4. Kecurigaan

1161 Kata
Kendaraan itu berhenti di halaman rumah. Aku pun berdiri dari duduk untuk menyambut kedatangannya. Bisa kulihat sosok Mas Rendra keluar dari mobilnya dan berjalan menuju teras dengan gerak lesu. “Nara?” sapanya dengan intonasi terkejut, sepertinya dia baru menyadari kehadiranku. “Kenapa di luar?” lanjutnya. “Nunggu kamu,” sahutku pendek. “Oh,” ujarnya dengan nada gugup, lalu berdehem. “Assalamualaikum.” Diberikannya tangan kanannya padaku. “Waalaikumsalam,” sahutku, lalu mencium punggung tangannya. “Maaf, aku enggak bilang kalau hari ini ada lembur,” paparnya, kemudian tersenyum tipis. “Enggak apa,” timpalku. Aku pun masuk ke dalam rumah dan berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan makan malam. “Nara.” Terdengar panggilan dari Mas Rendra. “Iya, Mas.” Aku yang sedang menyiapkan piring menoleh ke arahnya yang berdiri di pintu penghubung antara ruang tengah dan dapur. “Aku ... udah makan tadi,” ujarnya dengan nada suara yang terkesan ragu. Aku yang hendak mengambil sendok pun menghentikan gerakan. “Di mana?” “Kebetulan tadi ada teman yang ulang tahun, terus dia pesan makanan ke kantor. Jadi ya ... kita makan-makan di kantor,” terangnya sembari melangkah lebih dekat ke arah meja makan. Aku menarik tangan, membatalkan niat untuk mengambil sendok. Akhirnya aku mengambil piring dan menyimpannya kembali di rak. “Ya udah, aku mau masukin makanannya ke kulkas aja. Kebetulan aku tadi udah makan duluan karena enggak kuat lapar. Nunggu kamu kelamaan,” tuturku dengan nada sedikit kesal. “Maaf, jangan marah,” ucapnya dengan satu tangan menyentuh bahuku. “Jadi aku enggak boleh marah?” tanyaku. "Ya udah, nanti aku makan." Mas Rendra tersenyum kelu. “Nanti kalau aku lapar aku hangatin sendiri. Sekarang aku mau mandi dulu terus langsung solat Magrib,” tandasnya. Setelah itu dia melangkah, keluar dari dapur. Aku masih berdiri hingga sosoknya menghilang di balik tembok. Menghempaskan tubuh di atas kursi dengan kedua telapak tangan menahan wajah. Mencoba menenangkan diri dari kecurigaan yang semakin menjadi. Waktu menunjukkan pukul delapan malam lebih tiga puluh menit saat Mas Rendra membereskannya laptopnya. Biasanya jika sudah seperti itu, artinya dia bersiap untuk tidur. “Mau aku buatkan dulu teh, Mas?” tawarku, seraya menyimpan tasbih di tangan. “Boleh,” sahutnya. Aku menganggukkan kepala, lalu berdiri setelah melepas mukena. Dengan segera aku melangkah keluar dari kamar untuk menuju dapur. Tidak butuh waktu lama, sampai akhirnya segelas teh chamomile selesai aku seduh. Aku menautkan kedua alis, ketika memasuki kamar. Pasalnya, Mas Rendra sedang tersenyum sendiri dengan kedua mata menatap layar ponsel. Namun, saat dia menyadari kehadiranku dengan cepat disimpannya benda persegi pipih itu di samping tubuh. “Terima kasih,” ujarnya, seraya menerima gelas dariku. “Sama-sama.” Aku pun berjalan ke arah sudut kamar untuk membereskan peralatan salatku. Setelahnya ikut merebahkan diri di atas peraduan. Akan tetapi, perasaan tak nyaman kembali hadir. Mas Rendra yang ternyata belum juga tidur meski sudah menghabiskan tehnya, masih asyik menatap layar ponsel di tangannya diiringi senyum-senyum yang terus terukir dari bibirnya. Sedang apa dia? Kenapa bisa dia terlihat senang seperti itu? Siapa yang membuatnya terus tersenyum tanpa henti? Aku memutar tubuh menjadi membelakanginya. Tanpa terasa kedua mataku menghangat, mengingat kedatangannya yang terlambat dan menolak untuk makan malam. Apa mungkin ... ini berhubungan dengan dua kejadian itu? *** Terdengar ucapan salam, diiringi sosok Mas Rendra yang masuk ke dalam kamar. Ternyata dia sudah pulang dari masjid. Aku menyempatkan menjawab salamnya di sela membaca Al-Quran. Karena waktu masih terlalu pagi, aku pun melanjutkan kegiatanku. Tampak oleh sudut mata, suamiku melepas kain sarung, baju koko juga kopiahnya. Kemudian keluar dari kamar. Mungkin ingin ke kamar mandi. Biasanya setelah itu dia akan kembali ke kamar untuk menyiapkan tas kerjanya, membuka laptop atau sekadar memeriksa ponselnya. Akan tetapi, hingga sepuluh menit berlalu Mas Rendra belum juga ada masuk ke dalam kamar. Sedang apa dia? Karena kuatir aku pun memilih menyudahi kegiatanku, dan bergegas menyusulnya ke dapur. “Sedang apa, Mas?” tanyaku heran. Sebenarnya aku bisa melihat dia yang sedang memotong wortel, tapi yang ingin aku tahu lebih jelas adalah kenapa dia memotong sayuran itu? Lebih aneh lagi saat aku menyadari ternyata sudah ada mangkuk berisi telur yang sudah dikocok dan ditambah potongan daun bawang. “Aku mau buat omelet. Kamu mau?” Dia malah bertanya balik. Lelaki itu hanya menoleh sekejap, lalu kembali fokus pada pisau dan wortel di tangannya. “Kenapa enggak bilang kalau mau omelet? Aku ‘kan bisa siapin dari tadi,” ucapku seraya melangkah menghampirinya. “Enggak apa, aku lagi mau bikin sendiri,” jawabnya, tanpa menoleh ke arahku. “Oh.” Aku menanggapi ucapannya itu, lalu menatap isi mangkuk. “Ini berapa telur? Apa enggak kebanyakan?” “Aku mau bawa ke kantor. Buat makan siang,” dalihnya. Aku terdiam memikirkannya. Kemarin nasi goreng, sekarang omelet. Kukerjapkan kedua mata. Berusaha menahan segala pikiran negatif. “Aku mau pakai cabe, Mas,” pintaku, mengambil satu buah cabe merah dari wadah bumbu. “Tapi aku enggak ....” “Kenapa? Biasanya kamu juga suka omelet pakai cabe, ‘kan?” tukasku, lalu menyimpan kembali cabe itu ke tempatnya. Mas Rendra terdiam selama beberapa detik. “Ya sudah, nanti aku tambahkan cabe,” pungkasnya. Aku mengembuskan napas, lalu memilih pergi meninggalkan dapur. Melihat sikapnya yang penuh tanda tanya, membuatku terus berprasangka buruk. “Astagfirullah,” bisikku setelah berada di dalam kamar. “Ingat ucapan Umi, Nara. Jangan bersuudzon pada suamimu,” lanjutku. Akhirnya demi mengentaskan rasa cemas, kupilih untuk membereskan kamar tidur saja. Hingga Mas Rendra berpamitan untuk berangkat bekerja, aku tetap menjaga senyum di wajah ini. Aku tidak ingin dia melihatku maupun sikapku yang berbeda dari biasanya. Meski setelahnya, selepas dia pergi keluar dari halaman dengan mobilnya, aku terdiam selama beberapa menit di teras rumah. Apa aku bisa bertahan seperti ini terus, Ya Allah? Hingga sore tiba, dan banyak kesibukan yang aku lalui. Perasaan tidak nyaman ini terus bergelut di dalam hati. Di sela mencuci piring, mencuci baju, bahkan tanganku hampir terkena setrika panas karena melamun saat menggosok pakaian. Ah, hariku sangat kacau sekali. “Kok, asin,” gumamku sewaktu mencoba kuah sayur di dalam wajan. “Astagfirullah, yang aku tambahin malah garam, bukan gula,” sambungku setelah melihat toples kecil di samping kompor. Akhirnya aku harus menambahkan air lagi ke dalam sayur agar rasanya bisa lebih baik. “Nah, sekarang udah pas.” Aku tersenyum puas setelah masakanku selesai. Mas Rendra pasti senang, sudah lama aku tidak memasak sop ikan patin kesukaannya. Kulirik jam dinding di salah satu tembok. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore lebih lima belas menit, dan Mas Rendra belum juga datang. Apa jangan-jangan dia akan pulang terlambat lagi? Aku menatap mangkuk yang sudah kuisi dengan sop ikan patin. Tiba-tiba aku merasa putus asa. Bagaimana jika Mas Rendra pulang pukul enam petang lebih lagi seperti kemarin? Lalu, dia menolak untuk makan malam. Berdalih sudah makan di kantor. Aku bisa menerima jika alasan memang benar, tapi seandainya itu hanya kebohongan belaka. Aku ... pasti merasa sakit hati. Apa kecurigaanku benar? Ini ada hubungannya dengan Atikah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN