34

1135 Kata

Lagi-lagi aku terombang-ambing dalam alam mimpi. Dalam mimpi aneh, tepatnya. Sebab sadar dan yakin bahwa yang aku alami tidaklah nyata—fiktif belaka. Aku tengah bermain di taman bersama Jamie. Dua bocah cilik. Aku duduk di ayunan dan Jamie dengan sabar menuruti kemauanku. Dia mendorong ayunan, sama sekali tidak terganggu dengan celotehku. Kami berada di bawah pohon, menikmati semilir angin. “Kenapa Ayah jarang menemani kita?” “Karena dia sibuk,” Jamie membalas. “Ayah cari uang agar kita bisa makan enak dan main sepuasnya.” “Tapi, aku pengin main bareng Ayah.” “Nanti,” Jamie mencoba menenangkan diriku. “Pas liburan kita minta Ayah menemani kita seharian!” “Janji?” “Itu kalau nilai ulanganmu bagus, Del. Misal jelek, kamu harus ikut les.” Aku meminta Jamie berhenti mendorong ayunan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN