Bab 8

1167 Kata
BAB 8: Di Bawah Lampu Kota dan Gairah yang Tertunda Jakarta setelah badai menyisakan udara yang lembap dan aspal yang berkilau terpantul lampu neon. Bagi Ressa, hari ini seharusnya menjadi hari kemenangan setelah Seno akhirnya mengundurkan diri secara memalukan dari kantor. Namun, kemenangan itu terasa hambar dibandingkan dengan ketegangan baru yang kini menetap di apartemennya. Status "adik titipan" telah hangus terbakar semalam di atas ranjang saat Ressa sedang demam. Ciuman itu bukan lagi sebuah kecelakaan; itu adalah deklarasi perang terhadap logika Ressa. "Mbak sudah siap?" Suara bariton Regin memecah keheningan ruang tamu. Ressa keluar dari kamarnya dengan langkah ragu. Ia mengenakan gaun sutra berwarna hitam dengan potongan slip dress yang sederhana namun memeluk lekuk tubuhnya dengan pas. Ia sengaja menggerai rambutnya untuk menutupi tengkuknya yang entah kenapa terasa sensitif sejak sentuhan Regin kemarin. Regin berdiri di dekat pintu. Kali ini, ia mengenakan kemeja berbahan linen warna sand yang kancing atasnya dibiarkan terbuka, memperlihatkan pangkal lehernya yang kokoh. Celana kain hitamnya jatuh dengan sempurna di atas sepatu loafers. Regin terdiam selama beberapa detik. Matanya menyusuri sosok Ressa, mulai dari kaki hingga berhenti di bibir merah wanita itu. Ia menelan ludah, sebuah gerakan jakun yang tidak luput dari penglihatan Ressa. "Mbak mau membuatku gila?" bisik Regin rendah. "Ini hanya gaun biasa, Regin. Jangan berlebihan," balas Ressa, mencoba mencari kunci tasnya dengan tangan yang sedikit gemetar. "Bagi Mbak mungkin biasa. Tapi bagi pria yang harus menahan diri seharian untuk tidak menyentuh Mbak... ini penyiksaan." Regin tidak membawa Ressa ke restoran bintang lima yang kaku. Ia justru membawa mobil menuju area rooftop tersembunyi di sebuah gedung tua daerah Menteng. Tempat itu adalah bar speakeasy yang hanya diketahui oleh kalangan terbatas. Musik jazz bertempo lambat mengalun dari piringan hitam, beradu dengan suara denting es batu dalam gelas kristal. Mereka duduk di sudut yang paling gelap, langsung menghadap ke cakrawala Jakarta yang dipenuhi kelap-kelip lampu gedung pencakar langit. "Kenapa tempat ini?" tanya Ressa, menyesap cocktail buahnya. Regin menyandarkan punggung, menatap Ressa melalui pantulan cahaya lilin kecil di meja mereka. "Karena di sini, tidak ada yang mengenal kita sebagai 'Manajer HRD' atau 'Mahasiswa Beasiswa'. Di sini, kita hanya dua orang asing yang sedang berkencan." Kata "berkencan" itu membuat perut Ressa terasa seperti dipenuhi ribuan kupu-kupu yang memberontak. "Regin, kita harus bicara soal semalam," ujar Ressa, mencoba memulai slow burn yang lebih rasional. "Aku sedang sakit, emosiku sedang tidak stabil, dan—" "Dan Mbak membalas ciumanku dengan sangat dalam," sela Regin tenang. Ia memajukan tubuhnya, menumpu sikunya di meja hingga wajah mereka hanya berjarak satu jengkal. "Jangan gunakan demam sebagai tameng, Res. Kamu tahu persis apa yang kamu rasakan. Aku merasakannya dari cara jemarimu meremas rambutku semalam." Wajah Ressa memanas. Ia memalingkan wajah, menatap jalanan di bawah sana. "Itu salah, Gin. Tante Ratna memercayakanku untuk menjagamu, bukan untuk... seperti ini." "Mamah ingin aku aman, kan? Dan aku merasa sangat aman di dekatmu. Bahkan terlalu nyaman sampai aku ingin menetap selamanya," Regin meraih tangan Ressa di atas meja. Jemarinya yang kasar karena sering memegang pena dan alat olahraga mulai membelai punggung tangan Ressa dengan gerakan melingkar yang lambat. Sentuhan itu sangat ringan, namun efeknya seperti aliran listrik yang merayap perlahan menuju ulu hati Ressa. Regin tidak pernah menerjang dengan terburu-buru, dia lebih suka membakar Ressa secara perlahan sampai wanita itu sendiri yang memohon untuk hangus. "Mbak tahu apa yang paling aku sukai dari kencan ini?" bisik Regin. "Apa?" "Kenyataan bahwa malam ini, tidak ada Seno, tidak ada kantor, dan tidak ada pintu kamar yang terkunci di antara kita." Setelah dua jam penuh dengan percakapan yang penuh kode dan tatapan yang semakin berani, Regin mengajak Ressa pulang. Namun, alih-alih langsung menuju lift apartemen, Regin memarkirkan mobil di area pinggir taman yang sepi di dekat kompleks hunian mereka. Mesin mobil mati. Keheningan segera menyergap. Satu-satunya sumber cahaya adalah lampu jalan yang masuk melalui celah kaca jendela yang sedikit berembun karena AC. "Kenapa berhenti di sini?" suara Ressa hampir hilang. Regin tidak menjawab. Ia melepas sabuk pengamannya, lalu bergeser mendekat ke arah Ressa. Posisi kursi mobil yang sempit membuat kehadiran Regin terasa sangat dominan. Ia meletakkan tangannya di belakang kepala Ressa, membelai helaian rambut sutra itu. "Mbak selalu bilang aku 'berondong', 'anak kecil', 'adik'," gumam Regin. Suaranya serak, memenuhi kabin mobil yang pengap oleh gairah yang tertahan. "Malam ini, aku ingin Mbak menarik semua kata-kata itu." Regin merunduk, hidungnya menggesek pipi Ressa yang halus. Aroma parfum kembang sepatu milik Ressa bercampur dengan aroma sandalwood Regin menciptakan sebuah candu baru. Regin mencium rahang Ressa, perlahan turun ke leher, tempat di mana urat nadi Ressa berdenyut kencang. "Regin... jangan di sini," rintih Ressa, meski tangannya justru naik memeluk bahu kokoh Regin. "Lalu di mana? Di rumah? Di depan foto Tante Ratna?" Regin berbisik tepat di telinga Ressa, memberikan gigitan kecil di cuping telinganya yang membuat Ressa melenguh pelan. "Aku sudah menahan ini selama sepuluh tahun, Res. Setiap surat yang aku kirim, setiap foto yang aku minta, semuanya hanya untuk memastikan kamu masih milikku." Regin menarik diri sedikit, menatap mata Ressa yang sayu karena gairah. "Katakan, Res. Katakan kalau aku bukan adikmu." Ressa menatap mata gelap itu. Di sana tidak ada lagi sisa bocah sembilan tahun yang cengeng. Yang ada hanya pria dewasa yang penuh obsesi dan pemujaan. "Kamu... bukan adikku," bisik Ressa akhirnya. Mendengar pengakuan itu, Regin tidak lagi menahan diri. Ia menangkup wajah Ressa dengan kedua tangannya dan menciumnya. Ini bukan ciuman lembut seperti semalam. Ini adalah ciuman yang menuntut, penuh dengan rasa lapar yang terpendam lama. Lidah Regin menjelajahi mulut Ressa dengan d******i yang mutlak, memaksa Ressa untuk menyerahkan seluruh kendalinya. Tangan Regin bergerak turun, meraba lekuk pinggang Ressa di balik gaun sutranya. Tekanan tangannya yang hangat di atas kain tipis itu membuat Ressa merasa terbakar. Ressa merespons dengan menarik kerah kemeja Regin, mencoba membawa pria itu sedekat mungkin. "Res..." gumam Regin di sela ciuman mereka. "Aku ingin lebih... tapi tidak di mobil ini." Regin melepaskan ciumannya, dahinya bersandar pada dahi Ressa. Napas mereka berdua menderu pendek, menciptakan uap di kaca jendela. "Kita pulang?" tanya Regin, matanya berkilat penuh janji akan malam yang panjang. Ressa hanya bisa mengangguk lemah. Logikanya sudah kalah telak. Bagian manajer HRD yang bijak dalam dirinya sudah lama tertidur, digantikan oleh seorang wanita yang hanya ingin merasakan lebih banyak lagi api dari pria di depannya ini. Sepanjang perjalanan dari parkiran menuju unit apartemen mereka, tangan mereka tertaut erat. Ressa bisa merasakan telapak tangan Regin yang sedikit berkeringat—sebuah tanda bahwa pria yang tampak tenang ini pun sebenarnya sedang berjuang menahan diri. Begitu pintu apartemen tertutup dan dikunci, Regin tidak memberikan kesempatan bagi Ressa untuk menyalakan lampu. Dalam kegelapan yang hanya ditembus cahaya kota dari jendela besar, Regin menyudutkan Ressa ke pintu. Ia mencium Ressa lagi, kali ini lebih intens. Tangannya mulai menjelajahi punggung terbuka Ressa, menyentuh kulit yang halus itu dengan pemujaan yang luar biasa. "Mbak..." bisik Regin di sela napasnya. "Malam ini, biarkan aku membuktikan kalau aku adalah satu-satunya pria yang Mbak butuhkan." Ressa menarik napas panjang, aroma Regin meresap ke dalam paru-parunya. saat tangan Regin mulai menarik ritsleting gaunnya dengan perlahan...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN