3. Perubahan Mas Rendra

1279 Kata
“Siapa perempuan ini, Umi?” tanyaku pada ibu dari suamiku itu. Akhirnya kuberanikan pergi ke rumahnya, demi mengentaskan rasa penasaran ini. Umi mengembuskan napas, lalu menyimpan selembar foto itu di atas meja. “Maafkan atas kebohongan Umi dan Rendra selama ini, Nara,” Hatiku mencelos mendengar pengakuannya. “Jadi, Mas Rendra pernah menikah sebelum menikah dengan Nara?” tukasku. Aku yakin karena di foto itu wajah Mas Rendra tampak jauh lebih muda dibandingkan dengan dia yang sekarang. Kemudian sebuah kemungkinan terlintas di benakku. “Atau mungkin Mas Rendra menikah lagi tak lama setelah menikah dengan Nara, Umi?” tuduhku. “Tidak, Nara. Dia tidak pernah tega untuk menduakanmu,” sergah Umi. “Kenapa harus tidak tega? Mungkin Mas Rendra menginginkan seorang anak, sampai akhirnya dia meni—“ “Astagfirullah, jangan bersuudzon seperti itu. Umi tau siapa Rendra. Dia tidak mungkin memiliki niatan seperti itu,” sangkal Umi lagi. Aku menelungkupkan wajah di atas kedua telapak tangan sembari mengucapkan istigfar berkali-kali. Ya, aku yakin itu tidak mungkin. Jika saja benar, mungkin itu sudah bisa menjadi duri dalam pernikahan kami sejak beberapa tahun lalu. “Namanya Atikah, dia ... cinta pertama Rendra.” Dadaku berdegup saat mendengar ucapan perempuan di depanku. Kemudian aku mengangkat wajah ini, menatap Umi secara saksama. “Atikah? Cinta pertama?” ucapku tak percaya. “Ya, ketika Rendra masih kuliah di Yogyakarta. Atikah ... tetangga kosan tempat dia tinggal selama hampir lima tahun. Rendra pernah bercerita, jika dia ingin mempersunting Atikah selepas lulus kuliah, tapi Umi melarangnya.” Umi Fatma bercerita sembari menerawangkan pandangannya ke arah jendela. “Atikah bukan perempuan baik, Umi tau itu. Dia bekerja di sebuah klub malam sebagai pelayan. Semua informasi itu Umi dapatkan langsung dari seorang kerabat yang berada di sana. Umi sengaja menyuruhnya untuk mencari tau tentang kehidupan Atikah.” Tampak Umi menarik napas dalam, lalu mengembuskannya. “Sampai akhirnya Rendra menikahi Atikah tanpa memberitahukannya pada Umi.” Jelas saja ucapannya itu membuatku semakin shock. “Bahkan Rendra menikah sebelum lulus dari kuliahnya,” sambung Umi dengan nada pasrah. “Jadi, ketika menikah dengan Nara, Mas Rendra masih memiliki istri?” tanyaku memastikan. “Tidak. Rendra menjatuhkan talaknya lewat telepon, sehari sebelum kalian menikah. Umi yang memintanya, agar kalian bisa menikah. Lagi pula, Rendra sudah pulang ke sini dan Umi melarangnya untuk kembali ke Yogyakarta.” “Lalu, apa sekarang Mas Rendra pergi ke Yogyakarta, itu ada hubungannya dengan Atikah?” “Rendra ke Yogyakarta?” tanya Umi kaget. “Umi tidak tau?” tukasku. “Tidak. Dia tidak berpamitan sama sekali pada Umi.” Perempuan itu menunjukkan sorot ketidaktahuannya. Aku meluruhkan bahu, menyadari kini ada kebohongan yang sedang disembunyikan oleh suamiku sendiri. *** Dua hari berselang sejak hari itu. Dalam setiap sujud aku terus menangisi kenyataan yang baru terkuak ini. Setiap malam bahkan aku kesulitan memejamkan mata, takut jika kepergian Mas Rendra memang ada hubungannya dengan Atikah. “Umi yakin, Rendra tidak akan berbuat macam-macam, Nara. Dia sangat mencintai kamu. Selama ini dia selalu menerima kekurangan dan kelebihan kamu. Itu karena dia tidak ingin menyakitimu, juga mengecewakan Umi sebagai ibunya.” Kembali terngiang ucapan mertuaku, sesaat sebelum aku pulang dari rumahnya. Jika sudah begitu, maka aku akan terus meyakinkan diri. Benar, selama ini Mas Rendra selalu menerima kekurangan dan kelebihanku. Termasuk dengan belum adanya kehadiran buah hati dalam pernikahan kami. Namun, meski begitu aku tetap berdoa untuknya. Semoga dia diberi kesadaran diri, agar tidak melupakan janji-janjinya padaku untuk selalu setia dan mencintaiku hingga maut memisahkan. Sekitar pukul sebelas malam, terdengar suara mesin mobil memasuki halaman. Aku yang baru selesai menunaikan salat, bergegas melihat ke depan tanpa melepas mukena. “Assalamualaikum.” Mas Rendra tersenyum ketika aku membuka pintu. “Waalakumsalam.” Aku membalasnya dengan seulas senyum kembali. “Belum tidur?” Dia mengecup keningku setelah aku mencium punggung tangannya. Aku hanya menggelengkan kepala. “Mau aku buatkan minum?” tawarku setelah menutup pintu. Mas Rendra menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. “Boleh,” jawabnya seraya melepas jaket hitam di tubuhnya. Aku pun berlalu dari hadapannya. Pergi ke dapur setelah sebelumnya masuk ke kamar untuk melepas mukena. Membiarkan tubuh ini sedikit terbuka dengan daster sebatas lutut, memperlihatkan seluruh bagian lengan karena hanya ada tali kecil di atas pundak. “Ini.” Kusimpan segelas teh chamomile yang dicampur dengan sesendok madu. “Ke mana?” Mas Rendra menahan tanganku ketika hendak melangkah. “Mau aku siapkan makan?” tawarku lagi. “Enggak usah,” tolaknya, lalu menarik tubuhku hingga terduduk di atas pahanya. Aku menggeliat kegelian ketika Mas Rendra mengecup dan menyesap leherku. “Aku mau mandi dulu, kamu tunggu di kamar,” bisiknya. “Aku kangen.” Kini dia mengecup pipiku selama beberapa detik. Melihat sikapnya yang seperti ini, membuatku harus memutuskan untuk memendam banyak pertanyaan yang ingin aku utarakan perihal kepergiannya ke Yogyakarta, termasuk tentang masa lalunya itu. Ya, mungkin benar apa kata Umi Fatma. Mas Rendra tidak akan pernah menyakitiku, sekali pun dia pernah mencintai perempuan lain, sebelum bertemu denganku. *** Aku terjaga, ketika hidung ini mencium aroma tumisan bawang goreng. Harum sekali, membuatku yang baru terbangun merasa lapar seketika. Aku bangkit, turun dari ranjang untuk segera melihat apa yang dimasak suamiku. Entah kapan terakhir kali dia memasakkan nasi goreng untukku. Kalau tidak salah, sekitar setahun lalu, ketika aku sakit dan tidak bisa bangun dari tempat tidur. “Harumnya,” ujarku, seraya memeluk punggung lebarnya dari belakang. Bisa kulihat tetesan keringat berjatuhan membasahi pipinya. Membuatku tersenyum lebar karenanya. Inilah momen yang paling aku suka darinya ketika sedang berhadapan dengan kompor. Bahkan kaos di tubuhnya pun terasa sedikit basah akibat peluhnya itu. “Sudah bangun?” tanyanya, dengan tangan yang masih sibuk mengaduk nasi goreng dalam wajan. “Mm, kenapa enggak bangunkan?” sahutku. “Aku takut kamu masih kelelahan,” tukasnya, lalu Mas Rendra memutar tubuhnya ke arahku. “Aku udah solat Subuh. Kamu solat sendirian enggak apa, ‘kan?” Kuberi sebuah anggukan kepala. “Aku mandi dulu kalau gitu,” tandasku. Selama berada di kamar mandi, tak hentinya aku tersenyum sendiri. Membayangkan malam romantis yang kami lalui, dan suasana hangat yang menyambut pagi ini. Indahnya. Selesai berpakaian aku bergegas menemui Mas Rendra kembali di dapur. Dahiku mengerut ketika melihat apa yang dilakukan lelaki itu. Dia sedang memasukkan nasi goreng ke dalam misting makanan yang biasa dia pakai untuk membawa bekal jika sedang malas makan siang di luar kantor. Aku memerhatikannya dari seberang meja makan. Mas Rendra menambahkan bakso dan potongan sosis sebagai toping, dan yang membuatku sedikit terkejut adalah ... dia juga memasukkan udang goreng di atasnya. Untuk siapa? Setahuku, Mas Rendra selama ini alergi seafood. Dengan cekatan Mas Rendra menutup misting makanan berwarna biru itu, lalu memasukkannya ke dalam tas kecil. “Kalau kamu mau, masih ada di wajan,” ujarnya. Sepertinya dia baru menyadari keberadaanku. “Kamu enggak sarapan?” tanyaku heran, melihatnya pergi meninggalkan dapur dengan membawa tas kecil berisi misting itu. “Nanti aja,” sahutnya tanpa menghentikan langkah. Sepanjang bersiap untuk pergi ke kantor, Mas Rendra tampak berbeda dari biasanya. Aku bisa melihat ada rona bahagia dalam sorot matanya itu. Sesuatu yang sudah lama tidak aku lihat pada dirinya. Lalu satu hal pula yang membuatnya semakin aneh di mataku. Dia berpamitan pergi, meski waktu baru menunjukkan jam enam pagi. Padahal jarak dari rumah menuju kantor hanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit. Apa mungkin dia akan menunggu hingga jam delapan pagi tiba? Kembali terlintas gambar pada foto itu, pernikahannya bersama Atikah. Mungkinkah, alasan kepergiannya ke Yogyakarta bukan karena temannya yang meninggal, tapi karena perempuan itu? Lalu, urusan yang dia katakan harus segera diselesaikannya, juga ada hubungannya dengan Atikah? Apa mungkin, sikapnya yang berbeda pagi ini pun ... berhubungan dengan cinta pertamanya itu? Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN