinya dengan nasi lalu menyimpannya di depan Mas Rendra. “Ya udah, kalau gitu makan sekarang sama aku,” ajaknya diakhiri seulas senyum dengan sorot mata memohon. Aku pun ikut duduk dan mengisi piring dengan nasi, sedangkan lelaki di depanku mulai melihat lauk di hadapannya. Tangan kanannya pun meraih sendok sayur dalam mangkuk besar berisi sop. “Wah, sop ikan patin,” ucap Mas Rendra semringah. “Aku pasti makan banyak ini,” lanjutnya seraya menaruh sepotong ikan di atas piringnya. Seulas senyum kecil kuberikan padanya. Entah dia sedang berusaha membujuk atau mungkin memang senang atas masakanku hari ini, yang jelas itu membuatku menjadi tidak tega jika harus terus memasang wajah masam di hadapannya. Tepat pukul tujuh kami selesai menikmati makan malam. Setelah itu Mas Rendra bersiap untuk pergi ke masjid, begitu pun aku yang akan salat Isya di rumah. Ponsel di atas nakas berdering selepas aku mengucapkan salam. Siapa yang menelepon Mas Rendra di jam seperti ini? Apa mungkin telepon penting tentang pekerjaan, atau bisa saja dari keluarga? Karena merasa kuatir, akhirnya aku bangkit demi menjawab panggilan masuk itu, tapi ternyata deringnya berhenti tepat saat aku memegang ponsel berwarna hitam milik Mas Rendra. “Ya ampun, pesan dari siapa ini banyak sekali?” gumamku terkejut, melihat ada dua puluh lima pesan baru yang belum dibuka. Kuusap layarnya, menautkan kedua alis ketika menyadari sesuatu yang tak biasa. Sejak kapan Mas Rendra memasang kata sandi pada ponselnya? Setahuku sejak kami menikah dia tidak suka memakai password atau semacamnya untuk benda pribadi ini. Entah apa alasannya, dia tidak pernah bercerita soal itu. Terdorong rasa penasaran, aku mencoba menekan beberapa angka, yaitu tanggal lahir suamiku. Namun ternyata salah. Kemudian aku menekan lagi deretan angka tanggal pernikahan kami, dan hasilnya tetap salah. “Apa mungkin tanggal lahirku?” gumamku, lalu kucoba menekan tanggal, bulan dan dua angka tahun kelahiranku. “Salah lagi,” ujarku kesal. “Nara, sedang apa?” Aku menoleh, masih dengan ponsel di tangan. “Mas,” sapaku. “Sudah pulang?” “Kenapa kamu pegang ponsel aku?” tanyanya seraya berjalan menghampiri. “Oh, ini. Tadi ada telepon masuk. Pas mau aku angkat ternyata ....” Aku menggantung kalimatku karena terkejut. Mas Rendra mengambil ponsel dari tanganku tanpa sepatah kata pun. “Lain kali abaikan saja,” ujarnya, melangkah keluar dari kamar seraya menekan layar ponsel. Tanpa melihat ke arahku. Apa arti dari sikapnya itu? Hingga malam semakin larut, aku belum melihat dia masuk kembali ke dalam kamar. Mas Rendra memilih duduk di ruang tengah, menikmati waktu senggangnya. Memang ini sudah biasa, karena besok adalah hari Sabtu dan dia libur kerja. Hanya saja yang menjadi pertanyaan, dia tidak memegang laptop, melainkan ponselnya itu. Tampak senyum kecil terukir dari bibirnya sesekali, bahkan dia tidak menyadari aku yang berdiri di ambang pintu kamar sedang memerhatikannya. Jika sudah begini, apa aku sanggup untuk tidak memikirkan hal negatif tentang suamiku sendiri? *** “Ke mana, Mas?” Aku bertanya heran saat melihat dia sudah mandi dan berpakaian rapi. “Adik teman kantorku menikah, dan aku diundang. Rencananya aku mau pergi sama teman-teman yang lain,” terangnya sembari menatap diri dari pantulan cermin. “Di mana rumahnya?” tanyaku lagi. “Mm, di ... Perumahan Tiara Permai,” sahutnya dengan nada sedikit canggung. “Oh, aku punya teman Mts di sana. Blok apa emang?” selidikku lagi. Mas Rendra memutar tubuh dan menatapku. “Aku belum tau. Makanya aku janjian sama teman-teman yang lain,” dalihnya. Diraihnya kunci mobil di atas meja rias, lalu menghampiriku yang duduk di tepian ranjang. “Aku pergi dulu. Assalamualaikum.” Melangkah keluar dari kamar selepas memberikan sebuah kecupan ringan di kening. Aku bergeming, tak menjawab salamnya dan tak berniat untuk mengantarnya hingga depan teras seperti biasa. Hatiku benar-benar sedang tidak baik-baik saja. Kupikir, dia akan memahami arti dari sikapku itu. Akan tetapi, nyatanya Mas Rendra tetap melanjutkan tujuannya. Hingga sore berlalu, tak ada pesan atau pun telepon darinya. Sekadar menanyakan aku sedang apa, sudah makan atau belum, apa ingin sesuatu untuk dibeli sebelum dia pulang ke rumah. Seperti itu biasanya, dan kali ini dia tidak melakukan itu. Mas Rendra pulang dengan tangan kosong, pukul lima sore. Pernikahan siapa, hingga harus dihadiri dari jam sembilan pagi sampai menjelang petang? Aku berusaha tenang, menyiapkan makan malam dan menemaninya tidur semalaman meski di dalam hati ini ada banyak pertanyaan dan rasa penasaran tentang perilakunya akhir-akhir ini. Itu semua aku lakukan demi janjiku pada Umi untuk tidak berprasangka buruk pada Mas Rendra, sebelum aku benar-benar tahu jelas arti dari semua sikapnya. “Mas, hari ini antar aku ke pasar, ya? Bu Delisa pesan kue basah buat acara selamatan besok sore.” Aku membuka obrolan di kala kami menikmati sarapan Minggu pagi. “Maaf, tapi sepertinya Mas enggak bisa, Nara,” sahut Mas Rendra tanpa nada ragu sedikit pun. “Kenapa? Kamu sakit, atau sedang malas keluar? Atau ada pekerjaan yang harus kamu selesaikan buat besok?” tanyaku panjang lebar. “Ada acara bazar di sebuah universitas, dan kantor ikut berpartisipasi. Mas ditunjuk jadi salah satu panitia,” terangnya. “Oh,” gumamku seraya menganggukkan kepala. “Sendiri aja pakai motor, ya. Bisa, ‘kan?” tukasnya. “Iya, enggak apa.” Aku menganggukkan kepala, menyuapkan nasi beserta lauk ke dalam mulut. Bisa kulihat raut wajah itu seperti sedang memikirkan sesuatu. Sekitar pukul sepuluh aku berangkat ke pasar terdekat untuk berbelanja bahan-bahan pembuatan kue basah. Kebetulan memang ada beberapa tetangga yang sering memesan kue untuk acara di rumahnya. Aku tidak pernah menolak, karena sejak sebelum menikah dengan Mas Rendra pun aku sudah terbiasa menerima pesanan banyak kue. Bakat ini aku dapat berkat sering membantu almarhum ibu membuat kue tradisional. “Selesai semua.” Aku menandai list daftar belanja. Setelah yakin semua lengkap aku keluar dari pasar dan berjalan menuju tempatku memarkir motor. “Mbak Nara, habis belanja?” sapa seorang lelaki berpakaian santai yang membawa kantong belanja di tangannya. Aku menautkan kedua alis selama beberapa detik. “Mas Denis, ya?” tebakku. “Iya, teman sekantor Pak Narendra,” jawabnya. “Ya Allah, maaf agak lupa. Sudah lama enggak ketemu. Apa kabar, Mas Denis? Sendirian aja?” tanyaku akhirnya. “Alhamdulillah, baik. Sama istri, tapi masih di dalam. Masih belanja, ada yang kelupaan katanya,” paparnya. “Mbak Nara sama siapa ke sini?” “Sendirian, Mas Rendra enggak bisa antar katanya ada acara di kantor,” sahutku. “Acara apa memang? Kok, saya enggak tau, ya?” ucap Denis dengan raut wajah terheran. “Katanya kantor mau ikut bazar di salah satu universitas. Terus Mas Rendra jadi panitia,” terangku sedikit ragu. “Oh, itu. Iya, memang kantor kami mau ikut bazar. Tapi acaranya masih lama, dua bulan lagi. Kami belum ada persiapan apa pun. Apa mungkin Pak Rendra ada acara lain?” tutur Denis lagi masih dengan mimik wajah kebingungan. Sementara aku, mulai merasakan cemas yang semakin menjadi. Apa mungkin Mas Rendra berbohong padaku? Jarum jam sudah menunjukkan angka empat ketika aku selesai menunaikan salat Ashar, tetapi entah kenapa aku masih ingin duduk di atas sajadah dan enggan untuk beranjak. Aku terus memikirkan Mas Rendra, yang belum juga pulang atau pun memberi kabar. Sedang di mana dia sekarang? Sedang apa suamiku sekarang? Sedang bersama siapa dia sekarang? Pertanyaan-pertanyaan itu terus melintas di kepala ini. Ah, tidak. Ini bukan pertanyaan, tapi lebih tepatnya adalah kecurigaanku pada Mas Rendra. Apa dia benar-benar berbohong padaku, Ya Allah? Apa mungkin ucapan Umi tentang Mas Rendra yang tidak akan pernah tega untuk menyakitiku, kini terbukti salah? Tanpa terasa setetes air mata jatuh membasahi pipi, memikirkan segala kemungkinan. Apa mungkin? Apa mungkin? Apa mungkin? Aku berdiri segera, melepas mukena dari tubuhku dengan cepat. Lalu melangkah keluar dari kamar menuju rak buku tempat Mas Rendra menyimpan foto itu. Ya, foto itu. Foto yang aku temukan beberapa hari lalu, dan sampai sekarang masih terus menghantuiku. Kuambil salah satu buku, membuka halaman demi halaman hingga kutemukan selembar foto itu. Foto pernikahan Mas Rendra dan Atikah, perempuan yang Umi katakan sebagai cinta pertama putranya itu. Rasa panas mulai memenuhi seluruh kelopak mata, kala menyadari jika Atikah adalah seorang perempuan yang cantik jelita. Berkulit putih, mata bulat dan hidung mancung. Bibir merah merona yang tersenyum bahagia, menandakan dia memang pantas dicintai oleh Mas Rendra. Apakah ini kenyataan yang harus aku hadapi saat ini? “Atikah, apa kini kamu kembali ke kehidupan Mas Rendra, untuk mengambilnya lagi dariku?” bisikku dengan suara berat, lalu ... air mata mulai membanjiri kedua belah pipiku tanpa bisa aku tahan. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN